Sendiri Lagi
Desember 31st, 2008 by eni maniz
Suara gemuruh derasnya air sungai membuat kicau parkit terdengar samar. Udara mulai dingin namun aku belum beranjak dari tempat dudukku. Entah kenapa rasa rindu itu kembali melintas di benakku. Ya, rasa rindu akan sosok seorang ibu. Waktu itu tepatnya 6 tahun. Saat-saat itu masih terekam jelas di benakku. Senja yang hendak membenamkan diri menjadi saksi bisu kepergian ibuku, setelah beberapa tahun kanker mengerogoti tubuhnya. Setelah kejadiaan itu aku hanya hidup berdua dengan ayahku yang seorang pemabuk. Hari-hari kulalui dengan penuh beban dan aku merasa tertekan dengan keadaanku sekarang. Dengan terpaksa aku harus putus sekolah karena ayahku tak lagi mau membiayai sekolahku. Dalam hatiku ingin rasanya aku berontak, ingin rasanya aku menangis kenapa aku jadi begini?
Tak terasa aku sudah beranjak dewasa, namun hari-hariku terasa sama, tak kurasakan perubahan dalam hidupku. Sore itu ayahku baru pulang ke rumah setelah dua hari tak pulang, tapi aku tak heran karena itu sudah menjadi kebiasan ayahku sedari ibuku masih ada. Namun kali ini ayahku benar-benar beda dari biasanya yang suka marah-marah. Dia tampak tersenyum ramah kepadaku. Sebenarnya aku sangat heran dan beribu-ribu pertanyaan mengganjal pikiranku. Apa yang tengah terjadi pada ayahkku? Aku tak mau ayahku tahu akan keheranaanku, dan aku pun mencoba menutupinya. Kubawa segelas kopi hangat dan menghampiri ayahku yang tengah duduk disudut ruang tamu.
“Ini kopinya Yah, mumpung masih hangat,” kataku sembari meletakkannya di meja yang terletak tepat didepan ayahku, setelah itu aku hendak beranjak kembali ke dapur. Namun suara ayahku membuatku mengurungkan niat itu.
“Mulan, duduklah sebentar, Ayah ingin bicara.”
Aku pun menuruti permintaannya dan duduk di sampingnya. Dalam hatiku bergetar, ada apakah gerangan? Aku pun memberanikan diri untuk bertanya hal apakah yang ingin ayahku bicarakan.
“Nduk, kamu sudah gede, sudah sepantasnya kamu menentukan jodohmu.”
“Maaf Ayah, aku tak mengerti apa yang Ayah bicarakan,” kataku seakan tak tahu apa-apa.
“Begini lho Nduk, Ayah ingin menjodohkan kamu dengan Trisno, anak Pakde Karyo yang punya kebun cengkeh itu.”
Sungguh badanku serasa disiram air panas setelah mendengarnya. Aku tahu aku tak mungkin menuruti permintaan ayahku karena aku tak sama sekali mencintai Trisno.
“Maaf Ayah, Mulan mau kembali ke dapur dulu, tadi Mulan merebus air,” kataku seraya beranjak dari dudukku.
“Nduk Mulan, Ayah tidak mau tahu!! Kamu harus mau menikah dengan Trisno, titik!!! “ suara ayahku terdengar keras dan ketus.
“Tapi Yah……”
Belum sempat ku bicara ayahku sudah memotongnya. Dia benar-benar memaksaku menikah dengan laki-laki yang tak pernah menjadi pilihanku. Sabtu depan keluarga Trisno akan datang kerumah untuk meminangku. Aku masih punya waktu lima hari untuk mencari akal bagai mana caranya agar peminangan itu tak terjadi.
Pagi yang masih buta aku sudah berjalan hendak ke pasar. Ini memang kusengaja, siapa tahu ada yang bisa menolongku dari semua masalah ini. Jalanan tampak ramai oleh pedagang yang ingin ke pasar juga. Dalam perjalananku aku bertemu dengan Rumiah. Dia baru saja sampai di kampung setelah beberapa tahun pergi mengadu nasib di kota. Aku sempat ngobrol dengannya. Aku hanya ingin tahu sedikit pengalanannya hidup di kota.
