Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Bahagia bercampur keberuntungan dua hal itu yang selalu kurasakan sebelum usiaku genap menginjak 6 tahun. Tiada duka yang kurasakan. Hingga aku bertemu dengannya. Dia adalah orang yang membuatku menjadi wanita yang paling bahagia namun dia juga membuatku kehilangan segala–galanya.
***
This is a preview of
The Gift - Sepasang Bola Mata untuk Penelope-
.
Read the full post (1366 words, estimated 5:28 mins reading time)
Dinginnya malam tidak mengurungkan niatku untuk menyusuri jalanan sepi ini. Angin malam yang berhembus seakan-akan melantunkan melodi indah di telingaku, ditambah dengan suara gemerisik dedaunan. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ya, menghela napasku seakan-akan jiwa ini keluar dari raga menuju ke suatu tempat yang sangat aku rindukan.
Kapan hari kerjaku berhenti? Suntuk dan bosan. Kuamati cercahan ranting di luar jendela kantorku. Kantor, kalau aku boleh menyebutnya, meski jarang sekali aku berada di sini.
Hari ini aku adalah burung. Terbang mencari dahan terbaik untuk berteduh, merehatkan diri. Aku hanyalah burung, yang bisa menatapmu dari balik jendela. Engkau sedang bercumbu dengan kekasih barumu. Kulihat dia hanya sekedar mainanmu saja. Kau nampak begitu menikmati hidup, entah apapun itu bentuknya, di tengah hiruk-pikuknya peternakan Regalo Grande yang sama sekali belum mapan.
Namaku Dyas, mahasiswi salah satu akademi kebidanan terbaik di Semarang. Hari ini, 24 Juli, adalah hari wisudaku setelah mendalami pendidikan akademi selama tiga tahun. Sudah terlalu lama penantian dan pengorbananku ini, tak berlebihan bila aku menyebutnya ’antusias yang ekstrem’.
***
Fragmen I : Mimpiku belum terkubur
Pulang
Keyla mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah nampan yang berisi setumpuk handuk kecil, sebuah sprayer, dan sekotak kecil krim pelicin. Dipandanginya benda-benda yang selalu mengisi hari-harinya itu. Benda yang membuatnya mampu bertahan dalam mengarungi kerasnya hidup ini, namun benda-benda itu pula yang membuatnya tidak mampu mengangkat muka dengan tegak, di hadapan masyarakat sekitarnya.
Memandang jauh ke luar jendela. Aku mendengar ada yang salah. Salah? Apa yang salah? Apa yang dipersalahkan? Ya, memang ada yang salah. Akhirnya aku mengerti kalau sedang ada yang salah. Lantas, apa salah itu?
Semua orang selalu ingin terlihat hebat di depan orang lain. Semua orang selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Aku juga demikian. Aku juga ingin selalu tampak hebat di depan orang-orang yang aku sayangi. Tapi, tampak hebat di depan orang lain itu ternyata tidak menyenangkan. Tampak hebat di depan orang lain itu justru melelahkan.
Cuaca sore ini tidak terlalu bersahabat. Gumpalan mendung yang menggantung berbaris rapi, membuat sang surya tak sempat berpamitan pada bumi sebelum pulang ke peraduannya. Sore begitu redup. Tidak gelap. Tidak terang. Angin yang menghempas, menusukkan kuku-kukunya yang tak tampak ke tubuhku yang hanya terbungkus kaos dalam dan dilapisi kemeja putih lengan panjang.
Sore ini benar-benar tidak bersahabat. Mendung tak tahan lagi untuk tidak memuntahkan hujan yang sedari tadi bergelayut di perutnya yang semakin buncit saja. Tik-tik-tik hujan mulai terdengar di atap halte bis yang terbuat dari seng, tempat aku menunggu jemputan Rifqi, anakku.
“Bila waktu telah memanggil. Teman sejati tinggallah amal. Bila waktu…,” tiba-tiba ringtone SMS hapeku berbunyi. Ini adalah lagu kesayangan istriku. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan lagu ini, tapi istrikulah yang mensetting ringtone hapeku. “Biar ingat,” katanya, ketika kutanya mengapa dia memilih lagu itu sebagai ring tone hapeku.
Kurogoh hapeku dari saku celana. Kubuka.