KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sayangku, Rishaku

Tak pernah terbayangkan hidupku penuh kepedihan seperti ini. Pertemuanku dengan orang–orang di sekitarku ternyata harus kandas dengan luka tergoreskan di hati dan rasanya sulit tuk mengubur dalam–dalam kisahku ini.

Dua tahun sudah aku sebagai pelajar di SMA Nusa Bangsa I. Di tempat inilah ku bertemu dengan kawan–kawan dekatku yang biasanya aku panggil mereka dengan sahabat.

Aku, Reni, dan Cindy adalah sahabat sehati. Selama ini kami selalu habiskan semua waktu kami ‘tuk bersama–sama, kami juga adalah teman satu kelas. Mereka berdua adalah sumber kebagiaanku, namun semua tidak berjalan apa yang kami harapkan sebelumnya. Suatu ketika, minggu pagi nan indah ternyata aku harus terbaring lemah. Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku. Pikiranku sudah tak menentu, aku tak berdaya.

Tok… tok…

Aku terkejut dari lamunanku, setelahku mendengar ketukan pintu kamarku.

“Sayang, Mama boleh masuk gak ?” Terdengar suara Mama dari balik pintu kamar.

“Ya Ma, masuk aja,” jawabku dengan lembut.

“Sayang, kamu sakit ya? Mau Mama ambilin makanan? Kan kamu belum sarapan, Sayang,” penjelasan Mama yang mengkhawatirkan keadaanku.

“Tidak usah, Ma. Aku gak kenapa kok, hanya malas saja,” jawabku menahan air mata karena kelemahan diri ini.

“Mama gak akan maksa kamu, Sayang. Apa kamu mau Mama antar ke dokter? Biar kamu besok sekolah lagi. Mau ya!” rayu Mama yang mengajakku ke dokter.

“Baiklah Ma, aku akan ikut Mama ke dokter ‘tuk memeriksakan kesehatanku.”

Tidak lama kemudian aku dan Mama pun berangkat ke rumah sakit terdekat dari rumahku. Setelah mobilku sampai di rumah sakit, kami turun dan menunggu giliranku ‘tuk diperiksa. Rasa gemetarpun mulai kualami.

“Risha, ayo kita masuk,” ajak Mama ‘tuk memasuki ruang pemeriksaan.

“Pagi Risha. Kamu kenapa, Ris?” tanya dokter padaku.

“Gak kenapa kok, Dokter. Cuman rasanya diri ini lemah saja,” jawabku perlahan.

“Sini, coba saya periksa dulu!”

Dari raut wajah dokter , seolah ada yang disembunyikan tentang keadaanku. Ada apa ya? Mengapa dokter tidak menceritakannya padaku?

“Saya tidak kenapa-kenapa kan, Dokter?” tanyaku penasaran.

“Tidak kenapa-napa kok, Risha. Ijinin dokter bicara sama mamamu sebentar ya! Risha tunggu di depan saja ya!”

Dan aku pun keluar dari ruangan tersebut. Aku penasaran, apa yang terjadi padaku, mengapa semua menyembunyikannya dari aku. Pikiranku kacau, aku bingung kenapa harus disembunyikan dari aku.

“Sayang, nunggu lama ya? Ini obatnya. Ayo kita pulang sekarang. Kata dokter kamu harus banyak–banyak istirahat.”

Setelah tiba di rumah, aku tak langsung keluar dari mobil. Aku bingung kenapa semua tidak menceritakannya padaku.

“Ada apa, Risha sayang? Kok gak langsung turun sih? Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Apa yang Mama dan dokter sembunyikan? Mengapa Risha gak diberi tahu tentang sakit yang Risha alami!” jawabku kesal.

“Mama akan menceritakanya, tapi kamu jangan sedih ya! Kamu harus janji dulu sama Mama!” jelas Mama padaku.

“Baik.”

“Kata dokter kamu menderita kanker stadium empat, Sayang, dan …“ Mama memotong pembicaraannya.

“Dan napa, Ma?” tanyaku jengkel.

“Dan umurmu hanya diprediksi bertahan empat bulan lagi, Sayang,” lanjut Mama sambil meneteskan air matanya.

Aku langsung membuka pintu mobil dan lari menuju kamarku. Aku berbaring di tempat tidurku dan menangis semampuku. Aku tak mengerti apa yang harus aku perbuat lagi, harapanku lenyap sudah.

Dua hari sudah ku tak masuk sekolah setelah aku mengerti penyakit kronis ini. Aku hanya berada di kamar ditemani dengan diary sahabat buku curhatku. Hanya pada diaryku aku mencurahakan semua kisahku.

