KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Asa'

Aku ingin jadi dokter ! Kuteriakkan mimpi itu sekencang-kencangnya dalam hati. Jadi dokter itu menyenangkan, bisa membantu banyak orang. Setiap guru sekolah menanyakan tentang cita-cita, pasti aku akan berteriak lantang, “Jadi dokter, Bu ! “

Mentari pagi membangunkanku yang tertidur pulas di balik selimut tebal. Kelembutan sinarnya memancar hingga sudut kamar tidurku. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang-tulang rusukku. Tubuhku terasa kaku semua. Entah apa yang terjadi dengan tidurku semalam. Mungkin aku kemarin tidur dengan posisi yang salah. Kedua bola mata ini juga terasa berat ‘tuk dibuka.

Siapa yang pernah ngerasain rasanya tahi kucing??? Kalaupun pernah saya yakin nggak bakalan rasanya kayak coklat! Tapi kalau kita sedang jatuh cinta, tahi kucing memang benar-benar bisa terasa seperti coklat, maksud saya, cinta memang bisa membuat kita mabuk kepayang, dan kita tidak bisa hidup tanpa cinta.“The Power of Love” tuh memang bener-bener dahsyat, tapi kenapa ketika cinta itu pudar ato hilang ia juga bisa menyebabkan kehancuran yang dahsyat???

Aku merelakan segala nuansa sedih senang tak lagi kurasa

Aku buta

Aku tuli

Aku bisu

Aku lumpuh

Tak lagi aku dapatkan kasih

Tak lagi aku meraba cinta

Tak lagi aku berkata sayang

Aku manusia

Tapi bukan

Aku dengar

Tapi tuli

Warna-warni itu…
tak tajam tapi menusuk
ketika gerimis datang…
aura untuk merefleksei

Kusadari… diri ini hanya serpihan…
yang tersesat di padang ilalang

Ketika semuanya sama
kurindukan alunannya
yang menghembus ke sanubari
dan membawaku terbang

Hingga aku merasa
tidak kalah tinggi dari awan

Diterangi gemerlap bintang
hamparan angan menuntunku

Penulis Sastra

Aku mulai mengambil kertas-kertas yang berhamburan di lantai kamarku. Maklum kala itu hari sudah larut malam. Mataku sudah tidak tahan lagi bertahan lama untuk melihat kata-kata yang kutulis. Kulihat mataku di depan sebuah cermin pemberian seorang teman yang telah lama tak kujumpai. Warna putih mataku ternyata sudah berubah menjadi putih campur merah. Aku menyamakan mataku saat itu dengan lampu lima watt yang hampir padam. Terdengar olehku suara tiang listrik yang sengaja dipukul sang penjaga malam dua belas kali. Ternyata memang benar-benar larut malam saat itu.

Aku adalah aku . Sesosok pria dengan tubuh kurus dan rambut gaya Pasha Ungu . Aku suka dengan berbagai macam kehidupan malam . Apalagi saat aku hidup sebagai seorang pelayan di salah satu cafè di Jakarta . Hidupku aman dan nyaman tentunya di sana, tanpa ada pengganggu dan polusi . Ya, kalian mungkin mengganggap itu sebagai sebuah desa kecil dan kumuh, namun perkiraan kalian salah ! Karena aku hidup di kota yang jauh dari keramaian .

Kala itu sungguh sial nasibku, sudah puluhan kali aku berjalan mengitari rumah-rumah itu namun tak ada satupun orang yang sekedar berucap “Jamunya Mbak”. Tak biasanya kurasakan sial seperti ini, sesial-sialnya aku, paling tidak lima gelas jamuku larut dalam perut mereka tiap harinya. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada ketiga anakku nanti. Bukannya apa-apa, aku sudah berjanji pada mereka semua akan mencarikan uang sekolah yang sudah menunggak sejak tiga bulan lalu.

“Ng..ng…emm…brmmm…”

Gumaman tak jelas keluar dari mulut mungil Iza. Tak ayal, gumaman itu cukup membuat kepalaku tertoleh pada tubuh mungil yang tengah beringsut di ruang tengah. Ruang itu telah dibuatnya berantakan. Tangannya sibuk meraih model huruf-huruf berwarna-warni berbahan dasar plastik. Kuteruskan pekerjaan mengupas bawang yang sempat terpenggal sejenak. Setidaknya, dari dapur ini aku masih bisa mengawasinya.

Di bawah rembulan dan bintang-bintang dan di atas permukaan sungai Mahakam sering terlihat beberapa orang menyusuri sungai itu. Mereka tidak memakai perahu, melainkan menggunakan gelondongan-gelondongan kayu yang diikat tiga-tiga dan sengaja dibawa dari hutan di daerah pedalaman ke suatu tempat. Sudah puluhan tahun kegiatan ilegal itu dilakukan berulang-ulang. Waktu terus berlalu seiring lentingan waktu dan semakin banyak pula akar-akar pohon besar yang kehilangan daun, ranting, dan batangnya di daerah pedalaman itu.

« Prev - Next »