KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Februari 2009

Balada Tukang Becak

Mengayuh mengejar rezeki
berlomba dengan matahari
untuk hidup sehari – hari

Mengayuh mengejar rezeki
di tengah cercaan orang-orang berdasi
yang tengah duduk di belakang kemudi
atau di samping sopir pribadi
yang sedang kesal karena lajunya dihadang

lalu,
tiba-tiba keluar instruksi
becak dilarang beroperasi
pada jalur-jalur demarkasi

Musim Pancaroba

pada musim pancaroba di awal tahun ini
banyak korban berjatuhan
terseret banjir dan gelombang
sungai dan laut jadi kuburan

pada musim pancaroba di awal tahun ini
banyak korban berjatuhan
tertimbun longsor dan reruntuhan
rumah pun jadi kuburan

di laut perahu tenggelam
di darat rumah terendam
di udara nasib rakyat  mengambang

Titik-titik hitam bersayap melambai-lambai kesana-kemari, mereka selalu optimis untuk bermigrasi dengan cuat-cuit suara bergerombol serupa huruf V, terlihat hampir tertangkap oleh gumpalan-gumpalan air bergelombang semakin meninggi bersetubuh bersama sayup-sayup angin sepoi, bergemuruh kian berlari mencipta buih-buih semakin mendekat, menelan kilau-kilau pasir di bibir.

“Maksudmu, menyindir, layaknya orang tak berpendirian maju mundur tak jelas apa maumu?”

Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku menikahi seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.

Dalam angan ku berbisik

Ucapannya yang lalu kembali mendengung

Hanya saja bayangnya tak lintas mata

Gelak tawanya pun tak mampu kulihat

Aku ingin melihatnya

Berpeluk kembali dengan tanganku yang dingin

Namun

Mengapa aku yang di sini

Tak mampu merasakannya

Wajahku memang tidaklah cantik, dan kulitku juga tak berwarna cerah. Jadi jangan kamu bayangkan aku seperti seorang Luna Maya atau Asmirandah, karena aku jauh dari mereka. Aku hanya seorang gadis kurus yang jerawatan, dengan kaca mata tebal yang melekat di hidungku, yang orang bilang pesek.

Sendiri

Matahari pagi mulai memasuki celah-celah jendelaku. Matahari yang kian bersinar membuat hari-hari menjadi indah dan bermakna. Aku Rasti, seorang mahasiswi desain grafis di salah satu universitas swasta di Jakarta. Aku punya keluarga yang harmonis. Setiap hari keluargaku menyempati untuk bersama. Aku bangga sekali dengan keluargaku. Aku punya keluarga yang selalu mengerti dan demokratis dan juga beragama. Walaupun hidupku sederhana tapi aku merasa hidupku selalu indah dan lebih dari kesederhanaan yang aku punya.

“Kamu tuh terlalu sibuk sama kerjaan kamu, kamu ga pernah peduli sama anak-anak, meeting lah, keluar kota lah, ada aja alasan yang kamu buat.”

“Tapi aku emang beneran sibuk sama kerjaan aku, Ma. Mama ini ga pernah ngerti sama kerjaan Papa, aku nyesel punya istri kaya kamu.”

Aku, Siapa?

Aku terhenyak dari mimpi panjang
Sampai pada akhirnya aku harus tertidur lagi
Sebenarnya aku ingin
Tapi aku juga muak pada saat yang sama
Entah,
Muak karena terlalu banyak menginginkan
Atau ini hanya sekedar keinginan yang memuakkan
Seingatku, sebisa yang kumampu
Aku bukan ingin berada di sini
Aku hanya merasa ditempatkan di keberadaanku yang sekarang
Pertanyaan besar mengenai siapa aku belum terjawab
Lalu dari mana
Oleh siapa
Dan yang terpenting bagiku, untuk apa
Semua itu pertanyaan yang terus merayap di kepalaku
Gatal jika kubiarkan terus merayap
Namun perih jika coba kulenyapkan dengan cara yang salah
Sementara untuk menemukan jawabannya, aku terlalu lemah atau mungkin malas untuk beranjak
Sekali lagi, kesekian kali, tapi mungkin bukan terakhir,
Siapa aku?

YASMIN baru sampai pagi ini, menumpang perahu nelayan dari Muara Kamal. Ia memperhatikan sekeliling pulau. Tempat ini masih termasuk ke dalam Jakarta sebagai salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tapi keberadaan bangunan-bangunan tua disini membuatnya sungguh berbeda dengan dunia metropolitan di seberang sana.

« Prev