KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Manik-Manik Epik

Aku membentangkan tanganku. Helaan napasku keras, mengusik seekor lebah yang hendak menghisap sari bunga jarum yang menyulur di depan hidungku. Ketika butiran embun menyeruak di sela dedaunan, menyombongkan diri dengan gemerlap titik air yang tersapa matahari seakan berkata bahwa akulah sang bening tak berdosa itu. Kupu-kupu beterbangan anggun namun riang, memamerkan karya indah dan kegembiraan, seolah-olah berteriak akulah makhluk Tuhan yang paling berbahagia. Selalu menghirup wangi bunga walau kelak aku mati di tangan seekor pemangsa, aku tetap bahagia dengan sayap-sayap bertabur serbuk sari bunga pujaanku. Pacet-pacet, hewan penghisap darah, bergerak lamban namun pasti menuju kakiku yang bertumpu lemah di bumi ini. Mengisyaratkan kerja keras dengan kelicikan. Parasit. Pacet-pacet itu tetap angkuh, meninggalkan gatal yang tak terperi sebagai pertanda bahwa ia pernah hinggap di tempat itu. Di tempat di mana ia bekerja keras memuaskan dahaga untuk bertahan hidup.

Embun menyindirku. Kupu-kupu mengejekku. Pacet-pacet menghakimiku. Aku terhukum. Kusongsong lemah lembah ini. Kuamati air payau yang hijau kecokelatan di hadapku, perlahan semakin kabur akibat riak air dari telaga mataku. Kaburku membawaku pada penyelaman masa itu.

***

“Kita tidak bisa pindah…”

Kucermati wajah keras Ayahku yang semakin tua. Rambutnya kumal tak terawat. Suaranya tenang dan berat akibat rokok yang belakang harus kukutuki kehadirannya. Tak terpancar keindahan dalam suara itu, walau lembut menyapa telingaku. Keindahan seperti apa? Suatu hal yang tidak bisa kujelaskan kala itu.

Mataku bertanya kenapa. Ayah menggeleng enggan. Tapi tak lama ia menjawab ringan.

“Sadapan Ayah banyak, Pik. Kalaulah kita pindah percuma. Bagaimana dengan ladang Ayah? Pohon karet kita? Apa kamu mau meninggalkan rumah dan kolam payaumu itu?”

Kolam payaumu itu. Aku suka kata-kata itu. Aku senang sekali mendengar pemutusan kepemilikan payau yang sedari dulu kukumandangkan bahwa akulah pemilik payau itu, akulah penjaga payau itu, kepada Cene, abangku dan Epik, kakakku. Aku mengangguk rapuh. Tak ada niat memperpanjang percakapan. Kutatap wajah lelah ibuku yang dari tadi sibuk mendiamkan Epik yang kini tertidur pulas di pangkuan ibu.

Aku beringsut dari ruang tengah. Ibu sedari tadi hanya diam. Ayah tidak memperhatikanku beranjak. Ia mengepulkan asap dari rongga mulutnya. Aku tahu beliau sedang bingung. Bingung kenapa? Entahlah, aku tak ingin tahu.

“Masuk saja, Supik,” pinta abangku saat matanya menangkapku tertegun melihat kesibukannya.

“Abang jadi pergi?” tanyaku mendekat.

“Iya, Pik. Abang harus pergi ke dusun. Abang sudah disuruh Uwak Kadir kemarin, Pik.” Aku menghela napas kehilangan. Murungku terendus oleh Cene.

“Abang tidak lama pergi, Supik. Tapi Supik harus jaga Epik ya? Kalau Abang kembali kesini, Abang mau ajak Supik dan Epik belanja di pasar malam.”

Aku tersenyum. Tapi aku cuma tak ingin Cene pergi. Aku ingin Cene bersamaku, bersama Epik, tetap di kampungku yang sepi ini. Bermain rakit lagi di payauku. Hanya aku tak kuasa mencegahnya. Aku merasakan ketegaran memancar dari aura hatinya.

***

Aku menampar muka itu. Kulihat seringainya berhenti. Ia menatapku sejenak sebelum kemudian berteriak-teriak kalap. Mengadu pada orangtuanya. Dasar cengeng! geramku. Tapi dengan langkah-langkah panjang, kutarik lengan Epik meninggalkan lapangan bermain anak-anak di kampungku ini. Epik memberontak. Aku maklum, ia masih ingin bermain. Ia masih ingin melompat mengejar semut-semut hitam di tengah keseruan kami bermain pecah piring. Namun aku tetap memaksanya meninggalkan teman-temanku yang memandang iba tapi tak sampai hati untuk membiarkan kami berbaur bermain bersama mereka.

Epik menggigit tanganku. Ia berteriak-teriak parau. Tangannya meninju setiap bagian tubuhku yang bisa digapainya. Aku tidak peduli. Setengah menyeret, ia kubawa pulang ke rumah, kembali ke kanopi hutan yang mengintai rumah panggung kami. Memagari kami dalam keterasingan.

