Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Wajah keruh Anggun menandakan betapa teruknya keadaan yang ada dalam pikirannya, otak, dan mungkin emosinya. Anggun, mungkin hanya namanya saja, dalam kesehariannya tak satu pun yang terlihat anggun di mata rekan, tetangga juga keluarganya.
Posted in Cerpen, Kelam on Februari 16th, 2009 3 Comments »
Apa yang harus kulakukan lagi. Tanganku terikat, mulutku terbungkam kain hitam, mataku dibiarkan telanjang melihat kegelapan, dan kemaluanku dililit kabel berwarna merah, kuning, dan hijau. Bergerak setengah langkah, berarti membiarkan hidupku melayang di neraka selamanya. Abadi—dan takkan pernah mengintip indahnya surga.
Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.
Aku adalah anak tunggal di rumah. Bukan karena Bunda tak bisa punya anak lagi, tapi karena ayahku meninggal dua puluh tahun yang lalu. Saat itu umurku baru tiga tahun. Ayah seorang penerbang Angkatan Udara. Beliau terbang ke seluruh pelosok wilayah Indonesia dan sangat mencintai pekerjaannya. Terakhir kali Ayah terbang ke Papua dan itu memang penerbangannya yang terakhir. Dua minggu kemudian, dua perwira Angkatan Udara datang ke rumah dan mengatakan pesawat Ayah hilang. Sudah berhari hari pegunungan Papua diteliti jengkal demi jengkal tempat diperkirakan jatuhnya pesawat. Tapi tak secuil pun ditemukan bangkai pesawat Ayah. Akhirnya oleh Angkatan Udara dinyatakan, Ayah dan dua rekannya meninggal meskipun tanpa makam.
Aku duduk di sebuah pojok kafe dengan segelas Muscat dalam suasana malam yang dingin mencari hangat. Kafe ini berlantai dua. Di tingkat kedua di lantai atas suasananya memang terbuka. Tidak ada jendela, tidak ada kaca yang membatasi ruangan dengan malam di luar sana. Aku rasa ruangan ini memang didesain sedemikian rupa untuk para pecandu nikotin yang tak membutuhkan pembatas udara.
Tiap malam aku selalu melewati malam-malam yang sunyi, namun bagiku kesunyian adalah teman yang selalu ada saat aku bahagia dan berduka. Ketika malam datang aku akan merasa bahagia karena bagiku itu adalah duniaku, dunia yang penuh dengan kesunyian di mana pun aku berada. Di tengah hiruk-pikuk aku selalu merasa sepi dan sunyi. Mungkin orang bilang aku aneh, tapi aku bukan aneh, aku adalah aku. Aku hanya menyukai kesendirian aku sangat menikmati tiap detik kesunyian yang aku lalui dengan ditemani secangkir kopi dan sederet memori di masa lalu merupakan rutinitas yang kulalui di malam hari sebelum aku berangkat kerja dan di pagi hari aku tidur. Mungkin kalian pikir aku adalah kelalawar yang membuka matanya di kala matahari tenggelam dan menutup matanya di saat matahari terbit, tapi aku tidak sama dengan mereka karena mereka lebih beruntung dariku, mereka bisa mencari makan dan mendapatkannya dengan gratis.
Lewat pukul lima sore, hujan pertama baru merampungkan tetesnya. Udara kering berganti udara lembab. Matahari muncul lagi, langit sudah sedikit lebih terang. Kaca-kaca gedung bertingkat dan atap-atap seng perumahan penduduk kembali mengkilap. Got-got kembali berair, dan katak sudah boleh keluar sarang.
k’tong pe sudara-sudara di timur
Kapal kecil itu berlayar meninggalkan teluk dengan dipukul angin Timur di buritan. Bau asam laut yang dilemparkan ombak dan terpencar ke seluruh dek bersahabat dengan bau muntah serta minyak kayu putih. Herson berdiri menyaksikan Gamalama perlahan-lahan menyurutkan punggungnya yang biru dan perkasa di hamparan laut. Lalu kesemuanya menjadi garis lurus berkedap-kedip.
“Aku cuma nggak pernah suka bila kamu pakai sepeda itu menjemputku, lebih baik kau nggak usah jemput aku lagi sebelum sepedamu kau ganti dengan kendaraan yang lebih baik dari rongsokkan itu!”
Genggam tanganku ini, genggam perihnya kehidupan
Apa yang kuberikan tak pernah jadi kehidupan
Semua yang kuinginkan menjauh dari kehidupan
Tempat kumelihat di balik awan
Aku melihat di balik hujan
Tempatku berdiam tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujan…aa…a…