KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gerimis

Detik-detik itu aku tunggu. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Di sebuah acara televisi aku menunggunya. Ya, televisi yang menampilkan program berita. Karena biasanya ia selalu ada di sana. Prakiraan cuaca. Esok.

“Pembaca berita yang mengagumkan,” gumamku.

Mana mungkin tidak mengagumkan dan menawan. Sebagai seorang yang memilih profesi menjadi pembawa berita, ia dituntut untuk membuat orang yang mendengar, melihat, menangkap pembicaraannya itu dimengerti dan percaya dalam waktu relatif sangat singkat. Ha, penyihir kata-kata. Bahan yang disampaikan harus efisien dan efektif. Bukan hanya itu, sebuah berita yang diberikan harus memberi pengetahuan yang benar adanya, tertanam dalam benak penikmatnya. Pembawa berita yang cerdas. Pantas, aku sering tak mau pindah acara terlebih dari yang aku tunggu saat ini.

Musim hujan sudah berlangsung. Baru saja. Prakiraan cuaca besok sangat menentukan nasibku. Memang di negeri ini hanya ada dua musim. Hujan dan kemarau. Kemarau akan segera hadir. Petani yang butuh air untuk sawahnya mungkin berharap kemarau tidak berlangsung lama atau malahan kemarau tidak ada. Tapi itu rasanya tidak mungkin. Tuhan menciptakannya untuk keseimbangan dunia. Keseimbangan hidup. Hujan atau tidak. Semoga itu.

Hujan. Aku mengenalnya sudah lama. Lama sekali. Tiga puluh tahun yang lalu. Di saat hujan itu membanjiri sekujur tubuhku. Aku tak bisa menghindar lagi darinya, karena ketika itu berada di sawah lapang. Sawah yang sehabis merayakan salah satu ritualnya, panen padi. Banyak sekali jerami yang bertumpuk-tumpuk, melingkar di setiap kotakkan sawah. Setiap kotakkan ada dua sampai lima tumpukkan jerami, tergantung luas kotakkannya. Saat itulah anak-anak seperti diriku sangat menikmati permainan di atas atau dengan jerami.

Perkelahian ala gladiator dilakonkan, tentu bukan duel serius, hanya permainan saja. Tapi tak jarang juga ada yang berdarah-darah, selanjutnya setelah selesai saling bersalam-salaman dan merangkul satu sama lain dilakukan. Sungguh sangat terbiasa jika sesudah pertempuran ini ada juga yang kemudian menimbulkan permusuhan. Tapi itu takkan berlangsung lama, entah karena apa, yang jelas jari manis dari masing-masing yang berselisih itu saling mencantolkan. Dan kemudian bersama-sama lagi, bermain.

Bosan dengan permainan ini aku dan kawan-kawan lainnya pun meneruskannya dengan perang-perangan, orang-orang yang ada dibagi dua kelompok. Pertempuran difokuskan di satu kotakkan sawah saja yang disetujui kedua kelompok. Masing-masing kelompok memilih seorang untuk menjadi kapten sebagai pengatur serangan. Jarak pertempuran kira-kira sepuluh meter. Senjata dibuat dari pangkal jerami yang diarahkan ke tubuh musuh dengan aturan di bawah leher kebawah dengan cara dilemparkan dengan tangan menyerupai panah. Saat itulah hujan turun, cukup lebat. Pakaian yang dikenakan menjadi basah kuyup. Kami tak begitu saja menghentikan permainan, bahkan kami terus melanjutkannya. Menikmati sampai tubuh tidak kuat lagi menahan kedinginan. Gatal-gatal di badan rasanya sudah tidak lagi dihiraukan.

