Orang-Orang Kalah
Desember 27th, 2008 by wekaswasti
Siang itu seperti siang sebelumnya pada musim kemarau bulan ini, panas dan gerah. Namun menjelang magrib suhu menjadi sangat rendah, dingin sekali, dan air yang keluar dari keran atau yang berada di dalam bak mandi terasa seperti baru dikeluarkan dari dalam lemari pendingin sehingga ujung-ujung jari seperti akan beku bila menyentuhnya. Tapi rasa tentang dingin ini tentunya berbeda bagi orang-orang yang tinggal di utara kota sana, di lereng Gunung Merapi yang sangat dingin, atau di Gunung Kidul yang selalu panas dan kering, tak sedikit manusia dan ternak di sana tak berdaging hingga tulang-tulang rusuk mereka terlihat jelas bentuknya di balik kulit. Seperti dekat dengan maut. Mereka harus mau berdamai dengan kemiskinan untuk meneruskan hidupnya, entah menang atau kalah. Atau membiarkan nyawanya direnggut takdir, dan tak sedikit yang merenggutkan nyawanya sendiri. Mungkin hanya cara itu yang membuat mereka bebas dari penderitaan, penderitaan terberat di dalam hatinya.
Menang atau kalah barangkali hukum yang dibawa pada bermulanya masa suatu makhluk yang hidup dan mempertahankan hidupnya. Tetapi benalu yang tumbuh membelit tanaman pagar pada garis depan rumah ini tak layak merasa menang atas keberhasilannya menyerap sari-sari makanan yang dihasilkan tumbuhan yang ditumpanginya. Ya, bagaimana mungkin ia akan merasa menang bila ia tak bisa hidup tanpa tumbuhan itu.
Angin bertiup pelan, menerbangkan debu yang mendarat di atas benalu dan tumbuhan yang ditumpainginya, dan pagar, tembok, halaman rumah berpaving, juga motor RC tua yang baru saja diparkir di garasi terbuka tanpa pintu. Gadis itu tidak mempedulikan debu yang menebal di motornya. Ia buru-buru menaiki anak-anak tangga menuju kamar sewanya di lantai tiga. Saat tiba di lantai dua, suara musik dari band yang sedang populer di negeri ini menyambutnya. Musik itu disetel dengan volume besar hingga mampu menembus tembok dan pintu kamar yang tertutup itu. Bibirnya lalu ditekuk dan semakin mempercepat langkahnya menuju anak tangga berikutnya. Ia bersyukur tidak mendengar musik itu lagi di lantai tiga hingga tiba di kamarnya.
“Editor itu selalu keterlaluan,” pikirnya. Ia lalu membisikkan sebuah makian. Ia merasa tidak peduli tulisannya akan dimuat di majalah itu atau tidak, asalkan ia tidak perlu mengedit tulisan itu lagi. Ia sudah merasa lelah, dan sebenarnya berharap tulisannya segera dimuat dan menerima pembayarannya. Sudah sebulan ia mengerjakan artikel itu. Ya, tentu saja ia ingin artikel itu dimuat dan dibaca orang, dan ia sudah terbiasa dengan pembayaran yang kecil, atau sebuah kaos -saja– bila tulisannya ditampilkan di sebuah rubrik yang dikelola di internet. Itu bukan masalah, setidaknya selama orang tuanya masih menanggung biaya hidupnya selama ia masih menjadi mahasiswa. Ia senang esainya atau liputannya atau cerita pendeknya dibaca, dan memberitahukan apa yang dipikirkannya kepada orang-orang. Meski ia tak pernah tahu apa yang mereka rasakan seusai membaca rentetan kata-kata yang kadang ditulisnya pada malam hingga pagi tanpa tertidur.
“Aku akan memperbaikinya tapi aku tidak mau liputan ulang,” ia membatin. Ia lalu memutar file MP3 di komputernya yang memiliki daya baca lambat tapi untungnya masih berfungsi. Komposisi Paganini, Caprice 5 in A Moll yang dimainkan dengan solo biola, not seperenambelasan bertebaran di antara musik itu. Temponya cepat, tentu membutuhkan skill tinggi untuk memainkannya. Ia berbaring di kasurnya, menyimak musik itu.
