Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Sebusur pelangi tampak indah melintang di atas langit senja…
Gerimis semakin mereda…
Namun rintik-rinti cintaku tak pernah reda dalam sukma…
Masih ada kau yang menjaga anganku…
Terus berteduh dibalik semua lamunan-lamunan panjangku…
Hanya sebait doa yang kupanjatkan sejenak
Agar tak terlalu dalam ku menari-nari bersama kamu di dalam anganku…
Di hati ku…
Tersimpan nama kalbu yang tercinta.
Di pikir ku…
Tersimpan bayang kalbu yang didamba.
Di raga ku…
Tersimpan asa untuk memilki yang kucinta.
Di batin ku…
Tersimpan rasa cinta ku untukmu.
Karena satu…
Aku mencintaimu.
Permanent link to this post (38 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in Puisi, Asa, Renungan on Januari 30th, 2009 No Comments »
Hembusan peluru engkau torehkan untuk mereka yang menista negerimu….
Langkah nan gontai bukanlah pilihan hidupmu…
Senyum paras wajahmu ialah tekanan bagi mereka yang menindas bangsa….
Darahmu…
Laksana pelita di tanah khatulistiwa yang kau cintai.
Keringatmu…
Ialah cerminan jiwa patriot di dalam raga.
Tulang-belulangmu…
Dapat melumpuhkan lawan yang menghancurkan negerimu.
Kini, dimanakah mereka?
Laki-laki itu merapatkan telinganya pada dinding. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Dia semakin merapatkan telinganya pada dinding.
“Itu suara gemerincing apa ya?” batinnya.
Kasih…
Dengarlah pintaku,
Kejujuranku membuatmu sadar
Akan arti cinta…
Kasih…
Mungkin jika tiada engkau
Hidupku mungkin takkan
Bergemuruh…
Namun, dengarkanlah pintaku
Di atas segala kesedihanku
Bahwa aku begitu menyesal
Mengenal dirimu kasih…
Permanent link to this post (33 words, estimated 8 secs reading time)
”Ish, aku jemput sebentar lagi. Tunggu di tempat biasa ya,” suara Nara terdengar dari telepon genggam Ishka. Seperti biasa, saat jam makan siang, Nara akan menjemputnya bersama Anne untuk makan siang di kafe langganan mereka.
Ishka menggeleng pelan tanpa melepas pandangannya dari layar monitor komputernya.
“Our deeply condolences over the loss of our brother, Reki, due to his sickness. May his soul rest in peace and the family be strengthen.”
Runi terkejut membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Ida. Pesan itu mengabarkan kepergian salah seorang teman mereka, Reki, yang selama hampir dua bulan terakhir dirawat di rumah sakit. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi wajah Runi yang masih terpaku.
Sebentuk hati telah terluka
Merah… mengalir membasahi relung jiwa
Cinta yang selama ini bagaikan semburat cahaya menghangatkan…
Tapi makin panas kurasa
Bilur cahaya terasa bagai ratusan jarum yang menghujam
ke dalam hati…
Pilu… perih… sakit… tak tertahan
Mati rasa…
Kugali liang
Kubur hati…
Tertanam diatasnya setangkai chrysant putih
Biarlah mewangi…
Sehingga tercium oleh nya
Posted in Puisi, Dendam dan Emosi on Januari 30th, 2009 2 Comments »
Kau gila!
Kau gila!
Inikah yang kau bilang sayang?
Inikah yang kau bilang cinta?
Mana??
Kau bodoh!
Tolol!
Kau takkan mengerti aku
Kau takkan tahu semua tentangku
Kau takkan tahu rasaku
Kau takkan tahu kehidupanku
Kau takkan tahu kebencianku
Kau takkan tahu rinduku
Kau takkan tahu masa laluku
Kau takkan tahu cintaku
Kau takkan pernah tahu
Tak mudah memang, menghapus masa lalu dari hidup kita, seperti air liurmu yang masih menetes di pinggiran bibir mungilmu. Kuhapus langsung mengering, tak lama kemudian akan menetes lagi dan membasahi leher dan dadamu. Berulang kali harus kuganti bajumu yang telah basah oleh tetesan air liurmu. Terkadang membuat kesal dan emosi harus selalu menggantinya untuk menghindari lembab dan ingin selalu terlihat rapi bersih, terlebih lagi aku takut kamu masuk angin. Entah sampai kapan kamu akan terus seperti ini. Entah sampai kapan pula kau harus kesusahan menelan air liurmu dan menelan makanan secara baik?