KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sirene, Sirene

Yang kuingat adalah aku tiba-tiba merasakan jantungku hendak keluar lalu badanku terjatuh menyentuh lantai dengan keras. Dan dari kejauhan, bintik-bintik hitam menghujani kedua mataku seperti gelombang pasang. Sempat aku melihat foto pernikahan kita di dinding, namun samar dan berbayang.  Dan sempat aku sedikit berteriak minta tolong, tapi setelah itu: sepertinya aku mulai tertidur.

***

Sirene. Aku mendengar suara sirene. Tapi semuanya masih tampak gelap dan aku merasa tubuhku… bergerak. Sesuatu di luar kegelapan pekat ini, sesuatu yang lembut bersandar di punggung dan menggiring segala yang kumiliki menuju suatu tempat. Aku tak mengerti, apakah ini hanya tubuhku ataukah ada yang lain yang hadir di sini? Karena yang kurasakan adalah semua yang kumiliki, 48 tahun kehidupan, segala yang pernah aku punyai kini seolah sedang berada bersamaku, menyatu ke dalam diriku dan memeluknya, melebur bersama satu-satunya nyawa yang tersisa. Semuanya.

Suara sirene… Suara sirene yang lantang sedang asyik bermain dengan telingaku. Memancarkan sejumlah pesonanya dan dengan percaya diri ia datang menggoda gendang telingaku untuk menari bersama. Ia berdengung, berbisik, lalu berdengung dan berbisik lagi, memantul-mantulkan frekuensinya dengan lihai, mengingatkanku pada sayap-sayap nyamuk yang nakal. Tak terlalu sulit baginya untuk melangkah masuk melalui pintu di kepalaku lalu menelan kedua indera pendengaranku sambil turut mengiringi tubuhku meluncur.

Aku merasakan diriku bergerak. Kadang terburu-buru, kadang melambat, lalu kemudian bergerak lagi dengan cepat tanpa sesaatpun berhenti. Rasa hangat menyentuh perasaanku pelan, sementara jantungku seperti sedang berusaha bernapas dalam ruang hampa. Namun, kehangatan ini seakan membangunkan kesadaranku lagi. Ia merambat tanpa malu-malu lalu mengumpul dalam bentuk lingkaran di sekitarku dan kemudian menyerahkan semua miliknya tanpa kecuali. Aku sedikit terhenyak oleh betapa dekatnya rasa hangat ini. Karena ia begitu besar dan melindungi, begitu menyegarkan dan meriah, memupus semua dosa dan kesalahan yang pernah terekam pada diriku dan menggantinya dengan sebuah nyanyian penebusan yang merdu. Apa gerangan yang kurasakan ini? Kegelapan ini terus membisu.

Kelopak mataku bergerak sendiri. Aku berkedip sambil tetap terpejam. Bola mataku sepertinya memberontak ingin segera merobek nuansa hitam ini dan merangsek keluar. Betapa rasa haus ini tak dapat lagi tertahan, rasa haus untuk menatap, memandang, dan melihat apa yang terjadi. Dan beberapa saat kemudian, seperti bayi yang baru saja lahir, aku disambut oleh kesilauan. Seolah matahari tiba menerobos pintu kamarku untuk sekedar bertamu. Tak bisa kubayangkan pupilku mengecil lalu bersembunyi di balik kegagahan temaramnya sinar megah ini yang tanpa ampun merobek-robek bayangan hitam yang sejak tadi bersemayam. Kini aku melihat berkas-berkas sinar itu lambat laun memutih, menjauh dari mataku tetes demi tetes, sementara suara sirene yang sejak tadi berbunyi nyaring mengendap-endap perlahan dari kedua telinga dan mengundang suara lain untuk datang. Dari kejauhan, sebuah gelombang isak tangis datang menghampiri.

Aku tahu aku masih di bumi. Cahaya yang terang dari atas sana membuat pandanganku beriak seperti air. Dari sini aku menangkap sebuah bayangan hitam yang tengah menatapku sementara tangannya menggenggam tanganku dengan begitu hangat. Tak bisa kuelakkan lagi bahwa inilah rasa hangat yang tadi mengusap jiwaku yang terlelap. Sebuah bayangan yang nampak begitu halus, menyentuh urat-urat nadiku dengan santun sementara kulitnya menyisir barisan bulu romaku yang berdiri menyambutnya. Hatiku terpanggil untuk berlutut menghadapi limpahan zat sejuk ini dengan pasrah. Sebuah bayangan yang walaupun hitam, namun di dalamnya tampak bagiku ribuan warna yang terbilang.

