Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Sesekali kulirik mamaku yang tengah asyik bermain sebuah boneka. Kalau kalian duga mamaku gila, kalian salah besar. Mamaku tidak gila, melainkan memiliki mental terbelakang, idiot atau istilah asingnya, Down Syndrome. Yah, mamaku dilahirkan dengan cacat itu. Cacat mental yang memiliki ciri wajah yang khas dengan mata sipit, ”jembatan” hidung datar dan lebar, dan lidah besar dengan mulut kecil cenderung terbuka.
Aku sudah muak dengan janji-janjimu
Janji-janji yang hanyalah sebongkah kebohongan
Hadiah yang selalu kau bawa untukku
Jikalau kau kembali dari petualanganmu
Bertahun-tahun aku menunggu kau kembali
Hanya sebuah kata nihil yang aku peroleh
Ingin rasanya aku berteriak
Jika itu bisa menghapus semua kenangan
Aku terdiam dan hanya berdoa pada Tuhan
Bersujud sambil menangis mengingat peristiwa hari ini
Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya
Padahal aku hanya menjawab pertanyaan teman belakangku
Tapi ia marah dan menganggapku tidak menghargainya
Aku merasa dianaktirikan
“Kamu bener nggak selingkuh?”
“Iya, bener.”
“Berani sumpah?”
“Iya, sumpah.”
“Berani mandul?”
“Iya, berani.”
Dan mereka pun berciuman sesudahnya. Mencoba menghilangkan ketidaknyamanan yang terjadi selepas interogasi dadakan tersebut. Sebenarnya mereka tahu. Sekali kepercayaan terkikis, tak ada kesempatan buatnya untuk kembali utuh. Mereka berdua tahu, ciuman ini adalah bagian dari sandiwara yang mereka berdua mainkan. Sandiwara cinta yang kadaluarsa.
Ketika asa itu pergi
kelabu hati siap menanti
mimpiku terkoyak lagi
tertatih ku gapai hatiku
yang melayang-layang tak sadar
pupus sudah kesempatan
hanya bisa diam
tanpa gerak, tanpa suara
mungkin inilah jawaban
yang ku cari bersama waktu
aku sudah GAGAL
menyerah sajalah. . .
Sudah habis dayaku
Posted in Puisi, Motivasi Diri on Maret 6th, 2009 6 Comments »
kenapa harus menangis selama masih bisa tersenyum?
kenapa harus airmata yang keluar saat sedih mulai menyapa?
Lihatlah keluar,
di sana masih banyak yang lebih susah darimu
lihat mereka,
pikirkanlah, sebelum kamu bersedih
selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan
Setiap gelap penyeru-Mu memanggil-manggil untuk melaksanakan perintahmu
Walau terkadang parau suara ini mengajak
Memanggil tiada henti
Hingga suara penyeru-Mu mengecil-mengecil kemudian menghilang
Adakah yang mendengar-Mu?
“Allahu Akbar”
Masih berfungsikah?
Masih ada yang takutkah dengan tulisan dan bacaan itu?
Masih adakah yang patuh menaatimu dengan tulisan itu?
Masih adakah yang ingin merasa dekat dengan-Mu?
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Kerinduan dan kenangan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk, Dendam dan Emosi, Renungan on Maret 4th, 2009 5 Comments »
Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.
Sembilan bulan,
Tubuhku menyulam sebuah mahakarya
Mahakarya pemujaan cinta
Dengan sebersit sukma melekat padanya
Teraba denyut jantung indah bernada
Mengalun lembut tenangkan jiwa
Sesekali gerak tubuh nyata terasa
Bergetar, bergelombang, bergeliat, gelitik raga
Elus lembut sang penanam sentuh rasa
Kedamaian hati menyembul dari balik duka
Duka yang terkadang tiba ketika sakit mendera
Telah lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.”
Pintu pagar sengaja tak dikunci dan diperbiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap.