KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Asa'

- untuk Kumanosuke Adachi

Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi

melumatnya dalam kecupan yang hambar

ada bandang kekhawatiran

jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah

Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak

yang linglung mendekap punggung kesedihan

sebab ia tak tau kemana pergi sang induk

“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”

Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku.

Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk

Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal

kau permata di antara bebatuan

berkilau bagaikan mata air di tengah padang pasir

dan aku hanyalah bunga layu tanpa air itu

aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana

seperti yang ingin disampaikan api kepada kayu

sebelum kayu menjadi abu

aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana

Saat Harus Terelakan

Mungkin memang saatnya berakhir..

Meski masih ada sedikit harap tersisa

Entahlah, tapi ku harus pergi, meninggalkan, berpaling dan melupakan..

Berbahagialah…

Apapun yg ada dalam genggaman

Jadikanlah yang terindah

Kasih tak sampai hanyalah mimpi

Biarlah semua menjadi bintang dilangit

Dan kan kutemukan sesuatu yang indah

Rahasia Hari

Gema haru bersembunyi di balik keinginan

rindu menggeliat ditengah sibuknya waktu

menjerit asa melupakan angan

mentari petang bergurau indah bersamamu

sejuk gerimis mengikis masa yang terlewati

hanya uraian semata meliuk di ufuk barat

rentetan peristiwa tak terhitung ilusinya

sepotong kebahagian melapisi segumpal gurauan

Sayang…
Kau tak pernah memberiku waktu

Cinta….
Kau pupuskan kesempatanku…

Sayang…
Andai kau tahu betapa rindunya asaku tuk berdua denganmu
tapi tak pernah kau hiraukan jeritanku…

Aku berkata ini,
kau menyambarnya dengan salah sangka
ku tak bermaksud melarangmu…
Hanya saja berikan aku waktu….
Aku hanya ingin waktu berdua denganmu…

Lembar I

Hidup adalah suatu perjalanan panjang yang mengajak kita berputar di dalamnya, kemudian terjebak dan akhimya tersesat.

Matahari kembali menyapa dunia, aku menghirup nafas dalam-dalam. Akh pagi lagi. Aktivitasku berulang lagi, kukucek mata lebamku. Lebamnya bukan karena tonjokan siapapun, hanya sebuah ukiran malam yang tandai setiap jenuhku berkutat di telaga laporan.

Di balik kacamata minusnya, Nania tengah asyik mengamati ciptaan Tuhan yang sempurna. Makhluk itu bermain dengan bola basketnya, sesekali melemparkannya ke ring dan tersenyum. Dan senyum itu, buat Nania harus ikut tersenyum. Mata hitamnya masih terus mengikuti langkah makhluk itu. Akh, pemandangan pagi yang indah. Sesekali makhluk itu mendrible bola, mengopernya dan dengan langkah riang berlari ke arah ring. Tampaknya makhluk itu sangat larut di permaianannya tanpa tahu sepasang mata teduh tengah mengamatinya dengan seksama dan dalam tempo yang lumayan lama.
“Bug!!!”

Entahlah

Suara itu menggema

mengendurkan urat syarafku

menitikkan airmata

kelu dirasa

terlalu dalam untuk menyelam dan menyesal

terlalu jauh untuk melangkah

menggapainya aku tak mampu

melabuhkan arah kepangkuannya

diam dan diam

hanya satu terasa

indahnya senja ini

 

Next »