Akhir dari Perjuangan
Desember 30th, 2008 by elok teja suminar
Aku sudah bukan perawan sebelum engkau memperkosaku. Dunia yang tak beradab telah mengoyak selaput daraku dalam ranjang jaman yang semakin membusuk. Di mana televisi hanya menyiarkan berita kriminalitas dan film biru bukan lagi hal yang tabu. Seorang artis yang tak begitu dikenal terlibat affair dengan seorang bapak anggota dewan yang terhormat, hingga skandal sex mereka bermunculan di ponsel-ponsel, hingga anak kecil pun bisa menikmatinya.
Padahal dulu, aku benci dengan cerita-cerita seperti itu. Aku lebih menyukai kisah Gibran dan Salma, atau Khais dan Laila, atau Romeo danJuliet? Kisah cinta yang begitu dramatis dan menghujam hati siapapun yang mendengarnya. Cinta tanpa pretensi lain selain kesucian cinta itu sendiri.
Jijik bila mengenangnya, namun akhirnya menjadi biasa saja. Hingga aku betul-betul dengan keikhlasan membiarkanmu menikmati tubuhku, dan orgasme ini sungguh kekal dan nyata. Kita jadi sering melakukannya secara diam-diam. Di bawah purnama yang telanjang, di atas tumpukan sampah yang tak karuan warna dan baunya, bahkan di antara kegelisahan orang pada hidup yang makin cemarut. Aku dan engkau menikmatinya,
menikmati dengan seluruh cinta Adam pada Hawa.
“Suatu saat kita pasti menikah,” begitu bisikmu tiap kali mencumbuku.
Waktu yang terus saja melaju dan kita masih saja setia. Tak seorang pun tahu kisah ini. Kita menatanya begitu rapi dan hati-hati. Sedikit pun tak ada curiga. Di mata mereka, aku adalah gadis yang begitu manis dan tak mungin melakukan dosa, tak ada cela, perfect.
Hari itu kita bertemu, masih sembunyi-sembunyi dan tak seorang pun tahu. Warung kopi dan teh poci yang kelewat manisnya. Aku memandangmu, memandang guratan-guratan kasar di permukaan kulitmu yang kecoklatan. Engkau seorang pekerja keras, bahkan
kutemukan itu pada tiap hela nafasmu, begitu diburu.
“Aku hendak kabarkan sesuatu.”
Seseorang memesan kopi dan duduk pada seberang kursi, engkau masih sehening pagi.
“Adikku Intan akan menikah dengan kekasih yang sudah lama diimpikannnya, namun sesuai tradisi, mereka menungguku.”
Engkau menghela nafas dan membuang pandang ke jalanan, begitu ramai debu dan asap menyatu.
“Apa mungkin aku menikahimu ?”
Tanya itu begitu gamang dan aku menemukanmu begitu bimbang. Sadar, ini tak mudah untukmu, begitu rumitnya kisah ini, namun tak mungkin begitu saja berlalu
meninggalkannya atau memaksakan kebersamaan.
“Sebab, meminangmu tak cukup dengan keberanian saja.”
Begitu deru angin berlalu dan sepasang matamu menjadi kuyu.
“Tak kumiliki sesuatu yang berarti untuk meminangmu. Lantas aku harus apa dan bagaimana ?”
Tanya dengan nada sedikit memaksa itu akhirnya hanya menggantung, sementara jalanan semakin sesak, serupa yang menyesak dalam dadaku juga dadamu.
Pertemuan itu tak menuntaskan tanya dan kemelut yang memenuhi syaraf otakku yang semakin kusut. Aku tak menemukan sinar dimana aku bisa dengan tegak melangkah. Aku justru menimpakan begitu banyak kesulitan pada orang lain. Pada adikku Intan yang tak berdosa, pada Ibu yang polos dan tak mengerti apa-apa, padamu juga, Kekasihku. Bukankah ini juga karena aku? Andai aku tak kembali dan menyulut cintamu, kau tak
mungkin begitu utuh menyerahkan jiwamu. Sedangkan Bapak? Bapak sebenarnya juga tidak salah. Hanya saja, terkadang darah ksatrianya tak mampu menyentuh dada Sudra yang tulus dengan kepapaannya, sekalipun tangan mereka mengusap mesra telapak
kakinya. Tetap akan ada jarak, jarak yang tidak akan pernah dapat di seberangi, serupa ngarai yang dalam dan curam.
