KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Dendam dan Emosi'

Dendamku

Bukan salahku kalau kebencian itu tumbuh dihatiku
Bukan salahku juga kalau dendam harus kupupuk
dan akan selamanya ku biarkan
tumbuh dan berakar dalam hatiku…
dan akan ku nikmati sakit itu
hingga keakarnya…

Pernah kutorehkan luka dan sakit untukmu
Dan kaupun tidak pernah menyadarinya
tapi kesadaranku… membuatku mengakhirnya…
Aku sadar kau menyayangiku

Andai ku dapat menumpahkan segala rasa

dalam secarik kertas ini,

kan ku tumpahkan segala rasa

yang pedih menyakiti benakku,

andai ku dapat melampiaskan segalanya lewat airmataku,

kan ku lampiaskan,

namun ku tak sanggup lagi,

airmata ini sudah tak dapat mengalir,

hanya hati yang merasakan,

Sore yang kering di tepian Mekong. Angin menyisir ilalang. Thailand tampak dalam jangkauan pandang. Di seberang sungai lebar yang panjangnya melintasi lima negara ini, aku duduk termenung. Aku tak bisa tersenyum dengan sesungguhnya. Hatiku mati rasa. Cinta lelaki itu telah membunuhnya. Menjadikanku zombie yang tak berperasaan.

Kamis, November …

Aku bukanlah pelindung bagimu…

Namun setiap asa yang tercipta bukanlah tombak bagiku…

Aku tak pernah memaksamu untuk hinggap di sayapku..

Namun, aku akan menuntunmu sampai ke titik terang itu…

Dimana kita khan menemukan cahaya…

Dimana kita bisa bernafas lega..

Aku pernah menulis surat cinta. Surat cinta untuk lelaki yang selalu kuharapkan. Surat cinta yang begitu sederhana dan apa adanya. Tanpa bahasa puitis yang romantis. Tanpa kata–kata yang penuh dengan cinta. Karena aku tak pandai bercinta dengan kata.
Jangan dibayangkan surat cintaku aku tulis di selembar kertas berwarna merah dadu dengan gambar hati yang membara dan kumasukkan amplop yang berwarna senada. Jangan pula dibayangkan surat cintaku aku tulis di selembar kertas berbau kasturi atau cendana. Apalagi ada gambar lipstikku yang menempel di bawahnya. Aku menulis surat cintaku hanya di selembar kertas berwarna putih dengan warna amplop yang sama. Tak ada harum yang istimewa kecuali bau kertas itu sendiri, dan hanya nama yang kutulis dengan ukuran sangat kecil yang kutulis di pojok kanan bawah.
Aku akan memberikan surat itu padanya, saat aku sudah siap. Tapi sampai sekarang rasa siap itu belum jua datang untuk menjemputku. Surat itu hanya berani kuselipkan di antara lipatan buku harianku. Aku tak berani memberikannya, karena aku takut kehilangannya. Karena kami telah berjanji akan menjaga rasa persahabatan ini tanpa ada cinta yang selayak Romeo dan Juliet. Mungkin dia juga (pernah) menulis surat cinta untukku yang mungkin juga bernasib sama dengan surat cintaku. Hanya sebagai penghuni buku harian!
Kadang aku merasa jika dia juga menaruh rasa yang sama. Dia mencintaiku lebih dari sahabat. Namun, sekian lama aku menantinya, tak pernah sekalipun dia melanggar janji kami. Kami tertawa lepas, berteriak bebas, dan bergerak tanpa batas. Kegiatan rutin yang selalu kami lakukan tanpa ada yang peduli.
Suatu ketika, setelah nasib surat cintaku yang tak ada perkembangan. Dia datang kepadaku. Memberikan setangkai mawar putih padaku. Waktu itu, pipiku semerah darah menahan gejolak cinta yang meletup-letup. Aku menerimanya, berharap dia akan melanggar janji kami, kemudian menjadikanku mawar putih di hatinya. Pikiranku melambung tinggi, khayalanku sebentar akan dapat kurengkuh. Aku tersenyum lebar selebar hatiku kala itu. Tapi TIDAK!! Dia hanya diam tanpa kata dan jawaban, kemudian dia melangkah meninggalkanku begitu saja. Membiarkanku dalam kebisuan dengan hati menganga membawa cinta yang setengah telanjang. Aku sakit kala itu. Kecewa. Tak elak, butiran bening mengalir satu persatu dari mata bulatku.
Sejak saat itu, aku hanya diam, dia pun begitu. Tanpa ada pertanyaan dan jawaban di antara kami. Tak ada lagi teriakan bebas, tawa lepas dan gerak tanpa batas dari kami. Semua menjadi membosankan. Aku mencintainya namun aku juga membencinya. Aku patah hati sebelum aku berhasil menyambung hati itu sendiri. Entahlah, apa arti mawar putih itu.
Mawar putih itu mengingatkanku pada surat cintaku yang pernah kutulis untuknya. Hanya menjadi bagian penghuni baru di tempat yang tak semestinya. Seharusnya, mawar putih itu bertahta abadi di dalam hatiku. Bukan di sudut kamarku. Sampai suatu ketika, wangi mawar putih itu berganti dengan bau debu, warnanya pun berubah menjadi biru. Mungkin mawar itu mengerti, jika dia tak layak berada di kamarku. Hingga aku memutuskan untuk menjadikannya penghuni baru dustbin. Aku sudah bosan melihat mawar itu teronggok sepi di sudut kamarku.
Dia tak juga mau memulai bicara, begitu pun aku. Kebisuan yang mungkin sudah bisa didengar oleh seekor gajah karena bukan mulut kami yang berkata namun hati kami. Aku tahu dia mencintaiku lebih dari sahabat. Mungkin dia juga tahu kalau aku selalu menunggu ucapan cinta darinya. Tapi mengapa aku harus menunggu terlalu lama? Aku bosan tapi aku tak pernah bisa berpaling. Aku tak tahu apa yang ada di benaknya.
Semua terjadi begitu cepat, aksi diam kami sudah berjalan lebih dari satu bulan. Aku semakin takut kehilangan dia, tapi aku juga tak akan mampu memulai bicara dengannya. Teringat lagi surat cintaku untuknya. Aku ingin membuangnya dan menghilangkan semua cintaku untuknya. Aku membuka amplop putih yang kini sudah ada noda berwarna cokelat yang tak tahu darimana asalnya. Kubaca lagi kalimat pertama, aku menangis.

