KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

My Snow Angel

SNOW ANGEL, begitu aku menyebutnya. Tidak di hadapannya, hanya di labirin-labirin hatiku yang selamanya menganga karena kering dilanda kemarau yang panjang. Aku berdiri di dekatnya, merasakan geletar alir darahnya, juga mendengarkan degup merdu jantungnya. Namun, dalam jarak yang hampir tidak ada rentang itu, aku tak mampu menggapainya. Snow Angelku, selamanya adalah bunga terlarang yang diciptakan hanya untuk kupuja, bukan dimiliki, bukan sama sekali. Tapi siapa yang sanggup berdiri dengan teguh di sisimu, bila aku yang berdiri ini memendam cinta yang terlalu mendalam padamu?

Snow Angel adalah sahabatku, kawan yang suka menitikkan air mata atas berbagai cerita sendu dukanya, kawan yang terbiasa menitip tawa atas suka citanya, sekaligus sahabat yang selalu membawakan bebunga harum semerbak dalam angan-angan liar mimpiku.

Snow Angel, kapan kiranya aku punya kesempatan untuk mengatakan bahwa aku terlalu mencintainya sampai-sampai aku tak mau berdekatan dengannya karena takut membuat ia terluka oleh duri kata-kataku. Secuil sayatan yang akan membuat ia menitikkan bening air mata, tak akan pernah aku merelakannya terjadi. Karena senyumnya buatku adalah puncak kebahagiaan. Jikapun aku diberikan surga sebagai bentuk kebahagiaan tertinggi, tak akan aku mengambilnya bila dia tidak menikmatinya bersamaku.

Bagiku, Snow Angel adalah suatu matahari, satu puncak cinta yang mekar liar mewangi dalam kuntum-kuntum mimpi yang tidak pernah berakhir. Sampai kapan aku bisa bertahan, untuk tetap setia mencintainya tanpa harus mendekatinya. Sudah bertahun lembar waktu terkibas bilangan detak-detak jam yang meresahkan. Sementara itu, aku masih belum tahu, apakah ia mencintaiku atau tidak. Sungguh aku tak mengharuskan diri untuk memilikinya. Aku tak terlalu perduli akan kepemilikan itu. Sebab yang aku mau hanyalah satu, satu kata yang ingin kudengar dari indah dua belah bibirnya, balasan atas perasaan cintaku. Karena engkau tahu sendiri betapa sakitnya cinta yang tak diberi perhatian, betapa nelangsanya cinta membisu yang tak diperdulikan. Tapi bagaimana mungkin akan kudengar jawaban itu jika meluahkan perasaanku saja aku tak pernah sanggup. Sebab ketika berdiri di depannya, kata-kataku mati, nadiku tersendat dan degup jantungku untuk sesaat itu berhenti. Aku mati terkulai dan terbakar oleh pesonanya. Lalu, masihkah bisa diharapkan bagi yang telah mati untuk mengucapkan perasaan hatinya?

Snow Angel, sungguh aku tak berharap sampai memilikimu. Karena hal itu terlalu jauh buatku, aku tak cukup punya keberanian untuk berharap bisa menjadi pemilik jiwa ragamu. Cukup satu saja. Cukup buatku mendengar bahwa engkau juga mencintaiku. Setelah itu, mati pun aku tak terlalu perduli. Tapi kenapa aku tak punya secuil pun keberanian untuk mengatakan kata-kata yang begitu mudah kuumbar dalam jutaan prosa ini. “Aku mencintaimu” menjadi kata-kata terkelu yang pernah aku kenal dalam kosa kata. Seolah, lidahku ini seolah terkutuk untuk mengucapkannya.

Sudah berapa lama aku menggapai-gapai namun tak kesampaian, seperti merenangi lautan tanpa kutemukan pantai sebagai tempat berlabuh. Aku mau berlabuh di sisimu, di dekatmu, Malaikat Saljuku. Kiranya adakah tempat yang bisa menampung perasaanku yang makin menggila ini? Entahlah, aku butuh bukti, butuh jawaban pasti. Sayangnya, kepastian bukan timbul dari prasangka tapi dari fakta. Dan fakta apa yang sudah aku punya untuk membuat aku yakin? Waktu itu tiada ada sama sekali.

