Kado Terindah di Hari Natal
Februari 12th, 2009 by Radita Dewa
“Kamu tuh terlalu sibuk sama kerjaan kamu, kamu ga pernah peduli sama anak-anak, meeting lah, keluar kota lah, ada aja alasan yang kamu buat.”
“Tapi aku emang beneran sibuk sama kerjaan aku, Ma. Mama ini ga pernah ngerti sama kerjaan Papa, aku nyesel punya istri kaya kamu.”
“Apa? Jadi sekarang kamu maunya apa?”
“Oke, mulai sekarang kita bubar, biar Sheila ikut Papa dan Bela ikut dengan Mama.”
Itulah percakapan antara kedua orangtua Bela yang membuat Bela berpisah dengan ayah dan kakaknya, ia sangat merindukan mereka. Kini ia sedang merenung, duduk seorang diri di balkon rumahnya. Ia tidak lagi punya kawan buat bercanda dan bersuka cita setelah dua tahun yang lalu kedua orangtuanya bercerai, padahal dua hari lagi akan tiba Hari Natal. Ia ingin sekali bertemu dengan kakaknya.
“Bela, kamu belum tidur?” teriak mamanya Bela dari lantai bawah.
“Belum Ma, aku belum ngantuk.”
“Tidur dong, Sayang. Besok kan kita mau belanja barang-barang buat Natal.”
“Iya, Ma, sebentar lagi.”
Sungguh malam yang sangat berat bagi Bela, ia sangat merindukan malam natal bersama keluarganya seperti dahulu kala saat mereka masih bersama.
“Papa, Kakak, Bela kangen kalian. Ya Tuhan, aku tahu Kau maha mendengar dan Kau pasti mau mengabulkan doaku ini. Aku mohon kepada-Mu, satukanlah kami seperti dahulu.”
Di tempat yang berbeda yaitu di apartemen tempat di mana Papah dan kakak Bela tinggal, sedang diadakan makan malam bersama rekan-rekan kerja papanya. Sheila juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Bela. Ia hanya mengurung diri di kamarnya, gak peduli dengan keramaian yang terjadi di luar kamarnya.
Ia mencoba menelepon adiknya, namun sayang tidak ada nomor Bela yang bisa dihubungi di ponselnya. Mereka memang sudah lose contact sejak lama. Ia beranjak ke luar kamar dan menatap keramaian kota Jakarta dan indah nya langit di malam hari dari apartemennya.
“Mama, Adik, kalian seperti bintang di langit. Aku tahu kalian begitu jauh dan tak terjamah olehku, namun keberadaan kalian bisa aku rasakan dan pancaran sinar kalian mampu menerangi malam-malamku yang sunyi dan sepi. Bintang, sampaikan rasa rinduku ini pada mereka. Angin malam, sejukkan lah hati mereka dan jagalah tidur mereka dari mimpi buruk yang dapat mengganggu tidur mereka.” Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan rasa rindunya.
Hari natal tinggal sehari lagi, seperti biasanya anak-anak menulis permintaan mereka di selembar kertas kecil lalu dimasukkan ke kantung permintaan yang berbentuk kaus kaki Santa. Sebelum menulis mereka membaca doa kepada Allah agar permintaan mereka dikabulkan, begitu juga dengan Bela dan Sheila. Selesai menuliskan permintaannya Bela melipat kertas tersebut dan ia masukkan ke dalam kaus kaki Santa dengan penuh harapan, Sheila juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bela.
Saat tengah malam Mama Bela mengambil kertas yang sudah dituliskan sebuah permintaan dari Bela. Setelah membuka lipatan kertas tersebut, ia sangat terkejut dan sedikit meneteskan air mata.
Aku gak menginginkan apapun di Hari Natal ini. Aku ga butuh barang-barang mewah atau pun yang lainnya. Aku cuma menginginkan satu, yaitu keluarga kita bisa berkumpul bersama lagi seperti dahulu kala, bukan hanya di hari yang kudus ini tetapi untuk selamanya, begitulah isi permintaan yang dituliskan Bela.
Tidak lama kemudian, Mama langsung menelepon mantan suaminya, kebetulan ia masih menyimpan nomor HP mantan suaminya itu.
“Haloo, selamat malam, dengan siapa ya?”
“Dimas, ini aku Angel, mantan istrimu.”
“Ada perlu apa kamu menelponku tengah malam begini?”
“Maaf kalau aku mengganggu, tapi aku cuma ingin menyampaikan permintaan Bela di Hari Natal.”
“Kenapa kamu harus menelepon aku? Memang kamu sudah tidak mampu untuk membelikan sesuatu untuknya?”
“Dimas, dia bukan meminta barang atau benda yang lainnya, ia hanya ingin kita bisa kembali seperti dulu lagi.”
“Apa? Maaf aku gak bisa.”
“Tapi, Dimas…” Ternyata teleponnya sudah diputus olehnya. Mama pun hanya bisa menangis karena bingung harus berbuat apa.
Saat Hari Natal tiba, Bela dan mamanya pergi ke gereja dengan wajah yang muram. Sungguh Hari Natal yang sangat menyedihkan bagi mereka. Selesai merayakan Natal di gereja mereka lekas kembali ke rumah, tidak ada perubahan di raut wajah mereka. Hiasan-hiasan natal, kue-kue yang sudah tertata rapi di atas meja, dan pohon natal yang sudah berdiri kokoh dengan hiasan-hiasan nya tidak mampu mengembalikan senyum mereka.
“Suatu saat kita pasti bisa bersama lagi, kamu harus yakini itu, Sayang,” hanya itu yang bisa Mama katakan kepada Bela. Mereka pun saling berpelukan dengan air mata yang membasahi pipi.
Satu jam kemudian, ada tamu yang datang ke rumah mereka, dan mereka sangat terkejut dengan kehadiran tamu tersebut, ternyata yang datang adalah papa dan kakaknya Bela.
“Papa, Kakak, aku kangen.” Kedua bersaudara itu langsung berpelukan erat.
“Ternyata Sheila juga menuliska permintaan yang sama seperti Bela, mungkin cuma ini yang bisa membuat mereka tersenyum kembali.” Papa juga segera memeluk Mama, tidak bisa dipungkiri keduanya memang masih saling cinta.
“Mama, Papa, kita akan menjadi satu keluarga lagi kan?” Bela dan Sheila segera memaksa kedua orang tua nya untuk segera menjawab pertanyaan mereka.
“Sayang, Papa gak bisa. Papah gak bisa lagi pisah dari Mama dan Bela,” jelas Papa.
“Maksudnya, Pa?” Sheila bingung.
“Jadi mulai sekarang kita akan menjadi satu keluarga lagi,” Mama menegaskan kepada anak-anak nya. Mereka pun tertawa bahagia, tak terlihat lagi kesedihan di wajah mereka.
“Kan sekarang kita sudah berkumpul lagi, Papa pingin kalian minta satu permintaan lagi.”
“Hmm, apa ya?” Dengan kompaknya mereka menjawab, “Punya adik baru.”
Mereka kini bisa tertawa bersama seperti sebelum perceraian itu. Sungguh sebuah keajaiban di hari yang penuh kasih.
Biasa bgt. Kyk dtulis sma anak2.
lumayan laaah
seengganya yang nulis udah berusaha
hahha