Dari Balik Tirai Bambu
Januari 16th, 2009 by NaBe
Masih sama seperti hari-hari yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia masih sama. Tidak berubah.
Masih sama seperti minggu-minggu yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia tidak sama. Ia berubah.
Masih sama seperti bulan-bulan yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia sama sekali tidak sama. Ia benar-benar berubah.
Masih sama seperti tahun-tahun yang lalu. Aku melihat anak laki-laki itu dari balik tirai bambu. Anak laki-laki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Tidak. Aku salah. Itu bukan dia.
Masih sama seperti kemarin pagi. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Tetapi, ia tidak sendiri. Ada seorang wanita separuhbaya di sisinya. Ibunya.
Masih sama seperti kemarin sore. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Tetapi, ia tidak sendiri. Ada seorang pria separuhbaya membelakanginya. Ayahnya.
Masih sama seperti kemarin. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Ia melihatku. Ia tersenyum. Aku senang.
Tidak sama seperti kemarin. Aku tidak melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Aku berjalan di atas jembatan bambu. Penuh harapan melihat lelaki itu. Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu. Lelaki itu sudah ada di hadapanku. Ia tersenyum. Aku senang.
Masih sama seperti kemarin. Aku tidak melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Aku berjalan di atas jembatan bambu. Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu. Lelaki itu sudah ada di hadapanku. Ia merogoh sakunya. Ada jarum. Aku mengulum. Ia tersenyum.
Masih sama seperti kemarin. Aku berjalan di atas jembatan bambu. Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu. Lelaki itu sudah ada dihadapanku. Ia merogoh sakunya. Ada silet. Aku tersayat. Ia berlari. Mengumpat di ketiak ibunya.
Masih sama seperti kemarin. Baru saja aku memijakkan kaki di atas jembatan bambu. Lelaki itu sudah ada di hadapanku. Ia merogoh sakunya. Ada belati. Aku tertusuk. Ia berlari. Sembunyi di bahu ayahnya.
Tidak sama seperti kemarin. Tidak sama seperti hari-hari lalu. Tidak sama seperti minggu-minggu lalu. Tidak sama seperti bulan-bulan lalu. Tidak sama seperti tahun-tahun lalu. Aku mati. Ia menangis. Menangisi aku yang selalu meringis. Mengingat ia sadis.
ga jelas………………….
bagus… ahahahahahahaaaa……..