Aku Malang, Ibuku Jalang, Bapakku Jahanam Bukan Kepalang
Desember 30th, 2008 by Rien Al Anshari
Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Kami mencari tempat terhangat, sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. Kalau kami tak bernyawa, mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Aku juga masih ingat, sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia, mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Entah yang mana ibuku, aku belum tahu.
Saat ini, aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. Membentuk sel baru yang menyatu. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Aku makan dengan rakus. Aku minum karena selalu haus. Aku ingin cepat mempunyai muka, kaki, tangan, untuk mengelus, menendang bahkan menerajang. Bukan aku tak sayang. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang.
Tidak tahukah Ibu, bahwa aku begitu bangga. Aku juara. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Tidak tahukah Ibu, walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum, aku sudah tertawa, penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Lelahku akhirnya terbalas juga. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta.
xxxxx
Malam pertama bersama Ibu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Ia seperti menunggu. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Pintu diketuk. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul, muncul. Dia bukan Bapak. Aku tahu persis siapa Bapak. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Bapakku tampan. Wajahnya rupawan. Ia mempesona setiap perempuan. Bukan seperti lelaki yang datang ini, perawakannya tak beraturan. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Tapi, tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Ada apa dengan Ibu? Ibu, dia bukan Bapakku. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku.
Aku lemas. Tapi, laki-laki itu semakin panas. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Bagian tubuh itu, persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Bapak bereaksi. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Penuh ketegangan. Kami menunggu dalam deru erangan, yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda, seperti bendera yang turun di arena balapan, kami berkebut-kebutan.
Aku menunduk malu. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Lalu, tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Mereka tidak berlarian, seperti aku, di dalam liang hangat, tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat, mencuat, menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat.
xxxxx
Aku ingin bertemu Bapak. Malam ini, malam keduaku bersama Ibu. Ibu kembali menunggu. Apakah kali ini lagi-lagi lelaki buncit yang memberi malu, atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu.
Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas, megah dan nyaman. Ia sendirian. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Ia ditemani segelas minuman. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Ibu menenggaknya. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Minuman itu memabukkan. Oh Ibu, kali ini dia membuatku mabuk. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Dunia tempat Ibu berpijak, berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Aku gemetar. Tapi aku tak gentar. Aku ingin tetap terjaga. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja, sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya.
Masih, yang datang lagi-lagi lelaki. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Apakah ia Bapak? Bukan. Sudah kukatakan, Bapakku memang tampan dan rupawan, ia mampu memikat perempuan. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Bercanda. Lantas tertawa-tawa. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Lalu berbaring dan membuka baju. Bajunya. Dan baju Ibu.
Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Suara desah Ibu terpecah melengking. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening.
Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku, akhirnya keluar. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu, dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Ini tempatku. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku sudah tiba lebih dulu. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu.
xxxxx
Dan aku masih menunggu. Menunggu Bapakku. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Ibu bertemu laki-laki. Ibu tidur dengan laki-laki. Ibu mencampuri laki-laki. Ibu bercinta dengan laki-laki. Kemudian mereka datang dan pergi, silih berganti. Lompat-lompatan. Desah-desahan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan, bukan lagi keanehan. Tapi, lompat-lompatan, gerakan jumpalitan, hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan, tidak Ibu lalui bersama Bapak.
Dan hari ini, hari ketujuh bersama Ibu. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Luar biasa sempurna. Luar biasa menggoda. Luar biasa bercinta. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Aku putus asa pada sikapnya. Dan aku menerjang. Walau tak punya kaki tangan aku menendang, membuat Ibu mabuk kepayang. Aku ingin Ibu sadar. Aku ingin Ibu dengar. Aku ingin Ibu gentar, bahwa aku ada. Aku nyata. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa.
Ibu meraung. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Aku tak urung. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. Ibu tersandar. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Wajahnya panik. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Ibuku mengamat-amati benda itu. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Ia diam. Menunggu dalam bimbang. Ia berdiri. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Ia meliriknya. Dengan bola mata yang terbuka lebar, nanar, ia memaki.
“Bangsat!
xxxxx
Aku semakin besar kini. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan, ari-ari kembaran. Aku sudah memiliki tangan dan kaki, walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Aku tetap makan. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Aku tetap minum. Tapi tak lagi minum dengan harap. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Dan Ibu bukan lagi sadar, tapi juga akan membesar.
Aku seperti tak berhenti meratapi diri, sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Aku memang tolol dan dungu. Itu semua karena Ibu.
“Hey Jabang Bayi, berhentilah kau berharap. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap.”
