Di Balik Kegelapan
Desember 31st, 2008 by Galuh
Rasanya baru sekejap membaca buku “ Menikmati Demokrasi “ karangan Anis Matta tiba–tiba alarm berbunyi tepat pukul tiga. Mataku membelalak kaget, secara reflek tanganku menghentikan bunyinya dengan memencet tombol jam kecil itu. Ternyata sudah satu jam terlewatkan dengan tidur.
Seluruh badan terasa lemas, sore yang gelap, hujan tiada henti-hentinya sejak pagi. Ku menuruni tangga untuk melakukan sholat ashar, sejenak mataku tertumpu pada sesuatu yang harus segera diselesaikan, namun segera terabaikan begitu saja. Selepas shalat aku membuka kulkas di dapur dan pikiranku kembali bekerja ketika roti isi mampir di kerongkongan. Peristiwa yang kutangani memang tak kunjung selesai, harapan masih terus tumbuh, tidak hanya dengan tenaga manusia namun juga meminta bantuan pada Sang Pemilik Misteri
“ Ya Allah tolong aku ! “
Sedetik kemudian aku berlari ke ruang kerja. Sengaja tempat ini berjauhan dengan kamar pribadi. Segalanya bisa error bila terus-terusan bergumul dengan masalah yang sulit untuk dipecahkan. Bagiku ketenangan hadir di kamar tidur jika diisi Al-qur’an dan buku-buku penyucian jiwa seperti karangan Aidh Al-qarni. Kadang sesekali buku yang sangat penting dibaca akan kubawa ke kamar.
Tulisan di kertas yang ada di meja kerja ini bukan, ya bukan. Aku menenangkan diri dan menelpon seseorang.
“ Ya Nen, ada apa ?”
“ Ada hal yang harus dibicarakan, bisakah kita ketemu, Ten ?”
Nen kode rahasiaku, nama sebenarnya Pusaka Ambarawa, nama yang unik kan ? Nen merujuk pada angka sembilan dari bahasa Inggris dengan pengejaan yang tak sesuai, menyusul angka sepuluh kepunyaan Pak Rudi sebagai kepala bagian penyelidikan di kepolisian pusat. Kami ambil sebagai satu kesatuan dari tiap puluhan. Letak angka sebelum Pak Rudi menjelaskan bahwa kerjaku melebihi bahkan mendahului polisi setempat, karena sebenarnya diriku adalah detektif swasta.
Sesuai tempat dan waktu yang sudah ditentukan, mulailah terjadi diskusi antara aku dan Ten. Setiap orang mengurai kejadian demi kejadian dengan analisis masing-masing.
Sebelumnya
Sekitar lima bulan yang lalu telah terjadi pembunuhan di kediaman penyair terkenal di negeri ini. Semua geger saat peristiwa itu diberitakan. Wartawan baik elektronik maupun cetak berdesak-desakan memburu fakta dengan mengejar rating pemirsa dan pembaca. Pemerintah menyeru mengibarkan bendera setengah tiang. Polisi dengan semua personel berusaha mengamankan tempat sekaligus melakukan penyelidikan. Sehari setelahnya, para sastrawan mulai mendesak pemerintah melalui sharing dan aksi teatrikal untuk segera menemukan pelaku. Semuanya sibuk sampai-sampai para cenayang ikut ambil bagian dalam meneropong kejadian tersebut. Untuk yang satu ini membuatku geleng-gelang kepala. Praktek perdukunan memang subur di kalangan masyarakat. Di sisi lain keterangan para saksi belum menuju pada gambaran yang jelas, berita simpang-siur, sulit membedakan antara yang benar dan tidak.
Ten otomatis terlibat karena menyangkut kredibilitas kepolisian dan kematian idola masyarakat bahkan hubungan dengan negara asing, karena mereka menjadikan karya penyair tersebut sebagai referensi penting dalam pendidikan di sana. Namun selama empat bulan tidak menunjukan hasil yang posif, karena itulah aku menjadi orang super sibuk dibandingkan yang lain saat itu.
