KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Maret 2009

Di Masjid

Di Masjid I

Tempat kami berjanji
Menemui sang kekasih.
Mengadu manja diatas bentangan permadani,
terkadang
Kemesraan mesti luluh karena emosi
Padahal Sang kekasih
Begitu sayang
Begitu manja
Begitu setia,
Dia selalu mengerti isi hati
Sedang kita pura-pura tidak tahu.

Di Masjid II

Lelaki Tua

Pagi
Di depan gubuk tua
Lelaki tua bermata biru
Ia memandang langit berbaris awan
Awan putih berlapis baja
Tertutup rindang dedaunan
Terhalang jendela berbatu.

Siang
Lelaki tua masih bermata biru
Ia tak lagi memandang langit
Ia tersisih di tepi
Mengalir ribuan logam, lempeng berjuta harga
Ia tetap menepi
Mengamati di bawah terik matahari.

Rasa ini kian lama kian mengindah
Membuat segalanya terasa seperti gula
Kehadiranmu membawa sebongkah harapan
Harapan yang s’lalu buatku bermimpi

Apakah kau pangeran yang ada dalam mimpi indahku?
Dan akankah aku menjadi ratu di hatimu?
Ataukah semua itu hanya semu…
Semu yang membayang dalam cermin harapan yang sebenarnya tak bisa tergapai

Lestari merangkul pria di hadapannya.

“Jangan pergi lagi mas!” ujarnya pelan. Matanya memohon pada pria yang berdiri kokoh di dekapannya.

“Aku tak bisa.” Pria itu mencoba melepaskan eratnya dekapan wanita berketurunan Jawa-Sunda itu.

Saat hujan menitik,
apa gunanya menanyai awan?
Kau tidak benar-benar ingin tahu.
Hanya takut basah, kan?

Jadi, apa perlunya bertanya?
Hujan akan reda juga.
Lalu kau akan lupa.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang terkadang tak pantas disebut lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dalam masing-masing pencarian eksistensi dan pemuasan kebutuhan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang selalu siap menyetubuhiku setiap malam, seperti ia setubuhi empat perempuan lain sebelumku.

Hancur

awan…
apa kau tahu?
aku di sini sedang menanti
sebuah jendela yang mungkin akan terbuka
bersama hantaman angin

awan….
maukah kau tahu?
sejenak ku tak tahu
dan terus terpaku dalam ragu
sampai aku benar-benar sadar
dihantam angin

Monolog

Tulislah ini

pada kedirian tak berkawan

semata untuk prasasti

bahwa aku

selalu ada untukmu!

Jika semua ini memang harus terjadi
Terjadilah….
Aku bukanlah siapa-siapa dan aku bukanlah segalanya
Kehidupan ini bagiku hanyalah kesia-siaan

Biarkan aku pergi…
Biarkan aku meninggalkan penderitaanku
Aku hanya ingin beristirahat
dan mencari secercah ketenangan

Mungkin langkahku harus terhenti sampai di sini
Karena ku tak tau kemana lagi harus melangkah
Duniaku begitu gelap, tiada terang yang menyinari

Aku terus menulis…
Goreskan semua rasa dan asa…
Harapkan sebuah kepuasan,
harapkan sebuah makna, tapi tak kutemukan semua…

Lagi-lagi aku hanya menulis sebuah kekosongan,
kosong yang membuat hati tersesak perih…

Aku yang selalu merasa kosong
tak mampu mengungkap rasa
selalu diam menghadapi semua

« Prev - Next »