KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Cinta, Keluarga dan Sahabat'

Tak seharusnya dia diam seperti ini.

Selama bertahun-tahun dia hidup, tak pernah ada orang yang tega mengatakan kata sepedih itu. Nyaris telinganya putus karenanya. Entah kenapa, Candra bagai tertusuk pedang yang benar-benar panjang. Candra termenung.

“Aku tahu, kau tak pernah mendengar kata-kata seperti yang kukatakan khusus untukmu. Tapi itu memang pantas. Kau tak akan maju, bila kau seperti ini terus. Percayalah, ini demi kebaikanmu.”

- untuk Anna Maria

Kau teguk sisa-sisa hujan dalam cawan itu. Yang isinya berbiak dalam perutmu. Lalu di saat rahimmu bergolak dasyat, kau namai dia Malam.

Kau mengguyurnya dengan tubuh hujanmu. Menisiknya ke dalam selimut petang. Dan meniupkan pijar pengampunan dalam dinding kamarmu yang sesak padat.

- untuk Kumanosuke Adachi

Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi

melumatnya dalam kecupan yang hambar

ada bandang kekhawatiran

jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah

Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak

yang linglung mendekap punggung kesedihan

sebab ia tak tau kemana pergi sang induk

Pertama aku mengenalnya ketika kami mengadakan pelatihan kepemimpinan kaum muda di Tegal Jaya, sekitar 3 kilometer dari kota Denpasar. Saat itu kami berdelapan orang bergabung dalam satu mobil dari salah satu panitia pelaksana. Awalnya kami hanya bertegur sapa dan berjabatan tangan.

“Saya Yoshe.”

“Oh saya Danta.”

Tak pernah kualami rasa seperti ini
Kala kurasa kebahagiaan yang hakiki
Ada sesuatu yang menyayat hati
Pedih, bagai tertusuk ribuan duri

Mungkin matamu telah buta
Mungkin telingamu telah tuli
Atau mungkin perasaanmu yang telah mati
Hingga kau tak rasakan hadirku ini

Lelaki itu berdiri di altar menatapku. Tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Dan aku disini, berjalan dengan lambat, mencoba menenangkan degup jantungku. Keraguan itu kembali datang, haruskah aku terus berjalan, ataukah aku berhenti dan lari meninggalkan tempat ini. Bepergian kemana angin membawaku. Semua terlintas kembali di hadapanku.

Aku hanyalah kepingan-kepingan jiwa yang berserakan di lantai tempatmu menapak
Tak bernilai jika dibandingkan kilauan cahaya yang tersimpan di sudut matamu
Aku hanyalah senyuman pahit pada kopi hitam pagi harimu
Mencoba merangkak dari pinggir gelas untuk menyentuh bibirmu yang ranum

Hari ini Hati disemayamkan. Tak akan ada lagi gadis cantik berambut ikal yang menghabiskan sorenya dengan memandangi langit senja di bibir pantai. Sayap mungilnya tak lagi bisa menerbangkan sepuluh orang ke langit, hanya demi membuktikan bahwa awan lebih halus dan lembut ketimbang kapas dan gulali.

Tiba-tiba aku berada di gurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.

“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”

Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku.

Next »