Dalam Sebuah Kastil
Desember 31st, 2008 by kharisramato
Tak ada keistimewaan berarti pada rumah itu. Rumah besar nan indah yang terletak tepat pada posisi ujung mulut atau sebagai penyambut pertama dari sebuah gang berukuran sedang – satu dari sekian gang yang tersebar di seantero kota penghasil minyak bumi terbesar di Tanah Jawa. Sekilas rumah itu memang apik. Begitu megahnya ditopang pilar-pilar yang cukup tinggi dan besar sehingga lebih pantas disebut kastil – diaksesoriskan dengan taman yang menyelimuti hampir seluruh pekarangan yang terhampar, dan di dalamnya berbagai rumpun bunga liar berhuni – yang meski tak terurus namun terlihat bagai seni yang amat bernilai di kedua belah mata siapapun. Belum lagi pagar kastil yang jangkung dan amat kokoh, siap sebagai tameng kastil besar itu. Pahatannya yang berduri-duri pada bagian mahkota, siap menghujam siapa pun yang berani masuk tanpa ijin, secara diam-diam.
Kastil itu masih tampak kokoh dan kuat–dan nyatanya memang benar begitu- meski usianya telah tua. Mungkin karena perpaduan arsitektur Belanda dan budaya Jawa yang menyusun tubuh kastil tersebut, dan memang kastil itu telah ada sejak puluhan tahun yang lalu meski dahulu wujudnya tak persis sama seperti sekarang karena hampir sebagian dari badan kastil itu telah dipugar dan direnovasi, akibat termakan usia. Namun tak begitu penting, jika harus diceritakan bagaimana sejarah kastil itu, karena yang terpenting adalah sebuah ‘cerita’ dari kastil itu. Ya, cerita, sebuah kisah tersembunyi di balik tak keistimewaan rumah besar itu – sepi bahkan tampak mati.
***
Pintu utama kastil tua itu terbuka. Sesaat kemudian, seorang kakek renta tampak tertatih-tatih berjalan keluar. Dengan langkah-langkah kakinya yang tak lagi setegap sewaktu masih muda, ia beringsut berusaha mencapai kursi teras – kursi kesayangannya yang selalu ditempatinya untuk menikmati udara pagi. Begitu sampai, tanpa dikomando, ia langsung menghempaskan tubuhnya. Terdengar suara berderit dari kursi yang telah lumayan reyot itu. Kursi tua itu sebenarnya memang sudah tak cocok lagi bagi sebuah kastil yang megah. Namun meski usia si kursi sudah lanjut usia, si Kakek sebagai pemilik sama sekali tak mau menggantinya dengan kursi baru yang tentunya lebih nyaman.
Mbah Radin termenung, menatap lautan tamannya yang tampak sedang disinggahi berbagai hewan – kupu-kupu yang mengitari bunga-bunga dan kemudian mengentup di salah satunya, belalang yang meloncat-loncat riang di rerumputan, kepik-kepik yang bersantai hinggap di dedaunan, burung-burung yang berkicau merdu seraya terbang riang dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain dan ow, pada salah satu sudut taman, di antara kerumunan ilalang yang cukup tinggi tampak sebuah ular melintas meliuk-liuk. Mbah Radin bergegas memanggil kedua pembantunya yang sedang sibuk dengan tugas rumah tangga harian masing-masing.
Mbah Radin? Ya, itulah nama kakek renta tersebut. Lengkapnya Kumuraddin dan lebih sering disapa Mbah Radin. Oleh anak-anak gang yang suka bercanda, Mbah Radin sering dijuluki Mbah Kumur-kumur – sesuai dengan namanya. Namun Mbah Radin tak pernah marah dan tersinggung. Ia malah tertawa lepas, menunjukkan jumlah giginya yang tak lagi lengkap, bahkan terkadang dengan ramah, Mbah Radin memberi sedikit uang pada bocah-bocah yang meneriaki dengan riang namanya tersebut sekadar untuk jajan. Dan sudah pasti mereka sangat gembira.
