Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Hujan deras mengguyur kota sepanjang hari, mengurung aku sendirian di dalam kamar ini. Dari jendela bisa kulihat jeruji perak yang berkilau muram di luar sana, dan dari sela-selanya terlihat pemandangan dunia sebatas yang bisa ditangkap bingkai jendela kecil itu.
Pagi-pagi sekali Aji sudah mengayuh sepedanya melewati pasar-pasar tradisional yang tengik. Roda-roda sepedanya yang sudah tidak lagi bulat akibat termakan usia, sedikit demi sedikit mulai tertutupi lumpur yang belum hilang akibat hujan semalam. Batu-batu besar terpaksa ia terjang demi mendapatkan lahan untuk meloloskan sepedanya. Di sekitarnya kerumunan manusia berjejalan mencari penghidupan dengan berjualan sayur dan buah-buahan dalam bakul rotan. Jalanan sempit selebar tiga meter itu sudah tidak mampu lagi menampung luapan manusia yang sibuk berniaga di pasar itu.
Petugas kesehatan berkata,
“Untuk orang miskin di bangsal itu.”
Sambil menunjuk sebuah ruang kosong
Terlihat ruang pengap dengan bau pesing
Para pasien duduk berhimpit-himpitan
Dan mereka harus menahan diri untuk tidak buang hajat
Sanitasi mati…
Sore ini seperti sore yang lalu. Kududuk di deretan kursi plastik ruang dapur yang kami sulap menjadi ruang rapat. Kepulan asap rokok menyesakkan hidung rekan yang turut terlibat dalam rapat.
Ya, itu giat rutin saban sore.
Langit masih terlihat kelam. Semburat awan kelabu masih mewarnai birunya langit. Pohon – pohon terlihat basah dengan butir – butir air yang masih menempel di daun. Cekungan air berwarna coklat terbentuk pada ruas jalan yang berlubang. Tiap harinya jalan yang sudah berlubang di sana - sini itu, dilalui banyak kendaraan dari truk pengangkut pasir sampai sepeda. Tapi pagi ini, hanya satu dua kendaraan yang terlihat melewati jalan ini, mungkin karena hujan yang baru saja turun.
Di sisi jalan inilah, setiap hari seorang kakek tua berjalan menyusuri tepian jalan, mencari rezeki demi keluarga dengan menjual kayu bakar. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya kumal, deretan giginya sudah tidak utuh lagi dan barisan rambut putih telah memenuhi seluruh kulit kepalanya. Walaupun begitu, semangat kakek untuk bekerja tak pernah surut. Seperti semangatnya ketika membela tanah air di masa perjuangan.
Dulu, dengan gagah berani, sang kakek bersama pejuang lain berhasil melawan penjajah dalam peristiwa Hotel Yamato di kota pahlawan ini.Pertempuran sengit di hotel yang kini bernama Hotel Majapahit itu berawal dari penjajah yang berani mengibarkan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato. Saat itu, semua arek Suroboyo merasa terhina dan bertekat mengganti bendera itu dengan bendera merah putih milik Indonesia.
Pertempuran hebat tak bisa dihindarkan, dengan senjata seadanya, mereka melawan penjajah yang bersenjatakan pistol. Beberapa arek Suroboyo mencoba mempertaruhkan nyawa mereka, termasuk sang kakek, dengan memanjat dinding Hotel Yamato dan berusaha merobek warna biru dari bendera tersebut. Penjajah yang tak mau kalah, menembaki dari bawah semua pejuang yang berusaha memanjat menuju atap hotel. Banyak pejuang yang gugur bersimbah darah dengan pekik perjuangan yang masih menyala. Tapi, akhirnya mereka berhasil merobek warna biru dari bendera tersebut dan menjadikan sang merah putih berkibar di sana.
Sang kakek masih ingat peristiwa itu. Bagaimana kerasnya ia dan teman – teman seperjuangan berjuang mempertahankan kemerdekaan, bagaimana ia melihat satu per satu temannya gugur bersimbah darah dan bagaimana ia dan pejuang lainnya mengusahakan hidup merdeka untuk generasi selanjutnya.
Hingga hari tuanya tiba, tiada kebahagiaan yang berarti selain melihat Indonesia tersenyum. Walaupun tanda penghargaan tertinggi sebagai pahlawan tiada disandangnya. Sambil terus berjalan menyusuri jalan, sang Kakek meneriakkan kata,”Kayu bakar!!!Kayu bakar!!!” dan ketika itu terlihatlah giginya yang ompong.
