KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Atambua

Di ujung Timor. Pada tapal-tapal keraguan, kata menyapa seolah runtuhan serbuk cendana. Wangi tapi hampa. Begitupun waktu, beringsut mengikut kaki yang semalam lunglai saat bir dan anggur menumbuhkan senja.

Tabarak. Diberkati kau yang dapat memanjat sirih dan bermuka pinang, sebab tak tertumpah lagi darah setelah semalam lidah-lidah api melahap baju kita yang kuyup. Bertelanjang dada. Menyapu tubuh dengah hujan yang tumpah. Lalu saat fajar kembali menyapa, kau telah alpa. Kau tebaskan lagi klewang dan penjal-penjal gongseng.

Engkaukah Meo Kaliduk? Pahlawan gagah berbadan batu yang tak mempan segala tajam?

Sssssttt. Diam kau bajingan. Hardikmu. Aku ular yang mengembik. Aku rubah yang mengaum. Lintah yang menyusup di lantai-lantai birokrasi. Dan pahamkan dirimu, sambutan likurai akan mengiringiku ketika aku membawa penggalan kepalamu.

Ku cintai rumput-rumput. Ku cintai tunas yang kering. Tanah yang rekah, udara yang sepah dan air yang lindap. Kembali kuyup bajuku. Ku cintai Atambua. Mutiara yang cerlang. Bulu mata yang lentik, senyum yang malu, nona yang manis. Kuyup oleh air mata.

Desember, 2008.

Tinggalkan Komentar