Tugasku dimulai ketika dini hari Ten menelpon dengan tergesa-gesa. Beliau menginginkanku segera ke TKP. Ada perasaan enggan menggelanyuti, teringat akan sentimen dari beberapa anggota polisi. Wajar saja mereka seperti itu, tahun-tahun sebelumnya aku juga belajar dari tempat mereka. Selang beberapa waktu aku keluar dan mendirikan layanan detektif swasta. Sebenarnya hubunganku dengan Ten adalah rahasia dalam hal petunjuk dan analisis yang kulakukan, di luar itu hanya sekedar membantu. Namun para pembesar kepolisian kadang mendebat bahwa orang-orang dalam bisa melakukan tugasnya dengan baik. Kalau sudah begitu Ten akan menunjukkan kasus-kasus yang kupecahkan dengan briliant. Perlu digarisbawahi kalau aku hanya berada pada kasus tertentu saja.
Otak yang sudah berusia 25 tahun ini berpikir keras untuk mencari benang merah antara dua kejadian. Pertama peristiwa pembunuhan sang penyair, seminggu kemudian hilangnya murid kesayangannya yang hanya meninggalkan sebuah surat.
“ Kalian takkan melihat apa-apa, kecuali onggokan kamar kosong, hanya setetes perih di meja belajarku “
Mulanya kami membuat sekat antara dua kejadian tersebut, namun tidak bisa dipungkiri masalah ini berkembang hingga sekat itu terbuka. Surat tersebut kami tafsirkan bahwa kata “kalian” adalah ditujukan pada orang yang membaca surat tersebut dan “perih” berarti dirinya memang sedang sedih. Hal lainnya surat tersebut berada di atas meja belajar.
Namun ada yang janggal, kata “kalian” ditulis dengan tinta merah, ada kebencian yang tersembunyi dan tertuju pada orang tertentu, tapi siapa? Kami belum menemukannya.
Baru setelah mengulang tiga kali membaca, aku tersadar kalau petunjuk utama adalah ‘meja belajar’, bukan ‘di atas meja belajar’. Segera kolong-kolong yang ada di sana, mengecewakan, semua barang sudah dibawa ke kantor polisi. Hal ini tak bertahan lama, karena sesuai informasi dari Ten tidak ada barang yang mencurigakan.
“ Kau bisa menemukannya Nen, aku percaya padamu. “
Perkataan Ten membuatku kembali ke kamar itu dan merogoh, mendobrak rangka meja hingga jemariku menyentuh di bagian bawah meja, ada kayu dengan ukuran kecil yang bisa digeser dengan sedikit keras, meluncur sebuah kertas. Aku menghela nafas, apakah ini teka-teki lagi, pikirku. Ketika lembaran itu dibuka….
“ Sang fajar tiada henti menyiksa,
penjaganya bertopang dagu,
serigala penanda luka menganga
Ada senyum di balik kegelapan “
“Astaghfirullah, puisi !”
Aku tak bisa ambil pikir, anak berusia 15 tahun ini tidak memberitahukan dengan jelas bagaimana dan di mana sekarang dia berada.
Kami coba menghubugi seorang sastrawan lain untuk mengurai kalimat puisi tersebut, sedang aku dan Ten sibuk mencari hipotesis yang tepat pada pembunuhan itu sendiri. Pertama, adanya perampokan biasa, karena sejumlah uang, handycam dan laptop hilang, namun terpatahkan karena hanya kamarnya saja yang diobrak-abrik. Kedua, penyair ini dibunuh karena ada karyanya yang telah menyudutkan seseorang, namun hal ini menguap begitu saja mengingat negeri ini memberikan kebebasan berekspresi melalui seni.
Sastrawan yang kami percaya muncul di tengah kesibukan dan pikiran yang buntu dengan membawa kabar tidak baik. Kata beliau,
“ Makna ‘fajar’ adalah awal kehidupan, hari baru, pencerahan dan hari-hari yamg penuh tantangan. Namun disini ada kata ‘penjaga’ yang tak kuketahui maksudnya, adapula kata ’serigala’ dan ‘kegelapan’ yang keduanya memang berkaitan, tapi tidak dengan ’sang fajar’, kontradiktif.”
