KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Suamiku

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang terkadang tak pantas disebut lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dalam masing-masing pencarian eksistensi dan pemuasan kebutuhan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang selalu siap menyetubuhiku setiap malam, seperti ia setubuhi empat perempuan lain sebelumku.

“Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu ?” tanyaku suatu malam padamu.
Sambil tersenyum dirimu berkata, “Aku tak tahu.“
Ah, jawabanmu terlalu singkat dan tak bisa dipertanggungjawabkan.
“Mungkin karena ini,“ ucapmu sembari menunjuk kelaminmu sendiri begitu melihatku terdiam.

“Mungkin saja,” jawabku mengakhiri pembicaraan kita malam itu.

Lalu nafsu mengambil alih perjalanan hidup kita menghabiskan separuh malam itu di kamar yang sama sejak pernikahan kita. Bau khas dari perpaduan kelamin kami adalah aroma malam yang kuhirup mengakhiri persenggamaan kami. Keringat dan mani membasahi seprei yang baru saja kuganti sore tadi. Tak pernah ada yang berubah dari kelamin suamiku. Terkapar di atas tubuhku dan kembali mendengkur. Lelah dan nikmat jadi irama nyenyak tidurnya.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang terkadang pantas disebut lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dalam masing-masing kesepian dan kekosongan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang menyetubuhiku malam ini, seperti ia setubuhi empat perempuan lain sebelumku.

“Bagaimana mungkin kau bisa mencintaiku?” tanyamu malam itu padaku.
Dengan tersenyum aku berkata, “Karena aku membutuhkanmu.“

“Hm,” kau mendesah lalu terdiam. “Mungkin saja,“ lanjutmu mengakhiri kalimat alfabetmu dan menggantinya dengan bahasa tubuh yang mulai kusuka sejak pertemuan pertama kita.

Sentuhan halus pada genitalku, bulu halus dada suamiku menggelitik punggungku. Erangan tertahan dan kecupan bertubi-tubi kurasa bagai anak panah peperangan yang harus kumenangkan saat itu. Kelaminmu tertawa dan mencumbu gairah peperangan dalam hasratku.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang penuh keinginan dan permainan. Kami bertemu dua tahun silam sebagai atasan dan bawahan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang selalu ingin bersetubuh dengan empat perempuan berbeda lain sebelumku.

“Bagaimana mungkin kau bisa memilihku ?” tanyaku di malam lain padamu.
Sambil tersenyum dirimu berkata,“ Aku memilihmu karena aku butuh pasangan yang bisa membantuku menaklukkan kota ini.“ Aku terdiam dan mulai menyadari arti diriku saat itu bagimu.
“Mungkin juga karena itu,“ ucapmu sembari menunjuk kelaminku lalu membelai rambutku.

“Mungkin saja,” jawabku mengakhiri pembicaraan kita malam itu.

Seperti malam lain kita bersenggama dan melupakan sejenak pembicaraan di kamar yang sama sejak pernikahan kita. Aku berlari ke kamar mandi memandangi kelaminku yang tak lagi dapat menampung cairan kelamin suamiku. Tak ada yang berubah dari kelaminku seperti halnya kelamin suamiku. Kelamin-kelamin kita tertawa dan menyusun janji untuk persenggamaan berikutnya.

Masih di ranjang yang sama, langit-langit seakan menjadi mata bisu yang setia menyaksikan persenggamaan kelamin-kelamin kami. Malam kami tinggalkan dengan sunggingan senyum di bibir dan berlayar ke alam mimpi.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang penuh egoisme dan ambisi. Kami bertemu dua tahun silam dan menjadi sepasang kekasih. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang menyetubuhiku dan berhenti menyetubuhi empat perempuan lain sebelumku

“Kini aku tahu kenapa aku membutuhkanmu,” ucapku padamu malam tadi. “Hm,” kau mendesah lalu terdiam.

“Aku tahu kenapa aku mencintaimu,“ lanjutku.

“Beritahu aku,“ jawabmu.
“Aku mencintai seorang lelaki yang kini belajar menjadi lelaki,” jawabku mengakhiri kalimatku.

Tapi malam tadi kita tidak bersenggama seperti biasanya hanya bertatapan dan berpelukan hingga kantuk terasa. Kelamin-kelamin kita saling berbisik dan hanya saling bertatapan. Tersenyum mengenang ritual persenggamaan kita di malam lalu.

“Lelap tidurmu, Sayang,“ gumamku dihati memandangmu yang kini terbaring dalam pelukan mimpi.
“Betapa aku masih mencintaimu, sama persis ketika pertama kali aku mulai merasa dan menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu,“ bisikku di telingamu.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang kini menjadi lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dan saling mencintai. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang hanya dan hanya mau menyetubuhiku bukan empat perempuan lain sebelumku

Untuk yang telah memberi cinta, senyum, harapan, dan rasa sakit,
suamiku tercinta, “Hadi Prasetio”
01 April 2008

26 Responses to “Suamiku”

  1. on 11 Mar 2009 at 18:04Anton

    Norak

  2. on 12 Mar 2009 at 23:22Bella

    Ga ada makna dan pesan moral yg bs diambl .
    Tp trus brkarya ya..

  3. on 14 Mar 2009 at 03:08poedyn

    Ga ada pesan yg mendidik

  4. on 15 Mar 2009 at 12:57Cia

    bagus kok tapi message nya apa ???

  5. on 20 Mar 2009 at 12:22anonim

    wuah…
    ceritanya kok cuma menonjolkan sesuatu yang tak penting?
    malah terkesan menunjukkan kerendahan mutu penulisnya….