Mbah Radin mengamati dengan seksama dari kejauhan perjuangan kedua pembantunya sekaligus kedua anggota keluarganya yang tersisa saat ini –ia memang telah menganggap keduanya sebagai keluarga- yang sedang berusaha mengenyahkan binatang melata tersebut. Ya, Mbah Radin memang hanya tinggal bertiga dengan kedua pembantunya tersebut, Parto dan Sukiyem. Istrinya yang tercinta telah tiada – meninggalkan dirinya seorang diri sejak enam tahun yang lalu, karena mengidap suatu penyakit berat. Ketujuh anaknya berada di kota lain dengan urusannya masing-masing. Anak sulungnya yang bernama Fiatun Sitikam atau lebih sering disapa Atun sekarang berada di ibukota ikut suaminya. Kemudian anak keduanya Apandik Kamrun merantau ke pulau seberang barat dan bekerja di salah satu perusahaan tersohor di sana. Lalu ketiga anaknya berturut-turut Riyatinah Sitikama –Tina, Komatika Sitiriah –Tika dan Ihwanurul Kama – Wanu sedang menuntut ilmu di negeri orang, menyelesaikan pendidikan akhir. Dua anak bontotnya, Malikus Saipuloh –Malik mencari nafkah di Kota Pahlawan dan Sintesa Kamalah –Tesa diboyong suaminya ke Tanah Rawa di utara sana.
Mbah Radin terus mengamati pekerjaan kedua pembantu setianya sampai akhirnya si Parto beranjak dari arena “pertarungan” dan berjalan menuju ke arahnya.
“Sampun, Pak. Boten wonten maleh,”(1) lapor Parto dalam bahasa Jawa. Mbah Radin mengangguk, mengucapkan terima kasih. Tanpa dikomando, Parto bergegas kembali masuk ke kastil dibuntuti Sukiyem.
Mbah Radin kembali duduk di kursi terasnya. Seraya menikmati keindahan tamannya, ia termenung. Diam-diam dalam benaknya, ia memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan dirinya yang begitu berbeda dengan kakek-kakek lain di dunia ini. Merenungi kesendiriannya di masa tua, tanpa ditemani siapa pun bahkan anak-anaknya sendiri kecuali kedua pembantu yang telah mengabdi kepadanya sejak ia masih muda.
Mengingat ketujuh buah hatinya, membuat Mbah Radin menjadi merasa rindu. Biasanya jika rindu Mbah Radin sudah tak tertahankan, ia akan menangis. Sesudah menangis kemudian ingin meledak. Namun ia tak bisa apa-apa, selain karena yang dirindukannya tak ada di hadapannya, ia juga merasa kesendiriannya ini karena salahnya sendiri. Ya, kesalahan empat tahun yang lalu yang membuat akhirnya anak-anaknya tak sudi lagi melihat dirinya.
Dua tahun tepatnya, sesudah kepergian sang istri, membuat Mbah Radin merasa rindu kasih sayang pasangan sehidup semati. Dan hal ini membuat Mbah Radin akhirnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh para suami yang menduda. Ia ingin menikah lagi. Ia tak peduli telah berapa ia menanjak usia karena yang ia butuhkan saat ini kasih sayang seorang wanita yang sangat mencintainya.
Dan tampaknya tak ada kesulitan bagi Mbah Radin dalam menemukan calon pengganti ibu ketujuh anaknya. Setelah melalang buana, Mbah Radin pun akhirnya serasa menemukan cinta sejatinya kembali. Seorang bidan yang bekerja di salah satu rumah sakit di kota yang menjadi kampung halamannya sejak kecil, seakan menjadi wanita kedua yang amat menyayanginya setelah mendiang istrinya. Sedikit demi sedikit waktu pun berlalu dan akhirnya Mbah Radin pun berencana menikah dengan wanita tersebut.
Rencana pun telah disusun masak-masak. Namun ternyata di tengah itu semua, Mbah Radin tetap menemui hambatan. Ya, rupanya tak ada satu pun dari anaknya yang sudi mendapat ibu tiri. Apalagi Tesa, buah hatinya yang paling disayanginya karena ia yang paling bungsu –meski Mbah Radin tetap membagi rata kasih sayangnya kepada semua anaknya. Tesalah yang paling keras diantara saudara-saudaranya dalam menentang rencana pernikahan kedua dalam hidup ayahnya. Alasannya bermacam-bermacam. Mulai dari umur si calon yang tak sepadan dengan Mbah Radin yaitu selisih kecil berapa tahun di atas Fiya, anak sulung Mbah Radin yang harusnya cocok sebagai kakak anak-anak si Mbah sampai dengan alasan bahwa masih ada anak-anak yang bisa mengasihi dan menyayangi, lebih dari seorang istri baru yang mungkin saja hanya sesaat mencintai.