Lalu ia datang menghampiri keningku dan mengecupnya. Suara isak tangis itu sejenak tertahan bersamaan dengan keningku yang terbakar oleh kehangatan itu lagi yang kali ini meresap ke dalam kepala dan dengan cepat bersenyawa dengan darahku yang rentan. Tubuhku seakan disirami air dan ditaburi pupuk. Perasaan ini begitu membumbung sehingga kedua mataku kembali terpejam untuk menanggapi sesuatu yang baru saja merasuki tubuh. Bola mataku tenggelam, namun bukan kegelapan yang sekarang menyelimutiku, melainkan bintik-bintik warna-warni yang deras seperti gerimis. Bunga-bunga berjatuhan di mataku, pelangi melintang dengan bebasnya di mataku, mereka bergradasi dan bercampur satu sama lain dan memenuhi mataku dengan lukisan abstrak yang tampak asyik menari dan bernyanyi. Aku tak yakin, tapi sepertinya aku tersenyum.

Aku merasakan sebuah keakraban dari kecupan bayangan tadi, sebuah perasaan yang pernah kulalui sebelumnya. Aku merasakan ini adalah sesuatu yang begitu dekat, sesuatu yang telah lama hidup di dalam diriku dan tercetak di pikiranku berulang-ulang. Namun aku masih belum dapat menggambarkan ini menjadi sebuah lingkaran penuh, sepertinya aku harus berenang lebih dalam lagi untuk menyentuh batas kesadaranku. Dan pikiranku menerawang jauh. Aroma keakraban itu mulai tercium. Pelan-pelan aku berusaha melihatnya. Hatiku mulai menangkap apa yang sedang kucari, dan seakan kilat menyambar kepalaku, kedua mataku lalu terbuka. Segalanya menjadi lebih jernih. Kulihat di sampingku bayangan hitam itu telah pergi dan berganti menjadi sosok istriku ditemani isak tangisnya. Dan aku tahu, itu memang wajah istriku yang cantik. Selalu dia. Seperti biasanya. Aku meleleh dalam senyuman.

Sekarang segalanya menjadi lebih jernih. Aku tengah terlentang di atas sebuah matras dengan sesuatu menutup hidung dan mulutku untuk membantuku menarik oksigen. Ambulans membawa tubuhku dengan iringan bunyi sirenenya. Cahaya lampu neon yang begitu putih jatuh tepat di atas kepalaku. Tapi mengapa aku di sini? Aku sendiri bingung. Aku tak bisa bergerak, hanya berbaring dan berkedip. Lalu tangan istriku menyentuh dadaku sebelah kiri, oh itu dia! Jantungku! Jantungku yang bermasalah. Ia yang mengundangku kemari.

Dia, istriku, duduk di sampingku tanpa menghapus air matanya, melainkan membiarkannya terjatuh menimpa baju hangatnya sedangkan kedua matanya terendam air dan memerah. Tangan kanannya mengusap dadaku dan memandang dengan penuh harap, seakan mencoba menyalurkan energi, atau mantra, agar jantungku tetap menyala, dan memang itulah yang kurasakan tadi, sebuah energi, kehangatan, mantra yang menghidupkanku kembali.

Sesekali mata kita bertemu, namun tak lama, ia segera beralih memandangi bibirku, keningku, mencengkeram telapak tanganku, atau sekedar mengelus rambutku yang tipis. Aku terus memandangi wajahnya. Betapa dalam keadaan seperti inipun, ia masih kesulitan untuk menyembunyikan keanggunannya, sebuah anugerah yang menurutku telah tercetak di dalam selnya sejak lahir, sehingga di usianya yang sudah senja seperti sekarang ia masih tetap menawan, manis, dan lembut. Ia meraih telapak tanganku lalu menaruhnya di pipi kirinya. Ia mematung dalam pose seorang fotomodel. Aku mulai merasa bahwa ia tak tahu kalau sekarang aku bisa melihatnya, melihat seisi ambulans ini dengan lampu neon yang sinarnya cukup mengganggu, melihat jendela-jendela kecil yang ditumbuhi tetes-tetes air (hujankah?), melihat beberapa petugas berbaju putih, dan melihat  siapakah engkau yang di belakang sana? Aku tak mengenali yang satu itu.

