KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Cerita Kehidupan'

Aku, Siapa?

Aku terhenyak dari mimpi panjang
Sampai pada akhirnya aku harus tertidur lagi
Sebenarnya aku ingin
Tapi aku juga muak pada saat yang sama
Entah,
Muak karena terlalu banyak menginginkan
Atau ini hanya sekedar keinginan yang memuakkan
Seingatku, sebisa yang kumampu
Aku bukan ingin berada di sini
Aku hanya merasa ditempatkan di keberadaanku yang sekarang
Pertanyaan besar mengenai siapa aku belum terjawab
Lalu dari mana
Oleh siapa
Dan yang terpenting bagiku, untuk apa
Semua itu pertanyaan yang terus merayap di kepalaku
Gatal jika kubiarkan terus merayap
Namun perih jika coba kulenyapkan dengan cara yang salah
Sementara untuk menemukan jawabannya, aku terlalu lemah atau mungkin malas untuk beranjak
Sekali lagi, kesekian kali, tapi mungkin bukan terakhir,
Siapa aku?

YASMIN baru sampai pagi ini, menumpang perahu nelayan dari Muara Kamal. Ia memperhatikan sekeliling pulau. Tempat ini masih termasuk ke dalam Jakarta sebagai salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tapi keberadaan bangunan-bangunan tua disini membuatnya sungguh berbeda dengan dunia metropolitan di seberang sana.

Tak mudah memang, menghapus masa lalu dari hidup kita, seperti air liurmu yang masih menetes di pinggiran bibir mungilmu. Kuhapus langsung mengering, tak lama kemudian akan menetes lagi dan membasahi leher dan dadamu. Berulang kali harus kuganti bajumu yang telah basah oleh tetesan air liurmu. Terkadang membuat kesal dan emosi harus selalu menggantinya untuk menghindari lembab dan ingin selalu terlihat rapi bersih, terlebih lagi aku takut kamu masuk angin. Entah sampai kapan kamu akan terus seperti ini. Entah sampai kapan pula kau harus kesusahan menelan air liurmu dan menelan makanan secara baik?

Namaku Frans. Seorang pemuda pegawai biasa. Namanya juga pegawai biasa, pastinya gaji pas-pasan. Hanya cukup untuk makan, membiayai kebutuhan hidup yang lain dan tak ada barang sedikit pun untuk hura-hura. Jadi wajar saja jika aku tak pernah bersedekah.

Pagiku….

Kurasakan, embun pagi yang sejuk memberikan kesegaran di dalam hati
Rumput-rumput pun tersabit di tengah kegalauan jiwa
Matahari menunjukan sinarnya bahwa ia ingin bangkit dari tidur panjangnya
Udara sejuk di pagi hari siap mengiringi langkahku sepanjang hari…

Terduduk ku di sudut ruang
Memandang
langit yang semakin jingga
Hanya suara jengkerik menggema
Melolong – lolong sambut gelapnya dunia
Semua terasa mencekam
Mencengkeram dalam kesunyian

Dalam terik matahari esok hari
Ku masih terduduk disini
Bak seonggok sampah
Tertiup angin kemarau yang membakar jiwa
Tergores luka hingga berdarah-darah
Ingin ku menjerit sekuat tenaga
Namun mulut terbekap oleh pisau kedukaan

Senja di Ibukota

Lampu temaram tegak berjajar
Berbedak pekat debu jalanan
Roda berputar merambat perlahan
Letih menahan berat beban kehidupan
Meningkahi ambisi yang tak pernah mati.

Kegelapan makin meraja
Wajah – wajah kuyu membeban angan
Memburu waktu yang tak pernah usai
Merangkak, mengukur jalan yang tak berujung.

Hari ini adalah hari pertama aku menempati kamar kost baru di kota Yogyakarta, tepatnya  di Jalan Timoho. Aku terpaksa pindah dari kost lama karena ada suatu masalah yang tak ingin kuceritakan di sini.

Seberkas sinar menyilaukan menusuk pupil mataku, membuatku mengerjap perlahan. Tapi tunggu! Di mana saat ini aku berada?!? Lalu kubuka mataku, namun sinar putih itu menembusnya tajam hingga membuatku kembali memejamkannya. Saatku kembali terpejam, memoriku kuputar kembali ke beberapa waktu lalu, yang kuyakin dengan begitu aku akan tahu jawaban dari pertanyaanku, di mana aku saat ini.

Malam sebelum pernikahan adalah malam dimana pengakuan akan kasih sayang, penyesalan serta harapan kedua orang tua di sampaikan. Malam indah yang penuh makna. Malam dimana orang tua akan bersiap untuk melepas tangan putri tercinta dan memberikannya kepada sang pangeran impian.

« Prev - Next »