Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Mengayuh mengejar rezeki
berlomba dengan matahari
untuk hidup sehari – hari
Mengayuh mengejar rezeki
di tengah cercaan orang-orang berdasi
yang tengah duduk di belakang kemudi
atau di samping sopir pribadi
yang sedang kesal karena lajunya dihadang
lalu,
tiba-tiba keluar instruksi
becak dilarang beroperasi
pada jalur-jalur demarkasi
Posted in Puisi, Kelam on Februari 15th, 2009 No Comments »
pada musim pancaroba di awal tahun ini
banyak korban berjatuhan
terseret banjir dan gelombang
sungai dan laut jadi kuburan
pada musim pancaroba di awal tahun ini
banyak korban berjatuhan
tertimbun longsor dan reruntuhan
rumah pun jadi kuburan
di laut perahu tenggelam
di darat rumah terendam
di udara nasib rakyat mengambang
Titik-titik hitam bersayap melambai-lambai kesana-kemari, mereka selalu optimis untuk bermigrasi dengan cuat-cuit suara bergerombol serupa huruf V, terlihat hampir tertangkap oleh gumpalan-gumpalan air bergelombang semakin meninggi bersetubuh bersama sayup-sayup angin sepoi, bergemuruh kian berlari mencipta buih-buih semakin mendekat, menelan kilau-kilau pasir di bibir.
“Maksudmu, menyindir, layaknya orang tak berpendirian maju mundur tak jelas apa maumu?”
Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku menikahi seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.
Dalam angan ku berbisik
Ucapannya yang lalu kembali mendengung
Hanya saja bayangnya tak lintas mata
Gelak tawanya pun tak mampu kulihat
Aku ingin melihatnya
Berpeluk kembali dengan tanganku yang dingin
Namun
Mengapa aku yang di sini
Tak mampu merasakannya
Wajahku memang tidaklah cantik, dan kulitku juga tak berwarna cerah. Jadi jangan kamu bayangkan aku seperti seorang Luna Maya atau Asmirandah, karena aku jauh dari mereka. Aku hanya seorang gadis kurus yang jerawatan, dengan kaca mata tebal yang melekat di hidungku, yang orang bilang pesek.
Matahari pagi mulai memasuki celah-celah jendelaku. Matahari yang kian bersinar membuat hari-hari menjadi indah dan bermakna. Aku Rasti, seorang mahasiswi desain grafis di salah satu universitas swasta di Jakarta. Aku punya keluarga yang harmonis. Setiap hari keluargaku menyempati untuk bersama. Aku bangga sekali dengan keluargaku. Aku punya keluarga yang selalu mengerti dan demokratis dan juga beragama. Walaupun hidupku sederhana tapi aku merasa hidupku selalu indah dan lebih dari kesederhanaan yang aku punya.
“Kamu tuh terlalu sibuk sama kerjaan kamu, kamu ga pernah peduli sama anak-anak, meeting lah, keluar kota lah, ada aja alasan yang kamu buat.”
“Tapi aku emang beneran sibuk sama kerjaan aku, Ma. Mama ini ga pernah ngerti sama kerjaan Papa, aku nyesel punya istri kaya kamu.”
Aku terhenyak dari mimpi panjang
Sampai pada akhirnya aku harus tertidur lagi
Sebenarnya aku ingin
Tapi aku juga muak pada saat yang sama
Entah,
Muak karena terlalu banyak menginginkan
Atau ini hanya sekedar keinginan yang memuakkan
Seingatku, sebisa yang kumampu
Aku bukan ingin berada di sini
Aku hanya merasa ditempatkan di keberadaanku yang sekarang
Pertanyaan besar mengenai siapa aku belum terjawab
Lalu dari mana
Oleh siapa
Dan yang terpenting bagiku, untuk apa
Semua itu pertanyaan yang terus merayap di kepalaku
Gatal jika kubiarkan terus merayap
Namun perih jika coba kulenyapkan dengan cara yang salah
Sementara untuk menemukan jawabannya, aku terlalu lemah atau mungkin malas untuk beranjak
Sekali lagi, kesekian kali, tapi mungkin bukan terakhir,
Siapa aku?
Permanent link to this post (117 words, estimated 28 secs reading time)
YASMIN baru sampai pagi ini, menumpang perahu nelayan dari Muara Kamal. Ia memperhatikan sekeliling pulau. Tempat ini masih termasuk ke dalam Jakarta sebagai salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tapi keberadaan bangunan-bangunan tua disini membuatnya sungguh berbeda dengan dunia metropolitan di seberang sana.