KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mengenal Reki

“Our deeply condolences over the loss of our brother, Reki, due to his sickness. May his soul rest in peace and the family be strengthen.”
Runi terkejut membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Ida. Pesan itu mengabarkan kepergian salah seorang teman mereka, Reki, yang selama hampir dua bulan terakhir dirawat di rumah sakit. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi wajah Runi yang masih terpaku.

*

Dua tahun yang lalu, saat berlangsung masa orientasi mahasiswa baru. Hari itu adalah hari kedua Runi menjadi mahasiswa baru jurusan Teknik Kimia di sebuah institut teknologi. Runi setengah berlari membawa tas plastik warna merah berisi berbagai keperluan untuk masa orientasi hari ini. Sementara tangannya yang lain membawa bibit tanaman yang akan ditanam bersama teman seangkatannya nanti. Dia tidak sendiri. Beberapa mahasiswa baru sepertinya juga sedang terburu-buru berlari menuju kampus jurusan mereka masing-masing. Mereka mudah dikenali dengan pakaian kaos putih dan rambut atau lengan yang diikat dengan pita warna tertentu.

Runi harus tiba di kampusnya sebelum pukul enam kalau tidak ingin mendapatkan hukuman dari senior-seniornya, panitia orientasi. Seharusnya dia berangkat lebih pagi terutama hari ini, di saat harus membawa bermacam-macam barang.
”Hei, sedang apa kau? Kalau tidak buru-buru…” Seorang pemuda menyapanya sambil berlari mendahuluinya. Dia juga membawa tas plastik warna merah dan cangkul yang ditutup dengan kertas koran. Runi mengenali pemuda itu sebelumnya ketika menghadiri upacara penerimaan mahasiswa baru di jurusannya kemarin.

Pemuda itu cukup jauh berlari meninggalkan Runi di belakang. Larinya bisa dibilang cepat apalagi dengan membawa barang-barang seberat itu. Runi berusaha menyusul pemuda itu tetapi sia-sia. Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Runi. Ia balik berlari kembali ke arah gadis itu. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil bibit tanaman yang dibawa Runi kemudian berlari menyejajarinya.
Seperti yang mereka duga, mereka berdua terlambat. Di depan portal yang ditutup, menunggu beberapa senior bermuka masam. Runi yang berusaha mengatur napasnya menatap pemuda itu dengan tatapan meminta maaf tapi yang dilihatnya hanya tersenyum tanpa beban. Mereka berdua harus menunggu hukuman sebelum diijinkan mengikuti kegiatan, sementara teman-teman mereka bersenam pagi diiringi suara teriakan dari panitia orientasi.
”Aku Reki.” Pemuda itu memperkenalkan diri.
”Runi,” jawab Runi singkat.
Runi menatap lengan kiri Reki. Pemuda itu mengikuti pandangan gadis itu kemudian setengah tersentak menepuk lengan kirinya. Dia lupa mengenakan pita warna jingga tua di lengannya, warna yang sama dengan pita yang mengikat rambut Runi. Itu artinya satu hukuman lagi. Menyadari itu, Reki setengah tak acuh menggaruk kepalanya dan berkata bahwa dia lupa karena terburu-buru.
Melihat sikap santai Reki, Runi tersenyum. Dilepasnya pita yang mengikat salah satu dari dua kuncir rambutnya dan memberikannya pada Reki. Dia membantu mengikatkan pita itu di lengan Reki.

”Bagaimana denganmu?” tanya Reki sambil merapatkan ikatan pitanya.
Runi melepas pitanya yang satu lagi dan meminta Reki membawanya sebentar sementara ia mengeluarkan gunting dari tempat peralatan tulisnya. Runi memotong pita itu menjadi dua bagian yang sama panjang dan mengikatkannya ke kedua kuncir rambutnya. Karena sedikit kesulitan mengingat kuncir rambutnya yang cukup pendek, Reki membantunya mengikatkan pita itu di rambut Runi. Runi dan Reki saling berpandangan sambil menahan senyum. Setidaknya sekarang mereka hanya tinggal menunggu satu hukuman karena datang terlambat.