Namun Mbah Radin tetap ngeyel dan bersikeras. Walaupun semua anaknya tak setuju bahkan sampai membentak-bentak dan mungkin sampai dapat dikatakan menyumpah serapah seakan lupa bahwa yang mereka hadapi adalah orang tua kandung mereka yang satu-satunya masih hidup. Mbah Radin pokoknya tetap ingin menjadikan sang bidan tercinta sebagai pengganti ibu yang mengasihi mereka. Sebagai akibat dari sikap keras kepala Mbah Radin ini, semua anaknya pun akhirnya marah dan tak sudi lagi untuk melihat dan menjenguk ayah mereka tersebut setiap kali liburan, termasuk Tesa yang masih tergantung padanya. Anak bungsunya itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah dan menyewa sebuah rumah kecil yang cukup jauh serta hidup sendiri dengan uang kiriman kakak-kakaknya.
Dan setelah itu, Mbah Radin merasa amat merana. Ia kini serasa menemukan dirinya, terjerembab dalam keadaan sebatang kara. Ia merasa hidupnya tak ubah lagi dengan dunia yang ditudungi awan mendung yang tak kan pernah sirna. Dan kenelangsaan inilah yang akhirnya membuat Mbah Radin, pada suatu sore, memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahannya ketika sang bidan singgah ke rumahnya.
“Tapi kenapa, Mas?” tanya sang bidan tatkala itu dengan suara serak.
Namun Mbah Radin tak menjawab. Menanggapi sikap dingin Mbah Radin, akhirnya si bidan itu pun beranjak, berlari keluar dengan terisak. Mbah Radin ingin mengejar namun ia menahan dirinya sendiri. Sesaat kemudian, dengan wajah sendu dan langkah terseok-seok ia pun beringsut keluar ruangan dan amat terkejut ketika melihat Tesa tampak melintas di ruang tengah.
Namun Tesa cuek. Ia seakan tak melihat ayahnya memperhatikan dirinya dengan pandangan kerindungan seorang ayah pada buah hatinya. Mbah Radin hanya dapat menghela napas. Sembari mendekati Tesa, ia berkata.
“Aku wis mutusno ora sido nikah karo wanita kui, Tes.”(2)
Tesa hanya bergeming. Tidak terperangah sedikit pun karena terkejut apalagi sampai mendesak-desak untuk meyakinkan berita menggembirakan itu. Padahal harapan Mbah Radin dalam hati, anak bungsunya tersebut akan kegirangan dan memeluknya, kemudian menghubungi saudara-saudaranya untuk memberitahu dan membujuk untuk kembali lagi. Namun kenyataannya, dengan segepok buku di kedua tangannya, Tesa malah berjalan keluar, tak acuh. Namun ketika di ambang pintu, ia berhenti. Tanpa berbalik, ia menyahut yang ditujukan kepada ayahnya di belakangnya.
”Oh, dadi kui sebabe dukun beranak sodrun kae mau metu karo mewek? Apiklah nek ngono. Aku meriki mung ameh jupok bukuku seng keri, dadi Pak’e(3) ojo berharap lebih.”(4)
Sesudah itu ia pun keluar. Tak peduli dengan ayahnya yang memandang kepergian dengan mata nanar. Langkah kakinya mengisyaratkan seolah ia tak pernah kembali lagi sama seperti sang bidan yang takkan pernah lagi kembali pada Mbah Radin.
Suara kucing yang sedang berkelahi menyadarkan Mbah Radin dalam lamunannya. Ia tersentak kaget. Kepalanya sempat celingukan ke sana ke mari. Namun detik berikutnya, ia kembali pada lamunannya.
