Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku di suatu waktu
Berjalan tanpa arah
Di tengah siang yang terik
Berpikir bahwa ketidakpedulian menyenangkan
Aku di suatu waktu
Menangis saat meminum secangkir kopi susu
Karena kegalauan yang membuncah
Aku di suatu waktu
Terjebak dalam lingkaran setan
Berperan dalam satu episode komedi satir
Bullshit…..!!!!
Lelaki itu berdiri di altar menatapku. Tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Dan aku disini, berjalan dengan lambat, mencoba menenangkan degup jantungku. Keraguan itu kembali datang, haruskah aku terus berjalan, ataukah aku berhenti dan lari meninggalkan tempat ini. Bepergian kemana angin membawaku. Semua terlintas kembali di hadapanku.
Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu. Memasang wajah sinisnya padaku. Bibirnya berkedut-kedut setiap waktu ketika memerintahku merampungkan pekerjaan presentasinya yang selalu saja terburu-buru. Alisnya terangkat beberapa senti, matanya melebar melihat beberapa klien yang memasang wajah heran. Raut mukanya sungguh tak nyaman. Jelas sudah bagiku, itu petunjuk gamblang yang berarti setelah ini aku dipanggil ke kantornya. Untuk diceramahi, dicaci-maki, bahkan bisa saja langsung dipotong gaji. Aku benci ini.
Tak perlu ada sapaan
Atau jamuan manis
Apalagi berkata permisi dengan harmonis
Huh……
Andai saja ia datang mengetuk
Dan pergi pamit dengan ramah
Pasti aku akan menolak kedatangannya
Sehingga tak perlu pedih saat ia pergi
This is a preview of
Kedatangan Cinta Layaknya Surat Kaleng
.
Read the full post (95 words, estimated 23 secs reading time)
Posted in Puisi, Dendam dan Emosi on Juni 13th, 2008 1 Comment »
Aku adalah para pencaci
Aku adalah manusia di balik cerminmu
Keangkuhanku takkan sanggup dirimu tandingi dalam otakmu yang naif
Angkuhnya aku saat dirimu tebar pesona di depan hidungku, “DASAR BAUMU BUSUK!”
Murkanya aku dalam rayuan sok puitismu
Aku adalah munafik
Aku ada di setiap harimu, di sepanjang jalan hidupmu
maka aku tak sempat mengantarkan kata-kataku
kepada telingamu yang menjauh
aku tak berharap terlalu banyak pada siapa pun kau
kata-kataku begitu resah dan lemah
tak mungkin menjadi Anantasena bagi Baratayudha
bahkan mungkin menjadi sampah di ruangruang dunia
bahkan mungkin menjadi seperti Trunojoyo bagi Kompeni
mungkin tetap sampah-sampah yang resah mencari…
mencari…mencari…
mencari hak atas kesampahannya
dan kita tak lebih dari salah satu dari ketakterhitungan sampah itu
Begitu semua angan terbang dengan gumpalan kerinduan, langkah kaki kecil ini seolah tak berarti apa-apa. Dedaunan yang telah mengering dan berubah warna, berguguran menunggu usia senja. Dengan luka yang begitu dalam dan tak yakin akan terobati, aku berjalan menyusuri kegamangan waktu. Mungkin menunggu yang tak mungkin datang, mungkin mencari sesuatu yang tak akan ditemukan, atau mungkin berlari mengejar sesuatu yang tak pasti.
Pergi,pergilah
Jangan ganggu aku lagi
Enyah,enyahlah
Enyahlah kau dari pikiranku
Cukup sudah ku berlari tuk mengejarmu
Cukup sudah ku melompat tuk menggapaimu
Cukup sudah…
Aku letih…
Sia-sia sudah semua yang kulakukan untukmu
Kau tak pernah peduli padaku
Peduli?
Jangankan peduli,menolehpun tak kau lakukan
Bahkan melirikpun kau enggan
Aku,
Aku yang selalu ada di sisimu
Aku yang menemanimu,
mengagumimu, menyayangimu.
Aku yang berikan seluruh hatiku
untukmu, untuk mencintaimu,
untuk kau khianati,
untuk kau sakiti.
Aku yang ingin bahagiakanmu,
dengan sepenuh hatiku,
dengan sepenuh jiwaku,
hingga akhir hidupku.
Itu aku.
AKU!
Bukan dia..
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)
Posted in Cerpen, Dendam dan Emosi on Februari 17th, 2008 1 Comment »
Di bawah kemuraman langit, deru angin sedang memburu, langkah cepat sesosok wanita dengan sisa napas yang terengah-engah. Awan gelap turut mengintai wanita berbaju hitam itu, yang berlari seperti membawa sebentuk kesah dalam dekapannya.
Sambil mengumpulkan semua napas-napasnya kembali, sembari mengusap seluruh peluh keringat di wajahnya yang pucat pasi, sesekali ia berhenti untuk menoleh ke belakang, dengan harapan bahwa ia sudah hampir mendekati titik aman yang sedari tadi sedang ditujunya.