Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Tak seharusnya dia diam seperti ini.
Selama bertahun-tahun dia hidup, tak pernah ada orang yang tega mengatakan kata sepedih itu. Nyaris telinganya putus karenanya. Entah kenapa, Candra bagai tertusuk pedang yang benar-benar panjang. Candra termenung.
“Aku tahu, kau tak pernah mendengar kata-kata seperti yang kukatakan khusus untukmu. Tapi itu memang pantas. Kau tak akan maju, bila kau seperti ini terus. Percayalah, ini demi kebaikanmu.”
Pertama aku mengenalnya ketika kami mengadakan pelatihan kepemimpinan kaum muda di Tegal Jaya, sekitar 3 kilometer dari kota Denpasar. Saat itu kami berdelapan orang bergabung dalam satu mobil dari salah satu panitia pelaksana. Awalnya kami hanya bertegur sapa dan berjabatan tangan.
“Saya Yoshe.”
“Oh saya Danta.”
Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.
burung hitam mengembang sayap di langit malam
mencanda awan kelam
mengepak menyapa rembulan, mencandu bintang
burung hitam melarung bumi di gelapnya malam
menyendiri dalam langit hitamnya
makhluk kesepian pengembara tanah asing
tertempa sinarnya bulan dan dingin angin kala malam
burung hitam terbang sendiri di langit malam
Langit mendung
Mungkin mendung juga hati ini
Sulit meraba angan jiwa
Teman
Berikan aku satu cerita tanpa duka
Berikan tawa dalam canda kala bersama
Berikan indah dalam keabadian
Berikan luka sekali saja
Di saat mata ingin berlinang
Di kala senja telah mengunadangkan pudarnya
Di masa tua akan menjelma
Dirasa raga telah goyah
Hati ini serasa senja
tak terperikan oleh bidadari malam
bulan berkicau menantang alam
apa mungkin??
sejak pergi,
tak pernah termiliki…
gundah itu punya siapa?
asa ini milik siapa?
rindu itu menjadi dua
entah siapa yang punya
Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.
“Permisi Bapak-bapak, Ibu-ibu. Maaf bila kehadiran saya mengganggu Bapak – Ibu dan Penumpang sekalian. Berikut akan saya bawakan lagu terbaru dari Mulan Jamilah dengan “Wonder Woman” ucap Ani mengucapkan nama salah satu penyanyi terkenal itu.Aku bukan wonder womanmu
Yang bisa terus menahan rasa sakit karena mencintaimu….
Sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan mayat tentara yang berseliweran. Rasa ketakutannya tidak bisa ia sembunyikan atau ia tutup-tutupi lagi. Jauh di dalam hatinya ia berharap mayat-mayat ini akan hidup kembali untuk membawa kabar gembira bahwa perang telah usai dan dia berada di pihak yang menang. Bayangkan betapa kabar tersebut akan berdengung kencang bila dibisikkan di kedua telinganya. Karena itulah do’anya selama ini, yang dengan rajinnya ia senandungkan di pagi, siang, dan malam. Hanya kemenanganlah yang akan membawanya kembali pulang ke rumah dan keluarganya tercinta. Namun, sekuat apapun ia menggosokkan kedua matanya, yang terlihat tetaplah tubuh-tubuh para serdadu yang tergeletak tak lagi bernyawa. Dan dirinya menghirup napas seorang diri dengan jantung yang lelah.
This is a preview of
Detik-detik Terakhir dari Sini Menuju ke Sana
.
Read the full post (3559 words, estimated 14:14 mins reading time)
Gema haru bersembunyi di balik keinginan
rindu menggeliat ditengah sibuknya waktu
menjerit asa melupakan angan
mentari petang bergurau indah bersamamu
sejuk gerimis mengikis masa yang terlewati
hanya uraian semata meliuk di ufuk barat
rentetan peristiwa tak terhitung ilusinya
sepotong kebahagian melapisi segumpal gurauan