KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Dendam dan Emosi'

Aku membentangkan tanganku. Helaan napasku keras, mengusik seekor lebah yang hendak menghisap sari bunga jarum yang menyulur di depan hidungku. Ketika butiran embun menyeruak di sela dedaunan, menyombongkan diri dengan gemerlap titik air yang tersapa matahari seakan berkata bahwa akulah sang bening tak berdosa itu. Kupu-kupu beterbangan anggun namun riang, memamerkan karya indah dan kegembiraan, seolah-olah berteriak akulah makhluk Tuhan yang paling berbahagia. Selalu menghirup wangi bunga walau kelak aku mati di tangan seekor pemangsa, aku tetap bahagia dengan sayap-sayap bertabur serbuk sari bunga pujaanku. Pacet-pacet, hewan penghisap darah, bergerak lamban namun pasti menuju kakiku yang bertumpu lemah di bumi ini. Mengisyaratkan kerja keras dengan kelicikan. Parasit. Pacet-pacet itu tetap angkuh, meninggalkan gatal yang tak terperi sebagai pertanda bahwa ia pernah hinggap di tempat itu. Di tempat di mana ia bekerja keras memuaskan dahaga untuk bertahan hidup.

Tiba-tiba saja dia berucap, ” Aku mencintaimu.” Aku terpaku.

“Ra, are you hear me???” tanyanya lagi. Aku mengangkat alis, menyedot kembali minuman yang ada di hadapanku. Masih terdiam. Apa yang dia tunggu?

”Jawab dong Ra???”

”Kamu tadi bertanya emangnya??? Itu kan pernyataan yah,” balasku tak acuh. Dia menyandarkan tubuhnya.

Bayanganku tak mau lepas juga dariku
Lelah aku diikuti olehnya
Aku ingin bebas
Bebas tanpa ada satupun yang mengikatku…
Aku ingin lari
Sendiri…
Merasakan heningnya kehampaan…
Di tengah kesedihanku.
Aarghh…nikmatnya…
Bagai meneguk segelas air ditengah kemarau
Bagai melihat pelangi setelah hujan
Bagai oase ditengah gurun pasir
Bahagia…
Ya…

Desahan angin malam masuk ke dalam sukmaku. Membawa angan serta diriku menari bersamanya. Lampu beralaskan bintang terus bersinar indah seperti mengisyaratkan kedipan yang cantik ke arahku. Sungguh indah malam ini. Mimpi yang dibalut kecerahan sangat kudamba disaat sekarang.

Hanyalah Sebuah ‘IS’

Dear ‘IS’ yang sekarang berada di balik teralis.
Berciri-ciri berambut klimis, dan berbau sangat amis…
Please dengerin ungkapan hati seorang gadis pesimis…

Hari ini hari kamis…
Aku sekarang berasa di tengah-tengah hutan tropis..
Yang sekarang sedang gerimis..
Tapi udara terasa sangat isis

Otakmu

begitu kotor isi otakmu
mungkin otakmu penuh racun obat
meski kau tunjukan lemahmu
namun masih keras hati punyamu

otakmu tak sopan…
meluncur dari setiap baris tuturmu
malam jadi semuram warna otakmu
dingin hatku tanpa ada rasa peduli lagi

Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia
-Plato-

Rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota itu, benar-benar membuat siapa saja yang lewat akan menutup telinganya. Bising. Seperti dipenuhi oleh ribuan manusia yang terperangkap dalam sebuah bola kaca.

“Dokter Susilo, ada pasien baru di ruang tiga, seorang polisi menemukannya di sebuah jalan kemarin,”lapor seorang suster.

Ungkapan Tersakiti

Dalam marah aku rindu

Dalam murka aku sedih

Dalam benci aku cinta

Dalam hati aku tersiksa

Semua ini aksioma

Tidak ingin aku rasakan

Cinta yang terkubur asa

Perlahan mulai menjadi beban

Pasangan jati diri

Memang tak bisa di ubah

Inilah jadinya malam ini. Malam indah yang kurencanakan berantakan begitu saja. Di ulang tahun Mr. Future Husband, sepanjang enam tahun perjalanan cinta kami, baru hari inilah aku meninggalkannya begitu saja, dan merasa lelah.

Tahu apa yang kutulis tadi pagi di diary-ku hari ini?

 

« Prev - Next »