“Sayang, ini ada Reni dan Cindy, kami semua masuk ya,” terdengar suara Mama.

“Ya Ma, gak papa kok!”

“Risha, kenapa sudah dua hari ini kamu gak masuk sekolah? Kamu sakit ya?” tanya Cindy yang kaget dengan kondisiku yang sedang berbaring lemah di atas tempat tidur.

“Gak papa kok aku hanya kecapean saja, besok juga sudah masuk sekolah kok!” jawabku dengan senyuman kecut.

“Baiklah kalau begitu, aku juga ikut senang mendengarnya, kalau kamu besok sudah masuk sekolah lagi,” sahut Reni sambil memberikanku senyuman manis dari bibir merah imutnya itu.

Setelah berbincang–bincang cukup lama, mereka pamitan untuk pulang karena hari telah menjelang senja.

“Bye Risha, semoga cepat sembuhnya.”

Keesokan harinya aku masuk sekolah, tapi aku juga harus masih mengecewakan mereka. Aku tak ingin mereka sedih karena penderitaanku, maka dari itu aku harus dapat menjauh dari mereka.

“Hai Risha, kamu sudah masuk sekolah lagi ya. Senengnya deh kita bisa bersama-sama lagi, aku kangen loh!” sambut Reni kepadaku.

Aku hanya tersenyum terpaksa kepada mereka karena aku tidak kuasa menahan penderitaanku.

Setelah bel pulang, aku pun langsung berkemas dan pulang lebih cepat dari biasanya. Di depan pagar sekolah, aku bertemu Reni dan Cindy.

“Hei Ris, Pulang bareng yuk!” ajak Cindy padaku.

“Maaf, aku harus duluan. Bye,” jawabku sambil tergesa gesa.

Ternyata dari kejadian itu hubungan persahabatanku semakin rentang, aku lebih sering menghabiskan waktuku untuk sendirian. Aku mengerti mereka tentu sakit hati kecewa padaku, tapi apa boleh buat aku tak berdaya.

Seminggu sudah ku terbaring di rumah sakit ini. Kondisiku semakin lemah, aku ingin sebelum aku menghelakan nafas terakhirku, aku dapat memberikan surat yang ada pada diaryku untuk sahabat – sahabat lama yang kutinggalkan dan kukecewakan pula.

Di malam itu, mereka datang ke rumah sakit dengan dijemput kedua orangtuaku dari rumah mereka masing–masing. Sungguh terkejut mereka mengerti kondisi lemahku. Mereka tak kuasa dan mereka meneteskan air matanya berlahan.

“Ris, ada apa semua ini?” tanya Cindy tak menyangka bahwa ini harus terjadi.

Aku hanya tersenyum.

“Kawan, aku titip diary ini. Di dalamnya ada sebuah surat untuk kalian berdua. Sebelum aku tiada, aku berharap kalian membacanya dahulu, Sahabat. Bye, and I’m sorry to all and I hope you don’t forget me.”

Dear Best Friends,

Reni and Cindy

Maafkan aku sebelumnya, aku baru dapat memberi tahu semuanya setelahku tiada. Tak ada maksud untukku membuat kalian sedih akan tingkah lakuku. Selama ini aku menderita kanker stadium empat, aku tak kuasa menahan kepedihan. Aku sadari, kalian segalanya bagiku, tapi ku tak ingin kalian sedih atas penderitaanku. Aku tak ingin canda tawa kalian harus tergantikan oleh kepedihan.

Aku mohon kalian jaga baik – baik diary ini, dari diary inilah kalian akan mengerti segalanya tentang apa yang aku sembunyikan selama aku meninggalkan kalian. Maafkan aku, Sobat, aku telah mencorehkan luka di hati kalian…

Your Friends,

Risha

 

3 Responses to “Sayangku, Rishaku”

  1. on 29 Jan 2009 at 19:55koprot

    wah sangat mengharukan skali,ini bener2 sahabat seajti yang bisa mengerti segalnya.dan yang bisa membuat kita bisa mersa bahwa hidup di antara sahabat dan keluarglah yang bisa memahami kita di saat kita senang damnbahagia.

  2. on 15 Apr 2009 at 14:49icha

    cerpennya bagus.singkat,g’ terlalu b’tele2,endingnya jga menarik.dan kebetulan nama tokoh di cerpen tersebut sama dengan namaku.

  3. on 18 Apr 2009 at 13:52risha

    ceritanya datar bgt.apalagi pas bagian mamanya risha ditanya tentang penyakit risha yang sebenarnya.terlalu mudah menjawab.biasanya kan agak ditunda-tunda untuk menjawabnya

Tinggalkan Komentar