***
Waktu menunjukkan pukul 16.30, hujan agak mereda. Tigapuluh menit yang lalu aku menemukan lintasan pikiran tentang surat kedua yang berada di atas meja kerjaku, kini dengan Ten aku memberikan analisis yang tak terduga sebelumnya.
“ Mari kita mulai dari surat pertama. Sebenarnya kata ‘ kalian’ dalam surat itu merujuk pada orang-orang yang melakukan pembunuhan.
Tiba-tiba ten menyela,
“ Tapi bagaimana hubungan mereka dengan penyair, Nen ?!”
“ Tunggu sampai aku menyelesaikan semuanya. “
Kulanjutkan dengan warna tinta merah pada kata tersebut adalah luapan kemarahan atau penggambaran darah orang terbunuh. Lalu ‘perih’ adalah rasa sedih yang mendalam namun dia juga tak mampu menceritakannya secara bebas. Karena itu dia tuangkan dalam surat kedua yang tak lain adalah petunjuk tersembunyi dengan harapan hanya orang-orang tertentu yang bisa menemukannya dan untungnya didapatkan oleh orang yang tepat. Isi dari surat kedua tak bisa ditafsirkan dengan bahasa puitis karena itu bukanlah puisi, tapi kode. Kode pembunuhan.
“ Apa kau bercanda, Nen ?”
“ Tidak, ini benar ! Pada rangkaian kalimat tersebut memiliki tingkatan pangkat atau struktur. Pertama ‘Sang fajar’ lalu ‘penjaga’ kemudian ’serigala’. Kata ‘fajar’ merujuk pada matahari dan dia tunggal, berarti hanya satu orang yang menempatinya dan dialah pimpinan pembunuhan tersebut. Alasan memilih istilah ‘fajar’, aku tak mengetahuinya. Lalu ‘penjaga’ adalah orang yang menjadi pendamping atau orang kepercayaan ’sang fajar’, namun dia hanya melihat peristiwa itu dengan tak memiliki ekspresi berlebih. Sepertinya pembunuhan adalah hal yang biasa disaksikannya. Untuk ’serigala’ tentunya tidak pernah sendiri, merekalah yang melakukan penyiksaan, pada tubuh penyair dapat ditemukan bekas-bekasnya dan satu luka menganga akibat tembakan di dada. Satu hal yang tak kuketahui adalah ’senyum di balik kegelapan’, entah bagaimana kata-kata ini merepresentasikan pada seseorang, yang pasti dialah yang sebenarnya menginginkan kematian penyair.”
“ Cukup Nen, semua itu bisa saja, tapi siapa sebenarnya mereka ini ?”
“ Berhubungan dengan handycam. “
“ Maksudmu ?”
Menilik kembali pada surat kedua, setiap akhir baris ada tanda koma, kecuali untuk baris terakhir, karena itulah aku mengambil kesimpulan dialah yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Untuk menjawab pertanyaan Ten berikutnya, aku menjelaskan bahwa dari awal ada kecurigaan yang timbul dari barang-barang yang dirampok.Uang hanyalah untuk mengelabui agar terkesan demikian. Barang yang sebenarnya mereka cari adalah handycam. Entah bagaimana, pasti ada data rekaman di sana dan untuk berjaga-jaga mereka juga mengambil laptop, khawatir apabila datanya telah ditransfer.
Setelah analisisku selesai pembicaraan kami hentikan, rupanya Ten ingin memikirkannya dulu, lagipula maghrib telah lewat sepuluh menit yang lalu.
Agak malam aku pulang ke rumah, kira-kira jam delapan. Ketika membuka internet dengan niat bersantai sebentar dan mengecek surat masuk ada yang membuatku fokus ke sana.
“ Astaghfirullah, surat ancaman. “
Ada yang tidak ingin aku menyelidiki kasus ini, pasti berhubungan dengan pembunuh sebenarnya. Ada e-mail lain masuk.