*

“Hei, sibuk?” Ida melongok ke dalam ruang sekretariat. “Ke taman yuk!”
Runi yang sedari tadi duduk di depan komputer membaca file proposal acara pekan olahraga yang menjadi tanggung jawabnya menoleh dan membalas dengan senyum. Setelah menutup file tersebut, dia meninggalkan komputer tetap menyala dan mengikuti gadis itu. Runi dan Ida bergabung dengan organisasi kemahasiswaan di jurusan mereka sejak semester lalu. Runi menjadi anggota departemen Kesejahteraan Mahasiswa sedangkan Ida bergabung dengan unit Pers Mahasiswa.
Mereka menuju sebuah ruang terbuka, yang biasa juga disebut taman, dengan beberapa bangku dan meja yang di tata di bawah sebuah pohon besar dan rindang. Taman itu terletak tepat di samping ruang sekretariat. Kemudian, berbatasan langsung dengan taman itu adalah lapangan basket yang sering digunakan untuk latih tanding anak-anak dari unit kegiatan Klub Basket. Sore itu pun, mereka sedang melakukan latihan rutin.
Rupanya bukan hanya Runi dan Ida yang sedang ingin menikmati semilir angin sore di taman. Mereka melihat Tito, teman mereka, duduk di salah satu bangku. Runi dan Ida saling memandang untuk beberapa saat. Mereka memang hanya bisa melihat punggung Tito tapi mereka tahu bahwa teman mereka tersebut masih bersedih karena kehilangan. Hampir sebulan berlalu sejak Reki meninggal. Tito mungkin adalah orang yang paling kehilangan Reki. Kabarnya, mereka sudah bersahabat sejak di sekolah menengah.
”Tito, asyik sekali!” Ida tersenyum menyapa, mengambil tempat duduk di depan Tito sedangkan Runi memilih bangku di antara mereka berdua. Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja.
Tito balas tersenyum menyapa. Matanya menatap Runi beberapa saat sebelum kembali memperhatikan anggota klub basket yang sedang berlatih.
”Hmm, kalau kalian perhatikan, akhir-akhir ini klub basket kita terlihat kurang bersemangat,” Ida berkata sambil menoleh ke arah lapangan basket, berusaha memulai pembicaraan
Tito tersenyum tipis, ”Mungkin karena tidak ada Reki. Dia yang paling bersemangat dalam latihan basket.”
Dalam hati, Runi membenarkan. Dia memang hanya memperhatikan Reki yang sedang berlatih ketika berjalan pulang melewati ruang sekretariat tetapi dia bisa melihat bahwa Reki sangat menikmati bermain basket.

*

Saat mereka duduk di semester tiga. Sore hari setelah menghadiri mata kuliah Azas Teknik Kimia II, Runi dan Ida berhenti sejenak di depan papan pengumuman di dekat ruang sekretariat. Mereka melihat sebuah pengumuman tentang rekrutmen anggota organisasi mahasiswa jurusan mereka. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran anggota.
”Wah, aku baru tahu kalau ada open recruitmen. Kebetulan, mereka punya unit Pers. Ayo, Runi, kita mendaftar sekarang. Di sini dikatakan mereka masih menerima pendaftaran sampai malam ini.”
Runi terdiam sesaat sebelum berkata, ”Maaf, aku tidak ikut.”
Ida menatap Runi dengan pandangan bertanya. Yang ditatapnya balas tersenyum.

”Kau tahu aku tidak pintar berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang, bagaimana bisa bergabung dengan organisasi seperti itu?”
”Justru itu.” Ida menjentikkan jari. ”Ini kesempatan yang bagus untuk belajar dan menambah pengalaman.”
Ida menambahkan sambil setengah bercanda, ”Lagipula, memang kenapa kalau kau tidak pintar berkomunikasi, pemalu, kuper, dan gampang dibohongi? Aku sendiri banyak bicara, selalu ribut, dan tidak pernah mau mengalah. Tidak masalah, ’kan, karena setiap orang itu berbeda, unik!” Mereka berdua tertawa.
Saat itu, beberapa orang melintas di dekat mereka. Mereka mengikuti mata kuliah yang sama dengan Runi dan Ida. Salah seorang dari mereka tanpa sengaja menabrak Runi dari samping. Orang itu Reki. Sepertinya dia sedang bercanda dengan Tito hingga tidak menyadari kalau Runi di dekat mereka. Beberapa saat, mereka berdua saling menatap.
Tito tersenyum menyapa Runi dan Ida. ”Hai, sedang apa?”
Ida menunjuk ke arah kertas pengumuman yang tadi sedang mereka baca.