Mbah Radin termangu. Ah, betapa merananya hidupnya saat ini. Tak ada lagi cinta yang bisa didapatnya kecuali kesetiaan kedua pembantunya. Ketujuh anaknya benar-benar telah melupakannya dan sang bidan seolah telah ditelan bumi. Mbah Radin mengetahuinya karena wanita yang hampir dinikahinya itu kemudian tak lagi bekerja di rumah sakit bahkan mungkin tak lagi ada di kota ini setelah kejadian sore itu. Mbah Radin kini benar-benar merasa seorang diri. Padahal tanpa anak-anaknya yang bisa melarangnya, ia bisa mencari lagi pengganti sang bidan. Namun Mbah Radin tak ingin karena dengan melakukan itu, ia merasa akan tambah berdosa.
Dalam hidupnya, baru kali ini, Mbah Radin merasa kesepian. Dulu sebelum semuanya meninggalkannya, Mbah Radin merasa amat bahagia, bahkan mungkin orang terbahagia. Dikelilingi istri yang mencintai dan ramainya tingkah laku anak-anaknya. Apalagi Mbah Radin sewaktu itu termasuk orang penting di kotanya sekaligus pejabat yang amat dekat dengan rakyat bahkan sampai ke pelosok. Maka ia pun dikelilingi orang – orang yang menyayanginya. Namun, sekali lagi, itu dulu. Sekarang semuanya telah meninggalkannya. Istrinya telah tiada, anak-anak meninggalkannya dan ia tak tahu apakah rakyat kotanya di luar sana, kecuali tetangga-tetangga tentunya, masih ingat bahkan mengetahui dirinya.
Memikirkan semua kesedihan itu, membuat Mbah Radin semakin menderita. Namun untunglah hanya batinnya saja yang tersiksa. Meski tak dikirimi wesel lagi oleh anak-anaknya, ia masih tetap bisa menghidupi dirinya sendiri bahkan sampai menggaji kedua pembantunya dengan uang pensiunannya. Dan untungnya lagi, uang pensiunan yang diperolehnya tiap bulan tersebut terbilang cukup besar. Jadi cukup untuk segala keperluan.
Sejurus kemudian, tanpa memberitahu kedua pembantunya, Mbah Radin pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Menenangkan pikiran yang penat sekaligus menguji apakah rakyat kota masih mengingatnya. Dulu, setiap ia keluar dan lewat di tengah keramaian khalayak, semua orang pasti mengenalnya dan selalu menyapanya, bak raja dengan kereta kencana kebesaran.
Namun ternyata semua jauh yang diinginkan Mbah Radin. Ketika ia berjalan tak ada lagi sapaan-sapaan ramah di sekelilingnya seperti dulu. Semua seolah tak peduli. Bahkan mungkin bila ia tersungkur tak akan ada yang menolongnya. Namun Mbah Radin tak bisa menyalahkan. Ketenaran seorang pejabat tentu ada batasnya. Apalagi jabatan itu sudah dulu sekali, meski orangnya masih ada sampai saat ini. Seiringnya waktu, mungkin orang-orang sudah lupa. Atau mungkin pula komunitas masyarakat dulu kini telah digantikan dan diisi oleh generasi-generasi baru yang belum tentu mengetahui tokoh rakyat yang begitu dikagumi generasi sebelumnya.
Mbah Radin pun duduk pada salah satu bangku taman kota. Ia mengedarkan pandangannya. Ternyata banyak juga terutama orang-orang tua yang jalan-jalan pagi seperti dirinya. Namun tak ada seorang pun yang seorang diri seperti dirinya. Semuanya ditemani anaknya atau cucunya bahkan ada juga yang dengan pasangannya. Tujuan Mbah Radin untuk mengusir kesedihan seolah lenyap demi melihat pemandangan seperti itu. Alih-alih itu, hatinya kini malah tambah terluka.
Dan kini Mbah Radin betul-betul sedih meratapi nasibnya. Ia kini benar-benar pasrah dan menyerah, terserah apa pun kehendak Tuhan dan amat senang sekali bila Tuhan ingin mencabut nyawanya sekarang juga. Kini ia benar-benar merasa tak ada gunanya lagi hidup. Ia menyesali semuanya, menyesali ketidakbijaksanaannya untuk menikah lagi waktu itu hingga “harta terakhirnya” meninggalkannya. Namun di tengah – tengah sesalnya, amarah juga tumbuh di lubuk hati Mbah Radin. Bukan nasib yang ia kesalkan, bukan, namun ketujuh anaknya yang tak lagi memedulikannya tersebut dan menurutnya telah amat keterlaluan.