Aku semakin heran. Mengapa ia tak kunjung menatap balik kedua mataku. Atau setidaknya ia memberikan sebuah reaksi ketika aku siuman. Tapi ia hanya diam, menangis, duduk di sebelahku seolah-olah tak ada yang terjadi. Ia terus menggenggam telapak tanganku, meremasnya sesekali, menaruh bibir tipisnya di sela-sela jariku dan jarinya  aku merasakan sedikit liurnya yang segar mencair, dan menyentuh permukaan bibirnya yang sedikit bergelombang benar-benar membangkitkan ketenangan  atau sekedar mengusapnya. Ingin sekali aku bangkit untuk mengambilkannya sehelai tisu, atau mungkin menyapanya dan menyuruhnya untuk berhenti menangis, tapi tak bisa. Aku tak suka melihatnya menangis dan ia tahu itu. Kumohon, Sayang, berhentilah.

Selalu, dalam ingatanku, semua kenangan tentang dirimu yang menangis, berusaha kuhapus dengan sekuat tenaga. Walaupun jejak-jejak kecilnya masih sedikit tersisa dan memang sengaja kusimpan sebagai sebuah peringatan, namun tetap saja itu tak luput dari keinginanku untuk menguburnya dan merasakannya tak pernah terjadi. Aku tak pernah bisa berhenti menyalahkan diriku saat dulu kita bertengkar hebat mempermasalahkan hal remeh (tentang di mana kau lupa menyimpan bukuku buku tebal, sebuah buku yang kugunakan untuk menyelesaikan tugas kantorku yang menyebalkan dan aku, tampaknya memperbesar masalah ini dengan berlebihan dan berteriak: “Aku ini suamimu! Aku ini kepala keluarga!” Aku benci sekali mendengarnya). Waktu itu kita masih muda dan bodoh, pernikahan masih seumur jagung, dan kita belum terbiasa menghadapi kekurangan masing-masing. Yang kuingat, tidak satupun dari kita berusaha mengalah saat bertengkar. Malam harinya aku terbangun, menyaksikan dirimu menghilang dari sisiku. Di sanalah kau duduk, di atas sofa di ruang tamu, sendirian dalam gelap, menahan isak tangismu namun air matamu turun dengan deras. Sementara aku hanya berdiri dan melihat. Sungguh, melihatmu seperti itu hatiku membusuk, aku seperti berubah menjadi manusia hina, aku telah membuat istriku menangis. Ingin sekali saat itu aku segera menghampirimu dan memelukmu, tapi tak kulakukan, karena aku merasa tak pantas.

Pagi harinya kau datang menghampiriku dengan mengucapkan kalimat itu. Aku merasa canggung. Kau datang dengan sedikit tersenyum, mengembalikan buku yang menjadi akar permasalahan kita padaku, lalu kalimat itu terucap: “Aku hanya minta sedikit saja perhatian darimu, itu saja, tapi tampaknya buku ini memang lebih tebal dari yang lainnya.” Memang terdengar sarkastis. Tapi langsung menohok hatiku dengan keras. Kalimat itu telah mengajariku bagaimana seharusnya menjadi seorang suami. Aku bersyukur karena kau mengatakannya, dan aku bersyukur karena setelahnya kau bisa tersenyum kembali.

Kesedihanmu selalu berhasil meruntuhkan pertahananku, sebuah kewibawaan yang kujaga sebagai seorang pria dan semakin kulapisi saat kita bersama. Bahkan sebagai suamimu pun aku masih merasa sebagai orang asing dalam ruang kesedihanmu. Aku bukan suami yang baik, yang mampu meredam rasa sedihmu lewat kata-kata, menghiburmu, atau sekedar mengatakan: “jangan menangis”, yang kubisa hanyalah diam dan membiarkan lenganmu melingkar di pinggangku sampai air matamu habis. Aku hanya diam, kecil, dan tak berdaya. Memang seperti itulah aku, mungkin karena kau selalu tampil sebagai sosok wanita yang mandiri, kuat, tegar  karenanya aku mencintaimu  sehingga saat kau menangis, seolah-olah aku harus memulai untuk mengenalmu lagi. Mengenal dirimu yang sama sekali baru.