“ Subhanallah. “
Isinya tidak lain mengajakku bertemu, dia mempunyai informasi yang penting terkait pembunuhan. Siapa dia? Ketika kucek dua pesan tadi pengirimnya tidak sama, namun kukhawatirkan yang kedua adalah jebakan, karena itu aku mengirim pesan sebagai umpan, untungnya dia mengirim lima menit yang lalu dan tentunya masih menghadap komputer.
Bukan main jawaban yang dikirim, ketika kutanya makna dari ’sang fajar’ dan ‘di balik kegelapan’. Dia menjawab dengan tepat sesuai hipotesisku, karena itu pertemuan segera dirancang.
Tempat pertemuan kami di kafe. Hujan turun rintik-rintik, jam menunjukkan pukul 20.15. Sudah 45 menit berlalu, namun yang akan ditemui tak kunjung datang, malahan pelayan membawakan sebuah kotak kado berukuran kecil, katanya ada orang yang mau memberikan surprise padaku. Benarlah kejutan yang ada di dalamnya, sebuah CD berisi transaksi besar. Dengan penuh keyakinan CD itu dari pengirim e-mail sebelumnya, aku menghubungi Ten. Akhirnya terkuak siapa saja ’sang fajar’, ‘penjaga’, dan ’serigala’. Semuanya ada di film tersebut. Mereka adalah pembunuh yang disewa oleh ‘di balik kegelapan’.
Hujan turun dengan deras akhir bulan ini. Ada e-mail yang masuk dan pengirimnya ingin bertemu, lagi-lagi pesan pemberi kado. Pertama aku merasa sangsi dia mau bertemu. Dan ketika dia menyatakan siapa dirinya sebenarnya, aku baru benar-benar mau percaya. Bocah 15 tahun dengan nama Randi.
Tempat pertemuan kami awalnya di halte, setelah itu sesuai rencana berpindah ke kafe waktu aku mendapat kado. Baru sepuluh menit berlalu dari waktu yang sudah ditentukan, terlihat di seberang jalan ada orang yang akan menuju ke arah halte, dengan jelas aku tahu itu Randi. Waktu ke rumahnya untuk melakukan interogasi ibunya memberikan fotonya. Namun ada yang aneh, di belakangnya ada dua orang yang membuntuti, dalam hitungan detik mereka meringkus Randi sebelum sempat menyeberang. Aku sangat bersyukur hujan tidak turun, dengan begitu aku yang menyeberang jalan dan mengikuti mereka dari belakang dengan langkah yang tak berisik. Rupanya mereka menuju mobil. Setelah mengingat plat mobil itu aku tetap berlari mengejar, untungnya mereka ke jalan besar sehingga dengan mudah aku menemukan taksi.
HP Ten bisa dihubungi dengan mudah, karena nomer ini hanya antara diriku dengannya. Kujelaskan dengan singkat apa yang terjadi dan meminta segera dia bersama satuan polisi menyusul, sedangkan aku masih mengejar mobil itu dengan sesekali kumenghubungi Ten hingga di suatu tempat yang agak tinggi. Dari penglihatanku mereka berada di atas jurang, karena itu dengan cekatan aku keluar dari taksi dan menuju kesana. Satu hal yang ingin mereka lakukan adalah menjatuhkan Randi ke jurang. Berkat latihan karate bertahun-tahun, aku mengghampiri mereka dan menonjok salah satunya yang agak kurus. Satu orang lagi dengan perawakan besar langsung mendekap dan mengunci kedua tanganku sambil mengarahkan pisau ke leherku. Randi memukul kepalanya dari belakang. Pisau terlempar dari si Besar, senjata ini yang digunakan untuk membungkam Randi agar tak berteriak selama perjalanan. Ketika si Kurus bangkit langsung kutendang dadanya dengan kaki kanan. Randi tersungkur akibat pukulan si Besar, tak lama dia juga tersungkur di depan Randi akibat tendanganku. Setelah itu aku menghampiri si Kurus yang mencoba mengambil pisau, kubanting badannya dengan keras. Terdengar bunyi retak, ketika menoleh ternyata sopir taksi tadi telah menindih sambil mengunci tangan dan kaki si Besar, aku tersenyum padanya. Tepat satu detik Ten dan polisi datang. Setelah ditelusuri ternyata mereka adalah suruhan ‘di balik kegelapan’. Akan sangat runyam jadinya jika Randi mati, karena dia satu-satunya saksi mata pembunuhan tersebut.
