Dua Koper di Samping Indah Sepasang Kaki Nena
Januari 18th, 2009 by elok teja suminar
Dini hari di awal bulan Juni 2007
Aku terjaga dari tidur yang tak lelap. Meratapi tiap tetes air yang jatuh di beranda.
“ Nena, kau di mana?”
Awal Januari 2006
Aku jumpai wajahmu di sebuah tabloid mingguan ternama. Sebagai model pakaian pengantin.
“Kau sangat cantik Nena. Namun lebih cantik bila kau hapus warna-warni make-up itu dari tirus wajahmu”
Akhir Maret 2006.
Kemudian aku mengenalnya secara tak sengaja, menjelang senja. Juga di beranda ini. Aku teringat pucat pasi wajahmu pula dua tetes air di kelopak matamu yang menyerupai mekarnya bunga Matahari.
“Aku butuh tempat untuk tinggal.”
Seorang kawan memperkenalkan engkau padaku. Suaramu gemetar. Gadis yang manis terlalu sayang bila menangis. Aku mendengarmu, Nena, juga jelas kulihat dua koper itu di samping sepasang kakimu yang indah.
“Masuklah Nena. Akan aku siapkan sebuah kamar untukmu juga Teddy bear yang lucu.”
Kita pun bicara banyak hal. Tentang ibumu yang secantik Maria, Bunga kamboja merah di halaman rumahmu yang luas, sahabatmu Fla yang berkhianat, juga Boby, anjing peliharaanmu. Panjang. Dan aku pendengar yang cukup baik, Nena. Di akhir kisahmu kau tersenyum begitu manis.
Keesokan harinya enkau kembali bercerita. Entah mengapa selalu menarik kudengar. Mungkin karena bibirmu yang indah atau suaramu yang merdu mengalir. Tapi aku hampir melupakan sesuatu. Menanyakan alamatmu. Itu kebiasaan burukku. Aku sering melakukannya di atas bus atau kereta. Bicara panjang lebar dengan kawan yang aku jumpai disana namun tak pernah tanyakan alamatnya. Padahal dalam perjalanan itu kita telah begitu akrab.
“Bolehkah aku anggap ini adalah rumahku juga? Sebab aku tak ingin mengenang rumahku yang dulu.”
Kau memicingkan matamu dengan nada yang begitu serius. Aku tak perlu pertimbangkan hal itu sebab aku telah menyukai kehadiranmu dalam hidupku.
“Oh, tentu saja. Aku akan sangat senang sekali,” dan dari sepasang indah kakimu aku mengangguk.
Dini hari di Pertengahan Mei 2006
Sepagi itu aku melihatmu berdiri di depan cermin rias. Kau membisikkan sesuatu dari bibirmu.
“Apakah aku sudah terlihat seperti gadis dewasa?” Kau mendekat. “Meira, usiaku sudah 20 tahun.” Hangat kurangkul pundaknya.
“Oh, selamat ulang tahun.” Saat itu aku seperti melihat matahari di matamu.
Akhir Desember 2006
Kamis yang panas. Kita duduk di bawah teduh pohon Belimbing. Pohon Belimbing itu semasa hidupnya belum pernah berbuah. Kau bilang ada kelainan dengannya. Atau mungkin saatnya belum tiba? Kau membawa setumpuk komik dan segalbas permen karet. Itu kebiasaanmu.
“Benarkah ini hari Kamis?” tanyamu tanpa melepaskan mata dari komik yang hampir tuntas kau baca. Tiba-tiba kau meletakkannya lantas mengusap pelan rambutku. Kudengar kau bersenandung kecil.
“Kau membuatku mengantuk, Nena.” Kulirik matamu, kau tersenyum.
“Kalau begitu tidurlah,” ujarmu kemudian.
“Eh, senja sudah turun. Aku akan masak sup untukmu. Untuk makan malam kita.”
Kau malah menarik erat tanganku.
“Biarkan kita menunggu hari menjadi gelap Meira, senja ini saja.”
Minggu pertama di bulan Januari 2007
Senja ini saja. Kata-kata itu jadi begitu berarti. Sebab itu bukan pergantian tahun seperti yang aku khayalkan. Kita memang telah menikmati malam pergantian dengan berbagi sebotol anggur dan sex yang menurut orang-orang di luar menyimpang. Kita saling mencintai, Nena. Kita pasangan lesbian yang tengah mabuk. Tapi kita sama-sama percaya, kalau sesuatu yang tumbuh dalam hati kita itu adalah sesuatu yang rasional, tidak mengada ada dan tulus.
Hari masih pagi saat engkau merangkul dan mencium keningku. Aku dapati dua koper di samping sepasang kaki indahmu.
“Inikah kejutan di awal tahun baru, Nena?”
Kau terlihat sangat rapi. Begitu cantik. Pula warna merah pada indah bibirmu. Aku genggam telapak tanganmu yang hangat. Engkau gemetar. Nena, kau hendak kemana? Aku ingin bertanya namun kau begitu cepat berlalu. Melewati pintu lalu termangu. Membalikkan tubuhmu, memandangku.
“Aku masih harus berjalan, menyusuri hidupku. Tapi kau tak perlu cemas, aku akan kenang semua tentangmu.”
Nena, dan kenangan itu pun tak jua mengabur manakala rindu semakin tak terukur. Entah di sisi mana aku meletakkanmu. Terlalu dekat, terlalu melekat.
Andai kau tahu, pohon Belimbing yang dulu mandul itu sekarang memulai bunganya. Setiap hari aku duduk di sana. Membawa setumpuk komik dan segalbas permen karet. Aku membayangkanmu Nena, bersenandung sambil membelai lembut rambutku dan aku tertidur.
Diselesaikan di Bangkalan 2000
not bad…