Kau masih ingat saat-saat di mana kau merasa menanggung hidup sebagai seorang wanita adalah sebuah profesi yang menyedihkan? Kau menyatakan wanita hanya wadah dari setiap ketidakadilan dalam hidup yang tak mampu ditanggung mahluk lain? Kau marah dan menuduh Tuhan sejak awal menakdirkan wanita sebagai objek pesakitan? Kau marah pada Tuhan. Kau menunjuk langit dan berteriak: “Di sana hanya ada awan, matahari, dan bintang-bintang, tak ada yang lain. Selebihnya hanya omong kosong!” (benar-benar sebuah energi kemarahan yang dahsyat!). Namun setelahnya, kau menangis dengan diwarnai penyesalan, rasa pasrah, getir, dan bahkan rasa malu. Kesedihan yang merupakan pintu pelarianmu dari kenyataan pahit yang kau anggap hanya untuk kau pangku sendirian. Kau masih ingat masa itu? Tentu saja kau masih ingat.

Sebuah kado yang meyesakkan untuk 5 tahun pernikahan kita. Penantian yang hancur lebur oleh takdir, harapan yang terbakar hangus, tertiup angin dan tak kembali, hanya tergantikan sementara oleh andai-andai yang bersarang jauh entah di mana. Betapa bahagianya dirimu, pancaran senyum manis berkilau, saat kau bilang: “Aku akan menjadi seorang ibu yang tak pernah lelah menemaninya bermain, pagi, siang, malam. Aku bahkan rela terjaga setiap malam agar kapanpun ia bangun dari tidurnya, akulah yang pertama ia lihat. Bagaimana menurutmu?” Kau mengatakannya dengan bahagia.

Tetapi dokter itu tak beranjak dari kursinya. Ia membetulkan kacamatanya sesekali dan kulihat ia berusaha untuk tidak terlalu sering menatap langsung dirimu atau diriku. Ia menatap kertas-kertas hasil pemeriksaan dengan sedikit canggung, lalu dengan kalimat yang coba ia rangkai agar terdengar cukup halus, ia mencoba mengatakan padamu, pada kita, bahwa kita tak mungkin untuk memiliki keturunan. Dan bersamaan dengan itu, kau langsung menempatkan dirimu pada posisi bersalah. Kau kesal dan marah, menyumpahi kenyataan, meluapkan emosi dan jeritanmu, berteriak tentang keadilan dan sebagainya. Melihatmu seperti itu aku tak bisa berbuat banyak.

Saat malam tiba, semuanya berubah. Hatimu meluntur dan keputusasaanmu tak lagi terbendung. Kesedihanmu, kesedihan yang terlihat lebih besar dari dirimu sendiri, dengan cepat menguasaimu dan mencengkram dari segala sisi. Kau tenggelam jauh meninggalkanku sendiri, padahal kau tahu bahwa bukan hanya hatimu yang sedang menangis. Aku termenung, menyaksikan perubahan kentara senyuman di bibirmu menjadi air mata yang tak berhenti turun (“Aku akan menjadi seorang ibu yang tak pernah lelah menemaninya bermain, pagi, siang, malam. Aku bahkan rela terjaga setiap malam agar kapanpun ia bangun dari tidurnya, akulah yang pertama ia lihat. Bagaimana menurutmu?”). Menurutku kau akan menjadi seorang ibu yang sempurna.

Berhari-hari ratapanmu memenuhi seisi rumah. Dan sekali lagi, aku merasa begitu bodoh karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Terus terang aku hanya membiarkanmu seperti itu. Sampai suatu hari kau datang dengan senyum lama yang tampak baru, seakan kau telah kenyang menelan semua perasaan murammu dan menemukan pintu menuju ruang kedamaian. Kau memperkenalkan atmosfer lain, dengan keriangan dan ketegaran, lewat kehangatan dan semangat baru, mengantarkanmu menuju tahap selanjutnya dari kedewasaan. Kau melahirkan dirimu sendiri melalui proses yang rumit, berenang melalui rasa perih dan menyelaminya dengan berani, dan kemudian muncul ke permukaan menyemburkan kelegaan ke segala arah. Aku tak tahu apa yang telah merasukimu, namun yang pasti melihat caramu menghadapi hidup semakin membuktikan bahwa kau seorang wanita spesial.

