Cerita Tentang Hitam dan Putih
Januari 27th, 2009 by tolek
Terdengar isak tangis dari sang mata. Tentunya bukan sekedar mata biasa, melainkan mata yang tak bisa melihat, melirik, bahkan menangis. Ya, tangisan itu hanyalah imajinasiku saja, selaku orang yang sedang memikirkan tentang dirinya. Dialah mata yang tepat berada di sisi kanan kaki kanan, dan sisi kiri kaki kiriku. Mata yang hanya dijadikan sebuah simbol, dari ketegaran dan kewaspadaan dari sebuah alat yang dianggap rendah jika kepala tertindih rapat oleh dirinya.
”Mata kakiku lelah,” ujarku kepada diriku sendiri.
Kupacu diriku berlari, lari santai, lari cepat, lari dengan hati yang terumbar tanpa sedikitpun saling merapat, entahlah! Yang pasti diriku berlari tanpa sedikitpun ragu, tentang tujuan dan yang kutuju. Menginkubasi diri, mengisolasi diri, membuat tempat, sampai orang tak dapat melihat diriku lagi.
Dia mengejar! Hanya dengan sedikit gencar! Dia mengejar! Dengan bersandar! Tidak seperti orang berkelakar yang menanamkan suatu akar! Dia mengejar! Hanya dia yang mengejar !!!
Dikarenakan diriku yang hitam, hitam di antara beberapa hitam-hitam yang lainnya, yang tersebar di pelupuh bintang-bintang kecil yang tak dapat ditentukan letaknya. Untuk dibilang ‘aku’, mungkin lebih tepatnya ‘kami’ yang hitam. Hitam bukan dikarenakan sesuatu yang kami rencanakan, melainkan takdir yang mempertemukan.
Dia ? Memang hanya dia, adalah putih! Putih bukan dikarenakan dia senang, melainkan nasib yang menjadikannya hanya satu orang.
Terbuka sudah kamar isolasi tempat diriku berada. Langkah seseorang bukan hanya dapat didengar oleh telinga, tetapi dapat dilihat oleh mata.
Dia !! Pasti dia !! Di dalam hati diriku berkata.
Diriku yang sekarang hanya dilindungi almari kayu tempat celana dan baju bersemayam layaknya. Dengan celah sempit antara pintu dan badan almari diriku melihat. Dia terus mendekat, mendekat, mendekat, sambil berkata, ”Kau adalah orang terakhir yang akan kutangkap !”
Beberapa saat pintu terbuka… Aku tertangkap !!!!!!!
Keluar dari beberapa mulut seperti mantra. Suatu kata yang tersusun dan terpola yang tidak tahu artinya. Sekelompok manusia dengan suara yang bertabrakan menyebut kata-kata itu berulang-ulang kali.
“Hom pim pa alaihom gambreng!!”
Satu orang, dengan telapak tangan yang kearah bawah menunjukkan bahwa dia hitam, sedang yang lainnya, dengan telapak tangan mengarah ke atas menunjukkan mereka putih. Maka terpecahlah sekelompok manusia itu.
Dengan jumlahlah maka mereka tergolong untuk sombong. Sambil berlari, golongan putih berkata, “Ha ha ha, kamu hitam sendiri, jadi kamu yang harus jaga!!”
Seorang hitam diantara sejumlah putih.
Apalah arti dari sejumlah warna? Selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
Dengan imajinasi tentang mata kaki yang menangis, iapun segera berlari mencari tujuannya. Mata kaki menangis diikuti dengan tangisan seluruh anggota badan. Tangisan yang diikuti kelakar :
“Mata kaki dan tubuhku lelah,” ujarnya kepada dirinya sendiri.
Apalah arti dari suatu warna? Jikalau itu merah, hijau, kuning, itu semua tetaplah hanya warna < yang sedang kupikirkan >.
Bukan warnalah tolak ukur dari dirinya. Melainkan, banyaknya warnalah yang dijadikan perbandingan suatu hal. Dengan melihat itu, kita bisa tahu apa yang seharusnya kita lakukan.
Warna hanyalah labelisasi yang condong membuat orang tergolong, sedang jumlahnyalah yang mendorong untuk menjadi takut dan sombong !!!
cerita ga jelas,, sampah.!!!!
Ya… emang ceritanya sedikit g jelas sih tapi… kalo’ kita g pintar sastra
tapi gaya bahasanya bagus loh…
buat yang menarik lagi ya…