Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
- untuk Kumanosuke Adachi
Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi
melumatnya dalam kecupan yang hambar
ada bandang kekhawatiran
jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah
Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak
yang linglung mendekap punggung kesedihan
sebab ia tak tau kemana pergi sang induk
“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”
Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku.
Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk
Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)
kau permata di antara bebatuan
berkilau bagaikan mata air di tengah padang pasir
dan aku hanyalah bunga layu tanpa air itu
aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti yang ingin disampaikan api kepada kayu
sebelum kayu menjadi abu
aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
Posted in Puisi, Asa, Teruntuk on Juni 26th, 2008 No Comments »
Mungkin memang saatnya berakhir..
Meski masih ada sedikit harap tersisa
Entahlah, tapi ku harus pergi, meninggalkan, berpaling dan melupakan..
Berbahagialah…
Apapun yg ada dalam genggaman
Jadikanlah yang terindah
Kasih tak sampai hanyalah mimpi
Biarlah semua menjadi bintang dilangit
Dan kan kutemukan sesuatu yang indah
Gema haru bersembunyi di balik keinginan
rindu menggeliat ditengah sibuknya waktu
menjerit asa melupakan angan
mentari petang bergurau indah bersamamu
sejuk gerimis mengikis masa yang terlewati
hanya uraian semata meliuk di ufuk barat
rentetan peristiwa tak terhitung ilusinya
sepotong kebahagian melapisi segumpal gurauan
Sayang…
Kau tak pernah memberiku waktu
Cinta….
Kau pupuskan kesempatanku…
Sayang…
Andai kau tahu betapa rindunya asaku tuk berdua denganmu
tapi tak pernah kau hiraukan jeritanku…
Aku berkata ini,
kau menyambarnya dengan salah sangka
ku tak bermaksud melarangmu…
Hanya saja berikan aku waktu….
Aku hanya ingin waktu berdua denganmu…
Lembar I
Hidup adalah suatu perjalanan panjang yang mengajak kita berputar di dalamnya, kemudian terjebak dan akhimya tersesat.
Matahari kembali menyapa dunia, aku menghirup nafas dalam-dalam. Akh pagi lagi. Aktivitasku berulang lagi, kukucek mata lebamku. Lebamnya bukan karena tonjokan siapapun, hanya sebuah ukiran malam yang tandai setiap jenuhku berkutat di telaga laporan.
Di balik kacamata minusnya, Nania tengah asyik mengamati ciptaan Tuhan yang sempurna. Makhluk itu bermain dengan bola basketnya, sesekali melemparkannya ke ring dan tersenyum. Dan senyum itu, buat Nania harus ikut tersenyum. Mata hitamnya masih terus mengikuti langkah makhluk itu. Akh, pemandangan pagi yang indah. Sesekali makhluk itu mendrible bola, mengopernya dan dengan langkah riang berlari ke arah ring. Tampaknya makhluk itu sangat larut di permaianannya tanpa tahu sepasang mata teduh tengah mengamatinya dengan seksama dan dalam tempo yang lumayan lama.
“Bug!!!”
Posted in Puisi, Asa on Juni 13th, 2008 No Comments »
Suara itu menggema
mengendurkan urat syarafku
menitikkan airmata
kelu dirasa
terlalu dalam untuk menyelam dan menyesal
terlalu jauh untuk melangkah
menggapainya aku tak mampu
melabuhkan arah kepangkuannya
diam dan diam
hanya satu terasa
indahnya senja ini
Permanent link to this post (38 words, estimated 9 secs reading time)