”Ini, ada pengumuman rekrutmen anggota. Aku dan Runi berpikir untuk bergabung.”
Mata Tito menatap Runi dan Ida bergantian.

”Itu bagus! Sudah kalian putuskan ingin bergabung dengan departemen apa?”
”Aku ingin mencoba masuk unit Pers mereka, kalau Runi…”
Mereka bertiga menatap Runi, ingin tahu. Runi berpikir sejenak.

”Belum aku putuskan ikut atau tidak.”
”Kenapa tidak?” Tito bertanya sambil melirik Reki yang berdiri di sebelahnya.
”Kuliah itu membosankan!” Reki menimpali. ”Kita ’kan masih muda, tidak ada salahnya mencoba berbagai hal selain hanya belajar dan belajar.”
”Reki bergabung dengan klub basket sejak semester satu, baru beberapa kali ikut latihan tapi sudah berhasil masuk tim inti. Itu karena dia gila basket!” Tito tersenyum menimpali.
Reki melirik jam tangannya.

”Oya, aku harus ke lapangan sekarang. Ada latihan rutin.”.
”Latihan lagi? Bagaimana kalau kita berempat mengobrol di kafe sebentar?” Tito menawarkan ide. Reki menggeleng.

”Sebaiknya aku ke lapangan sekarang dan memulai pemanasan. Setelah tertidur di kelas selama hampir dua jam, aku butuh sedikit perenggangan.”
Tito, Runi, dan Ida tertawa melihat Reki merenggangkan ke dua tangannya ke atas. Mereka tahu kebiasaan Reki yang sering tertidur di kelas ketika kuliah berlangsung.
”Kalau tentang basket, kau terlalu bersemangat. Apa salahnya bolos latihan sekali-kali? Jarang-jarang kita bisa jalan dengan Runi dan Ida”
”Kami juga tidak bisa. Lebih baik kami pergi ke ruang sekretariat sekarang. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sebelum mendaftar.” Ida memandang Runi yang kemudian mengangguk mengiyakan.

”Benar, tidak ada alasan untuk menunda atau bolos latihan. Kalau kau tidak ada kerjaan, bagaimana kalau menonton latihan klub basket dari taman?” tawar Reki sambil tersenyum setengah mengejek.

”Tidak ada kerjaan, katamu? Enak saja!” Tito balas menyikut lengan Reki.
Mereka berempat tertawa.
”Kami duluan,” Reki berpamitan sebelum mereka beranjak pergi. ”Oya, Runi, maaf tadi aku tidak sengaja menabrakmu.”

Tawa Tito meledak.

”Telat tahu!” Dia menonjok pelan lengan Reki.
Ida tertawa terbahak-bahak sedangkan Runi hanya tersenyum simpul menyaksikan tingkah Reki dan Tito. Kemudian mereka berdua pergi ke ruang sekretariat. Runi memutuskan untuk ikut mendaftar bersama Ida.
Keluar dari ruang sekretariat, langit berwarna kemerahan menjelang senja. Runi dan Ida berhenti sejenak melihat sekumpulan anggota klub basket yang masih berlatih di tengah lapangan. Runi tersenyum memperhatikan Reki yang dengan lincah membawa bola melewati rekan-rekannya. Bajunya basah oleh keringat tapi dia terlihat menikmati, tawa tak pernah lepas dari wajahnya.

