Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan on Maret 17th, 2009 1 Comment »
setiap kali melihat pohon sagu
membayang sosok penghuni
pulau Sagu
pada batangnya yang besar dan kasar
kukenang sosok yang kekar dan tegar
menantang badai yang datang silih berganti
pada riuh-rendah daunnya diterpa angin
kudengar suara orang memanggil
bila kususuri jalan yang salah
lalu diam bersama angin yang mereda
bersama langkah kaki menapak di jalan yang benar
Posted in Puisi, Jeritan on Maret 17th, 2009 No Comments »
aku ditampar terkapar semua pudar
yang berakar menjadi besar bayangan tergambar
kebencian takkan usai di sini
tangan terkepal pecahkan kaca sepenggal
menjadi buyar
menjadi pudar
itukah terbaik yang kau bisa
itukah kata hatimu
jujur saja..
jujur saja padaku..
terdengar di sana
hatimu berkata tidak
begitu ingin kau membelai
setulus hati sepenuh cinta..
Permanent link to this post (53 words, estimated 13 secs reading time)
Wajah keruh Anggun menandakan betapa teruknya keadaan yang ada dalam pikirannya, otak, dan mungkin emosinya. Anggun, mungkin hanya namanya saja, dalam kesehariannya tak satu pun yang terlihat anggun di mata rekan, tetangga juga keluarganya.
Pagiku sirna terhempas di atas bebatuan tajam
Siang yang menjelang tak mampu membuat hangat tubuhku yang kedinginan di dalam peraduan.
Banyak pesan ku kirimkan untukmu, wahai Rajaku seorang.
Itulah Aku
Bukan untuk menghindari etika itu.
Itulah perasanku…
Karena suara hati tak pernah menipu
Itulah isi hatiku…
Karena bicara kadang membuat lidah kelu.
Aku tertatih lagi malam ini.
Aku merunduk lagi malam ini.
Lalu tersudut di bilik kesepian.
Andaikan saja dulu kita tak pernah bertemu.
Takkan pernah ada kerinduan menyelimuti jiwaku di bilik ini.
Andaikan saja dulu tak kau sentuh hatiku,
Takkan terisi kekosongan hatiku oleh bayanganmu.
waktu membawaku berlari begitu cepat
menarik erat tubuhku,
memaksaku untuk tetap menatap ke depan
masa lalu,
ingin aku menolehnya sebentar saja
sekedar untuk menghilangkan dahaga kerinduanku
akan masa-masa indah
saat aku masih memiliki cinta
saat ini sepertinya aku mati
rasaku hilang entah kemana
duka. .
bahagia. .
apapun namanya, semua bagiku sama
tak ada lagi indah yang dulu selalu membuatku tersenyum
Aku bingung maunya hati ini
Sebentar rindu ingin bertemu
Sebentar benci dilanda api cemburu
Yang terbayang hanya raut wajahnya
Yang terbersit hanyalah senyum manisnya
Tertawa bersamanya bagaikan surga
Bertengkar dengannya membuatku sengsara
Posted in Cerita Kehidupan on Maret 11th, 2009 5 Comments »
“Suara, dengarkanlah aku, apa kabarnya pujaan hatiku. Aku disini menunggunya masih berharap di dalam hatinya…
“Suara dengarkanlah aku, apakah aku ada dihatinya. Aku disini menunggunya, masih berharap di dalam hatinya…
Posted in Puisi on Maret 11th, 2009 No Comments »
kabar dari sebrang lautan..
tentang kisah para petualang.
berlayar dalam kegalapan.
arungi jalan menuju kota yang hilang.
syair miye tujuh tergores satu tanda..
berangka tahun zaman kuna..
masa sriwijaya pahatkan YUPA.
syair miye tujuh berkata…
kita para pejuang..
sang petualang..
penjelajah zaman yang hilang..
Kata demi kata ditulisnya
Ungkapan rasa di hatinya
Rasa yang rumit adanya
Inilah sang pujangga cinta
Mengobati setiap luka dengan cinta
Tapi membukanya juga dengan cinta
Betapa malang nasib sang pujangga cinta
Menghampiri setiap hati yang ditemuinya
Berharap cinta datang padanya
Cinta yang tak pasti
Cinta yang mungkin kan menyakiti
Akankah sang pujangga cinta berhenti di satu sisi hati
‘Tuk temui cinta sejati…
Permanent link to this post (64 words, estimated 15 secs reading time)