KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Dendam dan Emosi'

Kau Gila!

Kau gila!
Kau gila!

Inikah yang kau bilang sayang?
Inikah yang kau bilang cinta?
Mana??

Kau bodoh!
Tolol!

Kau takkan mengerti aku
Kau takkan tahu semua tentangku
Kau takkan tahu rasaku
Kau takkan tahu kehidupanku
Kau takkan tahu kebencianku
Kau takkan tahu rinduku
Kau takkan tahu masa laluku
Kau takkan tahu cintaku
Kau takkan pernah tahu

bimbang…

galau…

pusing…

pintu itu akhirnya terbuka

tanpa diketuk…

tanpa permisi…

benteng itu telah roboh…

sekarang ada yang mendiaminya…

bersemayam…

dan tak mau diusir…

bukan…

bukan tak mau…

tapi tak bisa..

terbuka…

setelah sekian lama dikunci

berisi…

Berbagai cara sudah aku coba untuk bisa melupakan sosoknya dengan selalu mengenang kejadian menyakitkan yang pernah terjadi  dua belas tahun yang lalu, tapi tetap saja aku tak pernah bisa lupa. Entah kenapa sosok dirinya masih begitu melekat erat dalam hatiku, bahkan semakin parah saja, sehingga membuatku tetap sendiri di usiaku yang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun ini. Kenapa tak ada pria yang bisa menggantikan posisinya di hatiku? Kenapa aku tetap mencintainya meskipun berulang kali dia menyakiti perasaanku? Kenapa aku begitu bodoh? Sampai kapan aku mau terus begini?

Naas nasib si perempuan gila. Nasib membawa ia ke lubang prahara. Tak lagi mereka percaya pada si perempuan gila. Kadang cemooh terlontar untuknya.

Malang nasib si perempuan gila. Salah siapa suka mengada-ngada? Terlalu besar harap. Terlalu luas imajinasi. Membuat hati terlilit duri.

Perlahan Anisa memasukkan kerudung merah ke dalam kardus. Hatinya hancur berkeping – keping. Semangat hidupnya kini memudar. Air matapun tak henti berderai. Jengkerik malam meringkik perlahan mengiringi jatuhnya buliran air dari pelupuk matanya. Malam itu begitu sunyi, sesunyi hatinya yang sangat terluka. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 11 malam. Mata Anisa tak bisa diajak tidur. Hatinya sangat sakit. Dia merasa menjadi wanita yang paling malang di dunia. Selalu dicampakkan oleh lelaki yang dicintainya. Ada sejuta tanya bergayut di hatinya. Mengapa dalam percintaan selalu dia dicampakkan oleh pria yang dicintainya? Rasanya dia sudah tidak kuat menanggung derita dihatinya, hingga beberapa kali dalam sholat tahajutnya dia mohon pada Allah untuk dicabut saja nyawanya. Dia tahu itu tidak pantas dilakukannya, namun hatinya serasa tlah patah, remuk redam.

Elma yang baru saja dihukum, lagi-lagi diejek. Ia mulai murung di dalam kelas. Melamun. Melayangkan pikirannya yang sepertinya sangat kacau. Walau dua sahabat yang selalu stand by menemaninya di tempat duduk pojok bagian kiri berkicau, diabaikannya. Wajahnya gelisah. Entah karena apa. Rona juga bingung dan heran sendiri. Gusti memang sangat tega. Pasti ini gara-gara Elma hampir jatuh ketika mengeluarkan kaki dari tong sampah tadi saat dihukum. Bonus yang Elma dapatkan karena ia telaten mengerjakan PR di sekolah. Padahal, Gusti juga dihukum.

Bicara Pada Ombak

“Aaa… aaa, yuhu… uuu………!”

Kami berteriak begitu keras. Kami berteriak seolah kami telah menggenggam dunia yang berat ini. Kami berteriak lantang lagi dan huruf A berjejer keluar dari mulut kami.

“Aaa……aaa!”

Suara gemuruh derasnya air sungai membuat kicau parkit terdengar samar. Udara mulai dingin namun aku belum beranjak dari tempat dudukku. Entah kenapa rasa rindu itu kembali melintas di benakku. Ya, rasa rindu akan sosok seorang ibu. Waktu itu tepatnya 6 tahun. Saat-saat itu masih terekam jelas di benakku. Senja yang hendak membenamkan diri menjadi saksi bisu kepergian ibuku, setelah beberapa tahun kanker mengerogoti tubuhnya. Setelah kejadiaan itu aku hanya hidup berdua dengan ayahku yang seorang pemabuk. Hari-hari kulalui dengan penuh beban dan aku merasa tertekan dengan keadaanku sekarang. Dengan terpaksa aku harus putus sekolah karena ayahku tak lagi mau membiayai sekolahku. Dalam hatiku ingin rasanya aku berontak, ingin rasanya aku menangis kenapa aku jadi begini?

“Sekarang Kakak tanya sama kamu, Tih. Jawab yang jujur, mengapa kamu masuk kerja di perusahaan ini?”

Aku diam, mengepalkan tanganku. Kecurigaan dapat kulihat jelas dari bola matanya.

“Jawab, Tih.”

Aku tetap bungkam. Kali ini bukan wajah Kak Tio yang kutatap tapi dadanya . Jantung, tempat hatinya berada.

Kebahagiaan tidak ada di dunia ini. Takkan pernah ditemui di mana pun. Yang ada hanya kepahitan, getirnya hidup. Begitu pula ketika ia menemukan cinta. Sebelum tumbuh yang terasa cuma lara. Bagai belati menancapi hatinya, darah muncrat seperti mata air. Sebab cinta itu luka.

« Prev - Next »