“Masa bodoh dengan dunia di luar sana, Ari-ari. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Aku disuruh lari, aku lari. Teman-teman berkejar-kejaran, aku ikutan. Mereka balapan, aku memimpin di depan, hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Perempuan yang tak berperasaan.”
“Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Dunia kehidupan yang berbeda, kata mereka.”
“Aku benci Ibu.”
“Ibumu pelacur.”
“Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur.”
Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu.
xxxxx
Malam ini ia kembali menunggu. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Dia memang selalu seperti itu. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu.
Malam ini, Ibuku tak cantik. Tak seperti biasa, ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Ia tak memakai bawahan, hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Dan dari dalam sini, bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Kakinya bertekuk dan ia peluk.
Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Ia tampan dan rupawan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Dan ia Bapakku.
“Ari-ari, lihat siapa yang datang. Itu Bapakku. Bapak kita.”
“Tenanglah, Jabang Bayi bodoh.”
“Aku takkan bisa tenang, Ari-ari. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada.”
“Diamlah, kau Jabang Bayi tolol. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia tetap akan diam, dan diam saja.”
“Kenapa ia takkan memberi tahunya, Ari-ari. Lelaki itu Bapak kita. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia.”
“Karena Ibumu jalang, makhluk malang. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka.”
Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu, seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Ia diam seribu bahasa. Ibu pun diam. Mereka tak saling berteguran. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Ibu masih tak membuat gerakan. Sesaat kemudian ia menoleh, Ibu dan menghujaninya dengan tamparan.
Aku tersekat. Ibuku tetap diam. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Bapakku semakin membabi buta. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ibu masih tak melawan. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang, Ibu terkesan pasrah dan melemah. Bapakku memaki. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan.
Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Hinanya aku. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat, ia menamparnya. Bapak tidak memeluk Ibu dalam dekap, ia mencekiknya. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa, ia memakinya. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Ibuku benar-benar perempuan binal. Ia pelacur profesional. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya, dan kini melebur dalam tubuh pelacur, tubuh Ibu, menjadi zygot, menjadi embrio, menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala.
Argh! Aku penat. Ibuku perempuan laknat. Bapakku lelaki bangsat.
xxxxx
“Aku seakan tak punya harapan hidup, Ari-ari.”
“Bodohnya kau, Jabang Bayi. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?”
“Percuma saja, Ari-ari. Ibu Bapak tak menginginkanku.”
“Persetan dengan mereka. Kau tetap berhak melihat dunia.”
Aku terdiam sejenak. Ari-ari kembaranku benar. Aku tak mau mati di sini. Aku sudah hidup dan bernyawa. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita, di lantai, di kasur, lalu dibuang sia-sia. Aku sudah menjadi setengah manusia, dan aku memiliki hak seperti para manusia, karena aku sudah menjadi bagian dari mereka.
“Ari-ari, apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?”
“Maaf Jabang Bayi, aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?”
“Kenapa, Ari-ari? Kenapa?”
Belum sempat ari-ariku menjawab, aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Aku bergerak, meronta, melawan, menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Mataku terbuka lebar, nanar, persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Tanpa sadar aku terisak, dalam tangisan yang rasanya sesak. Ari-ari dan aku saling berpegangan, saling berpelukan. Dan ini adalah perpisahan.
Wahai Ibu, teganya kau padaku. Aku darah. Aku dagingmu. Aku bagian tubuhmu. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia.
Aku sudah tak mampu lagi meronta. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Aku malang. Ibuku jalang. Bapakku jahanam bukan kepalang.
“Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu, Ibu, kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja, dunia menggerus ingatanmu. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Aku manusia, Ibu. Walau setengah manusia. Aku berhak hidup dan melihat dunia, walau ia fana.”
Dan aku lemas, tak lagi bernafas. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki, yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu.
Pontianak, 17 December 2008: 03.05 a.m.
Untuk sperma, zygot, embrio, setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia
aku suka…. suka banget…
hem…keren…baguzzzz…
wah bgs bgt,bgs buat pelajaran pra cewe muda jaman skrg
Ms.X terus berkarya y
aku pernah baca ini di k.com
memang bagus non.
deskripsinya juga ok
temanya juga kena
ending oklah
kekurangannya kata rey
mngkin deskripsi kamu di awal terlalu panjang dan buat (sebagian) orang bosan. andaikan kamu bisa mempersempit atau memperluasnya dengan bahasa yang lebih enak di tata lagi.
sisanya saya suka!
bersemangat
kerennnn!
kereennn!
bagus,, slain memberikan cerita,
ternyata penulis juga memberikn sisi edukatif d dlmny,,
terus berkarya..
apikkk,,sipz!