“Apa yang membuat Paganini dapat membuat komposisi seperti ini,” pikirnya. “Tidak, aku tidak percaya bakat. Juga Mozart, aku tidak memujanya seperti orang-orang yang mengagumi bakat dan kecerdasannya itu. Apa jadinya kalau ayahnya tidak pernah mengenal musik? Apa jadinya kalau ia dahulu dilahirkan di dusun terpencil di negara ini? Miskin, lapar dan tidak tahu apa-apa?” Ia tersenyum tipis, mungkin mengejek, tapi ia tak bisa memastikan siapa yang ditertawakannya. “Tapi ya, pastinya mereka memang punya kemampuan yang mereka bawa sejak lahir itu. Dan takdir berpihak pada mereka. Ah, tapi Beethoven kepayahan membikin komposisi musiknya. Dia sungguh nekat dan melawan takdir atas telinga tulinya. Aku mengaguminya.”
Pikirannya menerawang, kembali ia teringat editornya, lalu artikel itu. Ia ingat terakhir kali, subuh, ia dan kawannya datang ke tempat itu untuk memotret. Masih gelap waktu itu, kakinya harus berhati-hati melangkah di semak-semak pinggir jalur rel Stasiun Tugu kalau tidak mau tertusuk ilalang. Salah satu perempuan di sana mengenalinya dan segera menghampirinya. Ia salah satu narasumber artikelnya. Keramahan perempuan itu terkesan dipaksakan dan ia menutupi menutupi kantuknya dengan berusaha membuka matanya lebih lebar. Ada lengkung kehitaman di bawah matanya yang membentuk kantung. Ia masih setengah mabuk dan berusaha agar jalannya tidak sempoyongan. Namun tidak berhasil. Ia mengajak tamunya duduk di dalam salah satu tenda angkringan.
Banyak perempuan di sana, usianya rata-rata tigapuluh tahunan. Seorang perempuan yang terlihat sepuluh tahun lebih muda daripada yang lainnya terlihat sedang duduk bersandar di dalam tenda angkringan sebelahnya. Seorang lelaki yang terlihat muda sedang berbaring di pangkuan perempuan muda itu. Adisa meliriknya, mereka sempat bertemu mata, tapi lalu keduanya memandang arah lain dengan gugup.
“Mbak Adis, kemarin ada garukan lagi. Itu ada sepuluh orang yang tertangkap. Kita ndak tahu mau ada garukan. Tumben Sarman ndak kasih bocoran apa-apa. Mungkin karena kemarin duitnya kurang,” kata Narni, perempuan yang tadi menyambut mereka. “Mbak saya juga ketangkap,” lanjutnya dengan kenes. “Dua malam ini sepi, belum pada berani datang ke sini. Ndak tahu mbak-ku mau ditebus kapan. Mungkin saya mau nyari pinjaman dulu.” Ia berdecak, lalu jeda saat kereta api melaju ke arah stasiun, bergemuruh dan menimbulkan getaran. Sebuah gelas terjatuh dari gerobak angkringan dan pecah di atas kerikil-kerikil. Narni dan orang-orang di situ berteriak lalu tertawa. Gelas itu seperti memberikan kebahagiaan pada mereka yang akhirnya lupa pada cerita garukan dan kakak Narni yang tertangkap pada saat operasi penertiban dan ditahan.
Ardi, kawan lelaki yang datang bersama Adisa buru-buru bangkit dari duduknya di sebelah Adisa dan menjepret perempuan-perempuan yang sedang menertawakan gelas pecah itu dengan kamera digital Nikon D8 di tangannya. Adisa meneleng dan tertawa bersama mereka, orang-orang yang rumahnya terbuat dari triplek yang dirakit di pinggiran rel, dan akan menetap di situ hingga digusur dan membikin lagi yang baru, masih di situ-situ juga hingga nantinya digusur lagi lalu mereka akan membangunnya lagi, sampai nasib membawa mereka ke tempat lain.
Seorang lelaki paruh baya datang terburu-buru, tidak sabar ia menunggu untuk dekat, mengatakan dengan berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakang, “Suamimu mabuk, bikin onar di sana!”
