Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Terdengar suara pintu ruang tamu diketuk. Entah siapa malam-malam begini bertamu. Pak Ahmad melirik ke jam dinding yang tergantung. Jam 20.00. Hening sunyi di kampung ini. Dibukanya pintu, terlihat beberapa anak muda dengan pakaian rapi. Tersenyum sambil mencium tangan Pak Ahmad.
“Assalaamu ‘alaikum Pak. Maaf kami mengganggu istirahat Bapak,” salah seorang di antara mereka memberi salam dengan santun.
Januari lalu, ketika long weekend, saya menyempatkan diri ke Banyumas, Jatilawang. Tak ada misi berarti, hanya butuh penyegaran, dan mungkin sedikit kepastian untuk masa depan. Bersama Arini, saya berkemas seadanya dan berangkat menuju kota tempat Landung tinggal. Landung, iya, Landung yang itu. Lelaki beraroma senja itu. Benar sekali.
“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.”
Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik.
Di sudut ruangan itu, dengan sebatang Marlboro terakhir di sisa hari ini, dia coba membunuh tangisnya sekali lagi dengan kepulan asap rokok. Kepulan-kepulan asap yang membuat ingatannya mengembara. Kenangan masa kanak yang saling bertubrukan, berhamburan keluar dari memori otaknya. Juga saat-saat terakhir bersama sosok ayah yang tak pernah sempat bisa membahagiakannya.
Terkadang aku merasa lelah
Dan terkadang aku merasa sangat dahaga
Kehidupan yang salalu menuntunku
Dalam pekerjaan yang tak ada nilainya
Jika hamparan langit aku jadikan alas
Jika awan putih aku jadikan tangga
Sungguh aku masih jauh
Jauh dalam dekapan kasih sayang-Mu
Posted in Puisi, Jeritan on Februari 15th, 2009 1 Comment »
bosan……sungguh bosan
benar-benar bosan.
kebosanan yang benar-benar membosankan
” bosan ”
sebenarnya bosan itu bahasa indonesia yang benar
atau salah ??
arti bosa
apa makna bosan sesungguhnya??
tidak jelas,
mungkin artinya jenuh
bisa juga lelah untuk berbuat
mungkin……rasa yang menumpuk
Posted in Puisi, Intermezzo on Februari 15th, 2009 No Comments »
Hangat merasuk kalbu
Segar menyibak hati
Saat kau berjalan lepas menyusuri kerongkongan
Menjanjikan rasa hangat pada tubuh
Lepas penat
Hilang lelah
Berganti hari kau tetaplah wedang jahe
Permanent link to this post (28 words, estimated 7 secs reading time)
Gerimis masih meratap
Basah
Sendiri, semuanya lepas
Kosong
Dan aku menangis
Bukan untuk kamu
Lagi
Masih menatap genangan air itu
Lekas gerimis lagi
Menangis lagi
Terus lepas lantas lekas hilang bekas,
Lagi, lagi, lagi, dan lagi-lagi bukan untuk kamu
Aku menangis ini gerimis
Menggenang melinang
Masih kosong
Aku sudah tidak mungkin protes lagi. Bagaimanapun aku sudah terlalu banyak merepotkan Mbak Yani, kakakku. Memang, mencari indekos bulanan sangat sulit saat ini. Entah karena apa, para pemilik indekos lebih memilih menawarkan jasa kamarnya untuk tahunan, atau empat bulanan. Kalau pun ada yang bulanan, harganya sangat melangit.
Posted in Puisi, Renungan on Februari 15th, 2009 No Comments »
Datang pagi-pagi
takut didahului matahari
memungut dedaunan
yang berserakan di jalanan
dan taman-taman kota
Datang pagi-pagi
takut didahului pengawas kebersihan kota
membersihkan sampah yang berserakan
dikais anjing-anjing kelaparan
Sehabis bulan
datang ke kantoran
ambil upah sebulan
untuk makan sehari
Ambon, Februari 2009
Permanent link to this post (43 words, estimated 10 secs reading time)