Cerdas
ku pnh bc di k.com dan ceritanya emang menarik perhatian bgt, rugi deh klo g baca.edukatif bgt…sukses selalu y
menakjubkan!
setting dan sudut pandang yg dipakai dalam cerita ini benar-benar disajikan dgn tepat, well-executed!
saya suka penuturannya yg menggunakan gaya bahasa yang ber-rima dan saya suka reaksi sang ibu saat melihat alat tes kehamilan dan berteriak “bangsat!”, reaksi yang cukup mewakili suatu ironi sekaligus tamparan yg kuat.
it’s great!
dan bukti yg menunjukkan bahwa anda seorang penulis perempuan (Ms. X) membuat cerpen ini menjadi: it’s really really great!!!
Ms.X Karyamu Bner2 Masuk Dlm Jiwaku…
keren abis dah…….two thumbs up deh…tambah jempol kaki juga boleh……salut
Ms.X
Tiap Aku Buka Kolomkita dot Com, Aku Ngerasa Ada Yg Hilang Jk Aku Gk Baca Karyamu Ini…
Udah Berkali2, Ampe Hafal Aku…
Hehehe…
Salut Banget Buat Km
Cerpen yang qreen
Penulisnya pasti hebat. Ia mampu memberikan pencerahan bagi kita semua, khususnya wanita.
Teruslah berkarya………!!!!
Subhanallah… aq suka dgn critanya. mga dibaca juga oleh sosok ibu yg seperti dalam cerita agar ia tahu betapa ingin anaknya menatap dunia dan memeluknya…
Saya suka banget sama cerpen kamu - bener-bener menghayatinya.
keren…
keren banged….
It’s perfect
sebagai laki2 saya juga merasakan ^^
dan juga (demi Tuhan) ini sangat menyentuh hati
My “Lovely” Rien…U’re the best i’ve…thx 4 this story…!!
Kau Berhasil Membuatku MERINDING dan meludahi kebodohanku..dan ingin ku sampaikan bahwa “lelaki jahanam” itu akan menyesali perbuatannya di antara SURGA dan NERAKA…!! Dan aku akan mengirimi cerita “mengharu biruku” yg mengHARGAI setiap tumpahan spermanya utk memeluk indung telurku!! Thx Rien!! U Rock my World!!
oia..hampir lupa Rien…
Cintai Ur “bebe” hingga waktu berhenti…krn hanya dia yg mencintaimu dengan CINTA YG DEWASA…”dia membutuhkanmu karena dia mencintaimu”…..hati2 di ranah org y Rien..i’ll be missing u, sistah!! Merindukan kepulan2 dari kumpulan tembakau pilihan kita!!!
love u, Rien!!!
wow….
bagus banget ceritanya..
aku sampai keluar air mata..
hiks….
sumpah. . . bojeg bgt ni cerpen.
gw suka ama endingnya. . .
moga” aja ada wanita tuna susila yang baca ini semua dan jadiin pelajaran yg berharga
aq tahu kamu siapa..
aq tahu mau kamu apa..
tapi yang tidak aku tahu bahwa terlalu banyak getir di luar sana..
rasanya aku tak pantas di sebut manusia..
Jika aku tak berkomentar..
setelah otakku terasa berputar-putar..
Aku mau teriakkan..
Ayo kita Lanjutkan !!
keren,bikin merinding
WaHHH…… CeRiTaNyA MeNyEnTuH HaTi bGt.cErItA NeH CoCoK BgT bWt pArA ABG SeKaRaNg…………
thanks for all your comment on my short story
setidaknya gue ngerasa buah pikiran gue ngga sia-sia. hhehehehehe…
visit my friendster and facebook on : kinwiys@gmail.com
Ms. X - Rien Al Anshari
udah pasang di kolom seni kompas belum???
pantas bgt lho….
cerdass
weiss..
keren x..
judulnya aja
udah m’mukau..
tak pelak, isinya apalagi..
menyayat hati, mengoyak jiwa..
bagai b’pantun..
sambung-menyambung
menjadi satu, itulah Indonesia.. ^ o ^
eh, itulah karyamu..Ms. X (he2..apanya XYZ nih?)
