Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Tak ada keistimewaan berarti pada rumah itu. Rumah besar nan indah yang terletak tepat pada posisi ujung mulut atau sebagai penyambut pertama dari sebuah gang berukuran sedang – satu dari sekian gang yang tersebar di seantero kota penghasil minyak bumi terbesar di Tanah Jawa. Sekilas rumah itu memang apik. Begitu megahnya ditopang pilar-pilar yang cukup tinggi dan besar sehingga lebih pantas disebut kastil – diaksesoriskan dengan taman yang menyelimuti hampir seluruh pekarangan yang terhampar, dan di dalamnya berbagai rumpun bunga liar berhuni – yang meski tak terurus namun terlihat bagai seni yang amat bernilai di kedua belah mata siapapun. Belum lagi pagar kastil yang jangkung dan amat kokoh, siap sebagai tameng kastil besar itu. Pahatannya yang berduri-duri pada bagian mahkota, siap menghujam siapa pun yang berani masuk tanpa ijin, secara diam-diam.
Posted in Cerpen, Kelam on Desember 31st, 2008 1 Comment »
Rasanya baru sekejap membaca buku “ Menikmati Demokrasi “ karangan Anis Matta tiba–tiba alarm berbunyi tepat pukul tiga. Mataku membelalak kaget, secara reflek tanganku menghentikan bunyinya dengan memencet tombol jam kecil itu. Ternyata sudah satu jam terlewatkan dengan tidur.
Kebahagiaan tidak ada di dunia ini. Takkan pernah ditemui di mana pun. Yang ada hanya kepahitan, getirnya hidup. Begitu pula ketika ia menemukan cinta. Sebelum tumbuh yang terasa cuma lara. Bagai belati menancapi hatinya, darah muncrat seperti mata air. Sebab cinta itu luka.
Aku membentangkan tanganku. Helaan napasku keras, mengusik seekor lebah yang hendak menghisap sari bunga jarum yang menyulur di depan hidungku. Ketika butiran embun menyeruak di sela dedaunan, menyombongkan diri dengan gemerlap titik air yang tersapa matahari seakan berkata bahwa akulah sang bening tak berdosa itu. Kupu-kupu beterbangan anggun namun riang, memamerkan karya indah dan kegembiraan, seolah-olah berteriak akulah makhluk Tuhan yang paling berbahagia. Selalu menghirup wangi bunga walau kelak aku mati di tangan seekor pemangsa, aku tetap bahagia dengan sayap-sayap bertabur serbuk sari bunga pujaanku. Pacet-pacet, hewan penghisap darah, bergerak lamban namun pasti menuju kakiku yang bertumpu lemah di bumi ini. Mengisyaratkan kerja keras dengan kelicikan. Parasit. Pacet-pacet itu tetap angkuh, meninggalkan gatal yang tak terperi sebagai pertanda bahwa ia pernah hinggap di tempat itu. Di tempat di mana ia bekerja keras memuaskan dahaga untuk bertahan hidup.
Namaku Surya Prakoso atau biasa dipanggil Ako usiaku kini 21 tahun dan aku adalah seorang mahasiswa tingkat 3 fakultas ilmu komputer jurusan sistem informasi. Suatu kebanggaan untukku karena sebagai seorang anak tukang sayur aku bisa menikmati bangku kuliah. Aku sangat bangga dengan kedua orang tuaku meskipun hanya berjualan sayur tidak menyulutkan semangat mereka untuk mendidik anak – anaknya. Mereka memang pekerja keras aku tak mau menyia – nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan padaku. Aku tidak mau main–main dalam kuliah ku. Orang tuaku selalu berpesan agar aku serius dalam menjalani kuliah agar nantinya aku mempunyai bekal ilmu dan kehidupan yang lebih baik dari mereka.
Aku sudah bukan perawan sebelum engkau memperkosaku. Dunia yang tak beradab telah mengoyak selaput daraku dalam ranjang jaman yang semakin membusuk. Di mana televisi hanya menyiarkan berita kriminalitas dan film biru bukan lagi hal yang tabu. Seorang artis yang tak begitu dikenal terlibat affair dengan seorang bapak anggota dewan yang terhormat, hingga skandal sex mereka bermunculan di ponsel-ponsel, hingga anak kecil pun bisa menikmatinya.
Tiba-tiba saja dia berucap, ” Aku mencintaimu.” Aku terpaku.
“Ra, are you hear me???” tanyanya lagi. Aku mengangkat alis, menyedot kembali minuman yang ada di hadapanku. Masih terdiam. Apa yang dia tunggu?
”Jawab dong Ra???”
”Kamu tadi bertanya emangnya??? Itu kan pernyataan yah,” balasku tak acuh. Dia menyandarkan tubuhnya.
Posted in Intermezzo, Motivasi Diri on Desember 30th, 2008 1 Comment »
Tiap detik malam ini semakin membuatku sadar terhadap apa yang seharusnya kusadari. Menapikan jejakku yang hanya serpihan kecil di tengah padang ilalang. Terlalu mikroskopis dibanding hegemoni semesta, sebuah tirani yang selama ini justru ter-tirani.
Ujung pulau Jawa bukan ujung segalanya. Tapi sejauh mata memandang hanya tampak oasis ujung yang juga sedang mencari ujung. Serpihan titik terang di kubah langit tampak anggun menjadi koreografi atap. Mereka berkolaborasi menertawakan kita yang terlalu berfantasi hingga terlena dalam fana. Terlalu lemah di hadapan ombak yang tak pernah berhenti berlari, terus bergulung-gulung, dan saling berkejaran. Meskipun pada akhirnya pecah dan terdispersi di bibir pantai. Atau terhempas karang terjal yang secara de facto terjal yang menghadang dengan frontal.
Tiga atau empat tahun yang lalu, aku masih bisa memandangi barisan panjang sawah yang indah. Aku masih berada di rumah terpencil yang dikelilingi oleh pematang-pematang hijau nan asri. Burung-burung pipit, segerombolan kodok, capung, jangkrik, belalang, bahkan kunang-kunang bukanlah mahkluk langka. Aku melihat mereka setiap hari. Dan aku masih di sisi orangtuaku, menyusahkan mereka hampir di setiap waktu.
Ssstt!
Diam! Anakku sedang tidur. Awas, kalau kalian mendekat! Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!
Ssstt!
Diam! Jangan banyak bicara. Jangan banyak komentar. Jangan mengasihaniku. Kalian tidak mengenal siapa aku. Kalian tidak mengerti perasaanku. Kalian hanya menggangguku saja. Diam!