Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku membentangkan tanganku. Helaan napasku keras, mengusik seekor lebah yang hendak menghisap sari bunga jarum yang menyulur di depan hidungku. Ketika butiran embun menyeruak di sela dedaunan, menyombongkan diri dengan gemerlap titik air yang tersapa matahari seakan berkata bahwa akulah sang bening tak berdosa itu. Kupu-kupu beterbangan anggun namun riang, memamerkan karya indah dan kegembiraan, seolah-olah berteriak akulah makhluk Tuhan yang paling berbahagia. Selalu menghirup wangi bunga walau kelak aku mati di tangan seekor pemangsa, aku tetap bahagia dengan sayap-sayap bertabur serbuk sari bunga pujaanku. Pacet-pacet, hewan penghisap darah, bergerak lamban namun pasti menuju kakiku yang bertumpu lemah di bumi ini. Mengisyaratkan kerja keras dengan kelicikan. Parasit. Pacet-pacet itu tetap angkuh, meninggalkan gatal yang tak terperi sebagai pertanda bahwa ia pernah hinggap di tempat itu. Di tempat di mana ia bekerja keras memuaskan dahaga untuk bertahan hidup.
Tiba-tiba saja dia berucap, ” Aku mencintaimu.” Aku terpaku.
“Ra, are you hear me???” tanyanya lagi. Aku mengangkat alis, menyedot kembali minuman yang ada di hadapanku. Masih terdiam. Apa yang dia tunggu?
”Jawab dong Ra???”
”Kamu tadi bertanya emangnya??? Itu kan pernyataan yah,” balasku tak acuh. Dia menyandarkan tubuhnya.
Bayanganku tak mau lepas juga dariku
Lelah aku diikuti olehnya
Aku ingin bebas
Bebas tanpa ada satupun yang mengikatku…
Aku ingin lari
Sendiri…
Merasakan heningnya kehampaan…
Di tengah kesedihanku.
Aarghh…nikmatnya…
Bagai meneguk segelas air ditengah kemarau
Bagai melihat pelangi setelah hujan
Bagai oase ditengah gurun pasir
Bahagia…
Ya…
Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Gairah dan Eros, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi, Renungan on Desember 30th, 2008 45 Comments »
This is a preview of
Aku Malang, Ibuku Jalang, Bapakku Jahanam Bukan Kepalang
.
Read the full post (2285 words, estimated 9:08 mins reading time)
Desahan angin malam masuk ke dalam sukmaku. Membawa angan serta diriku menari bersamanya. Lampu beralaskan bintang terus bersinar indah seperti mengisyaratkan kedipan yang cantik ke arahku. Sungguh indah malam ini. Mimpi yang dibalut kecerahan sangat kudamba disaat sekarang.
Posted in Puisi, Dendam dan Emosi on Desember 28th, 2008 3 Comments »
Dear ‘IS’ yang sekarang berada di balik teralis.
Berciri-ciri berambut klimis, dan berbau sangat amis…
Please dengerin ungkapan hati seorang gadis pesimis…
Hari ini hari kamis…
Aku sekarang berasa di tengah-tengah hutan tropis..
Yang sekarang sedang gerimis..
Tapi udara terasa sangat isis
Posted in Puisi, Dendam dan Emosi on Desember 28th, 2008 No Comments »
begitu kotor isi otakmu
mungkin otakmu penuh racun obat
meski kau tunjukan lemahmu
namun masih keras hati punyamu
otakmu tak sopan…
meluncur dari setiap baris tuturmu
malam jadi semuram warna otakmu
dingin hatku tanpa ada rasa peduli lagi
Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia
-Plato-
Rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota itu, benar-benar membuat siapa saja yang lewat akan menutup telinganya. Bising. Seperti dipenuhi oleh ribuan manusia yang terperangkap dalam sebuah bola kaca.
“Dokter Susilo, ada pasien baru di ruang tiga, seorang polisi menemukannya di sebuah jalan kemarin,”lapor seorang suster.
Dalam marah aku rindu
Dalam murka aku sedih
Dalam benci aku cinta
Dalam hati aku tersiksa
Semua ini aksioma
Tidak ingin aku rasakan
Cinta yang terkubur asa
Perlahan mulai menjadi beban
Pasangan jati diri
Memang tak bisa di ubah
Inilah jadinya malam ini. Malam indah yang kurencanakan berantakan begitu saja. Di ulang tahun Mr. Future Husband, sepanjang enam tahun perjalanan cinta kami, baru hari inilah aku meninggalkannya begitu saja, dan merasa lelah.
Tahu apa yang kutulis tadi pagi di diary-ku hari ini?