Tinah, merasa dirinya yang diteriaki lelaki itu, segera bangkit. Perempuan-perempuan itu sudah berhenti tertawa.
“Di mana suamiku?! Di mana dia?!” Tinah ikut berteriak, kalang-kabut menuju ke arah yang ditunjuk lelaki itu. Baru beberapa langkah ia kembali lagi. “Anakku! Anakku masih tidur!” Ia berlari namun berputar lagi ke arah yang ditunjuk lelaki itu.
“Sudah, biar aku jaga anakmu!” teriak Narni. Akhirnya Tinah berlari secepat-cepatnya meninggalkan tenda angkringan. “Suamiku di mana?! Suamiku di mana?!” teriakanya sembari terus berlari, membangunkan lelaki yang sedang tidur di pangkuan perempuan yang semalam habis dikencaninya.
Tinah dan lelaki yang disebut suaminya itu tidak pernah menikah. Mereka hanya merasa saling suka, lalu hidup bersama di salah satu rumah triplek itu, dan punya dua orang anak perempuan, yang satu duabelas tahun, dan satunya lagi masih balita. Biaya pernikahan terlalu tinggi buat mereka yang hidup dari hasil usaha angkringan di pinggiran rel kereta api itu.
***
“Aku tidak mau ke sana lagi,” batin Adisa seolah sedang melayang memasuki tubuhnya kembali setelah melamunkan kenangan saat liputan untuk tulisannya itu. Lalu ia menelungkupkan badannya.
Lantunan komposisi Paganini masih berbunyi tapi ia tidak mendengarnya lagi. Orang-orang di pinggiran rel itu selalu memintanya kembali ke sana. Adisa tidak bisa. Ia tidak mau. Ia tidak tahan, semuanya terasa begitu memuakkan baginya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa di sana. Ia hanya akan merasa diejek, atau malahan menjadi si pengejek tak kasat mata, bagian dari omong kosong kehidupan, begitu menurutnya.
“Mereka itu, apa mereka mau mengatakan kalau tulisanku tidak penting, televisi tidak penting…ya, tentu saja itu… Diskusi berapi-api di kampus…ah, tentu, tentu itu tidak penting, kecuali untuk membuktikan pada kelompok kecil mahasiswa yang banyak bicara kalau kau banyak tahu, banyak membaca buku, kalau kau cerdas, kalau kau pintar bicara. Apalagi orang-orang yang keluar-masuk mall dengan mobil mewah yang sering bikin macet jalan raya… Orang-orang pinggir rel itu…mungkin lebih penting.”
Adisa menenggelamkan wajahnya ke bantal. Badannya lunglai. Ia lalu merasa mual, tapi tidak ingin muntah. Tukak lambungnya selalu kambuh. Kepalanya pening, rambutnya berantakan. Ia merasa lemah dan tidak berdaya. Tapi barangkali ia tidak perlu merasa selemah itu. Pikiran itu yang membuatnya benar-benar tidak berdaya. Badannya tentu tidak serapuh itu. Sesungguhnya ia gadis yang cantik. Wajahnya segar, matanya bening dan sendu, rambutnya ikal panjang. Tubuhnya agak kurus dan cukup tinggi. Ia sangat gelisah, pikiran-pikiran itu membebaninya. Semakin ia merasa berat dengan pikiran itu, semakin ia merasa tak berdaya.
