Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Yang pertama datang di kedai minuman itu adalah seorang lelaki paruh baya dengan kantung mata dan raut wajah yang membuatnya tampak seperti pemurung. Ia datang dengan kemeja hitamnya yang dipadu-padankan dengan celana panjang, sepatu, dan jam tangan yang juga hitam. Kumisnya lebat dengan beberapa rambut yang masuk ke lubang hidungnya sementara rambut di kepalanya mulai menipis. Dia adalah seorang dosen. Di tengah malam ini ia tak begitu pandai menyembunyikan kesendiriannya. Ia duduk dengan postur bungkuk menghadap ke arah bar. Dan dengan ketenangan yang dibuat-buat sambil menggulung lengan panjang kemejanya ia berkata pada seorang pelayan wanita di depannya, “Berikan aku segelas minuman. Yang biasa.”
Aku menatap lekat-lekat foto gadis berlesung pipit, Aurel. Mataku seakan tak bisa lepas memandanginya. Sama seperti otakku yang tak pernah bisa menghapus memori tentangnya. Sama seperti hatiku yang tak pernah bisa berhenti memanggil namanya. Tiga tahun ini aku menganggap Aurel sebagai masa lalu yang kini tak pernah tergapai, walaupun aku sangat mengharapkannya. Tiga tahun ini aku dan Aurel dipisahkan oleh tembok-tembok ruang dan waktu yang tak jelas batasannya. Tiga tahun ini aku tak pernah sekalipun menjenguk wajah purnamanya. Huh! slide-slide film otakku kembali memutar potongan-potongan kisah tiga tahun lalu.
Kini aku menyesal tidak berhenti di warung untuk sarapan. Seluruh tubuhku gemetar. Orang itu dengan mudah memasukkan ke dalam kantungnya SIM dan STNKku. Lalu menyuruhku minggir untuk menggosok nomor-nomor di plat motorku supaya menampakkan warna dasarnya. Sesuatu yang bagiku tidak berada di dalam akal.
Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan. Hari ini ulang tahunku ke-13. Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah, meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan mengatakan itu.
Posted in Cerpen, Kelam on Februari 16th, 2009 3 Comments »
Apa yang harus kulakukan lagi. Tanganku terikat, mulutku terbungkam kain hitam, mataku dibiarkan telanjang melihat kegelapan, dan kemaluanku dililit kabel berwarna merah, kuning, dan hijau. Bergerak setengah langkah, berarti membiarkan hidupku melayang di neraka selamanya. Abadi—dan takkan pernah mengintip indahnya surga.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
Januari lalu, ketika long weekend, saya menyempatkan diri ke Banyumas, Jatilawang. Tak ada misi berarti, hanya butuh penyegaran, dan mungkin sedikit kepastian untuk masa depan. Bersama Arini, saya berkemas seadanya dan berangkat menuju kota tempat Landung tinggal. Landung, iya, Landung yang itu. Lelaki beraroma senja itu. Benar sekali.
“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.”
Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik.
Di sudut ruangan itu, dengan sebatang Marlboro terakhir di sisa hari ini, dia coba membunuh tangisnya sekali lagi dengan kepulan asap rokok. Kepulan-kepulan asap yang membuat ingatannya mengembara. Kenangan masa kanak yang saling bertubrukan, berhamburan keluar dari memori otaknya. Juga saat-saat terakhir bersama sosok ayah yang tak pernah sempat bisa membahagiakannya.
Aku sudah tidak mungkin protes lagi. Bagaimanapun aku sudah terlalu banyak merepotkan Mbak Yani, kakakku. Memang, mencari indekos bulanan sangat sulit saat ini. Entah karena apa, para pemilik indekos lebih memilih menawarkan jasa kamarnya untuk tahunan, atau empat bulanan. Kalau pun ada yang bulanan, harganya sangat melangit.