Tiga tahun lalu, aku sempat memiliki keberanian. Aku menyebutnya sebuah lompatan kuantum hati yang mengantarkan aku ke dunia yang penuh gelora. Aku harus mengatakannya, setidaknya sebelum aku mengambil keputusan penting dalam sejarah hidupku ketika itu.

Malam merambat di antara rasi-rasi bintang yang bertebaran. Suara binatang malam terdengar mengalun dari pojokan kota. Ada denting gitar dari petikan pengamen jalanan di warung-warung tenda. Mereka bernyanyi tentang cinta, sebuah perasaan mendasar yang selama ini menjadi algojo malam-malamku. Aku terus melangkah, tidak ada waktu lagi, malam ini, malam ini sebelum aku mengambil keputusan, aku harus mengucapkannya. Aku mau berterus terang padamu Aulia. Aku mau mengatakan pada Snow Angelku bahwa aku mencintainya, sejak dulu, sejak kami masih suka mencoret-coret bangku sekolah dengan nama-nama aneh demi ketenaran yang membuahkan hukuman dijemur di lapangan selama berjam-jam.

Sampai di depan rumahnya.

Cat putih menghiasi dinding-dinding seperti bergerak-gerak meledekku. Betapa pengecutnya kamu! Hei Sagara! Sudah berapa tahun kau dekat dengan dinding-dinding ini tanpa pernah engkau sanggup bersadar padanya sambil membuka kejujuran hatimu. Ya dinding-dinding ini tak cukup sanggup membuat engkau berani mengatakan perasaanmu. Tapi dinding ini juga tak bisa meyembunyikann perasaanmu terlalu lama bukan. Perasaanmu seperti air bah yang kini tak bisa ditanggulangi.

Tanaman berbagai bunga bergerak ditiup angin malam. Lampu taman memancarkan nyanyian yang menerangi seantero pojokan taman yang dipenuhi berbagai kembang. Suara katak dari kolam ikan memecah kesunyian. Mereka bersimfoni di antara riak air yang bergelombang dikendarai angin malam yang lembut.

Aku menerobos taman.

Sampai di satu titik, aku berhenti melangkah. Tubuhku beku seketika seperti ditubruk jutaan volt listrik. Tulangku berkarat tak bisa digerakkan. Mataku seperti ditikam segunung es dari Puncak Jayawijaya. Kepalaku melayang bagai dipaksa melepaskan sambungan dari lehernya. Bumi seperti berubah menjadi ruang tahanan yang gelap gulita tanpa udara. Semesta tenggelam ke dalam lautan yang dalam tanpa dasar. Sunyi senyap tercipta. Alam masih bernyanyi namun aku tahu bukan alam yang berhenti, tapi semesta jiwaku yang berhenti. Sistem tubuhku sampai pada satu titik kehancurannya. Aku beku diam mematung bagai tersalib iblis kegelapan yang menumpang lewat menebar berita buruk. Tidak! ini kenyataan. Kau sudah didahului orang, Sagara.

Malam itu aku menyaksikan salah satu kawanku, Renata, duduk di dekat Snow Angelku, Aulia Rahma. Melihat itu aku langsung pergi. Aku pergi, bukan tanpa pertimbangan sama sekali. Sudah sejak lama Angle bercerita bahwa Renata menyukainya dan mengejarnya bagai setan menjerat mangsa. Dan sepertinya, Aulia juga memiliki sejumput perasaan pada laki-laki yang kurang aku sukai itu. Lantas, kalau sekarang mereka duduk berdua dengan pancaran keakraban yang begitu mudah ditafsirkan, apakah aku bisa menghindari prasangka burukku. Ah tidak, aku tidak terlalu sanggup untuk tidak menyimpulkan bahwa Aulia sudah dipunyai Renata.

Menyaksikan apa yang aku lihat, malam itu aku tahu apa yang mesti aku putuskan.