“Akulah yang tidak ada gunanya. Tulisanku buruk, kuliahku gagal, permainan biolaku tidak ada kemajuan. Aku mau keluar saja dari string section. Tak ada gunanya lagi aku di sana. Dan orang tuaku… kenapa mereka begitu berharap pada keberhasilanku? Tapi nyatanya mereka salah besar. Kenapa harus salah jika menjadi gagal dan kalah? Siapa yang mau memilih itu? Tak ada. Tak ada yang mau. Itu seperti ditimpakan begitu saja. Tapi aku harus mengedit tulisanku. Ya, tidak berat. Lalu kuserahkan cerita tentang pelacur itu dan selesailah tanggunganku yang itu. Tidak, tentu saja aku tidak sepenuhnya memihak mereka. Ah, mata perempuan muda itu… kenapa aku gugup melihatnya, dan sepertinya dia juga. Pagi itu begitu berantakan… ”
***
Tujuh hari Adisa memperbaiki tulisannya, agar sesuai dengan kehendak editor, mungkin. Tapi ia tak menyalahkan lelaki yang mukanya selalu nampak serius itu. Jari-jari tangannya selalu menggamit puntung rokok yang menyala dan asapnya mengganggu Adisa setiap ia menemuinya di kantor redaksi. Tapi itu bukan masalah lagi. Kantor itu bertempat di sebuah rumah kecil di tepi jalan raya yang bising, mungkin tergolong tipe 21 dengan dua kamar sempit, pengap, penuh kertas dan asap rokok. Orang-orang yang sering berada dan bekerja di dalam kantor itu ada delapan laki-laki dan dua orang perempuan termasuk Adisa. Semuanya berbicara tentang idealisme dan belakangan Adisa terusik oleh kata itu. Ia tak bisa lagi berbicara dengan berapi-api seperti mereka. Entah.
Hari Kamis itu majalah mereka terbit, dan artikel Adisa dimuat pada rubrik insani. Bukan rubrik yang dianggap penting di majalah itu, bukan tema politik atau mengkritik kebijakan pemerintah. Bukan laporan utama. Adisa sudah mendapatkan pembayarannya. Tak banyak, tentu saja. Majalah lokal yang dirintis dengan dana sangat terbatas dengan ide dan keinginan yang besar, terlalu muluk malah, begitu pikirnya. Ia melihat artikelnya sekilas, tiga halaman dengan dua foto siluet perempuan berdada besar di pinggir rel. Ia ingat mereka lagi, dan mata perempuan itu.
Adisa menghempaskan majalah yang berisi artikelnya, lalu keluar dari kantor menuju RC tuanya di halaman berdebu. Motor itu mengeluarkan bunyi knalpot yang sangat berisik saat mesinnya menyala, dan melaju dengan lambat ke jalan raya. Siang itu matahari begitu terik, menghujam kulit tubuh yang dibalut kain tebal sekali pun. Jalanan padat oleh motor roda dua, bus kota meliuk-liuk mengkhawatirkan, dan mobil-mobil pribadi menyita jalan yang tak terlalu lapang, membuatnya semakin menciut, dan mobil-mobil itu pun harus merangkak lambat, membuat kendaraan-kendaraan semakin semakin meggumpal di jalan.
“Sudahlah, aku kan hanya menerima tujuhpuluh lima ribu dan bukan nobel,” Adisa membatin.
Ia gugup menatap perempuan di pagi itu. Mereka gugup. Ada rasa malu yang sangat di dalam hati mereka. Pada kilatan sorot dua pasang mata itu terbersit sebuah perbandingan dan pertandingan yang mereka ciptakan. Penyesalan…penyesalan yang dalam sekali pada pengetahuan, rasa dan pikiran yang datang pada Adisa saat itu, dan sekarang. Adisa tak tahu lagi nasib kakak Narni yang tertangkap pada saat operasi penertiban, dan sebentar lagi ia akan segera tahu, dan kali ini ia datang sebagai dirinya sendiri.
Sungguh Mozart pun tak akan pernah menjadi Mozart bila ia terlahir di perbukitan Gunung Kidul sana dengan sumur yang kering, tanah tandus, kemiskinan, dan tak ada nasib yang berbaik hati padanya sehingga membiarkannya begitu saja dihampiri maut pada kemudaannya. Tapi kehidupan sudah berjalan dengan semestinya, dan bisa jadi Adisa tak sedemikian gagal dalam hidupnya. Adisa tahu ia tak bersalah atau pun kalah, perempuan-perempuan itu juga tidak, editornya juga tidak, majalah itu pun tidak. Benalu tentunya juga tak bersalah bila ia menumpang tanaman lain dan merusaknya. Ia berpikir, sungguh kesalahan dan kekalahan itu tak benar-benar nyata, dan berharap tukak lambungnya tidak kambuh lagi.
*******
Yogya, Juli dan Desember 2008
baguss..
kunjungin blog aku, and kasih koment ya..