Sang mentari mulai membagikan kembali sinarnya setelah hujan yang membuat kayu bakar kakek tidak laku. Jalanan yang tadinya lengang dan hanya satu dua kendaraan saja yang lewat menjadi sedikit lebih ramai. Beberapa truk pengangkut pasir lewat dengan pasir bawaannya yang menggunung. Di sampingnya ada pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sang pengendara yang tidak sabar berusaha mendahului truk tersebut. Truk pengangkut pasir yang tidak siap dengan keadaan ini, tak bisa mengerem mendadak sehingga kehilangan kendali dan menabrak pengendara motor itu. Motor tersebut langsung terlempar ke sisi jalan dan……. Brakk!!!
Semua orang di sekitar tempat kejadian segera berlari untuk melihat apa yang terjadi. Sesosok tubuh kurus kering dan bersimbah darah tergeletak di dekat motor yang tadi terlempar, beberapa kayu bakar yang basah, jatuh berserakan di dekatnya. Di dekatnya lagi terdapat sang pengendara motor dengan helm yang masih melekat di kepalanya yang sudah tak bernyawa lagi. Orang – orang hanya bergumam, “ Kasihan si penjual kayu bakar itu…. “
Gemuruh petir kembali menggema. Sinar sang mentari tak mampu menghalangi sang langit untuk menangis. Rintik – rintik hujan turun perlahan. Mengiringi kepergian sang pahlawan yang dulu telah mempertaruhkan hidupnya demi generasi muda. Kembali ke Sang Pencipta dengan seribu jalan kebaikan.
Abrey berdiri di balkon, menatap sendu kamar Lila, tepat di depan kamarnya. Lila, gadis belia yang lebih muda lima tahun dari pada Abrey, menjadi tempat curhatnya selama ini. Meski Lila masih 18 tahun, namun Lila yang paling mengerti dirinya. Abrey melihat gorden kamar Lila yang masih menyala tersibak angin malam. Abrey tahu, Lila belum tidur. Pasti Lila masih sibuk mencari inspirasi untuk novel terbarunya. Lila, sudah dua tahun ini menjadi penulis dan dua dari lima novelnya telah diterbitkan.
“Ibu berangkat ya Sayang,” kukecup kening Sumunar, anakku. Dia mengangguk.
“Ol-olnya ya Bu.”
“Beres, Mak. Titip rumah dan Sumunar ya,” aku berlalu sambil menitip pesan kepada Mak Ti, pengasuh Sumunar sejak masih bayi merah. Mak Ti sudah seperti keluarga di rumah ini. Tak jarang Mak Ti “menegurku” karena terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan di luar hingga Sumunar kurang perhatian. Aku tak pernah tersinggung dengan “omelannya”. Menurutku itu karena rasa sayangnya yang begitu tulus pada Sumunar.
Aku adalah seorang gadis muda yang hanya merindukan suasana berbeda di dalam kehidupanku yang selama ini hambar. Kulihat berbagai manusia di dunia ini memiliki seseorang selain Tuhan dan kedua orang tuanya, yaitu sesosok manusia yang dapat mendampinginya di kala senang dan sedih. Tak dapat kubayangkan bila itu adalah aku.
Angin berhembus tenang, menyentuh dengan lembut kulitnya saat Adam mendorong pintu rumahnya yang telah lapuk digerogoti sang waktu. Dia merasakan bahwa angin itu menjilati wajahnya dengan sensasi dingin, namun di sisi lain menentramkan perasaannya. Anak laki-laki itu melangkahkan kedua kakinya perlahan-lahan, kemudian semakin lama semakin cepat, mengikuti kecepatan angin yang membawanya menuju suatu tempat dimana dia dapat melihat Sang Surya yang telah mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyinari dunia ini sampai senja tiba. Hari ini, hari yang mungkin sangat berarti bagi dirinya. Dimana hari ini dia akan mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia ketahui, dan sesuatu yang kelak akan berguna bagi dirinya, dan juga teman-temannya. Ya, yang dia maksud adalah ilmu.
Malam belum larut, namun sudah mulai sunyi. Sesekali terdengar suara gemerisik daun pisang yang saling bergesekan satu dengan lainnya atau kerik belalang di sela semak-semak. Di langit, bulan tak tampak. Bintang-bintang serupa noktah-noktah berpijar tak sempurna di atas lembaran kelam. Seekor kalelawar melintas di bawahnya, mencicit, lalu berggelayut pada sebuah mangga ranum yang tergantung di bawah tangkainya. Sebuah hidangan istimewa tersaji di hadapannya.
This is a preview of
Imah, Aku Kehabisan Kata untuk Membohongimu
.
Read the full post (1855 words, estimated 7:25 mins reading time)