Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Benamkan jiwa yang terapung
Dalam kenangan yang berjalan
Mencari akar agar membenci
Sulit…..
Bagilah aku cara hatimu
Agar sama dapat terlupa
karna sungguh menyiksa rasa itu
tak dapat sekali aku pejamkan sesaat
terendap pun tetap terlihat
meski terkubur jauh di lubuk hati
Permanent link to this post (43 words, estimated 10 secs reading time)
Biarkan diriku melayang ke angkasa
Diantara bintang-bintang yang hanya memandang sebelah mata
Di atas sana bukan sebuah bintang
Hanya rayap-rayap yang mampu terbang menyaingi bintang
Benarkah itu … ?
Satu yang dapat mendera langit dan bulan
Mungkin tak pernah ada ragu dalam asa
Angin berhembus dengan penuh untaian cinta
Kesana kemari hembuskan kesejukan
Tak pernah merasa disakiti
Tak pernah merasa di acuhkan
Angin..
Lihatlah ketika aku merasa sendiri
Aku ingin sebercik cahaya datang menemaniku
Aku tak mau dia membawa bunga,
Aku juga tak mau dia membawa harta.
Indonesia pernah berjaya di event-event olah raga regional dan internasional. Negara kita terkenal dengan rajanya bulutangkis dunia dengan segudang pemain berprestasi seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Ivanna Lee, Hastomo Arby, Susi Susanti dan lain-lain. Cabang sepak bola pun berjaya di era 60-an sampai 70-an. Saat itu Indonesia menjadi salah satu kekuatan sepak bola asia dibandingkan Jepang, Korea, atau negara Timur Tengah.
This is a preview of
Memasyarakatkan Olah Raga (Memperingati Hari Olah Raga Nasional 9 September)
.
Read the full post (412 words, estimated 1:39 mins reading time)
Debu tergores pilu
kotori sanubariku
tiada nada dalam melodi
kata terucap, mata berlinang
Aku bersujud meski tak pantas
diri berserah hati memohon
harapkan Engkau terangi hatiku
yang kini tertutup
oleh kelamnya kabut dosa
Rintihan hatiku terlepas
seiring rapuhnya diriku
sujudku dalam sesalku
dapatkah Engkau,
terima ketulusan hatiku
terangi hatiku
dengan cahaya cinta-Mu
Permanent link to this post (53 words, estimated 13 secs reading time)
Posted in Puisi, Asa, Teruntuk on November 1st, 2008 No Comments »
Ketika senja menawarkan diri untuk hadir
Dan pelukan rentan yang kudapatkan darimu
Menyeruak di relung batinku
Kau telah titipkan sebentuk hati untukku
Dan kau warnai indahnya dengan senyum manismu yang menghilang diusap senja yang membayang
Aku ingin merengkuhmu dalam-dalam
Menari dalam dekapanmu
Menangis dalam belaianmu
Aku mengharapkanmu lebih
Dan lebih dari yang mampu kupikirkan dan kukatakan
Tempat pelacuran di mana-mana sama saja. Mau di gang-gang sempit. Mau di hotel-hotel berbintang. Mau di pinggir jalan sekalipun. Sama saja. Yang membedakan hanya pelayanannya saja.
Satu malam lagi aku menjelajahi tempat pelacuran di negeri ini. Kalau dihitung-hitung sudah banyak uang dan waktu yang kuhabiskan untuk melakukan pesiar malam seperti ini. Tapi aku tidak akan pernah berhenti sampai aku menemukan dia. Cinta sejatiku.
Saat penat terasa semua begitu kelam
Hitam dengan segala nikmatnya
Redup dengan segala gelapnya
Hampa dengan segala isinya
Pernahkah kau merasa illfeel?
Ketika dunia mentertawakan sikapmu
Semua insan seperti tumpukan tanah yang siap menggulungku
Atau pernahkah kau merasa bonyok?
Dilempar batu dan dikeroyok oleh pedang lidah?
Ada yang harus kau lakukan?
Dan apa yang harus kau berikan?
Aku merangkak di tepian waktu
Coba rengkuh segala bentuk arti yang hadir di riak rasa
Yang terkadang menggelegak lelahkan akal
Dan kemudian ciut
Beku mengkristalkan ketakutanku sendiri
Kesadaranku kini terburai dari cangkangnya
Menyerpih keseluruh sudut masa lalu yang kupijak
Dimana telah kutinggalkan jejak berongga
Yang mungkin telah dipenuhi air mata
Menjadi oase kesedihan di tengah gurun kebencian

Puing-puing hati yang telah retak
Berserakan ke dasar jiwa
Merepih tiada tara
Ku menunggu…..
Menunggu embunkan berarak membawamu….
Janjikan sedikit asa….
Walau hanya angan
Namun waktu tergelapkan setiba kelabu merenggutku…
Permanent link to this post (32 words, 1 image, estimated 8 secs reading time)