KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Cerita Kehidupan'

-untuk Suriah
[di catatan harian, kutemukan diriku bercinta dengan dua aparat]

Aku tak meminta apa, hanya talu senja ‘tuk hiasan kepala. Aku tak meminta apa, Mas, sebab diriku telah tersingkir di antara para wanita. Sebab kau aparat negara, telah membuat diriku beroleh harga. Dan aku tidak tega, memisah dirimu dengan wanita yang telah dua dasawarsa menemanimu hanya untuk kenikmatan kita semata. Aku mau kamu tetap kerja, Mas. Tetap berdinas. Memakai seragam lengkap dengan pangkatnya. Dan, saat selangkanganmu rindu mengangkang, pulanglah kepadanya atau kepadaku. Kau tinggal memilih.

Dua tahun kemudian…………

Lila telah menjadi seorang wanita yang cantik. Dari dulu juga begitu, namun Lila yang sekarang adalah Lila yang dewasa. Lila menjemput Abrey di bandara. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Abrey. Abrey, selama di Jepang selalu menelponnya tiap akhir pekan. Abrey tak pernah sekalipun tak membalas email-nya. Hati Lila berbunga-bunga akan bertemu dengan Abrey setelah dua tahun berpisah.

Rapor

Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Dari tempatku duduk sebagai notulen, gerak-geriknya terbaca jelas. Sangat jelas. Bahkan orang bodoh pun tahu, dia sangat gelisah.

“Aku hamil,” kata gadis berbulu mata lentik itu datar. Mulutnya tak lepas mengunyah butir-butir manis jagung rebus yang masih hangat.

Pemuda yang sedari tadi asyik mengupas-kunyah kacang rebus di pangkuannya terbatuk-batuk diserang sedak. Bagaimana tidak, baru saja seseorang melempar bom molotov tepat di ambang daun kupingnya.

Ia menangis sedari aku datang. Mereka salah; tidak semua air mata perempuan mampu melumpuhkan hati lelaki. Kecuali ada rasa bersalah menjelma bayanganku di matanya.

“Kau kenapa?” aku bertanya untuk kesekian kalinya, dengan nada kesal.

“Aku hamil,” akhirnya ia menjawab. Barulah hatiku lumpuh, kemudian lepuh. “Dua bulan.”

Hari ini adalah kesekian kalinya, Mas Bagas pulang terlambat. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu pulang di atas pukul sebelas malam, aku tak pernah berani bertanya. Itu semua karena aku menjaga perasaan Mas Bagas, yang selalu naik darah bila kutanya. Namun malam ini sepertinya hatiku sudah tak mampu lagi bertahan untuk diam.

Kalau dibilang aku jelek, ya nggak jelek amat. Kalau mau bilang aku ayu, ya nggak teramat ayu. Bodoh juga tidak, bahkan temanku selalu bilang aku pandai bahkan mungkin bisa dibilang terlalu pandai sehingga aku sering menggunakan kepandaianku untuk mengalahkan lawan bicaraku. Tapi memang aneh, rasanya paras dan tubuhku plus keenceran otakku bisa buat modal digodain cowok, toh nyatanya sampai ke detik ini menginjak usia rawan ( usia yang sudah bisa dibilang perawan kasep!! ); usia 30 an; belum juga aku kesandung cinta apalagi sampai terjatuh dalamnya. Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, “Cinta itu apa sih..?” Kalau boleh aku bilang jujur, kata cinta sepertinya sudah tak terdefinisi dalam otakku. Lho aneh kan?

Tahukah kamu sekarang tahun berapa?

Ya benar sekarang tahun 2008. dimana pada tahun ini adalah tahun bertambahnya keterpurukan Indonesia.

Ku jejak kaki pada pasir yang menghangat tersiram cahaya pagi
Erat ragamu ku dekap di bawah bayang tarian nyiur bersama angin
Mentari Dewata pertama kita hadir malu-malu di sela gerumpul mega
Ucapkan selamat datang pada cinta di sana

Pernahkah kamu merasa terkutuk?
Pernahkah kamu merasa begitu jijik dengan orang yang melahirkanmu?
Pernahkah kamu merasa dilahirkan di waktu dan tempat serta keadaan yang salah?
Aku pernah.
Bukankah, semua yang telah, akan, dan yang sedang terjadi pasti ada alasannya? Mungkin. Tapi aku tidak pernah sekalipun terpikir kalau aku akan punya ibu seperti ibuku. Orang boleh menyebutnya dengan sebutan PSK atau WTS atau apalah. Tapi itu semua sama saja bagiku. Pelacur tetaplah pelacur. Tidak punya harga diri, di depan manusia, atau di depan Allah. Ibuku tetaplah hina, tak peduli hal sebaik apa yang ia lakukan, ia tetaplah hina.
Dan aku? Tak peduli akan prestasi-prestasi akademisku di sekolah yang melebihi teman-temanku, tak peduli akan prestasiku atas pemenangan beasiswa prestasi dari sebuah perusahaan swasta yang bergengsi, tak peduli akan kecantikan fisikku, yang kata orang, begitu luar biasa dan jarang dimiliki anak seumuranku, aku tetaplah anak pelacur.
Ayah? Kamu tanya siapa ayahku? Sayang sekali, aku sendiri bahkan tak pernah tahu pasti siapa ayahku. Dan aku juga malas menanyakannya pada Ibu, karena mungkin Ibu pun tak tahu. Mungkin Pak Jito, tetangga sebelah rumahku (yang jadi langganan tetap Ibu), atau Pak Sarmin, tukang ojek yang kerapkali menggoda Ibu ketika ibu berangkat “dinas”, atau malah Pak Warji, tukang mabuk yang juga pengedar pil gedek yang sekarang jadi buronan polisi.

« Prev - Next »