Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi, Jeritan on Desember 30th, 2008 No Comments »
kepada yang terhormat
di sana!
kepada perwakilan yang
memegang janji!
tiap detik berlalu bombastis
tak sanggup kami menggapaimu
melihat apalagi memakan bagianmu
tak disini juga disana
berdoa pun kami tak sanggup
tapi, kini
kau bagai dewa yang menunggu giliran
dilemparkan!
Permanent link to this post (41 words, estimated 10 secs reading time)
Aku ingin jadi dokter ! Kuteriakkan mimpi itu sekencang-kencangnya dalam hati. Jadi dokter itu menyenangkan, bisa membantu banyak orang. Setiap guru sekolah menanyakan tentang cita-cita, pasti aku akan berteriak lantang, “Jadi dokter, Bu ! “
I don’t know…
What I’m going to do now
I’m falling apart
You lead me across the sea of madness
Show me…
The light that you brought
I cried for remedy
To break this chains of suffering
The only forgiveness
Far beyond my reach
All the cursed memories
Played the dark symphony within me
Saujana, yang nampak hanya lautan padi yang menenggelamkan mentari senja, saat langkahku menjejaki jalan setapak. Sunyi, tapi kunikmati. Silau, tapi aku tak galau. Lelah, tapi ku pasrah. Karena sepuluh meter lagi akan kurebahkan punggung yang tulangnya serasa bengkok ini. Biasanya mentari senja sudah setengah tenggelam dimakan kelapangan sawah yang menguning di kanan-kiri jalan setapak ini. Sinar jingganya yang memancar semakin menyolokkan kuningnya padi, memberitakan bahwa padi itu sudah siap panen. Selalu seperti ini tiap sore. Seolah-olah semburat jingga itu memang menyambut kepulanganku. Pulang dari lelahnya hiruk-pikuk dunia. Tapi sore ini berbeda. Mentari senja kali ini belum setengah tenggelam. Bahkan masih bulat utuh, meski nyaris tenggelam. Entah karena pergantian lintasan matahari semu, ataukah karena aku pulang kerja 30 menit lebih awal dari biasanya. Namun, yang jelas, bulatan mentari itu membuatku berkhayal, “Pasti nikmat merendam kaki di air hangat sambil menikmati sepiring pancake, roti bakar, atau… apa sajalah”.
Aku tersentak membayangkanmu. Tiba-tiba saja wajah itu kembali lagi. Tubuhku membeku seketika.
“Hai” Suara itu tak asing lagi di telingaku. Namun entahlah, tubuh ini masih saja kaku. Ah, senyuman itu, membuat tulang-tulangku runtuh. Hatiku bagai musim semi, bunga-bunga tumbuh bermekaran. Memaksakan bibirku untuk tersenyum membalasnya.
“Hai.”
“Gimana kabarnya?”
Posted in Puisi, English Articles on Desember 30th, 2008 1 Comment »
I wait….
Always wait…
Wait for a long time…
Wait for a sacrifaction…
Wait for a heart that I miss…
Hope it can be mine…
And the next, I can give my heart….
The only one for my missing heart…
But, this evening…
Sesaat Aura merasa linglung. Nafasnya tertahan menatap apa yang dipegangnya sekarang. Undangan berwarna emas. Dan di situ tertera inisial yang dirangkai dengan sangat artistic “Jr”. Berharap apa yang dibacanya salah.
Mentari pagi membangunkanku yang tertidur pulas di balik selimut tebal. Kelembutan sinarnya memancar hingga sudut kamar tidurku. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang-tulang rusukku. Tubuhku terasa kaku semua. Entah apa yang terjadi dengan tidurku semalam. Mungkin aku kemarin tidur dengan posisi yang salah. Kedua bola mata ini juga terasa berat ‘tuk dibuka.
Tiba-tiba HP-ku berdering tanda panggilan masuk.
“Mbak, kita ada klien baru nih dia butuh bantuan tolong dijemput ya, Mbak.”
Kalau harus menjadi debu
aku akan menjadi debu bagimu
seperti juga awan yang tak pernah jemu menaklukkan matahari
andai saja angin tahu, bahwa badai jua tak kunjung turun dari tahta
menikam nurani mereka
mereka yang bersujud di bumi, meraung, dan berteriak kebenaran