KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Dendam dan Emosi'

Malam ini angin berhembus dengan tenang menerpa wajahku. Aku tetap melangkahkan kakiku di trotoar sambil merapatkan jaket kulit warna hitam yang sudah agak kusam. Situasi malam ini terasa aneh, sambil tetap berjalan, kurasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. ”Ehm, aneh.” Kulihat kebelakang, tidak nampak sesuatu pun karena lampu jalan sudah mulai redup. Aku pun segera mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah.

Senja kutermenung, menatap langit dan rona merah pada mentari.
Merasakan semilir angin yang bergerak mengikuti arah angin.
Dan kegelisahan yang menyesakkan dadaku,
membuat diriku ingin menumpahkan segala keluhan.

Di kegelapan malam, aku mendekapi tidurmu.
Di kegelisahan hati, aku memahamimu.
Dan waktu yang terus berjalan menyaksikan kehidupan,
membuatku selalu berharap
untuk dapat menghabiskan masa terakhirku bersamamu.

Walau ku coba sembunyikan cemburu di sudut kamarku

namun hati ini tak kuasa menahan egoku

tak mampu meruntuhkan kesombonganku

ketika melihatmu selalu memperhatikan dia

Rasa penat dan resah menyelimuti hatiku

bagai sembilu yang selalu memburu

tak kuasa dendam dan iri tumbuh di hati

Menurut cerita turun temurun, kota kami dilewati jalan Dandels yang dibangun dengan kerja rodi. Pusat kota yang terdapat alun-alun, tersebar bangunan beribadat dari berbagai macam agama. Terdapat bangunan masjid yang berhadap-hadapan dengan penjara. Di sampingnya masjid dengan dipisahkan jalan, berdiri pusat pemerintahan, di sampingnya dengan dipisahkan, jalan berdiri sebuah bangunan gereja. Sedangkan di samping gereja dengan dipisahka jalan, berdiri bangunan vihara. Kemudian di samping vihara dengan dipisahkan jalan, berdiri bangunan penjara dan di samping penjara yang dipisahkan jalan, berdiri bangunan kantor kejaksaan.

Telah lama sudah

Tersimpan antara gundah

Satu kata dimana telah lama ku redam

Dikubur jiwa mendalam

Hanya diliputi dendam

Dari mimpi mimpi kelam

Kalian semua pasti tahu

Apakah kata itu

Terkadang hati senang

Tapi terkadang terkekang

Haaaahhhh….Inilah dia……….

CINTA….

Saya masih duduk sendiri. Menunggu. Memandang tanah-tanah kering.

Di taman ini, saya adalah tak lebih seekor cacing. Menggeliat ke sana ke mari mencari celah basah. Sebab cacing tak suka cahaya berlebih, menusuk pori-pori. Sebab cacing juga tak perlu mencari pasangan untuk kawin. Tidak seperti manusia.

Doni masih saja bertahan di atas kursi roda yang setia menemaninya lima belas tahun terakhir. Konsekuensi dendam memaksanya untuk menerima kenyataan sebagai seorang cacat seumur hidup.

Pada setiap obrolan-obrolan tentang cinta, Ana hanya tersenyum pahit. Senyum yang diartikan oleh Pandu sebagai senyum kekalahan. Tapi arti itu hanya berlaku dalam hati Pandu. Tak ada niat apalagi keberanian buatnya untuk menanyakan langsung kepada Ana. Takut jika semakin menyakitkan hati, takut jika tebakannya yang asalnya hanya asal-asalan itu salah. Dan puluhan ketakutan yang lain…
Sampai pada suatu ketika, saat kapasitas hati Pandu itu tak mampu lagi menampung dan menahan rasa penasaran, Pandu bertanya langsung kepada Ana.
“Lantas kenapa? Kau hendak mengatakan akan mengobati sakit hatiku? Sebelum kau mengatakannya, aku katakan, aku mampu mengobati lukaku sendiri.” Ana menjawab sinis, seolah ingin menunjukkan ketegarannya kepada pandu tanpa menunggu penjelasan Pandu.

Buah hati henti lari tak dapat arti
Kau pandangi seolah mengerti
Buah hati halau langkah tak peduli
Kau pergi tak tampak diri

Linang air mengalir di tepi Buah hati
bertanya pada Ibu, mengapa dia begitu ?
jawaban dari Ibu bahwa dia marah pada orang yang t’lah melahirkanku

Di gudang ada monster marah dengan taring-taring panjang meneteskan darah, dengan cakar-cakar runcing menghitam. Ada bekas codet pada bibirnya yang lebar. Ia tersenyum lebih serupa seringai yang menakutkan sebab gigi-giginya kuning besar-besar. Peluhnya bercucuran dari dahinya yang lebar tetapi bolong di tengah, di antara ke dua mata yang mencelat keluar. Memperlihatkan rongga bernanah beraroma amis busuk.

« Prev - Next »