Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
ku coba menikmati satiap kebahagiaan hati.
Namun hanya ku temukan adalah damai yang niskala di nalik hujan.
Kemana hati yang membuatku hidup?
bilang sayang tak juga datang
bilang rindu hanya sendu
lantas bilang cinta mungkin hanya sebuah dusta
yang ada semua selalu semaikan luka.
Aku lelah menunggu
Menunggu kejelasan yang tak pasti darimu
Menunggu semua bualanmu
Menunggu semua omong kosongmu
Kau terlalu terbuai mimpimu
Terlalu terlena dengan semua cerita
Cerita yang membuatku luka
Kau terlalu sering berjanji
Terlalu sering aku kau sakiti
Aku hanya dapat merintih luka
Posted in Puisi, Dendam dan Emosi on Januari 30th, 2009 No Comments »
Lulus sekolah si boi pesta meriah
Pulang ke rumah mata memerah
Meracau ia dengan kacau
Ngelantur bercampur bau anggur
“Beri aku pendidikan orang tua sialan
Aku ingin jadi sarjana, ingin kaya raya
Ingin kerja di gedung tingkat, bermartabat
Tak mau aku seperti kalian
Dekil, bau dan melarat tujuh turunan..”
Saat mentari mulai terbit
Itulah awal aku mengenalmu
Saat sang raja membakar siang
Itulah awal aku bersamamu
Saat hujan turun dengan lebat
Itulah saat aku memikirkanmu
Saat pelangi menebarkan warnanya
Itulah saat di mana merindukan senyummu
Saat bintang bertabur dan bulan tersenyum
Itulah saat aku memikirkanmu
Posted in Intermezzo, Renungan on Januari 30th, 2009 No Comments »
Apakah arti sebuah nilai?
aku pun tidak begitu tahu..
Apakah nilai serupa dengan hasil?
atau nilai serupa dengan penyesalan?
Hati yang gundah menuntut jawaban nilai..
yang tidak pasti..
Permanent link to this post (26 words, estimated 6 secs reading time)
Malam berganti malam, hari berganti hari..
seakan tiada hentinya..
perasaan sedih dan senang terus berdatangan..
menunggu suatu saat nanti, di mana kesedihan akan berakhir..
kekasih sejati terpelihara di hati..
kenangan berarti peninggalan dirinya..
seakan kenangan itu
selalu menusuk di hati ini ….
Permanent link to this post (41 words, estimated 10 secs reading time)
Posted in Puisi, Intermezzo on Januari 30th, 2009 No Comments »
Manusia menciptakan hari..
dan terkadang manusia tidak bisa memanfaatkannya..
manusia terkadang menangis karena hari..
manusia terkadang tertawa karena hari..
hari yang tak berdosa mengapa harus disalahkan dan ditertawakan? .
Permanent link to this post (29 words, estimated 7 secs reading time)
Ternyata saya memang mencintainya. Setiap malam saya memikirkan ini, dan sekarang baru saya merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin saya mengenalnya, seakan saya tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, saya sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuat saya tak berani meneruskan rasa ini.
Ketika kata tak berbahasa
Saat bicara tak bersuara
Apa yang ku tahu
Kehampaan
Kekosongan
Di kala hati lelah berserah
Jika diri tak mau sendiri
Apa dayaku
Kesendirian
Kesunyian
Ketidakpercayaan menemani
Kesepian teman sejati
Pengkhianatan begitu manis
Sayang….
Engkau benar-benar penyemangat hidupku.
Kau benar-benar segalanya buatku.
Aku tidak tahu harus bagaimana jika harus hidup tanpamu.
Mungkin yang ada hanya kerapuhan dan kehancuran.
Aku mohon dengan sangat, jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan aku dan cintaku.