Baiklah, kalau memang begitu, maka ia juga tak akan pernah lagi mengakui ketujuh anaknya sebagai putra-putrinya bahkan sampai di akhirat nanti, Mbah Radin merintih dengan kesal dalam hati. Biarlah mereka durhaka dan masuk neraka, ia tak peduli toh saat ini tak seorang pun anaknya mengacuhkannya.
Mbah Radin pun bergegas kembali ke rumahnya. Ia ingin segera ke kamarnya, meraung sepuasnya kemudian mengambil semua foto dan barang-barang yang mengingatkan ia pada istri dan anak-anaknya untuk dimusnahkan. Amarahnya betul-betul telah memuncak. Namun tanpa diduga-duga, ketika ia melintas di depan kamar kosong di sebelah kamarnya yang dulunya dihuni anak-anaknya, terdengar kegaduhan kecil di situ. Mbah Radin tertegun, ia menoleh. Pintu kamar itu tampak sedikit terbuka. Siapa? Batin Mbah Radin. Jarang sekali pintu itu terbuka, bahkan nyaris tak pernah semenjak kepergian ketujuh anaknya. Partokah? Atau Sukiyem? Rasanya tidak mungkin, selama ini kamar yang dimasuki oleh kedua pembantunya tersebut selain kamar mereka masing-masing hanyalah kamar Mbah Radin sendiri sekadar untuk dibersihkan. Tapi, mungkin saja, mungkin ada suatu keperluan sehingga salah satu pembantunya masuk. Mungkin ingin dibersihkan atau …
Demi menjawab kebingungan ini, Mbah Radin pun menghampiri kamar itu. Niat untuk menangis dan membakar semua benda kenangan akan istri dan anaknya seolah langsung hilang seketika. Namun belum sempat ia masuk, tiba-tiba seorang pria dewasa keluar dari kamar itu sambil terbatuk-batuk, “Uhuk! Uhuk!”
Mbah Radin terperanjat dan mundur selangkah. Ketika pria itu mendongak, Mbah Radin memperhatikan wajahnya. Bukan, ia bukan Parto. Lantas siapa? Alih-alih itu, rasa-rasanya Mbah Radin pernah melihat wajah itu dan rasa-rasanya pula ia pernah dekat dengan orang itu, tapi ia agak lupa. Diamatinya baik-baik wajah pria itu, tak cukup, diamatinya pula dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Sama seperti Mbah Radin, pria itu juga mengamati sosok kakek renta di hadapannya. Namun tak seperti lawannya yang lupa mengenai dirinya, ia justru malah merasa rindu dengan yang dipandanginya saat ini. Wajahnya memerah mengisyaratkan perasaannya saat ini.
“Pak, Pak’e saking pundi mawon?”(5) tanya pria itu dengan sedikit terbata.
Mbah Radin terkejut mendengar pria itu bicara. Terlebih lagi, ketika mendengar suaranya dan menyadari apa ucapannya. Dan ucapan tersebutlah yang akhirnya menyadarkan Mbah Radin siapa sosok di hadapannya saat ini yang memiliki wajah seperti itu dan memiliki suara seperti yang baru didengarnya.
“Mal … mal … Malik?” tanya Mbah Radin dengan tatapan tak percaya.
Pria itu terdiam. Ia hendak membuka mulut ketika tiba-tiba pintu depan menjeblak terbuka. Tampak Parto berjalan masuk sambil menarik sebuah koper dan menjinjing tas.
“Ini tasnya, Mas. Dan ini kunci mobilnya,” ujarnya sambil menyerahkan barang-barang yang dimaksud pada pria tersebut. Kemudian Parto menoleh pada Mbah Radin yang terpana menatap semuanya. Air muka Parto tak ubahnya dengan ekspresi di wajah Mbah Radin saat ini.
