KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

32

Apa yang harus kulakukan lagi. Tanganku terikat, mulutku terbungkam kain hitam, mataku dibiarkan telanjang melihat kegelapan, dan kemaluanku dililit kabel berwarna merah, kuning, dan hijau. Bergerak setengah langkah, berarti membiarkan hidupku melayang di neraka selamanya. Abadi—dan takkan pernah mengintip indahnya surga.

Tiga meter di hadapku ada sosok bayi mungil yang masih merah. Di atas keranjang rotan dan diselimuti 12 (dua belas) ular sanca berwarna hijau lumut. Bayi itu menangis peka dan bising mengacau konsentrasi. Tak terasa sudah lima)jam seluruh tubuhku yang telanjang dibiarkan berdiri sambil menatap bayi itu menangis dan menangis.

Bayi brengsek! Bisakah kau tak menangis. Jika kau biarkan ular itu keluar dari tempatmu, akan kukirim kau ikut bersamaku.

Ruangan ini sungguh gelap, hanya ada semburat lampu dari luar ventilasi—tembus melewati kaca jendela. Saling berpantul dengan sudut kaca prisma di seberang ventilasi, lantas terangi lingkaran tempat bayi itu menangis. Membentuk sudut pentagon. Dan memberikan bayangan angka di kening bayi itu.

32

Sejak tadi kupandangi angka itu. Seperti memberikan kode tersendiri untuk bayi yang tak kukenali. Seperti juga ada maksud di balik angka itu. Apa maksudnya angka 32? Dan apa hubungannya denganku—yang diikat secara paksa oleh gerombolan jubah hitam yang tak kukenal?

OAA…OAAA…OAA

Bayi itu terus menangis tak beraturan. Tingkahnya semakin menjadi, namun ular sanca di sampingnya tak berani menularkan bisa. Hanya melilit dengan manis, seperti membungkus bayi itu dari hawa dingin dalam ruangan gelap ini.

Tuan!!”

Siapa itu???

“Tuan!!”

Suara siapa itu???

Kugerakan bola mataku melingkar, mencari arah suara itu di mana.

“Ini aku Tuan, Bayi di depanmu.”

Bayi di depanku??? Maksudnya kamu bayi yang sedang menangis itu??

“Iya, itu aku!”

Jangan bercanda. Yang kutahu, hanya Isa yang punya mukjizat seperti itu.

“Maka anggaplah aku ini Isa”

Kubesarkan bolamataku, seperti gerakan zoom menatap bayi itu dari jarak 3 meter.

Tidak! Biarpun aku pemerkosa, aku tahu Isa tak mungkin turun sekarang. Belum saatnya, dan belum pasti perkiraannya.

“Darimana kau tahu?”

Aku tak mau tahu! Tanya saja pada setan, mungkin dia tahu.

“Bagaimana bila aku ini anak setan?”

Keringatku kini bercucur deras. Keluar dari ubun dan membasahi seluruh tubuhku yang penuh bulu. Kupejamkan mataku sejenak, dan kuharap ini hanya sebuah mimpi.

“Kau tak jawab pertanyaanku Tuan!”

Tidak! Ini bukan mimpi. Kubuka kembali kedua mataku kembali dan masih kulihat ruangan gelap ini tetap mencekam. Suara aneh itu juga tetap mendengung geram dan kadang mendehem. Agak bergema dalam getaran yang tidak beraturan suaranya. Seperti echo dengan frekuensi naik turun.

Kenapa kau panggil aku Tuan jika kau mengaku setan. Aku bukan raja setan!

“Kau memang raja setan.”

Omong kosong! Aku ini manusia, aku preman yang diculik oleh orang yang tak kukenal ketika aku sedang memperkosa mayat. Jangan beri aku omongan yang mustahil setan cilik.

“Maafkan aku Tuan, tapi ini karena memang saatnya anda keluar.”

Apa yang kau bicarakan setan sialan! Sudahlah, lebih baik aku mati dan berangkat ke neraka sekarang juga. Yang di bawah kelaminku ini bom. Aku ingin mati sekarang juga.