Makanya berhentilah menangis. Hapus air matamu segera. Tak ada yang harus ditangisi, ini hanya diriku. Ia meletakkan genggamannya. Ambulans terasa berjalan semakin cepat. Aku masih ragu dengan orang yang di belakang sana yang dari tadi terus menatapku. Sempat aku mengira dia adalah salah seorang temanku, tapi sepertinya bukan.

Istriku tidak lagi terisak seperti tadi. Ia mengusap air matanya dengan pelan. Aku sedikit kesal karena tak seorangpun di dalam sini yang memberinya tisu atau sapu tangan. Ia memandangiku, tidak secara langsung berhadapan dengan kedua mataku tapi ia tengah memandang diriku. Matanya tampak sayu. Bola matanya yang basah membuat tatapannya begitu bening. Pantulan lampu neon membuat wajahnya bersinar dan ia tampak seperti ketika masih muda dulu. Seketika air matanya kembali meluncur cepat. Dan tiba-tiba sebuah memori lama melintas di kepala.

Aku ingat beberapa tahun yang telah lalu, saat kau juga meneteskan air mata namun tanpa dibalut oleh kesedihan. Kau tampak begitu muda dan cantik, rambut hitam panjang dan kulit putih yang halus tanpa cela. Aku merasa begitu beruntung karena telah mengenalmu dan berteman cukup lama. Kita bisa membicarakan hampir tentang segala hal, kita memiliki ketertarikan yang sama terhadap sesuatu, dan aku merasa sangat nyaman melakukan apapun bersamamu.

Butuh waktu 5 tahun bagiku untuk bisa menerjemahkan dengan benar rasa candu yang menggerogoti perasaanku saat aku melihatmu, saat kita bicara, saat aku mematung menatap senyum manismu, atau saat dalam gelap bayanganmu hidup membakar rasa sepi. Hingga sampailah pada malam itu di tengah bisingnya suara kota, kita sama-sama duduk menatap kehidupan di sekeliling lewat mata yang sinis, sok pintar, arogan, sedikit nakal, dan bahkan mungkin kekanakkan. Kita berkomentar tentang para orang-orang kaya, kita mencemooh kelakuan para remaja, kita menertawakan orang-orang yang kami anggap bodoh, kita membicarakan film, musik, dan karya sastra, kita berdebat mengenai laki-laki dan perempuan, kita meramalkan masa depan, kita berangan-angan tentang kemapanan dan menjadi tua, kau memberitahuku tentang bagaimana rambut hitammu harus diperlakukan, aku memberitahumu bagaimana aku suka mencukur rambutku sendiri, dan gelak tawa selalu terselip di antara semuanya.

Pada akhirnya perasaanku telah hanyut terlalu jauh. Aku tak bisa mengelak dan sudah cukup bagiku untuk terus bersembunyi sambil menantikan nyaliku terkelupas. Maka saat malam telah mulai lelah, aku menghampirimu. Mulutku bergetar, aku memulainya dengan mengungkapkan pertemanan kita yang kurasakan begitu hangat (maksudku erat dan intim), tentang rasa cemas yang sering kali hinggap di dadaku, betapa kau menarikku seperti semacam gravitasi dari ketinggian (bagian ini terkesan gombal menurutku), tentang setiap saat di mana hanya ada kau dan aku, lalu semuanya kusimpulkan dengan jiwa memerah dan setenang mungkin: “Selagi aku masih sadar dan waras, dan sebelum aku mengantuk, aku ingin sekali, dari sejak dulu, aku ingin sekali, apalagi di saat seperti ini, kau boleh tak percaya tapi aku jatuh cinta dan ingin sekali menikahimu…sekarang. Bagaimana?” (tentu saja itu hanya penekanan, aku tak serius untuk menikahinya saat itu juga). Lalu kau berhenti tersenyum.