Kukemasi semua barang-barang yang aku perlukan. Tak lagi aku sisakan secuil pun. Tak akan kubiarkan kenanganku tercecer dan terbawa ke tanah lain. Aku tak mau terganggu. Salah sendiri, punya perasaan tapi terlalu pengecut untuk mengatakannya. Baiklah, akhirnya aku tahu betapa sakit terlambat mengatakan cinta. Akan tetapi, jikapun aku terjebak dalam lingkaran yang aku sebut keterlambatan, bukankah hal ini belum tentu seperti apa yang aku bayangkan. Siapa tahu Aulia memang tidak punya secuil pun perasaan padaku. Siapa tahu selama ini ia hanya menganggapku sebagaimana apa adanya, sebagai sahabat terbaiknya. Bukankah kalau aku sempat berucap cinta dan ternyata cintaku tak terbalas, malah akan merusak persahabatan yang sudah terjalin dalam kurun waktu bertahun-tahun ini. Memandam cinta mungkin merupakan jalan terbaik pada satu sisi dan sudut waktu tertentu.

Kumatikan handphone dan kubuang kartu selulernya. Kuambil passport dan beberapa surat penting. Tak perlu ada seorang pun yang tahu ke mana aku pergi. Aku butuh kesendirian, sebuah keheningan yang akan membunuh setiap dahagaku.

Malam itu juga aku mengurusi tiket untuk pergi terbang ke Osaka, Jepang. Mungkin lari dari Indonesia adalah jalan terbaik untuk membumihanguskan kenangan cinta yang tak kesampaian. Aku akan meneruskan studi di sana, di kota matahari, di mana aku akan benar-benar merasakan sentuhan Snow Angel dalam bentuk pengertian yang lain, yang lebih nyata dan dingin.

Sampai di Jepang, aku baru tahu, ternyata perasaan selalu mengiri kemana pun aku pergi. Aulia selalu ikut serta dalam bayang-bayang membisu di benakku. Malam-malam yang ditingkahi bayangan wajahnya di tengah hujan salju semakin terasa dingin menusuk tulang sumsum hatiku. Bebunga yang bermekaran di musim semi tak jua menumbuhkan tawaku untuk larut dalam musim bersemi cinta itu. Karena wajah bisu Aulia masih menyeratiku. Dan ketika musim panas tiba, aku tak ikut tertawa bersama matahari yang terbit dengan senyuman mantap di ufuk timur. Sebab Aulia masih bertengger menyisakan luka di batinku.

Malam-malam yang kulalui di negeri matahari terbit semakin kelam. Untuk membunuh wajah Aulia aku menyibukkan diri dengan berbagai hal terutama urusan studiku. Tapi aku seolah bukan lagi menjadi manusia, aku seperti robot yang diam dan terluka. Pernah sampai di titik tertentu aku bisa melupakannya, hanya sejenak. Karena saat itu aku bisa berdamai dengan kenyataan. Namun di kali lain, di waktu yang lebih banyak aku tak sanggup menghindarinya. Perang dengan kenyataan masih terus-terus membumbung menelan berbagai korban perasaan hati.

Selama aku menghilang bukan hanya Aulia yang mencariku. Banyak dari temanku bahkan keluargaku. Ketika aku membuka email, surat-surat elektronik bertumpuk menanyakan keberadaanku. Aku balas email dari ibuku. Kukatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Aku berada di luar negeri tapi aku tak bisa memberitahu keberadaannya.

Tapi tidak kubalas surat dari Aulia Rahma. Aku hanya membacanya, membacanya, dan membacanya berulang-ulang. Dan betapa sakitnya hatiku ketika aku mengulang-ulang membaca, aku hanya mendapatkan kalimat demi kalimat, “Hei Brur, kau ada di mana? Ribut lagi sama ayahmu? Ternyata kebiasaan kamu tidak berubah dari dulu ya, kalau ribut sama ortu, kau pasti menghilang”, dan berbagai cerita-cerita lainya. Di mana kata-kata yang mewakili perasaan kehilangannya? Tidak ada, tiada sama sekali. Tidak sedikit pun aku temukan kalimat yang mewakili perasaan kehilangan Aulia. Ah mungkin ia sudah terbiasa dengan kebiasaanku, menghilang tanpa jejak lalu muncul tanpa jeda.

Aku mau membalas surat dari Aulia. Tanganku bahkan terlalu gatal untuk tidak mengetikan kata-kata. Tapi aku tangguhkan, kutahan semampunya. Tidak! Sudah cukup kau mewarnai kanvas sejarahku. Aku mau membuangmu sejauh-jauhnya, sejauh mungkin, sebisaku.

