Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Langit berwajah murung, ditemani sang bintang yang terpisahkan oleh keangkuhan nafsu duniawi para pemujanya. Hanya redup sebagai penghias malam mereka. Irama rintik gerimis di antara milliaran kebisuan menjadi iringan ratap yang menyayat ruh-ruh qudus. Kesaksian sunyi tak akan menguatkan gugatan kepedihan di pengadilan kejujuran yang semu. Sunyi hanya bisa menawarkan jasanya lewat tetesan air dari lembah hati kebisuan.
Posted in Cerpen, Kehidupan Remaja, Asa on Desember 11th, 2008 1 Comment »
Draft drama setebal 89 halaman tergeletak seperti keset di lantai keramik Fey. Sudah lebih dua hari hasil tulisan selama menyendiri di Batu dibiarkan saja tidak terurus seolah tidak ada nilai apa-apa. Padahal selama ini dari sanalah dia memenuhi kebutuhan hidup. Sejak enam tahun lalu.
Posted in Puisi, Asa on Desember 4th, 2008 No Comments »
Malam ini kembali aku melihat bulan
Bulan sabit dengan banyak bintang
Bulan sabit yang di atasnya terdapat dua bintang
Seakan bulan sedang tersenyum
Tersenyum kepada aku
Hari ini musim hujan
Dingin yang mendera
Hempasan angin yang menerpa
Tak terasa saat ku pandang sang bulan
Saat ini…
Tepatnya di tengah keheningan malam yang tengah
Disucikan oleh lantunan ayat suci oleh ibunda tercinta.
Aku…
Termenung di sebuah meja berpikir,
Sambil menari-narikan pensil di selembar kertas
Tanpa celah…
Aku…
Ingin bercerita tentang hati yang tidak jujur akan perasaan…
karena, aku benci dengan lamunan.
Posted in Puisi, Asa on Desember 4th, 2008 No Comments »
Saat mencoret,
Kugambar selintas kapal bocor
Dengan layar bolong, sarat dan berat-berat
Keisenganku memberinya laut, lalu segunduk samudra
Besar dengan ombak-ombak laut
Digambarku,
Laut bukanlah perampatan pilihan
Laut cuma luas, lapang dan nakal
Kecentilan tanganku akan melukis selusin badai kesukaan
Dan menempuhnya
Nampaknya Warmin masih saja memendam mimpinya. Cita-cita kecilnya hanya menjadi angan belaka. Angan masa lalu yang tak akan pernah digapainya. Dambaannya menjadi seorang polisi, kini tertutup rapat. Tak akan pernah terbuka kembali kesempatan itu baginya. Kalaupun dapat terjadi, seragam kejujuran itu tak layak dipakainya. Tercoreng kelakuan sekarang yang akan dikenangnya mendatang. Dia hanya dapat melihat polisi yang melintas di hadapannya. Bukan dalam mimpi, angan, dan cita-citanya. Dia hanya mampu menyaksikan perilaku dan kehebatan seorang polisi di depannya. Bukan di dalam dirinya.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk on Desember 4th, 2008 1 Comment »
Hari ini terasa begitu melelahkan. Setumpuk buku masih berserakan di atas meja. Berlembar-lembar makalah yang berjejal di meja komputer membuatku amnesia. Satu minggu lagi desertasiku harus selesai. Aku benar-benar dikejar waktu. Entahlah, untuk hari ini saja, aku benar-benar ingin istirahat. Sejenak melepas ratusan tesis yang memusingkan. Kutatap barisan rak buku yang membuat kamarku terasa sempit. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada rak di pojok ruangan. Rak itu tempat khusus untuk menyimpan file-file pribadiku. Ah… sudah lama tak kujamah rak itu. Sebuah buku bersampul biru muda menarik perhatianku. “Kumpulan Manuskrip Biru”.
Di taman pusat kota ini tempat ia menuangkan imajinya lewat sebuah kanvas. Dengan tangan magicnya, ia bisa membuat objek yang ia jiplak tampak romantis dan naturalis. Tentu, ia bukan amatir. Meski masih remaja, gelar profesional telah ia sandang. Hasil coretannya, bisa saja dihargai 10 juta. Namun aneh, sebagai seorang pelukis terkenal, ia memilih taman pusat kota yang kecil dan sederhana ini. Lain dengan pelukis lainnya yang memilih tempat nongkrong yang jarang terlihat mata.
Posted in Puisi, Jeritan, Asa, Teruntuk on Desember 2nd, 2008 No Comments »
seorang wanita
terkulai menghitung peluh,
yang mengalir dalam gemuruh birahi
keperkasaan adam yang ditelan
merobek liang harta kekayaan
tak ada yang peduli
gelisah hati pewaris dosa
semua hanya menikmati,
menjilati,
mencumbui, dan
membeli dengan nafsu
lelah sudah mengeja butiran keringat
hanya menunggu waktu bersahabat
membasuh diri untuk beristirahat
dan kembali mengingat:
seucap kata tobat
sebelum bumi memendamnya!!!
Permanent link to this post (58 words, estimated 14 secs reading time)
“Hai, pagi dah melamun!” Aku dikagetkan suara Ayu, gadis manis yang manja dan kolokan. Maklum usianya baru 18 tahun meskipun dalam paspornya tertulis angka 23 tahun. Aku mengenalnya satu tahun yang lalu, kebetulan kami satu blok. Tiap pagi kami sama-sama mengantar anak bos ke sekolah, main di play ground bersama dan sekali dalam sebulan kami libur bersama. Kuanggap dia seperti adikku dan bagi dia, aku adalah tempat meluahkan semua uneg-unegnya.