Yang kuingat kemudian adalah matamu. Bola mata yang hitam dan bulat sempurna. Kau tak bergeming menatap wajahku seakan baru pertama kali melihat manusia, menyelidiki setiap lekuk dan guratannya, memeriksa isi di balik kepalaku dengan tatapan itu dan akhirnya berpapasan dengan kedua mataku di mana pandanganmu langsung meluncur ke dalamnya dan hampir menghentikan jantungku. Matamu begitu cerah dan besar, kecantikan dan kemuliaan berpadu di sana. Aku bisa merasakannya, kesunyian itu mendorong matamu bicara padaku. Lewat binarnya dan titik air yang mulai membasahinya, aku dengar matamu bilang, “ya, aku mau.” Namun bibirmu tak bergerak dan kita terus berpandangan. Sampai akhirnya air mata meluncur cepat dari kedua matamu, lalu seperti baru kembali dari dunia mimpi kau tersentak, mengalihkan pandanganmu kemudian tersenyum haru. Dengan cekatan tanganmu menyapu air mata tapi ia terus meluncur dan meluncur lagi. Senyummu terus bertahan lalu mata indah itu menatapku lagi untuk kedua kalinya dan kali ini telingaku menangkap gelombang suara lembut dari bibir yang tipis mengatakan: “Ya, aku mau.” Hatiku langsung menggembung. Aku tersenyum kepadanya dan ia membalasnya dengan yang lebih baik.

“Tapi, aku tak ingin menikah malam ini.” Gelak tawa kembali hadir tapi yang ini sedikit berbeda, lebih terkesan malu-malu, lebih dewasa, lembut, penuh arti, dan bercampur dengan kebahagiaan mendidih yang membuatku terjaga hingga fajar tiba.

Sekarang aku kembali melihatmu seperti di waktu itu. Pantulan sinar lampu di wajahmu dan dua bola matamu yang mendekat membangkitkan lagi kemudaan dalam dirimu. Lalu air matamu yang terus meluncur saat ini justru membebaskan kembali kebahagiaan itu yang selalu kusimpan rapi. Aku merasa beruntung. Melewati sebagian besar hidupku berdua denganmu dipenuhi petualangan-petualangan dan cerita-cerita yang membuat hidup dan jiwaku semakin lengkap, aku merasa sangat beruntung. Seperti madu. Bagiku itu adalah segala-galanya terutama menatap kilau kecantikanmu dari balik ketakberdayaan ini.

Tak lama kemudian ambulans ini berhenti. Suara sirene memudar lalu mati dan pintu-pintu dibuka. Badanku didorong keluar.

***

Aku melewati lorong rumah sakit yang putih dan menyilaukan. Beberapa petugas rumah sakit berlari mendorongku, namun tampilan mereka tampak buram. Kecuali wajah istriku yang selalu terlihat cantik dan wajah orang tak dikenal tadi yang terus menatapku, wajah-wajah lainnya tampak  seperti lukisan cat minyak yang akan meleleh,

Istriku setia mendampingi. Ia menggenggam tanganku erat, lebih erat dari sebelumnya. Kehangatan masih menyertai sentuhan magisnya pada tubuhku. Kuperhatikan air matanya mulai surut dan ia tak lagi sedang menangis. Air mukanya memancarkan ketenangan, kematangan, dan kebijaksanaan yang anggun. Aku melihat aura kecantikannya melingkar-lingkar di sekitarnya seperti aurora dalam warna yang terang benderang. Sebuah gelombang, besar dan indah, menyala-nyala dalam perasaanku, mengalir bersama darah di sekujur tubuh, menyerukan namamu lewat getaran-getaran pelan yang membuatku seperti tengah berbaring diselimuti awan sejuk. Aku merasa begitu kaya, begitu cerah, begitu hidup dihembus angin segar, begitu meluap-luap dan tak mau berhenti. Gelombang ini menjalariku lagi, menemuiku lagi untuk yang kesekian kali yang hanya bisa masuk melalui kedua mataku saat melihatmu. Inilah yang kunamakan jatuh cinta.

Tubuhku terus bergerak, aku tak tahu kemana mereka akan membawaku, yang jelas lorong ini terasa sangat panjang. Kau di sampingku. Beberapa rambutmu yang memutih terurai. Kau terlihat sedikit menggigil, aku tahu malam ini dingin tapi tubuhku hanya merasakan hangat sejak tadi. Pancaran sinar lampu neon menghujaniku dengan sangat tajam. Beberapa petugas rumah sakit di sekelilingku lambat laun mulai memudar. Pertama-tama wajah mereka mencair, lalu badan mereka memudar, suara-suara mereka pun perlahan tak terdengar lagi. Menurutku ini cukup aneh.