Usiaku sudah 27 tahun tak terasa, semalam Bapak mengatakan jika usiaku itu sudah cukup matang untuk membangun sebuah keluarga. Melahirkan dan merawat
anak-anak. Aku diam, tak ada komentar yang pantas aku lontarkan. Bapak begitu berwibawa, aku tak sanggup mengatakan sepatah katapun apa lagi menatap matanya,
bahkan juga tak sanggup menolak saat ia mengatakan rencana perjodohan. Seseorang bernama Bagus, dengan latar belakang dan masa depan yang baik.
“Gadis cerdas tidak akan menolaknya, dan tidak ada yang perlu Bapak cemaskan,” kata-kata Bapak itu begitu keras menghantam jantungku, hingga debarnya semakin tak menentu. Tak ada tawar menawar.
Di sepanjang malam itu aku tak merasakan apapun, bahkan dingin yang menusuk. Aku melangkahkan kaki, begitu bimbang tak menentu arah. Banyak wajah kujumpai, tak
satu pun dengan ekspresi, langit gelap, tak kulihat satu bintang pun dari ribuan yang ada, aku berhenti pada tikungan jalan yang sepi.
Bu, malam ini, Shira bermalam di luar, Ibu tak perlu cemas. Begitu pesan yang aku kirimkan pada Ibu, dan dengan seluruh keyakinan ia tidak akan mencurigaiku.
Tiba-tiba aku ingin menjumpaimu, menjumpai kekasihku yang setia dengan cinta dan harapannya, lantas aku membalikkan langkah sementara hujan mulai turun. Aku
terus berlari menapaki sisa malamku yang keruh dan rindu.
Di pintunya aku mengetuk begitu hati-hati, seolah aku tak ingin seorang pun mendengar kehadiranku selain kekasihku. Wajahnya muncul, seperti yang lalu-lalu,
teduh senyumnya mendekapku.
“ Zul, Bapak akan menikahkan aku dengan seseorang, seseorang dengan harapan dan masa depan yang baik,” perlahan aku menuturkannya. Di antara deras hujan dan
angin yang menghempaskan reranting. Aku tak berani menatap matanya, seperti yang selalu aku lakukan saat berbicara, namun aku tak mendengar apapun, hanya deru
nafasnya yang masih diburu.
“Zul, tidakkah engkau ingin melakukan apapun, saat kekasih yang engkau cintai dan begitu menjaga cintamu akan dinikahkan dengan laki-laki yang berbeda? Tidakkah engkau memegang kuat tangannya dan membawanya pergi sejauh-jauhnya menuju kebahagiaan yang sering kali dibisikkan saat mencumbu?”
Digenggamnya tanganku, matanya yang tajam begitu tenang seolah menentramkan jiwaku yang begitu letih.
“Shira, rebahkan seluruh kecemasan, letih dan kegalauamu itu pada takdir yang akan membawamu. Kau takkan sanggup untuk terus memikulnya, itu seolah olah terlalu dipaksakan. Saat ini aku ingin sekali menangis dan menyalahkan Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan selama ini? perjuangan macam apa? Ha…ha… tapi aku yakin, Tuhan pasti hanya akan mengejek dan menertawakanku. Aku telah memikirkannya Sayang, memikirkan segala hal yang mungkin. Shira, Bapakmu benar, ia telah tawarkan matahari dalam genggamannya, selayaknya engkau bahagia dengan keutuhanmu sebagai bakti seorang anak. Melangkahlah dan tak perlu lagi menoleh. Kupikir kenangan ini akan pulang ke dalam albumnya sendiri dan menjadi hal yang tak begitu penting saat engkau melewati kehidupanmu yang berbeda.” Suaranya kudengar menjadi gemuruh dalam deras hujan
dan malam yang pekat, tangannya semakin erat menggenggam, sementara jiwaku luruh menjadi serpihan-serpihan kecemasan yang panjang dan menusuk.
Aku tinggalkan kekasih hati, belahan jiwaku yang teduh. Menyeberangi malam dan derasnya hujan yang jadi begitu murung. Air mata yang tak henti menetes. Aku
tak tahu kemana arah harus melangkah, betul-betul aku merasakan kehilangan, bukan hanya pada keperawanan yang telah aku persembahkan, bahkan bayanganku
sendiri, aku tak lagi mampu temukan.
