KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Maaf untuk Diandra

Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.

Diandra, aku kembali ke sini, hanya ingin utarakan sepotong maaf yang nyatanya selalu kelu berhenti di ujung lidahku. Tapi sepertinya kini telah terlambat, kau telah pergi meninggalkan aku. Dan airmataku pun menetes di antara penyesalanku.

Lalu aku pun melangkah ke luar dari rumah, dan aku melihatmu Diandra. Tapi kamu tak sendiri. Seorang pria menemanimu. Siapa dia, Diandra? Begitu marahkah kamu sehingga kamu meninggalkan aku dengan cara begini? Yah, kuakui aku memang keterlaluan! Tak pernah mau mendengarkan nasehatmu untuk berhenti meracuni diriku dengan kekasih lamaku, lintingan ganja, yang dulu pernah kujanjikan padamu untuk berhenti kuhisap. Parahnya aku bahkan rela pergi menjauh darimu karenanya. Tapi setidaknya aku kini kembali, dan berharap kamu memberi aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku menyesal dan sungguh ingin berubah, Diandra! Tapi masih adakah aku di hatimu, masih adakah ruangnya yang lega untuk memaafkan aku? Karena jujur aku akui, bahwa ternyata aku lebih tak bisa hidup tanpamu dibanding tanpanya.

Dan apa yang terjadi ketika aku mendatangimu, Diandra?

Kudengar kamu berkata pada pria itu, “Rumah ini saya jual, karena saya tak ingin terus hanyut dalam kesedihan setelah suami saya tiada, kira-kira berapa tawaran anda?”

Ternyata maaf itu hanya akan berada di ujung lidahku saja. Selamanya.

5 Responses to “Maaf untuk Diandra”

  1. on 12 Mar 2009 at 14:49Abhi

    Cerita yang simple

  2. on 20 Mar 2009 at 20:37warsito

    nanggung ceritanya, gk sempet nangis

  3. on 07 Apr 2009 at 10:53Pita

    iH…

    Q tU maUnya CerIta yG sEdih N bKn nAngiZ.

    iNi ceRitA yAng jElEk

  4. on 12 Apr 2009 at 09:20Rezva

    Critax g nymbung bgt.

  5. on 08 Nov 2009 at 20:24wawat

    wikh simpel tapi keren juga kok..

Tinggalkan Komentar