Sahabat
Desember 27th, 2008 by asih perwita dewi
Aku berlari menerobos keheningan malam. Bukan… bukan karena aku takut dikejar hantu atau manusia-manusia malam yang terkenal dengan beragam kejahatannya, tapi aku berlari… Aku berlari dari kejaran perasaan yang hampir membuatku menyerah. Kesedihan yang mendalam ini hampir membunuhku, walau tanpa darah yang kutumpahkan dari tubuhku. Ya… perasaan bagiku adalah senjata pembunuh yang paling ampuh dan pantas dijuluki sebagai ‘pembunuh berdarah dingin’.
Nafasku hampir putus. Inikah yang namanya mendekati kematian? Merasakan sesaknya nafas dan kerja keras paru-paru yang berusaha terus serap oksigen dari udara. Tidak… tidak… Ini bukan kematian! Ini hanya keletihanku. Ah… maaf kalau aku terlalu melebih-lebihkan apa yang sedang kurasakan saat ini.
Aku berhenti. Ya… aku berhenti berlari. Memperhatikan sekelilingku. Tak ada siapa-siapa. Aku sendiri. Terima kasih pada malam yang akhirnya menghadirkan kesendirian padaku. Di mana aku? Oh… di trotoar yang selalu kulalui saat berangkat kuliah. Bolehkah aku duduk? Aku letih. Oh… tentu saja. Setahuku di sepanjang trotoar ini belum pernah terpampang tulisan ”DILARANG DUDUK BAGI YANG TIDAK BERKEPENTINGAN”, atau ”JIKA INGIN DUDUK, HARAP BAYAR Rp 5.000,-”.
Aku bersimpuh di sini, di trotoar ini. Lalu bersila. Tak juga ada yang lewat. Aku bersyukur. Tuhan benar-benar memberiku waktu untuk sendiri malam ini. Kurasa trotoar ini juga milikku. Tak ada yang berani lewat. Begitulah.
Seperti di film-film saja, hujan turun. Tapi aku tak ingin beranjak. Bolehkan? Biar aku di sini. Jika hujan pun mampu menangis dikala kita sedih, aku ingin ia membantuku menangisi kesalahanku mengharapkannya. Semoga hujan mendengar permintaanku ini.
Dan aku menikmati tangis yang bergulir hangat diantara rinai hujan yang sejuk menyentuh wajahku. Maaf jika aku kembali memintamu untuk datang malam ini, airmata. Setelah hampir satu tahun lamanya kulupakan wujudmu. Bukan… bukan karena aku telah merapuh kembali kini. Tak perlu banyak tanya, airmata. Cukup lakukan tugasmu untuk bersamaku disini.
Tiba-tiba dia ada di sana. Dari mana ia melangkah? Sejak kapan ia datang? Kulemparkan tanya itu lewat mataku. Tapi aku tak ingin mengharapkan jawabannya.
“Apakah kau ingin pulang?” ia bertanya.
Apa urusanmu? Tolong tinggalkan aku sendirian!
”Akan kutemani kau disini,” katanya lagi.
Bodoh! Kau sengaja bersikap sok simpatik dengan ikut menemaniku di sini. Sudah! Aku tak perlu itu.
Tapi sudah sifatnya yang terlalu keras kepala. Ia melipat payungnya, dan membiarkan tubuhnya basah. Lalu ia bersila di depanku. Menatapku sendu. Ah! Aku muak dengan tatapan itu! Terlalu banyak tipu yang tersembunyi dalam tatapan semacam itu!
”Jangan minta aku meninggalkanmu. Jangan pula mengira sikapku ini hanya sekedar menaruh simpati padamu. Aku tulus, tanpa maksud lain. Biarkan aku merasakan kepedihan yang kau rasakan juga. Kau sudah terlalu banyak menutupi dirimu, hingga aku tak pernah tahu seperti apa kamu. Aku lebih sering merasa kau tak pernah menghargaiku sebagai sahabatmu.”
Dingin sekali kata-katanya. Tapi hatiku tertusuk. Sial! Kenapa kau malah mengucapkan ini semua ketika aku sendiri sedang kacau? Apa kau juga sama dengan kesedihan ini, menjadi pembunuh berdarah dingin yang pelan-pelan menyita nyawaku? Kau jahat!
Dadaku sesak, tanganku mulai membiru. Tapi kunikmati itu dengan sepenuh hati. Biar kularutkan semuanya dalam hujan malam ini. Dan haruskah kukatakan padanya? Tidak… kuyakin dia sudah tahu. Meskipun dia banyak tahu tentangku dari orang lain, bukan dariku sendiri. Aku sahabatnya, memang. Tapi dia tak pernah kubagi cerita tentangku.
”Apa sekarang kau juga hanya ingin diam? Baiklah kalau itu maumu. Tapi aku akan tetap disini, dan kita akan pulang bersama.”
Baik sekali kata-katanya, tapi maaf… aku tak tersentuh sama sekali.