  6. on 21 Mar 2009 at 08:51oky

    monoton cuy sory ;-)

  7. on 21 Mar 2009 at 18:37si pencela

    Yah lumayanlah. Kalo sesuatu berbau kelamin emang banyak dibaca orang

  8. on 22 Mar 2009 at 09:05adith

    saya tidak sependapat dengan komentar teman2 diatas…
    ada beberapa cerpen yg memang bercerita mengenai kehidupan pribadi si penulis dan mengapresiasikannya dalam kenangan yg dia paling suka..

    yang saya tangkap dari cerpen ini adalah si penulis sangat ingin berhubungan intim kembali dengan hadi prasetyo

  9. on 25 Mar 2009 at 12:42Re

    gw pernah baca cerpen kaya gini bentuk atau pola penuisannya sama kaya cerpen yang di tulis djenar, gw bilang: ok2 aj. it’s quite good but dont cheat ok!

  10. on 26 Mar 2009 at 19:24caritasabila

    ini mungkin yang dialami beribu pasangan suami istri yang berlatar belakang buruk. tapi ini banyak terjadi ketika seorang laki-laki denan latar belakang banyak wanita menikah dengan seorang wanita biasa. dan wanita itu tentu saja ragu dengan keputusannya, namun inti dari tulisan ini yang oleh teman2 ditanyakan pesan moralnya tdk ada menurutku ada. pesan moralnya adalah tetap menjadi wanita salekah yang melayani suami seburuk apapun suaminya. dan tetep memaafkan suami sebejat apapun suaminya. akirnya dia dapat merubah suaminya dengan kesabaran yang seluas samudra.

  11. on 28 Mar 2009 at 16:55auuuuuuuu

    Kq criTane gx pntg ycHHHHHHH…….
    anEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHH

  12. on 28 Mar 2009 at 21:53Nasya

    Bhsax trll extrim,seharusx pengalaman pribdi ttg hub suami istri tdk blh dcritkn krn tu mrpkn ciri pasangn yg durhaka

  13. on 01 Apr 2009 at 18:54adhe

    MenUruT aQ aPa pun Yang Qm TlSkaN DlM CerPen Qm BgS.

    Krna Mnrt aQ apa Pun YaNg Qm lKkAn Dlm HdP Qm Bk Itu BrupA krY tLs atW ApaPun Yg EmAng ReAl dr krY Qm snDr, iTu haL Yang PaTut Untk DiBanGgAkaN.

    CoZ’ G’ sMa OrG bZ MilIki Bkn S/ti Qm !!!!!!!!!

    AnD NoW, TruS CipTaIn KrY” Qm Dn JgN PntG meNyeRaH !!!!!!!!!!!!!!!

  14. on 02 Apr 2009 at 11:14lail

    terkesan jorok ahhh tulisannya kalao tuk caritakan wanita sholehah bisa dengan ungkapan lain dong tidak dengan sanggama atau kelamin yang tersebut disana malu bacanya…but keep berkarya truss

  15. on 09 Apr 2009 at 04:19fee

    nice story..
    ya, aku bener2 bilang cerita ini gak norak..
    ga kayak cerita cinta yang penuh bualan, omong kosong yg membuai banyak remaja sekarang…
    ya, klo ngomongin bahasanya, ga bisa lah kita langsung menjudge penulis terlalu xtrim lah ato jorok lah ato apa lah…
    kita seharusnya bisa menghargai kan?
    ato memang kita sudah kehilangan perasaan menghargai karya orang lain ?
    miris..
    ngomongin critanya yg ga penting..
    oh !! pliss deh !! astaga !!!
    biasanya baca cerita yang kayak apa sih ko bisa bilang cerita ini adalah ga penting ??
    biasa baca cerita2 kejar deadline yak ??

  16. on 09 Apr 2009 at 14:22ma_lutcu

    Crta pa an ne. . . . .
    G’ brmutu. . .
    Truz brkrya. . .

  17. on 09 Apr 2009 at 17:31fred

    bagus… aku suka ceritanya… apa adanya…

  18. on 09 Apr 2009 at 17:40fred

    shan… bisa add aku?

  19. on 10 Apr 2009 at 09:49Masanty

    Bagus. Tapi “message” nya apa ya?

  20. on 09 Oct 2009 at 15:33fenny

    Aq stJu tu ama feE..
    istri yG baek tu kyk dia..
    seLalu nurut apa kT suami..
    fee Lu ank deWasa bGt siH..
    add aq dunK..

  21. on 31 Oct 2009 at 14:13luna agna

    “gue rasa penulis mau mengungkapkan kekecewaanya dan penyelannya karena telah dimanfaatkan dan hanya menjadi pemuas nafsu laki-laki.”

  22. on 18 Nov 2009 at 11:28Vieny

    Bagus kq..aku suka..mang c..pesenx g tersurat jd agak susah..tp q suka..

  23. on 25 Nov 2009 at 23:20maia

    Mksudnya apa ya? Kok isinya persenggamaan melulu, gantung

  24. on 26 Nov 2009 at 10:44erfina

    natural n sensual story.. its nice to read it.. :)
    karya seni apapun bentukny ga ada yg tercela..

  25. on 01 Dec 2009 at 14:18jipop

    jd teringat tulisan2nya djenar..tp ini ini cerita bagus..sangat intim..saya suka..dan saya sependapat dengan saudari ‘fee’

  26. on 02 Dec 2009 at 11:02Angg29

    Ni membuktikan keperjakaan tidak menjadi masalah. Skarang bwat para lelaki apakah kalian akan mencintai istri kalian jika kalian tau sebelumnya ia pernah bersegama dengan 4 lelaki berbeda?

Tinggalkan Komentar