Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Kini aku menyesal tidak berhenti di warung untuk sarapan. Seluruh tubuhku gemetar. Orang itu dengan mudah memasukkan ke dalam kantungnya SIM dan STNKku. Lalu menyuruhku minggir untuk menggosok nomor-nomor di plat motorku supaya menampakkan warna dasarnya. Sesuatu yang bagiku tidak berada di dalam akal.
Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan. Hari ini ulang tahunku ke-13. Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah, meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan mengatakan itu.
Hati yang dulu merasa aman dengan berdiam diri, merasa cukup tanpa harus berbagi, kini mulai terusik dari pertapaannya. Entah kenapa aku mulai mencari-cari serpihan hati dan mulai tak sabar menagih kepada Tuhan atas apa yang telah ditakdirkan untukku. Aku baru tersadar akanketidak mampuan menjalani hidup dengan sempurna, tanpa ada seseorang yang menjadi belahan hati. Sebagai tempat ‘tuk berbagi saat kebahagiaan dan kesedihan menghinggapi diri, tempat ‘tuk mengadu masalah -masalah yang menghampiri, bahkan saat ingin merasakan kemesraan saat dimanja. Tak peduli dengan jalan yang aku lewati begitu terjal, berkerikil nan berduri. Semua akan dilakukan demi melengkapi batin yang terasa kosong.
Menemukan cinta belum tentu akhir yang bahagia
Tanpa cinta juga tidak untuk selamanya
Bukan karena siapa yang salah, tidak semua orang berdua
Bukan juga karena terlalu banyak cinta, hampir semua orang memungutnya
Waktu tidak perlu disudutkan
Menyalahkan diri sendiri juga belum tentu benar
Pagi hari, bayangan berada di sisi barat
Siang hari, bayangan berada di bawahmu
Sore hari, bayangan berada di sisi timur
Malam hari, bayangan berada di antara dirimu
Tanpa kau sadari kehadiran bayangan selalu bersamamu
di saat engkau sedih, bayangan ada
di saat engkau gembira, bayangan ada
Posted in Puisi, Jeritan, Asa on Februari 16th, 2009 4 Comments »
Kau tahu apa ini?
Benda hitam dan berlubang-lubang
yang ada di tanganku ini?
Inilah derita yang kualami setahun belakangan
Inilah harapan-harapan yang telah menghitam itu
Inilah hatiku yang dengan susah payah kukeluarkan dari badan
Agar aku tak lagi tersengat rindu
Agar aku lupa cintaku
Inilah hatiku…
Permanent link to this post (47 words, estimated 11 secs reading time)
Aku merasa seperti pelacur, yang menikmati nyamannya hatiku saat bersamanya
Padahal aku tahu dia hanya sebentar saja ada di sisiku
Dan kemudian dia akan pulang, ke hati perempuan yang dicintainya
Aku merasa seperti pelacur, saat merasakan teduh matanya
Yang seolah menyelami dan mengerti hatiku
Di hati ada penantian
Panjang tapi tak jua bertepi
Lewat angan aku berkhayal
Sesaat ada bayang namun hampa
Saat hadir menggebu
Tersenyum semu kubayar kerinduan
Hampa langkah aku tertahan
Semu mulutku tersendak
Ada gerangan apa aku berpikir
Posted in Cerpen, Kelam on Februari 16th, 2009 3 Comments »
Apa yang harus kulakukan lagi. Tanganku terikat, mulutku terbungkam kain hitam, mataku dibiarkan telanjang melihat kegelapan, dan kemaluanku dililit kabel berwarna merah, kuning, dan hijau. Bergerak setengah langkah, berarti membiarkan hidupku melayang di neraka selamanya. Abadi—dan takkan pernah mengintip indahnya surga.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?