Selesai studi di Jepang aku tidak langsung pulang ke Indonesia. Aku kelilingi semua tempat yang indah di Jepang. Setelah semua tempat-tempat di sana aku kunjungi aku berpindah ke daratan Kamboja, Thiland lalu ke Malaysia. Dan tahulah aku bahwa perjalanaku bukan menjauh dari kenangan. Akan tetapi, perjalanan ini selalu mendekat ke tanah Indonesia. Sungguh aku tak sanggup untuk tidak kembali. Aku rindu Aulia. Sudah tiga tahun aku tak mendengar suaranya. Masihkah ia seperti dulu? Masihkah lidahnya kelu melapalkan huruf R? Ah Snow, aku rindu kamu.

Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku hubungi ibuku, kukatakan padanya bahwa aku sudah di Indonesia. Ah, wanita itu selalu mengharapkan aku datang dan memeluknya. Tapi aku tidak berani langsung datang ketika itu, sebab kalau aku kesana, Aulia akan tahu keberadaanku. Bagaimanapun, aku belum sanggup bersitatap dengannya.

Dengan tingkat pendidikan dan kemampuan yang aku miliki, tidak sulit mencari pekerjaan. Dalam waktu sangat dekat sejak aku kembali ke Indonesia, aku sudah punya pekerjaan yang cukup membuat aku bergelimang dengan apapun yang aku mau. Dengan itu aku tak harus meminta lagi dari ibuku. Tapi tetap saja, hidup seperti dulu, seperti saat lalu, selama perasaan ini masih mengambang, selama itu pula aku merasakan kehampaan yang paling kelam dan bisu. Terlebih setelah aku membaca sebuah email dari Aulia Rahma. Itulah email terakhir darinya. Ia memintaku menghadiri pernikahannya dengan Renata.

Pupuslah semua hal yang kau rajut. Setiap kelam yang selama ini mengiringiku kini sudah sampai di satu titik puncak. Aku sudah kalah, bahkan kalah telak. Aulia sudah sampai di bab terakhir dalam kisah novel hidupku. Kisahnya berakhir dengan pernikahannya dengan orang lain, bukan denganku, dengan orang yang selama ini memendam cinta yang mendalam baginya.

Sejak itu aku semakin melarutkan diri dalam pekerjaanku. Aku sudah patah arang, tak lagi ada harapan. Apa lagi yang aku mimpikan. Mungkin suatu hari akan muncul Snow Angel yang lain? Memang mungkin. Tapi cinta ini tak akan pernah berganti atau berpindah. Kalau snow angle lain datang, mungkin akan aku sambut dengan perasaan yang sama sekali lain. Sebuah definisi cinta yang akan kuusahakan sama sekali berbeda.

Perlahan-perlahan, kesibukan yang membunuhku berhasil membuat keseimbangan. Aku mulai kembali bisa menerima kenyataan. Toh semua sudah terjadi, apalagi yang mesti aku lakukan. Aku masih punya hidup sebuah detak yang mesti aku pertanggung jawabkan. Baiklah, aku kini sudah mulai menerima kenyataan.

Sebelum lebaran, akhirnya aku memilih untuk pulang. Ibuku menyambut dengan berbagai bentuk perasaan yang selama ini terbendung oleh bentangan jarak dari anaknya selama tiga tahun lebih. Kupeluk ia, kuciumi ia sepenuh isi jiwaku.

Aku juga melihat ayahku sudah berubah. Selama tiga tahun pergi mungkin ada yang terjadi dengannya hingga kini ia terlihat seperti ayah yang sesungguhnya. Sekarang ia lebih banyak menghabiskan hari di rumah, tidak lagi dimakan oleh pekerjaan dan pesta-pestanya yang kelabu. Setidaknya, inilah waktu bagiku untuk berdamai dengan Ayah. Terima kasih Perentang Waktu.

Sehabis makan malam, ibuku menatapku dalam-dalam. Aku bertanya ada apa gerangan. Ibuku tersenyum yang kemudian disusul dengan kata-kata yang meluluhlantakkan perasaanku malam itu.

“Sampai kapan kamu akan lari? Ibu juga tahu selama ini kamu menghindari rumah dan pergi jauh bukan karena masalah keluarga kita,” katanya.