Semenjak itulah setiap permainan yang dilakukan rasanya dengan hujan semakin menarik, semakin menantang dan penuh semangat. Tak ada menang atau kalah, walau kadang menang ingin selalu kucapai. Kemenangan dan kekalahan memang menjadi bahan obrolan yang menarik dari suatu kebanggaan maupun ejekkan. Kendatipun semua itu hanya sementara. Untukku lebih dari itu, persahabatan, kesenangan, kebebasan, kebersamaan dan keceriaan itu yang ingin kunikmati, meskipun apa yang dirasakan belum cukup untuk dimengerti, mungkin juga sama seperti anak-anak lainnya. Pada kanak-kanak dulu aku menemukan hidup. Tidak ada rasa beban, atau masalah yang ruwet. Sejam dua jam-sehari dua hari selesai.

Setiap ada turun hujan, gejolak jantung yang berdetak menyuruhku untuk menikmatinya, berhujan. Air langit yang tak pernah habis ini terus menusuk-nusuk rambut di kepala, ubun-ubun, pundak sampai meresap ke dalam kulit seluruh bagian tubuhku. Bulu kuduk berdiri, pori-pori kulit melebar bebas. Merinding tak tertahan menyerang tubuhku yang semakin kaku. Namun dengan itulah aku menikmatinya yang kemudian muncul sebuah kehangatan, menyatu dengan darah-darah yang mengaliri seluruh organ tubuh yang rapuh. Ya, kehangatan dan perasaan yang tak terbandingkan.

Kisah lain dari hidupku dengan hujan ialah cinta. Cinta, tentang perasaan yang pertama kali kuucapkan pada seorang perempuan. Perasaan ini aku ungkapkan di dalam sebuah saung di tanah lapang milik ayahku. Hujan lebat membuat kita berteduh, sehabis pulang sekolah kita memutuskan untuk berjalan kaki saat itu. Ketika itu, putri tunggal kesayangan guruku di sekolah ini belum percaya benar saat kata-kata tulus yang terucap dari mulutku mengagetkannya. Berkali-kali itu aku utarakan dengan berbagai alasan mengapa aku memilihnya. Namun, setelah aku lari kehadapan bersama hujan dan bersumpah,

“Jika aku bohong dan mempermainkanmu, biarlah hujan dan petir yang berkelebatan ini membunuhku sekarang juga!”

Akhirnya perempuan ini percaya dan yakin atas apa yang aku ungkapkan saat itu. Segera perempuan putih ini menyuruhku masuk ke dalam saung kembali. Tidak salah jika aku memilih perempuan yang serba cantik ini buatku, karena memang terbukti tatkala kemudian kita memutuskan untuk menikah yang bertahan sampai sekarang ini. Istri yang pertama dan sekaligus mungkin istri yang terakhir buatku.

Dan sekarang aku hanya bisa berbaring lesu. Menunggu, dan terus menunggu. Hujan yang telah memberiku banyak arti mengenai hidup yang serba cepat, tidak lagi bisa kunikmati. Bersama hujan aku menikmati cinta, persahabatan, kebahagiaan, inspirasi, ceria, tertawa, sedih, dan semuanya yang pernah terjadi kepadaku. Rasanya lama sekarang aku menjadi seorang pecundang. Aku hanya bisa menunggu hidupku, di atas kasur empuk, seprai dan selimut putih ini, yang lama kelamaan seperti papan yang melekat pada sekujur tubuh terus menerus. Suara getar lampu neon lima belas jam menyala setiap hari. Monitor televisi 21 inchi kira-kira sepuluh meter tepat di depanku yang kadang-kadang juga menjadi lawan bicaraku. Dua baris kaca di belakang tirai di samping kiriku membuat pandanganku sedikit lebih luas menikmati suasana di luar sana. Tentu, dan seorang istri yang setia selalu mendampingiku dalam memenuhi setiap kebutuhan-kebutuhan yang selalu kuinginkan. “Sejuta satu lebih terima kasih untukmu, Istriku tercinta”. Semua itu kurasakan di ruangan kamar khusus ini yang berbau berbagai jenis obat yang sudah tidak asing lagi.

Di sini, di kamar yang berada di lantai tiga salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta ini aku berbaring. Pandanganku untuk dunia luar hanya dipenuhi dari obrolan orang-orang yang datang, sebuah televisi dan dua buah baris kaca yang sedikit mengurangi suasana ruangan serasa penjara ini. Menunggu dan terus menunggu. Menunggu hidup yang semakin sempit.