Lalu mereka muncul. Entah dari mana, sejak kapan, tahu-tahu mereka di sampingku, tepatnya di samping dia dan aku. Sang Lelaki dan sang Wanita. Sang lelaki serta-merta menghambur padaku. Berlutut disampingku, menatapku penuh sesal, mencoba alirkan kehangatan dari kedua tanganku yang membiru.
”Jangan buat aku semakin merasa berdosa. Belum cukupkah kau tinggalkan aku dengan sebuah perasaan yang kau serahkan begitu saja untukku?” kata sang lelaki.
Aku bergeming, menembus kedua bola mata coklatnya, meneliti setiap syaraf di dalam otaknya, ingin temukan kejujuran yang sebenarnya jujur.
”Dan belum cukupkah kau sakiti aku?” sahutku singkat.
Rasakanlah, Lelaki! Aku terlanjur sakit! Biar kumaki kau sekalian di sini. Aku benci dirimu!
Juga sang Wanita, yang kini juga berlutut di sisi tubuhku yang lain. Untuk apa? Kau juga ingin minta maaf seperti sang lelaki? Forgiven but not forgotten. Itulah aku yang sekarang. Bukan sok sadis, tapi aku hanya ingin sekali-sekali menjadi makhluk Tuhan yang sedikit kejam tanpa maaf. Dan kali ini, yang jadi korbannya adalah kau, sang Wanita.
”Apalagi yang harus kukatakan? Mengapa kau tak ingin memaafkanku?”
Sebuah pertanyaan bodoh diucapkan sang Wanita. Aku tersenyum sinis. Aku sadar, penuh kebencian memang. Tapi biar. Cukup sekali ini kuluapkan sakitku pada mereka. Bila harus sakit, lebih baik sekalian. Bila harus benci, biarkan dendam menyertai. Tuhan… maaf jika kutorehkan dosa dalam catatan malaikatmu.
”Dan kenapa harus dirimu yang tak bisa kumaafkan?” kataku datar.
Kulihat sang wanita menangis. Tapi maaf, aku sedang tak butuh segala bentuk kelembutan itu. Hatiku sudah jadi batu.
Lalu dia. Kulihat dia hanya diam memandangiku. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Mungkinkah dia turut menyesali sikapku ini? Ah… masa bodoh! Aku ingin seperti ini sekarang, apa pedulimu?
Aku berdiri. Dan kutingggalkan mereka. Dan aku puas. Aku tak perlu marah-marah untuk biarkan mereka tahu kemarahanku. Cukup kutunjukkan dengan ini. Toh mereka tak cukup bodoh untuk mengerti. Sang Lelaki dan sang Wanita.
Hujan tak juga berhenti. Terima kasih, semuanya telah kularutkan dalam hujan. Cintaku, sukaku, sedihku, kecewaku, dan kenanganku. Semoga saat kujumpai matahari besok pagi, ia akan menuntunku pada jalan waktu yang mengukir kenangan baru yang jauh lebih indah atau bahkan lebih sakit dari hari ini atau hari sebelumnya. Tanpa sang Lelaki dan sang Wanita, tentunya.
Tapi dia? Dia mengikutiku hingga ke rumah. Tak lepas ia menatapku dengan mata elangnya. Kenapa?
”Hari ini, tak lagi kau hargai aku sebagai sahabatmu. Tak lagi kau anggap aku sebagai tempat ceritamu. Tidakkah sedikit saja kau mengerti, terlalu lama aku terdiam dalam gelimang pertanyaan yang hampir melaut?” katanya.
Aku cuma bisa diam. Mungkin sudah saatnya kudengarkan dia.
”Tapi aku tak akan beranjak dari sini. Aku ingin tetap jadi sahabatmu. Kau tak pernah izinkan aku untuk membantumu menyelesaikan masalahmu. Tapi biarkan aku disini, di sisimu. Dengan itu aku pun masih merasa menjadi sahabatmu,” lirihnya tegas. Bahkan kuanggap itu sebagai sebuah permintaannya untukku. Hatiku luluh, sedikit.
”Terima kasih,” kataku singkat.
Dan kutinggalkan dia begitu saja. Kuharap ia mengerti, meski tak kuucapkan. Bahwa aku sangat mengharapkan dia. Saat semua yang kusayangi menghilang. Saat sepi sering kali menyergapku. Saat kecewa berkali-kali menghantam tembok jiwaku. Saat tiada orang yang mengerti tentang aku dan kehidupanku. Saat hidup tak lagi kurasa bersahabat denganku.
Kau ada, Sahabatku. Maaf jika sering kusakiti dirimu. Tapi kuharap kau mengerti betapa kusayangi dirimu.
19 Desember 2008
Wew…luapanya gk jelas tpi…i2 blum brakhir kan;-)
Salah satu dari kelompok crita yang bagus………
keep ur mind!!☺☻
Specialy for my BFF,,,
I know we have been through hard and rough times,
But you will always be my best friend
No matter what happen…♥♥☺☺