Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Angin semilir menggoyangkan ujung jilbabku saat aku mengayuh sepedaku pagi ini. Lebih pagi dari biasanya. Mentari pun belum sepenuhnya menampakkan teriknya dan bulan pun juga masih belum mengucapkan selamat tinggal. Hari ini ada jadwal les pagi. Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, masih menunjukkan setengah enam pagi. Lampu-lampu jalan masih menyala, kabut menyebar di sana sini menambah kekhasan suasana pagi.
Aku bagaikan selembar kertas kosong berwarna merah muda
Yang siap kau goreskan pena menuliskan kata cinta
Sajak-sajak indah berirama
Lukisan mahakarya penuh warna
Namun jangan anggap aku selembar kertas berwarna merah muda, bila
Setelah penuh oleh lampiasan hasrat dan kecewa
Kau robek, kau remas lalu kau lempar ke tempat sampah hina
Terbuang dan hancur tergilas kerasnya dunia
Aku masuk ke kamarku, kamar yang sudah kutempati bersama mas Evan, suamiku, selama tiga tahun. Kamar yang menyimpan berjuta kenangan indah selama aku menjadi istrinya. Kulihat Mas Evan tengah meringkuk di tempat tidur, aku tersenyum. Akhir-akhir ini Mas Evan memang selalu tidur lebih awal dari aku, karena aku masih harus menyelesaikan tulisanku yang akan segera aku terbitkan.
Airmataku masih saja mengalir bila menyadari harus kehilangan sebagian kehidupan dan masa depanku, akibat dari kecelakaan fatal yang kualami setahun lalu. Kecelakaan yang merenggut kedua kakiku.
Kejadian itu telah merubah total hidupku, aku yang dulu riang, bangga pada diriku, selalu optimis memandang masa depan, kini menjadi pendiam, minder dan menutup diri. Hidupku telah hancur.
Memandang bintang berharap
tangan bisa menyentuhnya
Menatap langit berharap
diri bisa terbang di dalamnya
Mengejar angin berharap
dapatkan kesejukkannya
Membayangkan awan berharap
tidur lelap dalam kelembutannya
Harapan hanya tinggal harapan
berharap harapan yang bukan-bukan
Harapan yang nggak semestinya diharapkan
karena harapan itu bukanlah harapan
Bayangmu berkabut selimuti bola mata
Tak bisa lupa
Katarak yang tak ingin kuhilangkan
Hatiku habis termakan olehmu
Tak bisa lari
Jadi bagian dari darah ragamu
Sementara dia bagian nyawaku
Masih bernafas
Di sela denyut jantung nadiku
Dia bersemayam dalam jiwaku
Terus mengembara
Menelusuri detik langkah hidupku
Kupatutkan diriku di cermin,
“Hm sudah cukup keren,” pikirku, meskipun banyak yang bilang aku culun. Sekali lagi kuambil sisir untuk sedikit merapikan rambut kriboku yang unik. Aku tersenyum menampakkan gigi berkawatku yang menurutku keren abis.
-Sign In-
Kau yang biasa banyak bicara
Banyak bercanda dan banyak tertawa
Tiba-tiba diam membisu tanpa bahasa
Sikapmu buatku tanya
Apakah melanda?
Diam-diam kau permainkanku
Pakai identitas palsu menipu
Aku bertanya, kau tak aku
Heran tiba-tiba kau bukanlah kau
Ku terus bertanya lalu…
Tak pernah ku merasakan perasaan ini, hampa… kosong dan sakit… rasanya jika kuingat hari dimana aku telah di tinggal pergi sang kekasih yang sangat kusayangi. Aku telah kehilangan tujuan hidupku, dan aku tidak tahu lagi arah kemana kaki ini harus melangkah.
3 September
Lily duduk menepis di depan pintu rumahnya yang tertutup. Rumah sederhana berdinding anyaman bambu di tengah-tengah perkampungan kumuh yang kata Ibu berjarak tiga ratus meter dari stasiun. Depan rumah dipenuhi tumpukan kardus bekas yang tidak tertata rapi. Di sekitarnya masih banyak kardus lipat berserakan yang menambah kesan kumuh.
Lily masih terduduk, kedua tangannya menutupi telinga, kepalanya menunduk menyembunyikan bibir yang bergetar dan mata berair. Lily merapatkan kedua tangannya seraya menggelengkan kepala saat terdengar suara bantingan barang pecah belah dari dalam rumah. Lily hapal betul suara pecahan itu adalah botol minuman keras milik Bapak yang dibanting Ibu.
“Prak…!” Suara bantingan itu terdengar lagi.