Suara itu tak lagi bergema, hilang seketika. Sedikit membuatku lega, dan berikan sedikit ketenangan hati. Namun jeritan bayi itu semakin melengking. Buat pikiranku semakin kacau, buat jantungku berdegup kencang. Keringatku semakin deras membasahi seluruh tubuhku hingga licin. Kepalan tanganku yang diikat juga mulai melonggar dengan sendirinya. Dan kulihat angka pada kening bayi itu semakin bersinar. Mulai memancarkan api yang perlahan berkobar seperti obor.

Dengan tekad yang kuat, kulangkahkan kakiku satu langkah. Mungkin saatnya aku menebus dosaku dengan abadi.

Dan…..

Seluruh warna kabel di bawah kakiku memijarkan cahaya. Bermutasi dengan sendirinya. Perlahan merambat dan berubah dengan gerakan slow motion. Merah menjadi darah, kuning menjadi nanah dan hijau menjadi rumput. Tak kutemukan suara dentum di bawah kakiku. Tak pernah ada bom di bawah kakiku. Hanya kabel yang terasa berat, seberat 33 martil, dan berat itu ternyata bukan bom. Ini sungguh mustahil, MUSTAHIL!!

Kubuka kain hitam yang membungkam mulutku, dan kulangkahkan kakiku menuju kerumunan sanca itu.

Sanca itu tak berbisa, mereka malah menyingkir ketakutan. Dan keluar menuju pintu yang mendadak muncul di hadapku. Di belakang keranjang rotan bayi itu menangis.

Bayi itu berhenti menangis. Mendadak hening. Bergeming.

Angka 32 semakin menyala, dan bayi itu membuka matanya dengan lebar, membuka juga mulutnya dengan lebar, dan membuka kata dengan gema seperti yang tadi kudengar.

“Ini saatnya hari pembalasan Tuan Dajal. Tanggal 32 desember 3333.”

Aku baru sadar dari kebohonganku. Aku sadar, maka aku tersenyum.

Aku memang ahli berbohong, dan ahli menciptakan suasana sendiri. Dalam penantian menuju hari pembalasan. Dalam kejenuhan yang kunanti berjuta tahun lamanya. Dan dalam hiburan yang baru saja kuciptakan.

Kuinjak isi keranjang itu. Keranjang rotan berisi bumi yang sebesar debu. Menyaksikan sayap (malaikat) beterbangan mencabut nyawa. Mendengarkan jeritan dosa mengikik seperti elang, menyiulkan nyanyian gembira—tanda penantianku tidak siasia.

Dan aku, sedang menunggu lawan tangguh menantangku. Membiarkan tubuhku telanjang dan tandukku muncul dari kepalaku. Menunggu saatnya aku mati juga.

TIDAK! Aku tak bisa mati, hanya harus takluk.

Siapa lawanku? Mungkin dia akan datang di hadapku. Sedang kutunggu sesaat lagi.

Dia akan datang dari pintu masuk di hadapku entah dengan wajah seperti apa dan wujud seperti apa juga. Dia yang bertekad membunuhku. Sesaat lagi…

 

 

 

3 Responses to “32”

  1. on 28 Feb 2009 at 23:27rendi

    apa seh ? ga ngerti deh crita nya . Lanjutin dong ?

  2. on 06 Apr 2009 at 12:42nelnel

    Gak mudeng rek..itu mimpi/berhayal di pagi hari??

  3. on 19 Nov 2009 at 08:48KazegawaAjit

    Hahhaha…
    Aku tau maksudnya….

    Charachter Tokohnya kayaknya sengaja dibuat kabur khan??
    mungkin biar pembaca tau sendiri siapa sih charachternya..
    Tapi gara-gara itu sebagian pembaca ga’ tau maksud dari cerita ini…

    Heum…
    Tentang datengnya hari kiamat yah??

    Dapet refrensi dari mana tuh 32 desember 3333??
    lom pernah denger… -_-”

    Regrads,
    Ajit….

Tinggalkan Komentar