*

Pagi itu, tidak seperti biasanya, Reki terlihat sibuk mengerjakan soal Kimia Fisika II yang ada di hadapannya. Tentu saja, saat itu mereka memang sedang mengerjakan quiz. Runi yang duduk berjarak satu kursi dari Reki, tersenyum simpul memperhatikan pemuda itu terlihat serius berkutat dengan soal-soal tersebut.
Seratus menit kemudian, waktu untuk mengerjakan quiz selesai. Ida yang duduk di belakang Runi menghampiri gadis itu sambil membawa selembar kertas, take home quiz tambahan.
”Tadi, soal quiznya aneh!” Ida berkata sedikit cemberut.
”Aneh bagaimana?” tanya Runi.
”Aneh maksudnya, aku tidak bisa mengerjakan sama sekali. Eh, sekarang ditambah ini.” Ida melambai-lambaikan kertas yang dipegangnya.
“Kalau begitu, kita ke ruang baca untuk mencari literatur dan menyelesaikan soal itu sekarang,” usul Runi. Ruang baca adalah sebutan untuk sebuah perpustakaan kecil yang terdapat di jurusan mereka.
Ruang baca yang terletak di sudut lantai dua gedung jurusan Teknik Kimia itu terlihat sepi. Hanya ada satu-dua anak duduk di sudut ruangan yang terlihat sibuk dengan buku teks dan buku catatan mereka. Ida dan Runi memilih duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja besar yang terletak di tengah ruangan. Runi membaca lembaran soal yang didapatnya tadi dan memberi tanda beberapa poin yang dianggapnya penting sementara Ida menuju rak buku di dekat mereka untuk mencari beberapa literatur tambahan. Beberapa saat kemudian, Runi teringat buku catatannya dan beranjak menuju rak penitipan tas di depan pintu masuk.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruang baca dibuka dari luar. Runi terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya terdorong sehingga dia hampir menabrak rak penitipan di depannya. Runi menoleh. Matanya bertemu pandang dengan Reki.
”Ya ampun, Reki! Kenapa kau suka sekali menabrak Runi?” Tito yang mengikuti di belakang Reki berkata sambil tertawa. Reki berbalik dan menatap Tito. Wajahnya terlihat gusar. Tito bertanya pada Runi apa gadis itu tidak apa-apa. Runi menjawab dengan senyum dan menggeleng pelan.
Ida yang menyadari kehadiran mereka, datang menghampiri dengan membawa dua buku tebal yang terlihat sudah termakan usia.

”Kalian ke sini unutuk mengerjakan soal take home tadi? Quiz tadi susah sekali, pasti nilaiku hancur. Untung ada soal untuk tambahan nilai.”
”Kalau untuk Reki, soal seperti tadi bukan apa-apa. Walaupun selalu tertidur saat kuliah berlangsung, dia sama sekali tidak kesulitan menyelesaikannya. Benar kan, Reki?” Tito tersenyum ke arah Reki yang terlihat merasa tidak nyaman berada di ruangan itu.

Mendengar namanya disebut, Reki selintas menoleh.
”Dalam beberapa hal, dia memang lambat. Tapi sebenarnya otaknya cukup encer,” imbuh Tito.

Runi dan Ida tertawa kecil menanggapi. Sedangkan Reki terlihat bingung karena tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Runi menyadari tingkah Reki yang tidak biasa.

”Ada apa?”
Reki terdiam menatap Runi beberapa saat.

”Bukan apa-apa. Eh, aku lupa, masih ada urusan.”
Dia bergegas menuju pintu dan memutar pegangannya. Pintu kembali terbuka dan Reki melangkah keluar. Tetapi sebelum menutup pintu, dia berbalik.

”Runi, maaf, tadi tidak sengaja.”
Tawa Tito dan Ida langsung meledak sedangkan Runi mencoba menahan tawa karena menyadari tatapan bernada teguran dari petugas ruang baca yang duduk di depan mejanya, di dekat tempat mereka bertiga berdiri.
”Sebenarnya, Reki tidak suka berada di perpustakaan. Tadi, aku yang memaksanya ke sini,” Tito menjelaskan setelah dia berusaha menahan tawanya. ”Dia merasa ”terintimidasi” melihat rak-rak yang penuh buku.”
”Terintimidasi?” Kali ini tawa Ida terdengar lebih keras sehingga petugas ruang baca akhirnya menegur mereka bertiga.
Runi memberi isyarat pada sahabatnya itu untuk menahan tawanya walaupun ia sendiri merasa geli mendengar penjelasan Tito. Benar kata Ida, setiap orang adalah pribadi yang berbeda dan unik.
Saat semester empat baru saja dimulai, mereka mendapat kabar bahwa Reki harus dirawat di rumah sakit setelah tiba-tiba pingsan ketika berlatih basket di suatu sore. Tito bercerita bahwa selama ini Reki memang sering menderita sakit kepala tetapi karena ia tidak pernah mengeluh, mereka menganggap itu hanya sakit kepala biasa. Hasil diagnosa dari rumah sakit memang belum keluar, tetapi dia diharuskan untuk rawat inap hingga diketahui kemungkinan penyakit yang diidapnya.
Karena pagi itu jadwal kuliah tidak terlalu padat, Runi, Ida, bersama beberapa teman berencana untuk menjenguk Reki. Runi dan Ida menunggu mereka di ruang sekretariat. Ida yang melihat Tito melintas di depan ruang sekretariat, memanggilnya dan mengatakan rencana mereka kemudian bertanya apakah Tito mau bergabung dengan mereka.
”Kalau kalian ingin menjenguk Reki, sebaiknya nanti sore saja, denganku. Sekarang aku masih ada kuliah. Reki pasti lebih senang kalau kita datang bertiga,” Tito berkata sambil tersenyum ke arah Runi yang menatapnya dengan tatapan khawatir.