Aku menunduk. “Maksud Ibu?” tanyaku sambil tetap tak perduli.

“Aulia kan?”

Ketika nama itu disebut, aku terpelanting ke dasar dunia kelam yang sudah terlalu lama menguasaiku. Aku kembali terkubur ketika nama itu disebut, nama yang selalu mengandung energi dahsyat yang bisa menyedotku dalam-dalam. Kuhentikan segala aktivitas. Darahku menderas dan mata ini rasanya sendu.

Ibuku berkata lagi, “Kamu seperti ayahmu, pe-nge-cut!” mendengar kata ‘pengecut’ hatiku teriris tanpa bisa aku menolaknya. Aku memang pengecut, ya, seperti ayahku.

“Aulia sudah satu bulan terbaring di rumah sakit. Tepat pada saat pernikahannya, Renata tidak datang karena sang pengantin laki-laki itu mesti meringkuk di penjara.”

Matahari yang tengah padam kini menyala kembali. Angin yang sempat berhenti sesaat kini mengalir kembali dengan sangat deras. Detak jantung sesaat tak berdegup namun segera kembali normal. Tanpa banyak kata, tanpa memberi jeda untuk penjelasan selanjutnya, aku langsung lari, berlari menuju Aulia Rahma. Ibuku memanggil, aku tak perduli. Aulia! Aku datang!

Di tengah perjalanan, saat mengendari mobil aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak tahu di rumah sakit mana Aulia sedang dirawat. Kutelepon ibuku. Tanpa memberi jeda ibuku menertawakanku, “Di RSPAD Gatot Subroto. Hati-hati, jangan ngebut Nak.”

Aku mengumbar senyum kesegenap semesta. “Terima kasih, aku cinta Ibu,” dan kututup telpon.

Sampai di pelataran rumah sakit.

Dengan langkah berdegup aku berjalan mencari celah ke sudut yang aku tuju. Aulia, apa kabarmu?

Aku hanya mematung di daun pintu. Bingkai jendela dari samping membisikkan kabar angin. Dari celah yang sedikit membelah ruang ini aku bisa melihatnya. Satu sosok yang tak pernah tenggelam dari lemari pikiranku tergolek lemah di atas tempat tidur. Pandangannya tertuju pada sebuah buku, sebuah novel klasik yang tengah dibacanya. Ada cekam luka di sudut matanya. Rambutnya yang tergerai indah bagai mutiara sedikit terluka oleh ketidakteraturannya.

Haruskah aku masuk? Entahlah. Gamang dan ragu jadi algojo yang kini datang berkunjung. Ibuku sudah menceritakan pada Aulia bagaimana sesungguhnya perasaanku padanya. Bagaimanakah ia akan menanggapi kedatanganku kali ini. Sudah tiga tahun lebih aku menghilang dari peredaran hidupnya. Inilah fase menghilangku yang paling lama. Sebelumnya aku suka menghilang paling satu atau dua bulan lebih.

Sudah tepatkah aku hadir kini? Apakah akan membawakan sesuatu yang baik pada kehidupan kami?

Persetan dengan berbagai pertimbangan. Aku hanya mau menemuimu, menelisik setiap lekuk wajahmu yang akrab dengan hidupku. Kehilangan jarak dengan pesona anggunmu telah membuat aku terenggut dari makna kehidupan yang sesungguhnya. Snow Angelku, Aulia Rahma, aku tak lagi mau mati dalam sepi bisu.

Kudorong pintu perlahan. Bunyi derit daun pintu terdengar membelah langit hati. Kesunyian terpecah oleh udara yang terobek oleh suara. Matanya berpaling arah dari tataran kalimat pada bingkai novel ketika mendengar derit daun pintu yang terdorong.

Kini Aulia menatapku, tajam, penuh tanya. Matanya tajam berbinat seperti diserang amuk gelombang rasa.

Aku bergerak sejengkal demi mendapati dirinya. Ia bangkit dari tempat tidur tanpa bicara seperti orang melindur dalam mimpi. Matanya tak melepaskan gerak seluruh jasadku. Aku tersihir oleh tikaman tajam matanya yang penuh binar. Sejenak matahari berhenti beredar. Semesta terlepas dari genggaman Tuhan yang tersenyum. Malaikat bergerumun di sekitar ruang ini, menonton kami, melihat menyaksikan pertemuan kami.

