KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Asa'

Saat aku berdoa
Aku tak ragu akan kekuasaanMu
Aku tak ragu akan kekuatanMu
Aku tak ragu akan kebesaranMu
Aku tak ragu akan kemuliaanMu
Aku tak ragu akan kemurkaanMu
Aku tak ragu akan nikmatMu
Aku tak ragu akan laknatMu

Aku pun tak ragu kepada diriMu
tapi aku ragu kepada diriku
tapi aku ragu kepada mauMu atasku
   
Banyumas, 2007

Gelora Pemuda Negeri

Pemuda negeri
Lantang suaramu
Mengelegar, bergemuruh bagaikan petir
Kau serukan budaya negeri
Dengan rasa nasionalismu
Ketika negeri tercabik
Ketika negeri terusik
Oleh penguasa tak berprinsif

Kau begitu gigih, menerjang badai membelah lautan
Pemuda.. begitu hebat suaramu
Menyerukan dan mempertahankan budayamu
Dari tangan-tangan sang pencuri budaya
Walau terkadang sumbang suara–suara yang menantang

Gelap serasa mencekam
Suara jangkrik
Hembusan angin
Menyatu dalam kesunyian
Gemerisik daun bambu
Bagaikan irama mengiringi lagu
Lagu yang tak pernah merdu
Didengar terasa kaku
Dirasa tak bermaknaGelap semakin gulita
Tatap mata semakin membuta
Meraba dan tertatih menapak jalan yang tak pasti
Tanpa arah dan tujuan
Dalam gelapku masih tersirat
Lentera hati yang terpatri
Dalam gelapku masih tersimpan
Sebuah asa yang berarti…

Dinginnya malam tidak mengurungkan niatku untuk menyusuri jalanan sepi ini. Angin malam yang berhembus seakan-akan melantunkan melodi indah di telingaku, ditambah dengan suara gemerisik dedaunan. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ya, menghela napasku seakan-akan jiwa ini keluar dari raga menuju ke suatu tempat yang sangat aku rindukan.

Fragmen I : Mimpiku belum terkubur

Pulang

Memandang jauh ke luar jendela. Aku mendengar ada yang salah. Salah? Apa yang salah? Apa yang dipersalahkan? Ya, memang ada yang salah. Akhirnya aku mengerti kalau sedang ada yang salah. Lantas, apa salah itu?

Penipu

gedung tanpa hati
kursi tanpa rasa
meja tak berhati
pena tak bermata

bicara rasa
adil makmur
jargon setan
di mimbar kampanye

gedung tak berakal
dekorasi pajangan instan
goyah tak berkalbu
pintu tak bermata

gedung buram
kelam dengan seisinya
jubah-jubah hitam
mata-mata iblis
nanar bernafsu
dengus nafsu iblis

Bukakan pintu, hai angin malam! Dan biarkan ia masuk ke dalam, karena rumah ini memang teruntuk dirinya…
Dan biarkanlah ia menggantungkan jaket lusuhnya yang telah memenjarakan jiwanya dalam keletihannya…
Dan akan kubasuh kakinya…
Tampak sekali keletihannya…
Meskipun aku tak pernah tahu tanah mana yang telah ia pijak…
Menyingkirlah kau dari peraduan yang telah kusiapkan untuknya semenjak rembulan dan bintang masih berada dalam buaian ibunda malam…
Dan biarkanlah ia tertidur lelap diatas pangkuanku…
Tampak sekali keletihannya…
Meskipun aku tak pernah tahu kegetiran apa yang telah ia hadapi…
Yang kutahu ia telah kembali…
Membawa sejuta kesedihannya…
Membawa sejuta kekecewaanya…

Inilah penghabisannya
Kita akan terpisah sejauh sepasar perjalanan kaki
Kita akan terpisah untuk selanjutnya:

Perjumpaan canggung dan menyakitkan

Inilah takdirmu dalam hidupku
Derap titihan pun remuk tungkainya
Tak akan dapat lampaui jarakmu
Mungkin benar apa yang pernah kubilang:

Kita adalah dua kutub,
Dan perbedaan-perbedaan itulah
Yang membuat kita sama

Temaram senja menyambut datangnya malam, perlahan mewarnai langit dengan rona senja yang memerah. Kunikmati saat itu, karena yang kutahu saat itulah siang terakhirku ditempat ini akan segera berakhir. Tak terasa sudah hampir seribu purnama lamanya kuhabiskan waktuku di tempat ini, tempat dimana waktu dan ruang terperangkap didalamnya, berputar dan terus berputar dan selalu kembali ke titik awal dimana aku harus memulai kembali semuanya dari awal dan ke tidak tahuan. Dan semua itu harus kujalani hingga saatnya tiba bagiku untuk menjalani takdir hidupku yang sesungguhnya.

« Prev - Next »