Sebenarnya Runi ingin segera menjenguk Reki. Tetapi usul Tito memang lebih baik. Setidaknya bila bersama Tito dan Ida, Runi tidak akan merasa canggung berbicara dengan Reki. Ida dan Runi terpaksa mengatakan pada teman mereka bahwa mereka tidak bisa ikut menjenguk Reki pagi itu.
Sore harinya, mereka bertiga sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan tempat Reki dirawat. Tito mengenali kedua orang tua Reki dan seorang adik perempuannya yang sedang berbicara di depan pintu kemudian menyapa mereka. Setelah sesaat beramah tamah, mereka meninggalkan Tito, Ida, dan Runi untuk berbincang dengan Reki. Runi tersenyum. Melihat keluarga Reki, rasanya dia paham lingkungan seperti apa yang bisa membentuk orang seperti Reki.
”Aku lupa! Tadi aku membawa beberapa tabloid olahraga dan beberapa buku bacaan untuk Reki. Tertinggal di mobil,” Tito tiba-tiba berkata sebelum mereka masuk ke dalam kamar tempat Reki dirawat.

”Runi, kau masuk saja dulu. Biar Ida membantuku mengambil barang-barang itu,” dia berkata sambil memberi isyarat pada Ida.

Ida tersenyum dan menepuk pundak Runi, ”Cepat sapa dia!”
Sebenarnya Runi lebih memilih untuk pergi bersama mereka. Dia tidak tahu harus berbicara apa dengan Reki di dalam. Selama ini, mereka memang tidak bisa dikatakan akrab. Hanya sesekali berbicara bila ada kesempatan. Itupun selalu ada Ida dan Tito bersama mereka.
Runi mengetuk pelan pintu di hadapannya, karena tidak ada balasan, dia membuka perlahan kenop pintu dan melongok. Di sana dia melihat Reki terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Menyadari seseorang di pintu, dia membuka mata. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap.
”Hai…”
”Hai, aku masuk ya.”
Suatu hari tengah malam, Runi duduk di dekat jendela kamarnya, menatap langit yang malam itu ramai oleh taburan bintang. Bulan purnama berwarna jingga tua menghias salah satu sudut langit malam itu. Runi pernah mendengar sesuatu tentang bulan purnama ketika berwarna jingga tua yang katanya akan membawa sebuah keajaiban. Itu mungkin benar, hanya dengan melihatnya, Runi merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Mungkin sama seperti saat melihat pelangi setelah hujan turun atau ketika melihat bintang berekor.
Sebuah pesan masuk ke HP Runi.

”Langit malam ternyata cantik, ’ya! Apa bulan purnama berwarna jingga itu wajar? Reki”
Runi tersenyum membaca pesan tersebut dan segera membalasnya. Mungkin Reki sedang bosan sendiri di kamar serba putih itu. Malam itu, mereka masih saling mengirim pesan beberapa kali, bercerita tentang berbagai hal yang terlintas di pikiran mereka saat itu, sebelum Runi mengakhiri dan meminta Reki untuk beristirahat.

Setelah kunjungannya yang pertama, Runi belum bisa kembali menjenguk Reki karena kesibukan dengan kegiatan organisasi dan Ujian Tengah Semester yang sudah dimulai. Tapi mereka masih saling berkirim pesan hampir setiap hari. Hal itu cukup meyakinkan Runi bahwa Reki akan segera pulih dan kembali beraktifitas. Hingga suatu sore yang sunyi di kamarnya, Runi menerima pesan dari Ida mengenai kepergian Reki.

*

Sebulan berlalu sejak kepergian Reki. Suatu sore, seperti sore yang biasa, Runi, Ida, dan Tito duduk-duduk di taman memperhatikan anak-anak anggota klub basket yang sedang berlatih.
Tito mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah pita berwarna jingga tua, dan menyerahkannya pada Runi sambil tersnyum.