Aku memberinya minum. Epik menolak, tangannya menyapu gelas di lenganku. Gelas terlempar ke luar jendela. Tidak pecah karena gelas plastik. Ia meracau tak jelas membuatku pusing.

“DIAM, AYUK*!!” Epik kaget mendengar suaraku.

“K-kauu,” tunjuknya mengapung. Lalu ia terguling-guling, menangis sejadi-jadinya. Tak ada yang terganggu sebab Ayah dan Ibu belum pulang dari ladang. Ah, aku rindu Cene.

”Diamlah Ayuk,” bujukku lembut. Aku mengelus rambut kakakku dengan rasa sayang. Epik akhirnya mengerti. Mungkin ia dapat merasakan luapan rasa cinta yang terekspresikan lewat belaian tanganku. Ia berhenti meronta. Giliran aku yang terisak pelan-pelan. Aku mengaku. Aku tertekan. Aku rindu Cene. Epik takkan mengerti itu. Cene pulanglah!

Aku tinggalkan Epik yang terbaring kelelahan. Aku terduduk di depan pintu. Aku melamun.

***

Aku melihat Supik yang sedang termangu. Mungkin itu karena aku. Tapi mengapa Supik selalu jahat kepadaku? Mengapa Supik tak ingin melihatku bermain dengan kawan-kawannya? Aku tak tahu.

Aku ingin keluar sebentar. Aku ingin memetik bunga untuk Supik. Oh, iya, aku ingat bunga kesukaan Supik. Aku ingin mengambilkannya untuk Supik. Wah, apa itu? Oh iya, Supik pernah bilang kalau hewan itu adalah kupu-kupu. Apa dia juga suka bunga Supik?

Aku tidak mengerti mengapa tanganku bergetar tidak karuan? Ah, bunga Supik sudah hancur di tanganku. Aku tidak mungkin membawakan bunga hancur ini pada Supikk. Nanti ia akan lebih sedih lagi. Aku ambil kupu-kupu ini sajalah, warnanya cantik mirip Supik. Ayo! Aku ingin menangkapnya! Tangkap. Ah, luput. Tangkap! Hampir dapat. Kali ini dia tidak boleh lolos. Sebentar lagi Supik! Hup!

“AAAAHHH!!”

***

“Tidak!” Aku meremas keras sapu tanganku. Apa ini yang dilakukan Epik sebelum ia meninggalkanku? Aku seperti melihat kembali sosok kecilku berlari kencang k earah teriakan Epik. Sistem syarafku berdiri awas. Aku menuruni lembah dengan kecepatan yang tidak pernah kubayangkan. Tubuhku tersayat tumbuhan putri malu yang tersebar di setiap semak.

Tangan Epik menegang. Ia berhasil menangkap kupu-kupu itu. Ia berhasil mencabut bunga Anggrek hutan yang mengumpul di dahan pohon. Ia berhasil memperlihatkannya padaku. Tapi kemudian aku tak melihat gigi tidak beraturnya. Aku tak melihat muka lonjongnya. Aku tak melihat mulutnya yang membulat dan kadang-kadang mengeluarkan liur tanpa ia sadari. Hanya tanganya terancung di permukaan payau.

Epik terbujur kaku. Mataku menerawang jauh. Rohku sejenak melambung tak terarah. Aku salah dan kalah. Cene, aku gagal menjaga Epik. Gagal merawat Epik yang serba kekurangan. Gagal menjaga kakakku yang seorang tunagrahita.

Aku benci payau ini! Aku benci lembah ini! Aku benci Ayah yang mempersoalkan keberadaan Epik yang tidak sempurna hingga tak rela pindah dari kampungku hanya untuk menghindari malu punya anak seperti Epik! Tapi, aku, aku sangat sayang Epik. Tahukah kamu Epik, aku tak ingin seorang pun menghina tingkah lakumu, tak seorang pun. Aku mau melakukan apa saja untuk membela kamu Epik. Aku tak butuh ucapan terimakasihmu. Aku hanya tak ingin kamu pergi Epik. Cene akan marah padaku. Tolong aku Epik!

***

Aku menaburkan bunga Anggrek hutan di payau ini. Tepat ulang tahun Epik yang ketigapuluh. Aku memang tak sebening embun, tak seceria kupu-kupu dan tak seangkuh pacet yang dapat melupakan sebuah jejak dalam cerita hidupnya. Tapi aku tetap terhukum. Mewarisi kisah bagai manik-manik yang tersendat dalam tenggorokanku. Kisah Epik yang tak pernah pudar dari memoriku dan aku pun tak pernah mencoba menghapusnya.

“Sudahlah Supik, sudah petang, ayo kita pulang. Aku sudah tidak pandai menghadapi babi hutan.” Cene merangkul pundakku.

*panggilan kakak pada masyarakat Jambi.

Tinggalkan Komentar