Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Kenapa harus hujan?
Kalimat itulah yang selalu menggaung di hati saya setiap rinai-rinai air itu mulai menghujam bumi. Entah kenapa saya begitu yakin bahwa hujan selalu menjadi pertanda buruk untuk saya. Bukan karena saya benci hujan, mungkin hujan yang enggan bersahabat dengan saya.
Kubuka jendela kamarku pagi itu, dapat kulihat jelas di kejauhan, di atas bukit, sebatang pohon Akasia yang mulai berguguran. Teringat aku pada Calista, teman sepermainanku saat kecil. Kami sering berlarian mengelilingi pohon itu, bermain menjadi pesawat dengan tangan terbentang, melompat, bercerita, bercanda. Hhh, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
“Hilang?” tanyaku terbelalak.
Derry mengangguk. “Semuanya diambil, tanpa sisa!”
Aku tercengang. Sialan! Berani sekali mereka mencuri sembako milik Derry yang ditaruh di bagasi, padahal bagasinya sudah dikunci.
“Tuh sembako punya bokap gue. Ya…biasa, tiap sore gue ngambil di grosir bokap gue, tapi cuma hari kemarin yang hilang, sebelumnya nggak pernah kayak gini!” Derry melanjutkan ceritanya.
Jalan setapak membelah ombak di pantai Sanur yang berdeburan, perempuan berambut ikal berjalan meninggalkan pantai dengan air mata membasahi gaun malam berwarna hitam yang tampak sangat indah dikenakan olehnya. Seorang laki-laki duduk di gasebo tepi pantai sambil menatap ombak yang berkejaran, menghadap berlawanan dari wanita yang tadi berbicara padanya. Laki-laki itu lebih menyedihkan lagi. Ia tetap terluka ketika dia harus bahagia.
Aku terbangun dari tidur siangku. Namun entahlah tidur siang atau tertidur dari sejak malam tadi. Aku dudukkan tubuhku di sisi ranjang dan melihat sekeliling kamar kecil berukuran 4×4 meter ini. Tak ada yang berubah sejak umurku 10 tahun, tepatnya 10 tahun yang lalu. Isi kamar dan posisi benda-bendanya pun tak banyak berubah.
Nenek dan kakak Ibu datang ke rumahku setelah Ibu pergi dari rumah selama beberapa minggu. Nenek bilang, Ibu sudah ada di rumah Nenek, setelah pergi menenangkan diri dan bersembunyi dari Ayah ke luar kota. Di awal Ramadhan, aku yang baru berusia 11 tahun belum mengerti benar apa yang terjadi.
Belum pernah aku lapar selapar hari itu. Rasa lapar yang serasa membakar perutku. Perih yang menghujam-hujam tiada henti. Bekerja seharian, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, dan tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, tiga ratus enam puluh lima dikali dengan 30 tahun. Tapi jangan tanyakan dari tiga ratus enam puluh lima hari itu berapa kali aku makan. Kalau yang kalian bicarakan keidealan orang makan tiga kali sehari, sungguh tak pantas aku jawab pertanyaan kalian. Yang pasti kalian akan ternganga dengan angka yang aku keluarkan. Dan untuk menghitung perkalian-perkalian itu tak mampu lagi otakku ini berpikir. Tak tahukah kalian bahwa untuk menghitung kita butuh tenaga, dan tenaga itu akan kita peroleh dari asupan makanan. Tapi sayangnya energiku habis untuk berlari. Nah. Pada saat mati aku sedang kelaparan. Dan kelaparan inilah yang secara tidak langsung membuat aku mati. Tahukah kalian apa yang membuat aku kelaparan? Ya! Jelas sekali. KEBODOHAN. Sebentar, kalau begitu aku bukan mati karena kelaparan tapi aku mati karena KEBODOHAN. Masih saja kalian tak mengerti. Kalau kalian begini saja tak mengerti bisa juga kalian mati lapar dan haus jasmani dan rohani seperti aku ini. Mungkin akan lebih baik aku menceritakan bagaimana KEBODOHAN bisa membunuhku.
Suara detak jam dinding yang seolah terus berkejar-kejaran kini sudah tak terasa lagi, namun suara tangis masih jelas terdengar dari kamar yang tepat berada di sebelah kamarku. Reina. Ya dia, yang sejak tadi malam terus menangis terisak-isak karena baru semalam ia mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal sebulan yang lalu. Ibunya sengaja tidak memberitahu berita duka itu kepadanya karena pada saat itu Reina sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas kuliah, ditambah lagi dengan putus hubungan dengan kekasihnya yang sudah hampir dua tahun ia jalani.
Terdengar bisikan lirih dan ayat-ayat doa yang keluar dari bibir seorang ibu yang semenjak kemarin malam larut dalam kecemasan dan kekhawatiran yang begitu mendalam. Tak henti-hentinya dia memanjatkan kalimat-kalimat permohonan kepada pencipta alam ini atas apa yang terjadi pada diriku.
“ Tolong Suster, cairan infus anak saya sudah hampir habis nih !” kata Ibu penuh kecemasan.
Setiap jengkal tanah di negeri ini penuh dusta. Kemunafikan. Pengkhianatan. Kepengecutan. Kelicikan. Kesombongan. Dusta telah memporak-porandakan negeri ini sampai ke ujung-ujungnya. Merasuk ke dalam sanubari pemimpin-pemimpinnya. Ke dalam setiap jiwa rakyatnya. Ibu-ibu rumah tangga. Suami-suami mereka. Anak-anak mereka. Guru, dokter, dosen, direktur, manajer, seniman, pengacara, jaksa, hakim, tukang becak, peminta-minta, semuanya dikuasai dusta.