”Ini milikmu kan? Reki pernah bercerita tentang perkenalan kalian di awal masa orientasi. Sebenarnya sudah lama Reki ingin mengembalikannya, tapi kau tahu bagaimana dia.”

Runi memandangi pita berwarna jingga tua yang sekarang ada di tangannya. Matanya tiba-tiba terasa penuh tapi ia tidak ingin Ida dan Tito melihatnya menangis.
Malam harinya, di dalam kamarnya, Runi duduk di depan jendela yang terbuka. Langit malam itu mendung, tidak ada bintang ataupun bulan purnama berwarna jingga. Sebuah buku harian berada di pangkuannya. Digenggamnya erat pita jingga tua itu di tangan kirinya kemudian ia mulai menulis dengan sebuah pena di tangan kanannya.

Mengenal Reki
1.pelari yang cepat
2.sahabat setia
3.sangat mencintai Basket
4.selalu tertidur di kelas saat kuliah berlangsung
5.alergi dengan perpustakaan
6.sedikit lambat dalam beberapa hal ^ _^
7……

9 Responses to “Mengenal Reki”

  1. on 31 Jan 2009 at 13:16ega

    ih ceritasanya bgs tp klo blh jujur ni cerita kyk asli mang ni kenyataan y?
    sedih bgt

  2. on 02 Feb 2009 at 14:06daud

    waduh … bagus ni ceritanya …
    selalu berkarya ya … cuma sayang nya antara perasaan reki dan Runi
    masi dalam tanda tanya .. itu menurut saya ,,.. gud job prend ..

  3. on 07 Feb 2009 at 21:00selfi

    ehm…wuih..wuih ceritanya buagusss bangetzz sich…ceritanya,dapat inspirasi dari mana???

  4. on 10 Feb 2009 at 10:40auggie

    doumo arigatou gozaimasu ^ ^
    seneng bgt denger kalian suka ceritanya. hmm… emg based on true story tp g semua. waktu SMA (dulu….bgt!) ada temen yang selama hmpr 3 tahun blm pernah ngobrol brg. bru pas kelas 3, pas acara perpisahan, qta sempet ngobrol bentar. kira2 seminggu sebelum lebaran 2008, dapat sms dari temen, yang ngasih kabar kalo ada adik angkatanku di Tekkim yang meninggal karena sakit. aku juga kenal anaknya, pernah kerja brg buat acara himpunan. bs dibilang idenya didapat dari 2 pengalaman yg g berhubungan sama sekali. tapi keduanya bikin aku kepikiran, hidup ini singkat, ya. qta g akan tau kapan dipanggil sama Yang Di atas…. let’s make every second counts ^ ^

  5. on 10 Feb 2009 at 10:50auggie

    doumo arigatou gozaimasu ^ ^
    seneng bgt denger kalian suka ceritanya. hmm… emg based on true story tp g semua. waktu SMA (dulu….bgt!) ada temen yang selama hmpr 3 tahun blm pernah ngobrol brg. bru pas kelas 3, pas acara perpisahan, qta sempet ngobrol bentar. kira2 seminggu sebelum lebaran 2008, dapat sms dari temen, yang ngasih kabar kalo ada adik angkatanku di Tekkim yang meninggal karena sakit. aku juga kenal anaknya, pernah kerja brg buat acara himpunan. bs dibilang idenya didapat dari 2 pengalaman yg g berhubungan sama sekali. tapi keduanya bikin aku kepikiran, hidup ini singkat, ya. qta g akan tau kapan dipanggil sama Yang Di atas…. let’s make every second counts ^ ^

  6. on 23 Feb 2009 at 12:09tina

    endingny sdi yach, tpi, gak gntung jga sech hbungan reki ma runi lom jelassss. kyakny cinta tak ksampean

  7. on 27 Feb 2009 at 10:12AdYMaTriX

    Hebat…
    cerita na bgus,mengharukn…pkoq na top bget dch.

    Itu cerita fiksi ato nyata sch?!

    Jgn prnah brhenti brkarya yach…

    Hasilkan yg lebih baik lg….(AdY)

  8. on 07 Mar 2009 at 17:15Merry Anne

    Gud st0ry. Touch enough.

  9. on 16 Dec 2009 at 15:22I yoU

    I like your story

Tinggalkan Komentar