“Ini Mas Malik, Pak. Ia baru saja tiba. Tadi saya ingin memberitahu Bapak tapi Bapak tidak ada,” aku Parto. Suasana di hati dan benaknya saat ini membuat ia lupa berbicara dalam bahasa Jawa, bahasa yang menurutnya sangat sopan untuk digunakan dalam komunikasi dengan orang yang lebih tua. Parto memang bukan orang Jawa asli. Meski sudah bertahun-tahun hidup di lingkungan adat Jawa, ia masih agak belum terbiasa berbicara menggunakan bahasa Jawa. Kecuali dengan Mbah Radin, dalam setiap kesempatan ia lebih senang menggunakan bahasa Indonesia.
Kemudian Parto pamit ke belakang. Sepeninggal Parto, perhatian Mbah Radin kembali ke pria dihadapannya walau sebenarnya sejak tadi memang sudah seperti itu.
“Koe … koe … bener Malik?”(6) tanya Mbah Radin mencoba meyakinkan.
Malik berkacak pinggang. Sambil begitu ia balik bertanya, “La menurut Pak’e aku sinten?”(7)
Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Malik pun menggotong barang-barangnya ke dalam kamar yang nyaris selesai dibersihkannya. Debu-debu membuat ia terbatuk-batuk. Ia mengeluh dengan ketidakperhatian Parto dan Sukiyem akan kamar ini sehingga kini ia harus repot sebelum menempatinya.
Mbah Radin masih terpana. Namun sorot matanya juga tampak berbinar-binar. Sambil mengawasi Malik melanjutkan beberes kamar, ia kembali bertanya, “Koe … koe lah opo neng kene?”(8)
Sambil asyik bekerja, Malik menjawab, “Noto-noto kamar leh, Pak. Aku kalian Wuryan plus sak anak-anakku ajeng pindah meriki. Oh, ya ndek’e karo cah-cah lagek neng tetangga-tetangga. Sekedar silaturahmi singkat. Emange ora intuk nek aku tinggal teng meriki?”(9) Wuryan adalah istri Malik.
Mbah Radin masih termangu, tak menanggapi ucapan anak lelakinya barusan yang lebih cenderung meminta ijin itu. Hatinya masih tercengang. Semuanya sangat begitu tiba-tiba, membuat ia agak sulit memercayainya.
Malik mengulang pertanyaannya, “Emange ora intuk?”(10)
Mbah Radin terkesiap. Ia menatap Malik lekat-lekat, “Tapi kenopo?”(11)
Malik menghela napas. Kemudian ia menjelaskan, bahwa perusahaan tempat ia bekerja baru saja membuka cabang di kota di mana saat ini ia sedang berada. Dan ia pun ditunjuk oleh pimpinannya untuk pindah ke kantor cabang tersebut. Sebenarnya latar belakang penunjukkan tersebut bukan semata-mata karena pemindahan tugas biasa namun diselipi semacam “pengkhususan”. Perusahaan tempat Malik bekerja adalah perusahaan keluarga dan pimpinannya yang sedang menjabat saat ini rupanya adalah teman lama suami Tesa. Atas bujukan Tesa –sebenarnya secara tepatnya bukan, melainkan berkat kesepakatan ketujuh anak Mbah Radin. Namun kemudian Tesa lah yang lebih beraksi- akhirnya suami Tesa setuju untuk membujuk temannya tersebut untuk memindah tugaskan Malik. Tentu suami Tesa tak menceritakan alasan sesungguhnya, namun untunglah ia pandai mengarang sebuah alasan yang logis dan masuk akal sehingga akhirnya temannya tersebut mau mengerti.
Kemudian Malik pun juga menjelaskan kesepakatan apakah yang dicapai ia dan keenam saudaranya. Dan Mbah Radin tampak tak percaya mendengar itu semua.
“Dadi …?”(12) ucapan Mbah Radin menggantung.
“Jadi selama ini tidak ada ceritanya bahwa anak-anak Pak’e tidak mencintai Pak’e. Kami semua, ketujuh buah hati Pak’e tetap menyayangi Pak’e. Selama ini kami diam karena ingin menyadarkan Pak’e. Bukankah Bu’e(13) juga berpesan sebelum wafat bahwa Pak’e hanya dapat menerima cinta dari anak-anak Pak’e setelah Bu’e tiada? Lalu atas prakarsa Tesa yang sudah paling tidak tahan melihat kesendirian Pak’e akhirnya kami semua pun berunding. Untunglah kemudian ternyata perusahaanku membuka cabang baru. Hal ini segera kami manfaatkan. Dan akhirnya diputuskan aku untuk kembali menemani Pak’e menghabiskan hari tua,”
Mbah Radin tercenung tanpa kata-kata mendengar penjelasan panjang lebar anak lelakinya. Dari tatapan matanya, tampak bahwa ia masih sulit percaya atas semua ini.