Belanja di pasar membuatku lelah, ingin aku tidur sejenak hanya untuk mengusir rasa penat. Namun itu tak mungkin aku lakukan, hari sudah siang sebentar lagi ayahku pulang. Apa jadinya aku bila dia tahu aku belum menyiapkan makan siangnya. Dengan tangkas aku memotong sayuran yang tadi aku beli dari pasar. Beberapa saat kemudian makan siang untuk ayahku pun sudah selesai aku buat. Tak beberapa lama kemudian ayahku datang. Dia tampak kusut sepertinya dia sangat lelah. Aku pun menghampirinya dan menawarkan makan siang sayur asem dengan bandeng goreng tak lagi menggugah seleraku ketika ayahku kembali membahas perjodohan itu. Selesai makan siang, aku pun pamit masuk ke kamarku. Aku terdiam disana. Aku kehilangan arah. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menolong hidupku. Entah dari mana datangnnya tiba-tiba saja sempat ku berpikir akan meneruskan langkah. Rumiah. Ya, mungkin itu adalah jalan satu-satunya yang bisa menolongku keluar dari perjodohan itu.
Malam semakin larut, namun aku tak bisa tidur persaan dalam hatiku berkecamuk seakan ada yang berbisik menyuruhku pergi jauh sejauh-jauhnya. Pagi telah tiba. Dengan tas kulit besar yang warnanya mulai kusam di tanganku, aku berniat mengakhiri semua penderitaanku dengan mengadu nasib ke kota. Dengan sangat hati-hati kuintip ayahku yang sedang tertidur pulas. Tak terasa linangan air mata membasahi pipiku. Aku tak tega meninggalkan ayahku seorang diri namun aku juga tak ingin menanggung beban semacam ini.
Dengan menggunakan becak aku pergi ke stasiun tua yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Sambil menunggu kereta yang akan mengantarku ke Jakarta, aku duduk gelisah di bangku panjang yang nampaknya sudah kusam warna catnya, menggambarkan lamanya stasiun ini berdiri. Tak berapa lama keretaku pun datang. Aku pun segera berhambur dari dudukku dan naik ikut antre penumpanng yang sudah berjubel di depan pintu kereta. Uughhh, akhirnya aku dapat tempat duduk juga. Setelah aku membenahi posisi dudukku, aku menoleh pada seorang tua yanng duduk di sampingku, dia pun tersenyum ramah padaku. Ya Tuhan, aku teringat ayahku, pasti dia amat cemas mencariku.
Ayah maafkanlah anakmu ini, batinku.
Tak terasa aku sudah lama melamun hingga aku terjaga oleh suara yang sedikit serak menyapaku.
“Hendak kemana, Nak?”
Aku tak langsung menjawab pertanyaan bapak tua itu karena aku baru sadar aku tak punya tujuan kemana-nama. Dia pun mengulangi pertanyaannya dan aku sempat kaget. Dengan berat aku pun berusaha menjawab pertanyaannya.
“ Saya hendak ke Jakarta, Pak.”
“ Kamu mau ke tempat siapa di Jakarta?”
“Itu dia, Pak, saya belum tau mau ke tempat siapa karena saya tak punya saudara atau kenalan di sana,” jawabku dengan tatapan kosong tak ada arti.
“Kamu ini lucu, hidup di Jakarta itu tak mudah kenapa kamu sampai nekat ingin ke sana?”
Aku pun dengan berat hati menceritakan semua yang telah menimpaku. Kelihatannya dia pun ikut terbawa oleh kesedihanku hingga dia menitikkan air mata.
***
Akhirnya tepat jam tujuh pagi aku tiba di Jakarta. Aku pun tak langsung berhamburan pergi meninggalkan stasiun, aku masih duduk-duduk di bangku stasiun karena aku tak tahu hendak ke mana. Hari mulai senja, mau tak mau keadaan membuatku bergerak. Aku tak mungkin berdiam diri di sini. Aku pun berjalan mengikuti langkah kakiku yang mulai lambat ini, hingga aku sampai di depan sebuah warung. Rasa lapar yang tak bisa kubendung lagi membuatku singgah sejenak. Aku memesan makanan dan minuman. Nampaknya warung sedang sepi. Ibu setengah baya yang membawa makanan dan minuman yang kupesan pun tak beberapa lama telah muncul kembali sambil membawa pesananku. Diletakkannya makanan itu tepat di depanku.
“Nampaknya sangat lelah, Nak. Apa kamu datang dari jauh?”
“Saya datang dari Banyuwangi, Bu,” jawabku sambil terus menikmati makananku.
“Kamu hendak ke mana? Kenapa hari sudah mulai malam dan kamu masih ada di jalan?”
Aku berhenti melahap makananku, terdiam sejenak. Mengapa semua orang menanyakan pertanyaan yang sama padaku.
Aku pun melakukan hal yang sama aku menceritakan semua yang terjadi padaku hingga aku sampai ke tempat ini, ternyata aku tak salah tempat. Dengan rasa iba, ibu itu mengijinkanku tinggal bersamanya yang kebetulan seorang diri.