Saya sudah sering dihina dan terhina. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi, mempertanyakan, (atau malah) menertawakan nama saya. Sebab nama saya Vaginalia. Asli dari akte lahir, murni pemberian kedua orang tua saya. Silahkan kalau kamu mau tertawa. Toh sudah biasa.
Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Nama yang bagus, dan agung. Sebab namamu itu, juga nama nabi yang paling diagungkan. Yang dijuluki Al-Amin, artinya dapat dipercaya. Diteladani banyak manusia, termasuk saya. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya, mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat.

Sarah

Sudah sekitar lima hari berlalu sejak peristiwa memilukan itu terekam oleh kedua mataku. Semuanya masih tampak segar, masih terasa baru tanpa secuil momen pun yang mulai mengelupas. Aku masih dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan yang sama dengan hasrat gila yang menumbuhi hatiku layaknya jamur di musim hujan. Kini, aku sendirian. Maksudku, aku merasa telah terlepas dari kenyataan dan masuk ke dalam dimensi yang kejam ini seorang diri. Tanpa teman maupun musuh. Aku benar-benar sendiri menikmati rasa muak yang membabat gundul benang-benang akal sehat yang terbentang lelah. Setiap bunyi detik jarum jam menyiksaku habis-habisan. Ruang dan waktu, realita dan imajinasi, waras dan gila, apa artinya kini? Apa artinya hidup dan mati? Senang dan sedih? Tawa dan tangis? Jika yang tersisa hanyalah karat yang menggerogoti perasaanku sebagai manusia yang hidup atau yang lebih mudah kuartikan sebagai: kehampaan.

Malam itu, Muhasan telah menetapkan keputusannya. Api dendam dan kesumat yang tiga hari ini ditahan-tahan dan membakarnya akan ia hamburkan. Kebencian yang selama ini meluap-luap dan hampir memecahkan dadanya akan ia muntahkan. Dendam, kesumat, dan kebencian itu akan segera membandang, menghanyutkan dan menggilas tumpas apa saja yang ada di hadapannya. Malam itu benar-benar akan dia tuntaskan urusannya dengan Sumahwi.

kenapa!
ku bertanya dalam jerit
berkecamuk penuh luka
kenapa!
kembali ku bertanya
karena cinta?

cinta …………
demi cinta kurelakan semuanya
ku tersayat

ku benci… ku muak….
menatap wanita di depanku
ingin ku meludah
buang semua asam di lidah

kenapa!
“karena ku sayang”
ku tatap wajah sayu itu
ingin ku lempar semua kotoran di wajah itu

Aku bisa melihat bulan dengan jelas dari jendela kamar yang kubiarkan terbuka. Bentuknya bulat. Bulat sempurna. Ini tanggal 17. Sesekali, angin yang sepoi masuk menyejukkan kamar. Pipiku basah. Aku menangis.

Suara itu kembali terngiang. Suara tangisan. Tangisan bayi. Bayi sialan itu.

« Prev - Next »