KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Desember 2008

Suara-Suara Tak Dikenal

kepada yang terhormat

di sana!

kepada perwakilan yang

memegang janji!

tiap detik berlalu bombastis

tak sanggup kami menggapaimu

melihat apalagi memakan bagianmu

tak disini juga disana

berdoa pun kami tak sanggup

tapi, kini

kau bagai dewa yang menunggu giliran

dilemparkan!

Aku ingin jadi dokter ! Kuteriakkan mimpi itu sekencang-kencangnya dalam hati. Jadi dokter itu menyenangkan, bisa membantu banyak orang. Setiap guru sekolah menanyakan tentang cita-cita, pasti aku akan berteriak lantang, “Jadi dokter, Bu ! “

I don’t know…
What I’m going to do now
I’m falling apart
You lead me across the sea of madness

Show me…
The light that you brought
I cried for remedy
To break this chains of suffering

The only forgiveness
Far beyond my reach
All the cursed memories
Played the dark symphony within me

Saujana, yang nampak hanya lautan padi yang menenggelamkan mentari senja, saat langkahku menjejaki jalan setapak. Sunyi, tapi kunikmati. Silau, tapi aku tak galau. Lelah, tapi ku pasrah. Karena sepuluh meter lagi akan kurebahkan punggung yang tulangnya serasa bengkok ini. Biasanya mentari senja sudah setengah tenggelam dimakan kelapangan sawah yang menguning di kanan-kiri jalan setapak ini. Sinar jingganya yang memancar semakin menyolokkan kuningnya padi, memberitakan bahwa padi itu sudah siap panen. Selalu seperti ini tiap sore. Seolah-olah semburat jingga itu memang menyambut kepulanganku. Pulang dari lelahnya hiruk-pikuk dunia. Tapi sore ini berbeda. Mentari senja kali ini belum setengah tenggelam. Bahkan masih bulat utuh, meski nyaris tenggelam. Entah karena pergantian lintasan matahari semu, ataukah karena aku pulang kerja 30 menit lebih awal dari biasanya. Namun, yang jelas, bulatan mentari itu membuatku berkhayal, “Pasti nikmat merendam kaki di air hangat sambil menikmati sepiring pancake, roti bakar, atau… apa sajalah”.

Aku tersentak membayangkanmu. Tiba-tiba saja wajah itu kembali lagi. Tubuhku membeku seketika.

“Hai” Suara itu tak asing lagi di telingaku. Namun entahlah, tubuh ini masih saja kaku. Ah, senyuman itu, membuat tulang-tulangku runtuh. Hatiku bagai musim semi, bunga-bunga tumbuh bermekaran. Memaksakan bibirku untuk tersenyum membalasnya.

“Hai.”

“Gimana kabarnya?”

My Heart, Come Back!!

I wait….

Always wait…

Wait for a long time…

Wait for a sacrifaction…

Wait for a heart that I miss…

Hope it can be mine…

And the next, I can give my heart….

The only one for my missing heart…

But, this evening…

Sesaat Aura merasa linglung. Nafasnya tertahan menatap apa yang dipegangnya sekarang. Undangan berwarna emas. Dan di situ tertera inisial yang dirangkai dengan sangat artistic “Jr”. Berharap apa yang dibacanya salah.

Mentari pagi membangunkanku yang tertidur pulas di balik selimut tebal. Kelembutan sinarnya memancar hingga sudut kamar tidurku. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang-tulang rusukku. Tubuhku terasa kaku semua. Entah apa yang terjadi dengan tidurku semalam. Mungkin aku kemarin tidur dengan posisi yang salah. Kedua bola mata ini juga terasa berat ‘tuk dibuka.

Tiba-tiba HP-ku berdering tanda panggilan masuk.

“Mbak, kita ada klien baru nih dia butuh bantuan tolong dijemput ya, Mbak.”

Sungguh

Kalau harus menjadi debu

aku akan menjadi debu bagimu

seperti juga awan yang tak pernah jemu menaklukkan matahari

andai saja angin tahu, bahwa badai jua tak kunjung turun dari tahta

menikam nurani mereka

mereka yang bersujud di bumi, meraung, dan berteriak kebenaran

« Prev - Next »