Malik menghela napas. Kemudian ia kembali berkata, “Kalau Pak’e masih belum percaya, baca saja surat di atas meja itu. Surat itu dari Mbak Tina, Mbak Tika dan Mas Wanu.”
Mbah Radin menoleh ke arah yang ditunjukkan Malik. Dengan tertatih-tatih dihampirinya dan diraihnya lipatan kertas yang dimaksudkan. Sesaat kemudian, ia tak kuasa menahan air mata demi membaca surat itu.
Seolah turut merasakan perasaan ayahnya saat ini, Malik berujar dengan lirih. Ucapannya mengisyaratkan seakan ia telah tahu isi surat itu.
“Mereka bertiga akan menjenguk Pak’e bulan depan karena saat ini mereka sedang menempuh ujian akhir. Kalau Tesa minggu depan, nunggu suaminya mendapat cuti. Mbak Fiya sama Mas Andik tidak bisa akhir-akhir ini karena harus menunggu masa liburan,” terangnya.
Mbah Radin terdiam. Butir-butir air mata terus bergulir di pipinya. Dipandanginya Malik lekat-lekat. Tanpa sadar, dijatuhkannya surat yang baru dibacanya dan kemudian, ia langsung menghambur ke pelukan anak lelaki tersebut. Didekapnya tubuh buah hatinya itu yang kini lebih jangkung darinya dengan erat seolah takut akan kehilangan lagi. Suasana hati Mbah Radin bercampur aduk antara gembira dan sedih. Gembira karena mendapatkan kembali anak-anaknya, sedih bagai tersayat-sayat jika mengingat kembali niat buruk yang beberapa saat lalu baru saja ingin dilaksanakannya namun kemudian terbatalkan oleh kejutan dari buah hatinya.
Malik membiarkan tubuhnya teremas oleh pelukan ayahnya. Ia tak peduli bajunya basah oleh air mata ayahnya tersebut. Karena air mata itu saat ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penghapus kerinduan yang amat mendalam. Bahkan tanpa sadar, mata Malik pun ikut panas dan kemudian, satu per satu butir-butir air matanya mengucur membasahi rambut ayahnya.
Tak ada satu pun yang mengganggu ayah beranak tersebut saling melepas rindu.
Kosakata dan Kalimat
1 Sudah, Pak. Tidak ada lagi
2 Aku sudah memutuskan tidak jadi menikah dengan wanita itu, Tes
3 Panggilan untuk Bapak (Bahasa Jawa)
4 Oh, jadi itu sebabnya dukun beranak (semacam makian “sialan”) itu tadi keluar dengan menangis? Baguslah kalau begitu. Aku ke sini cuma ingin mengambil bukuku yang tertinggal. Jadi Bapak jangan berharap lebih.
5 Bapak … bapak dari mana saja?
6 Kamu … kamu … benar Malik?
7 La menurut Bapak aku siapa?
8 Kamu … kamu … sedang apa di sini?
9 Menata kamar lah, Pak. Aku dan Wuryan plus semua anak-anakku akan pindah ke sini. Oh, ya dia dan anak-anak lagi ke tetangga-tetangga. Sekadar silaturahmi singkat. Memangnya tidak boleh kalau aku tinggal di sini?
10 Memangnya tidak boleh?
11 Tapi kenapa?
12 Jadi …
13 Panggilan untuk Ibu (Bahasa Jawa)
maaf yaa…komentar dikit
penggunaan bahasa jawanya tanggung..
antara jawa halus sama ngoko kok dicampur
Judulny lmyan menarik,tetapi krng greget ja shngg nampak polos bgt ceritany.Apalg bgian crita yg mo mndkti ending,ksanny trllu ju2r n krng mengena.Dibuat secret dkit biar pmbc smkn pnsaran di bgian endingny…