Ketika kami saling berhadapan aku menyunggingkan senyum. Sebuah senyum sebagai ungkapan perasaan yang telah membumihanguskan kerinduanku padanya. Kata-kata ibuku terngiang dilelangit benak, Aulia sudah tahu perasaanmu, Sagara.

Apa sambutannya?

Ketika mulutku mencoba mengucapakan sebuah kata, tangan kanan Aulia bergerak mendaratkan tamparan keras di pipi kiriku.

Tak kulepas menatapnya sekalipun sakit mendera. Beginilah bayaran yang pantas untuk seorang pengecut bukan?

Kugenggam tangan Aulia. Saat itulah aku tahu sejumput rahasia hati yang terpendam di dalam lubuk jiwanya. Air mata segunungan mengucur dari lubung kelopak matanya. Ia basah dalam tangis mengharu biru.

Aku tak lagi mampu bertahan. Aku memeluknya erat. Malaikat kulihat cemburu. Tuhan tertawa menatapku.

Sejak kemudian terdengar isaknya. Ia memukul-mukul lembut dadaku demi membuang semua emosinya. Mulut kelunya pecah oleh kata-kata ketidakberdayaan, “Kau jahat! Kau jahat! Kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa kau diam saja. Apa kau tidak tahu selama ini aku menunggumu. Apa kau terlalu bodoh untuk memahami perasaanku tanpa harus aku ucapkan. Kau pengecut! Kau pengecut, Sagara!”

“Aku mohon maaf,” kataku lemah, lebih seperti berbisik. “Aku sekarang sudah datang. Aku datang menjemputmu. Maukah kau ikut denganku?” Hening terasa mencekam dalam gelombang ombak pertemuan. “Kau harus sembuh Aulia, kau harus sembuh demi aku. Snow Angelku, aku sudah datang sekarang, aku mencintaimu.”

Dalam pertemuan itu, terkuaklah apa yang sesungguhnya terjadi. Setelah kepergianku, Aulia berusaha menahan gejolak batinnya. Untuk mengungkapkan cinta, ia sama pengecutnya denganku bahkan lebih pengecut. Jadi kami berdua adalah dua insan pengecut yang saling jatuh cinta dalam todongan rasa takut dianggap merusak persahabatan yang sudah terjalin lama. Sekian tahun aku tak ada, Aulia putus asa. Ia memutuskan untuk menikah dengan Renata, lelaki yang membabi buta mengejar-ngejarnya. Bukan karena cinta, tidak sama sekali. Namun lebih karena ingin mengalihkan gelombang rasa yang tidak ada ujung pangkalnya.

Tapi Tuhan punya rencana lain. Nasibnya terkatung dalam kenyataan buruk. Di hari pernikahannya, sang pengantin malah meringkuk di tahanan demi membayar kejahatannya. Aulia jatuh sakit. Sakit karena dua sebab, karena kepergianku yang terlalu lama dan karena kenyataan yang membuat keluarganya malu.

Sekarang aku sudah di sini. Cukup sudah jalan menipu dalam luka-luka menganga penuh jebakan. Cinta ternyata adalah prosesi. Cinta adalah sebuah pentas drama yang disutradarai langsung oleh Tuhan dan inilah akhir dari drama cintaku.

“Setelah kau sembuh nanti, kita menikah. Kau mau kan jadi ibu untuk anak-anakku, Aulia?”

Aulia Rahma tidak menjawab. Ia diam sejenak, tangisnya berhenti, kemudian ia melepas pelukannya dan menatapku dengan mata sendu yang basah oleh air bening hangat. Ketika itu aku melihat ia menganggukkan kepalanya. Dan meledaklah tangisan itu memecah semesta yang selama ini beku. Es mencair menenggelamkan lubang prasangka buruk, matahari bersinar terang benderang menghangatkan dan alam kini sudah kembali bersimfoni.

Jakarta, 3 Desember 2008

One Response to “My Snow Angel”

  1. on 23 Jan 2009 at 15:04erwin_bakkara

    By one of the Good Story…!
    terus lah kembangkan kreatifitas Anda……!

    from :

    Member Of
    IKAN_ASIN (IKATAN ANAK SIANTAR)

Tinggalkan Komentar