KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Asa'

Demi Sebuah Mimpi

Berlari-lari mengejar mentari

Kala hujan menunggu pelangi

Sepertinya lelah enggan menyentuh

Tubuh kecil yang penuh semangat

Riak ombak bergulung dari kejauhan

Ketika aku menatap di sini

Pandanganku jauh menerawang

Esok,

Ah, aku masih tidak tahu tentang esok

Di manakah cinta?
Apabila cinta bermain akrobat di belakangku…
Bila cinta bersembunyi di balik selimut palsu
Bila wajahnya pun bersembunyi di balik topeng
Sehingga belaian hanyalah sebuah bayangan semu

Di manakah cinta?
Bila bibir seperti sayat belati…
Bila mata seperti api menjalar..
Bila langkah menjadi terseret-seret
Sehingga terhempas debu dan angin kencang

Wajah keruh Anggun menandakan betapa teruknya keadaan yang ada dalam pikirannya, otak, dan mungkin emosinya. Anggun, mungkin hanya namanya saja, dalam kesehariannya tak satu pun yang terlihat anggun di mata rekan, tetangga juga keluarganya.

Setiap gelap penyeru-Mu memanggil-manggil untuk melaksanakan perintahmu
Walau terkadang parau suara ini mengajak
Memanggil tiada henti
Hingga suara penyeru-Mu mengecil-mengecil kemudian menghilang
Adakah yang mendengar-Mu?

“Allahu Akbar”
Masih berfungsikah?
Masih ada yang takutkah dengan tulisan dan bacaan itu?
Masih adakah yang patuh menaatimu dengan tulisan itu?
Masih adakah yang ingin merasa dekat dengan-Mu?

Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.

Hitam

Kau tahu apa ini?
Benda hitam dan berlubang-lubang
yang ada di tanganku ini?

Inilah derita yang kualami setahun belakangan
Inilah harapan-harapan yang telah menghitam itu
Inilah hatiku yang dengan susah payah kukeluarkan dari badan
Agar aku tak lagi tersengat rindu
Agar aku lupa cintaku

Inilah hatiku…

Gerimis masih meratap
Basah
Sendiri, semuanya lepas
Kosong
Dan aku menangis
Bukan untuk kamu
Lagi

Masih menatap genangan air itu
Lekas gerimis lagi
Menangis lagi
Terus lepas lantas lekas hilang bekas,
Lagi, lagi, lagi, dan lagi-lagi bukan  untuk kamu
Aku menangis ini gerimis
Menggenang melinang
Masih kosong

Wajahku memang tidaklah cantik, dan kulitku juga tak berwarna cerah. Jadi jangan kamu bayangkan aku seperti seorang Luna Maya atau Asmirandah, karena aku jauh dari mereka. Aku hanya seorang gadis kurus yang jerawatan, dengan kaca mata tebal yang melekat di hidungku, yang orang bilang pesek.

Aku Ingin Menjadi Harimu

Aku ingin menjadi pagimu

Merangkul mentari dengan embun sahaja menggores hari

Aku ingin menjadi siangmu

Mengobar sinar surya dengan hangatnya sepoi angin menari

Meneteskan peluh keringat, meranggas kibaran semangat

Aku ingin menjadi soremu

Menelan bulat matahari senja, memerahkan semesta

Celoteh Anak Bangsa.

Hembusan peluru engkau torehkan untuk mereka yang menista negerimu….
Langkah nan gontai bukanlah pilihan hidupmu…
Senyum paras wajahmu ialah tekanan bagi mereka yang menindas bangsa….

Darahmu…
Laksana pelita di tanah khatulistiwa yang kau cintai.
Keringatmu…
Ialah cerminan jiwa patriot di dalam raga.
Tulang-belulangmu…
Dapat melumpuhkan lawan yang menghancurkan negerimu.
Kini, dimanakah mereka?

Next »