KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Cerita Kehidupan'

Hobinya memancing ikan. Bahkan tidak hanya sekedar hobi tapi sudah menjadi dunianya. Tak bakal ia mau lewatkan barang seharipun untuk tidak memancing. Seluruh tubuhnya akan merasakan sakit yang tak bisa terdeteksi secara fisik bila ia tak pergi memancing. Kalau sudah begitu kejadiannya maka seluruh obat di apotek takkan bisa menyembuhkannya, kecuali; pergi memancing. Sebuah dunia yang sudah melekat dalam dirinya.
Entah sejak kapan ia mulai menggemari hal itu, tak ada yang tahu pasti. Bahkan ia pun tidak. Almarhum ayahnya pun tak suka memancing, begitu juga dengan kakak-kakaknya. Bagi mereka, memancing itu pekerjaan yang tak ada gunanya dan menghabiskan waktu tidak dengan melakukan hal yang produktif. Kalau dilihat dari sudut ini berarti hobi memancingnya bukanlah bakat genetik.
O iya, hampir aku lupa. Tokoh utama yang aku ceritakan ini adalah seorang pemancing ikan yang bernama Boy. Namanya serupa denganku, tapi ia bukan diriku. Karena untukku, memancing itu melelahkan tanpa melakukan apa-apa. Dan itu menyiksa. Tapi tidak demikian dengan si Boy pemancing ini, baginya memancing itu melatih mental dan menguji strategi. Seperti catur, namun bidak-bidaknya adalah diri si pemancing itu sendiri. Bahkan, dalam kalimat filosofis, Tuhan itu Maha Pemancing sedangkan manusia adalah umpan sekaligus ikan itu sendiri. Kalau sudah berbicara seperti itu biasanya aku hanya manggut-manggut mencoba memahami walau aku sendiri tak pernah mengerti makna kata-katanya.

Aku adalah anak keempat dari lima bersaudara di keluargaku. Aku terlahir dari keluarga yang dapat dibilang cukup berada. Kedua orang tuaku adalah pengusaha batik yang cukup sukses dan terkenal di kotaku, Yogyakarta. Usaha batik yang dijalani oleh kedua orang tuaku tidak diperoleh karena warisan dari orang tua mereka tetapi mereka peroleh dari kerja keras dan ketekunan mereka selama bertahun-tahun menjadi buruh batik di tempat seorang pengusaha batik lokal. Setelah cukup lama menjadi buruh batik, kedua orang tuaku mulai memberanikan diri membuka usaha batik sendiri dengan modal pengetahuan yang telah mereka miliki dan diperolehnya sebagai buruh batik. Dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang kuat akhirnya usaha batik mereka mulai berkembang sampai sekarang. Dan saat ini usahanya sudah merambah ke luar negeri.

Aku ingin jadi dokter ! Kuteriakkan mimpi itu sekencang-kencangnya dalam hati. Jadi dokter itu menyenangkan, bisa membantu banyak orang. Setiap guru sekolah menanyakan tentang cita-cita, pasti aku akan berteriak lantang, “Jadi dokter, Bu ! “

Tiba-tiba HP-ku berdering tanda panggilan masuk.

“Mbak, kita ada klien baru nih dia butuh bantuan tolong dijemput ya, Mbak.”

Seorang penyair berjalan gontai masuk ke dalam sebuah warung kopi. Bapak penjaga warung menyapanya dengan ramah, ” Kopi kental pahit seperti biasa, Tuan Penyair?”

Sang penyair hanya menyunggingkan senyum tipis dan duduk di bangku panjang menghadap rak kaca warung kopi itu. Seperti biasa, harum gorengan dalam rak menyusup keluar dan mengelus-elus indera penciumannya. Dengan begitu, perutnya langsung bereaksi memohon untuk diisi. Tangannya langsung menjulur mengambil sebuah gorengan dari dalam rak. Sambil mengunyah, dia berbasa-basi.

KUPU-KUPU
Aku belum pernah memandang dunia dengan cara seperti ini. Sebelumnya duniaku hanya sebesar pohon Akasia di sudut taman itu. Tempat di mana aku menggantung kehidupan kecilku pada daun-daun muda berwarna hijau tua—yang menjadi gambaran penuh akan arti sebuah “dunia” bagiku.
Namun segala sesuatu berubah. Begitu juga denganku, saat kusadari ternyata bunga lebih manis dari yang terlihat. Dan saat kuketahui daun tidaklah seenak yang kuingat. Rasanya, setiap hal ber-revolusi menjadi perkembangan baru dalam hidupku.
Entah kenapa.

Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.

Siapa yang pernah ngerasain rasanya tahi kucing??? Kalaupun pernah saya yakin nggak bakalan rasanya kayak coklat! Tapi kalau kita sedang jatuh cinta, tahi kucing memang benar-benar bisa terasa seperti coklat, maksud saya, cinta memang bisa membuat kita mabuk kepayang, dan kita tidak bisa hidup tanpa cinta.“The Power of Love” tuh memang bener-bener dahsyat, tapi kenapa ketika cinta itu pudar ato hilang ia juga bisa menyebabkan kehancuran yang dahsyat???

Aku merelakan segala nuansa sedih senang tak lagi kurasa

Aku buta

Aku tuli

Aku bisu

Aku lumpuh

Tak lagi aku dapatkan kasih

Tak lagi aku meraba cinta

Tak lagi aku berkata sayang

Aku manusia

Tapi bukan

Aku dengar

Tapi tuli

“Penyesalan…” satu kata yang dari dulu selalu aku hindari, tapi sekarang aku benar – benar mengalaminya. Sebuah pelajaran yang aku dapatkan setelah dia benar-benar pergi meninggalkan aku, untuk selamanya! Aku memang telah mengikhlaskannya tapi aku tak akan bisa melupakannya. Satu hal yang sangat kusesali, ku tak sempat  ucapkan sebuah kata maaf! Sungguh nilai yang tak sebanding jika melihat apa yang telah kulakukan. Dan tak sempat pula kuucapkan terima kasih atas semua yang dia berikan untukku.

« Prev - Next »