Lalu orang asing itu, yang sejak tadi menatapku di dalam Ambulans, tiba-tiba ia melangkah menghampiriku. Begitu langkahnya membesar, aku merasakan sesuatu, sebuah medan misteri yang mendekatiku dari ujung tempat yang tak terjelaskan. Perasaanku berdebar, tatapan pria itu seakan ingin menyedot tubuhku menuju tempat yang sangat dalam. Ia berdiri tepat di sampingku, sementara istriku di sisi yang lain, para petugas rumah sakit akhirnya menghilang tanpa jejak, menguap seperti air. Sekarang yang tersisa hanya mereka berdua. Kemudian tangan-tangannya yang putih mulai menggerayangi tubuhku. Aku mencoba menggenggam tangan istriku lebih erat karena diliputi oleh rasa tegang, tapi tak bisa.

Tangan-tangan itu memusnahkan rasa hangat tubuhku tahap demi tahap. Mula-mula jari kakiku lalu merangkak pelan ke seluruh badan. Mungkin ini menakutkan, tapi diriku justru serasa terbang dengan bebasnya. Aku seperti telah melepaskan semua dahaga dan lapar yang tersisa lalu meloncat menuju tempat yang tinggi dengan segala kesempurnaan yang memenuhi jiwa. Semuanya begitu menyilaukan, tubuhku terangkat, orang asing ini menuntunku ke hawa langit yang tercium harum dari tempatku. Aku tak dapat bergerak. Tubuhku melayang dengan tenang seperti bulu tertiup angin.

Dan aku bersumpah, sesaat tadi, ketika sekelilingku adalah cahaya putih yang pekat, aku menangkap bola matamu tepat mengarah pada bola mataku, aku bertatapan langsung dengannya untuk yang pertama kali di malam ini. Ia benar-benar menatap dengan sejuk menembus kedua mataku dalam-dalam. Bahkan saat aku bergerak ke atas, kedua matanya dengan cermat mengikuti gerakanku, dan betapa indahnya pemandangan ini sehingga aku hampir menangis. Jelas sekali seberkas sinar muncul dari bola mata yang besar dan hitam, melubangi hatiku, dan seketika dengan pelan dan lembut, kau tersenyum, senyum paling manis yang pernah kulihat dengan lesung pipi yang melengkapi keindahan berlimpah yang terus kuterima darimu sepanjang hidupku sementara orang asing ini dengan sangat hati-hati mengangkatku, mengangkatku, mengangkatku menuju ke…

***

6 Responses to “Sirene, Sirene”

  1. on 01 Feb 2009 at 19:13Chanif asma

    Ni judul kyakny lbh pas wat poem ja deh.Coz stlh bca kok ksanny g enak bgt dibuat cerpen. Trlalu puitis n g bs bkn greget untk kategori cerpen

  2. on 01 Feb 2009 at 22:05Najja_ajjah

    :’(
    bagus,keren banget,tp mengharukan

  3. on 04 Feb 2009 at 11:03pakde

    Muatan emosinya luar biasa, satu gambaran saat menghadapi kematian, mengerikan namun tidak tampak mengerikan.

    Saya pernah memerankan karya tulis ini dalam bentuk monolg. Cukup mengasyikan!

  4. on 04 Feb 2009 at 22:29pakde

    Thanks, Kisah yang luar biasa. Mohon izin untuk menjadikan cerita ini sebagai dummy alias sample Everlasting love di http://inspirasipakde.com/2009/02/04/everlasting-love/

  5. on 05 Feb 2009 at 10:40yuLhie_a

    krennnnnnnnnn………….abizzzzzzzzz…..

    Qu smpe nAngis…cOZ TeRHARU bGD…..
    UnsuR kTBAHANNYA aDa……

    Trus…..BerkArya……..

  6. on 11 Feb 2009 at 22:14alfian

    horor, serem…!!!
    ini yang nulis setannya ya?
    deskripsinya gemuk banget, capek bacanya
    inti ceritanya gak sepadan sama capeknya
    buat cerita yg lebih inspiratif, inovatif, n pesannya mampu membuat fresh ya…
    salam sukses….

Tinggalkan Komentar