KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Cinta, Keluarga dan Sahabat'

Saat hari telah berganti lagi
berselimutkan jubah hitam nan kelam
kurasakan sepi merasuk hati
melintas dalam setiap sisi malam
lalu kuingat lagi dirimu bagai bidadari
begitu indah menawan hati
seperti melati terus mewangi
selalu hiasi
di dalam khayalanku ini

kau adalah mimpi di dalam sunyi
berpijar bagai sinar mentari
meski sinarmu tak pernah menerangi
namun tetap dirimu di dalam hati

Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan. Hari ini ulang tahunku ke-13. Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah, meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan mengatakan itu.

Hati yang dulu merasa aman dengan berdiam diri, merasa cukup tanpa harus berbagi, kini mulai terusik dari pertapaannya. Entah kenapa aku mulai mencari-cari serpihan hati dan mulai tak sabar menagih kepada Tuhan atas apa yang telah ditakdirkan untukku. Aku baru tersadar akanketidak mampuan menjalani hidup dengan sempurna, tanpa ada seseorang yang menjadi belahan hati. Sebagai tempat ‘tuk berbagi saat kebahagiaan dan kesedihan menghinggapi diri, tempat ‘tuk mengadu masalah -masalah yang menghampiri, bahkan saat ingin merasakan kemesraan saat dimanja. Tak peduli dengan jalan yang aku lewati begitu terjal, berkerikil nan berduri. Semua akan dilakukan  demi melengkapi batin yang terasa kosong.

Menemukan cinta belum tentu akhir yang bahagia
Tanpa cinta juga tidak untuk selamanya
Bukan karena siapa yang salah, tidak semua orang berdua
Bukan juga karena terlalu banyak cinta, hampir semua orang memungutnya
Waktu tidak perlu disudutkan
Menyalahkan diri sendiri juga belum tentu benar

Bayangan

Pagi hari, bayangan berada di sisi barat
Siang hari, bayangan berada di bawahmu
Sore hari, bayangan berada di sisi timur
Malam hari, bayangan berada di antara dirimu

Tanpa kau sadari kehadiran bayangan selalu bersamamu
di saat engkau sedih, bayangan ada
di saat engkau gembira, bayangan ada

Januari lalu, ketika long weekend, saya menyempatkan diri ke Banyumas, Jatilawang. Tak ada misi berarti, hanya butuh penyegaran, dan mungkin sedikit kepastian untuk masa depan. Bersama Arini, saya berkemas seadanya dan berangkat menuju kota tempat Landung tinggal. Landung, iya, Landung yang itu. Lelaki beraroma senja itu. Benar sekali.

“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.”

Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik.

Di sudut ruangan itu, dengan sebatang Marlboro terakhir di sisa hari ini, dia coba membunuh tangisnya sekali lagi dengan kepulan asap rokok. Kepulan-kepulan asap yang membuat ingatannya mengembara. Kenangan masa kanak yang saling bertubrukan, berhamburan keluar dari memori otaknya. Juga saat-saat terakhir bersama sosok ayah yang tak pernah sempat bisa membahagiakannya.

Gerimis masih meratap
Basah
Sendiri, semuanya lepas
Kosong
Dan aku menangis
Bukan untuk kamu
Lagi

Masih menatap genangan air itu
Lekas gerimis lagi
Menangis lagi
Terus lepas lantas lekas hilang bekas,
Lagi, lagi, lagi, dan lagi-lagi bukan  untuk kamu
Aku menangis ini gerimis
Menggenang melinang
Masih kosong

Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku menikahi seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.

« Prev - Next »