KEREN NIH, di bagian ini:
“Tidak tahukah Ibu, bahwa aku begitu bangga. Aku juara. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Tidak tahukah Ibu, walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum, aku sudah tertawa, penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Lelahku akhirnya terbalas juga. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta.”
jadi mungkin seperti inilah dulu perasaanku, perasaanmu, perasaan..
kita semua - Jabang Bayi yang telah menjadi manusia..
haru menyeruak memenuhi alam sadarku..
terimakasih buat Ibuku yang..
menginginkan kehadiranku
namun tak akan pernah
bisa ada disampingku
tidurlah dgn tenang
di duniamu, yang
kelak jg m’jadi
duniaku dan
dunia kita
semua..
terimakasih buat Ms. X
yang mampu meng-obok2 hati & jiwaku..
permainan kata-katamu amat sungguh mengharu-biruku..
mempesonakan aku, selaluuuuuuuuuuuuuuuuu..
hanya kamu yang bisaaaaaaaa..
m’buat aku jadi..
t’gila-gila..
(loh, koq jd nyanyi lagunya TIKET ini?)
keren………………….
inspiratif!
Keren bgt sumpah…
Ceritanya seru dan inspiratif meskipun di awal ngerasa agak aneh ceritanya di luar logika tapi gue salut ceritanya punya pesan dan amanat buat para perempuan yang pernah hamil di luar nikah.(^;^)
Cerita ini seakan membawa pd suatu dunia yg ga prnh qta tw,..
Muanthabz n kuereunzz,..
Tp knp ga ada malaikat yg niupin ke si jabang bayi tentang JODOH, REZEKI N’ MATI,…???
Hehehe,…
Thx,..
aku benar … 2 kagummmmmmmmmmmm
Haaaahh…… luar biasa…
“menyentuh.. mengharu.. menampar.. merinding..”
“bersyukur.. berilmu.. bertobat.. bertarung..”
nb:
Betapa besarny harapan seorang jabang bayi ingin masuk ke dalam dunia ini. Untuk semua kaum wanita & pria, yang pernah atau mau.. mengugurkan. Pleasee… “give them a change”
EXCELLENT’
angki_kie@yahoo.com
Bner dech gue suka bgt dalem nich…
jangan sampe gue nglakuin kaya gitu dech
amit jabang bayi…..amienn
hebat berjuta kalimat satut aku persembahkan buat penulis, kayamu karangan tapi nyata dan sangat mendidik dan nmenyadarkan tentang siapa diri kita, jadi kawan2ku yang baca jangan pernah dirimu mesrasa kalahh atau merasa tidak berguna! karena sesungguhnya kita yang ada di dunia ini adalah sang juara. klalu dulu kita bisa jadi juara dari jutaan sperma yang bersama sama kita kenapa sekarang kita tidak bisa jadi juara? buktikanm kehebatanmu kawanku. buat penulis kami tunggu cerpen2 yang lebiuh menggetarkan jiwa dan raga pembacanya.
maaaaaaaaaaaaaaantab
Keren Habissssss. harusnya dibaca oleh ibu2 yang berprofesi seperti cerita ini.
sumpah.. bagussss bgt..
likes this so much
ceritanya sangat menarik dan penuh makna yang sangat dalam!!!
good luck
Setelah saya membaca cerpen anda saya hanya mampu berkata biasa dan sangat tidak menarik. Mengapa saya katakan tidak menarika karena apa yang ertuang dan kisah sperma atau zygot itu selalu ada dalam setiap waktu, setiah meneit dan bahkan detik. Perjuangan sperma yang tersia-siakan.
Biasa dan tidak menarik karena hanya ada dalam sekelumit hati kecil manusia yang bersih karena pandangan yang tak akan masuk pada subjek yang masih merasa manusia karena diciptakan berbentuk manusia. Mereka lupa bahwa mereka adalah sperma yang mereka anggap hina.
Lagi-lagi biasa karena terlalu sering terjadi. Tidak menarik karena banyaknya orang yang tidak mementingkan ini.
Lucu…. sekali hati kita merintih tapi mengapa ini menjadi biasa dan tiada menarik. Lucu…. karena mengapa tidak membuat orang tertarik padahal kita terperangah.
Lalu bagaiman sesuatu yang biasa dan tidak menarik menjadi sesutatu yang mengesankan. Bukan hanya pengemasan yang apik, bukan pula karena mendapat juara. Bukan pula karena sudut pandang baru. Tapi adakah hati nurani pada pembaca. Jika kisah ini tidak mmenyadarkanmu, jika jika kisah ini tidak penting, jika kisah ini tidak menatik, jika aliran darahmu tidak mengalir lebih deras dan pompamu terpompa lebih kencang, jika, daan jika…. Niscaya hati nurani telah pergi meninggalkanmu.
cat : kirim lagi dong karyamu yang lain ke emailku, terimakasih sahabat……
keren bgt sumpah juara buat loo
EdukatiF!!! membuat kita berfikir tentang zman yang udah ga beres ini!!!