Randi menceritakan kronologis pembunuhan itu di kantor polisi. Gurunya, Warsito, penyair itu sebelum dibunuh menelpon Randi pada pukul 22.20. Dengan tergesa-gesa menyuruh untuk segera ke rumahnya, namun Randi menolak karena sudah terlalu malam. Jam enam pagi Pak Warsito di kediamannya menceritakan pada Randi bahwa handycam yang dibawanya merekam sebuah transaksi, namun tak pasti transaksi apa yang terjadi.
“ Bagaimana bisa secara tak sengaja kalau beliau sendiri yang merekamnya ?” aku menyela.
Penjelasan berikutnya menjawab pertanyaanku ini. Hari itu adalah waktu pencarian inspirasi untuk sebuah karya yang akan ditampilkan bulan depan. Ide bisa didapat di mana-mana dan pak Warsito ingin mendapatkan di pantai utara kawasan ini. Rupanya dataran yang beliau injak lebih tinggi daripada tepat transaksi, sedangkan kejadian itu kurang lebih berjarak lima meter. Bagian yang mengakibatkan keduanya tidak saling mengetahui adalah karena terdapat ceruk yang dijadikan tempat bersandar Pak Warsito. Namun sangat disayangkan, handycamnya ditaruh di sebelah kiri dengan fokus mengarah pada tempat transaksi. Rupanya hal ini dipergoki orang-orang itu sebelum Pak Warsito beranjak.
Setelah menceritakan kejadian tersebut Pak Warsito menyerahkan copy kaset rekaman lewat CD, sedang yang asli tetap dibiarkan di handycam. Hal ini dilakukan bila suatu saat kelompok tersebut menemukan dirinya, Randi yang akan menjadi saksi.
Pada pukul 06.30 ada orang menggedor pintu dengan keras. Cepat-cepat Randi disuruh naik ke langit-langit tertutup dengan membawa sepatu yang sedari tadi diperintahkan untuk dibawa ke dalam, mungkin sebelumnya firasat pak Warsito sudah buruk. Maka kejadian pembunuhan dengan kejam itu disaksikan Randi dari balik celah langit-langit dengan ngeri. Selebihnya semua hipotesisku benar, sedang kiasan dua orang yang dimaksud dalam surat Randi tidaklah terlalu sulit yang dibayangkan. Kata ’sang fajar’ digunakan karena orang itu menggunakan kalung berlambang matahari dan ’senyum di balik kegelapan’ adalah orang yang menggunakan tudung kepala, dan senyumnya terlihat karena Randi melihat agak ke samping namun wajahnya tak terlihat.
Ketika kutanya selama ini berada di mana, jawabannya sangat praktis.
“ Di rumah teman yang dapat dipercaya. “
Orang ‘di balik kegelapan’ adalah pejabat tinggi negara yang pada saat itu melakukan penyuapan terhadap ketua hakim yang menangani kasusnya terkait masalah korupsi. Hal ini mengingatkanku pada buku “Menikmati Demokrasi”. Menurutku demokrasi takkan berjalan mulus jika masih ada praktek korupsi di negeri ini. Ingatanku beralih pada puisi yang ditulis sahabat karib dengan judul “ Aku Tersungkur “.
Tak lagi cerdas generasi ini,
pendidikan telah terkorupsi
Tak lagi bersih hati ini,
agama telah coreng-moreng
Tak lagi sehat badan ini,
kesehatan berbalik jadi pesakitan
Ide cerita emang baguz, tapi penuturannya mazi kurang mengalir lancar