Bangkalan 2005-2006
Makanya klo pacaran jgn ngasih gitu aja apa yg pling brharga dlm hidup kita sebelum resmi menikah…!!!klo udah gni ya tanggung aja akibatnya!ga usah pke nyalahin Tuhan segala
toh udah jelas yang salah manusianya sendri!!!
ingat : “Tuhan gak Pernah salah dalam apapun!!!!!”
bnr kta Ary msa si minta ini ngasih aj sih mending jga tu kehormatan
Ceritanya bagus juga.
Harusnya ini menjadi pelajaran untuk kita, generasi muda Indonesia.
walaupun jaman telah berganti, perjodohan akan selalu ada
yeee santai donk mas….namanya juga crita..komennya ga usah dikasih tanda seru kenapa…
aduh kalo komentar jgn galak2 donk,,,,buat yg nulis crita ini,biar aja tu laki2 pergi,nanti akan terjadi karma nya pada laki2 itu..(pasti ada karma nya dan itu masih berlaku)…ok…tetap smangat cri jodoh yg terbaik yah…..
cerpennya bagus2…
cuma q mo coment design page nya ko mirip style misty milik wordpress.com ya?
ceritana baguz bgt
baguz tu bwt pelajaran kita
thanxz for aspirasi
kalo ada, buat lagi dunk, mengenai penghiyanatan cinta
ceritanya bagus, menarik, dan menyentuh. ini dapat dijadikan pelajaran bagi generasi muda agar tidak berpacaran “telalu jauh”
Crita dan alurnya bguz, and buat yg koment, kalo bza ga uzah ngejudge org lain, krna mgkn kita gak prnah ada dpozizi org itu n ga zpenuhnya bza ngerazain apa yg dialamin org itu, blum tentu kita bza ngelakuin yg lbih baik dgn jalan hdup org itu bila kita ada dpozizi yg zama, remember..life iz myztery, we never know what will happen tomorrow
ceritanya bagus…
buktinya pada kebawa emosi tuh yg baca, hehe…
he2..
setuju tuh Om Penyu..
penonton mana bole es-mosi..
cerita nya kan bisa darimana aja..
terserah ma sang “sutradara” donk..
di bagian ni seru loh..
“Andai aku tak kembali dan menyulut cintamu, kau tak
mungkin begitu utuh menyerahkan jiwamu”
ho2..ho..
daleeeeem..
^^
cerita yang bagus untuk pelajaran dalam berpacara…dan memang segala sesuatu pasti lah ada resiko nya, dan resiko itu perlu dipertanggung jawab kan…good story
Crta na bgz. . .Bz jd pljrn brhrga tok generazi mda ? Spya ntar klo pcrn. .Ngan ngelakuin apa yg shrz na g pantay kta lakuin ? Remember. .Hdp cma sekali,jd. .Ngan sia2 in hdq qmu yah !!!
Crta na bgz. . .Bz jd pljrn brhrga tok generazi mda ? Spya ntar klo pcrn. .Ngan ngelakuin apa yg shrz na g pantaz kta lakuin ? Remember. .Hdp cma sekali,jd. .Ngan sia2 in hdp qmu yah !!!
saya salut dengan anda tegar dalam kehancuran hidup anda
ni crita fiksi apa nyata sih????
kok pembacanya pada ngamuk-ngamuk semua?????
kalo penulisnya cuman ngarang siapa yang tau……..
Cinta menimbulkan kepedihan cinta menyembuhkan kepedihan dan cinta itu sendiri adalah kepedihan…….dimana ada cinta.kepedihan tak pernah jauh darinya cinta akan memenuhi hati kita menghancurkan hati kita dan menyembuhkan hati yang terluka
Jgn lupa add fs aq ya on van_good_now@live.com
it’s nice story……….. anyway jangan di masukin hati donk……..
he-eh..he-eh biasa aja bisa jadi kan ini cuma karangan aja tapi beneran nii kurang ajar banget tu cowok..ceweknya jadi kasihan kan cuman terlalu percaya kali yaa. he..he..
hey heey…,
kq jd pd CENGENG sii…???
crita’y CENGENG,yg bca ikutan CENGENG…