Hari-hariku mulai terisi kembali dengan kesibukan baruku. Makin lama warung Bu Darsi - orang biasa memanggil ibu asuhku - semakin banyak pengunjung yang datang hingga kami merasa kuwalahan. Kata Ibu Darsi warungnya ramai pengunjung semenjak kedatanganku.
Tak terasa sudah tiga tahun aku ikut Bu Darsi, dan dengan mengalirnya waktu aku pun mengenal seorang pemuda tampan yang menjadi langganan di warung kami. Dia adalah Mawan, seorang yang kukenal ramah dan sangat perhatian padaku. Kami pun akhirnya menjalin hubungan selama satu tahun setengah dan kami pun memutuskan untuk menikah. Kami kini hidup dalam suatu keluarga yang bahagia dan telah dikaruniai seorang putra yang kami beri nama Jimmy. Dia tumbuh dalam asuhan kami yang penuh kasih sayang terhadapnya meski kadang aku mengasuhnya seorang diri karena Mas Mawan harus mencari nafkan dan sering tak pulang rumah. Selama aku pacaran dan kini menjadi istrinya, aku tak pernah tahu apa sebenarnya pekerjaan Mas Mawan, dan Mas Mawan juga melarangku untuk tak keluar rumah selain belanja. Tanpa rasa curiga sedikitpun padanya dan aku dengan iklas menurutinya
Suatu malam aku sangat bingung. Sudah dua minggu lebih Mas Mawan tak juga kunjung pulang sementara Jimmy sakit panasnya tak juga kunjung turun dari tiga hari yang lalu. Hal ini membuat kesabaranku menunggu Mas Mawan habis. Aku benar-benar ingin marah padanya. Semenjak kejadian itu kami sering bertengkar. Kehidupan rumah tangga kami jadi berantakan. Mas Mawan sering sekali memukuliku, namun aku tak berani berbuat apa-apa selain berdiam diri dan iklas menjalaninya.
Mas Mawan kembali tak pulang ke rumah. Tiba-tiba saja tak seperti biasanya Jimmy terbangun dari tidurnya dan menangis mencari ayahnya. Pikiranku jadi tak enak, aku takut suatu hal terjadi pada Mas Mawan. Aku pun dengan sabar membujuk Jimmy untuk tidur kembali dan akhirnya perjuanganku tak sia-sia. Jimmy kembali tertidur
Keesokan harinya ada seorang perempuan yang mengetuk pintu rumahku dengan kerasnya yang menginginkan aku keluar menemuinya. Dengan cekatan aku membuka pintu. Di sana sudah berdiri seorang ibu-ibu yang menggandeng anaknya. Belum sempat aku bertanya maksud kedatangannya dia sudah memberondongku dengan kata-kata yang sangat menyakiti hatiku. Dia melempar sebuah buku kecil tepat di mukaku. Aku pun meraihnya dengan gemetar dam membuka buku yang bersampul biru tua itu dengan sangat hati-hati. Di sana tertulis Fandi darmawan dan nama itu tak asing bagiku.
Ya, dia adalah suamiku. Namun kenapa nama itu tertulis di surat nikah ibu ini? Apa maksud dari semua ini? Aku semakin bingung dan aku kembali mengamati buku tersebut. Ya Tuhan, betapa terkejutnya aku. Foto yang terpampang jelas adalah foto Mas Mawan. Aku semakin tak mengerti ada apa ini. Sungguh ini tak pernah muncul dalam mimpiku kenapa hidupku seperti ini? Kenapa Tuhan tak mencabut nyawaku saja kalau aku harus hidup seperti ini. Ternyata aku selama ini telah menjadi istri simpanan Mas Mawan. Aku tak percaya begitu saja saaat Mas Mawan kembali mengunjungiku. Aku bertanya kepadanya apa benar semua ini. Dalam hati tak pernah berharap semua ini benar, namun Mas Mawan membenarkan ini semua. Bahkan Mas Mawan membawa Jimmy bersamanya. Kini hidupku seakan kembali tak ada arti lagi. Inilah akhir dari pada cerita hidupku. Penyesalan bukankanlah hal yang terbaik dalam hidupku selain memulai hidupku dari awal, meski kadang aku takut semua kan terulang kembali.
kreN TUch……………… cErpEn x aMpe Q seDiH ,
SMoGa u dPt mNCptakAN CerPEN IanK lbH BguS Lgeeeeeeeeeeeeee………………………gggggggggood LUck………………………….YEEECH