Tiga tahun sudah aku divonis menderita penyakit akut, sangat kompleks, sulit untuk melakukan apa-apa, kata salah satu dokter spesialis di rumah sakit ini. Bukan, bukan sebab hujan yang sekarang aku rindu padanya. Sekali lagi, bukan karena hujan ! Dan setahun lamanya aku hanya bisa berbaring di rumah sakit ini, diam, tanpa pekerjaan-pekerjaan yang selama ini aku lakukan dan tanpa hujan.

“Tidak untuk mendahului Tuhan, tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan penyakit yang kian hari semakin ganas menyerang sel-sel yang akan fatal akibatnya. Mungkin lusa dia akan meningggalkan kita semua. Berdo’a saja, semoga Tuhan memberikan yang terbaik buatnya,” ucap dokter dua hari yang lalu. Aku mendengarnya dari bisikan pembicaraan dokter dengan istriku sewaktu aku dianggap sedang tidur. Ya, besok. Mungkin Tuhan bisa memberi kesempatan terakhir untukku bertemu hujan besok, semoga.

Malam menyentuh amat berbeda sangat asing. Hening, tak berkutik. Istriku, Rama, dan Ima sudah terlelap tidur, sangat pulas didekap malam yang merajai. Malam seolah menjadi pembunuh berdarah dingin bagi siapa saja yang keluar untuk menantang malam. Deru angin bertiup-tiup tampak rakus mencari mangsa.

Kudapat meraih pena lalu kutuliskan beberapa kalimat pada selembar kertas. Selembar kertas bercorak ini kusimpan di atas bantal. Aku mencoba bangun dari keterbaringanku yang ingin kuakhiri. Kakiku terasa ngilu menginjak lantai yang dingin. Awalnya rasa sakit langsung menyerangku, tapi niat di dalam hati sudah bulat, aku melangkahkan kaki walau hanya tergopoh-gopoh. Aku cium istri dan anak-anakku di keningnya satu persatu, mereka belum terbangun dari tidurnya mungkin capek sehabis semalaman mereka menemani sekaligus menghiburku. Aku tidak membangunkan mereka.

Aku berjalan dengan lemah, merayap, menapaki langkah demi langkah sambil tangan memegangi dinding. Anak-anak tangga seolah menjadi dalam sedalam-dalamnya. Rasa berat di kepala mulai menyerang, aku terus bertahan. Tulisan exit lalu menuntunku menuju pintu ke arah belakang rumah sakit ini. Jalanan lengang, hanya beberapa orang yang berpapasan melihat keheranan dengan keadaanku. Aku tidak menghiraukannya, terus berjalan. Sekilas di kamar pasien umum, beberapa pasien dengan berbagai keceriaannya nampak mulai terlihat di awal hari yang mungkin akan melelahkan. Cukup lama, akhirnya sampai juga di pintu belakang. Aku di hadapkan pada sebuah taman rumput ketika pintu sudah kubuka lebar. Aku tidak mengetahui tempat untuk apa di sini dan sekelilingku tak jelas ada apa di sana.

Tidak sabar aku terus menapaki. Seketika aku cukup jauh dari pintu, kaki sudah menapakkan di rumput, pandanganku kabur. Aku jatuh telentang, jatuh, dibarengi pusing yang tak terkira. Aku coba untuk membuka mataku, gerimis hujan turun membasahi mukaku.

“Terima kasih, Tuhan, terima kasih.”

Aku mencoba paksakan senyum. Semoga gerimis ini menyampaikan senyumku pada mereka. Sebentar saja ini kurasakan. Sangat cepat. Sedikit aku melihatnya, merasakannya menyentuh bagian kulitku. Butiran gerimis menimpa bola mataku, redup, beranjak sedikit terang dan cahaya terus menerangi sampai kemudian kembali lagi, gelap.

Padalarang, Desember 2008

Tinggalkan Komentar