Dermaga Cinta Sang Bidadari
Desember 26th, 2008 by ABU YAZID
Sore itu, kota Makasar tampak sangat mempesona. Ribuan gulungan ombak berkejar-kejaran dan memecah di bibir pantai. Hamparan kristal-kristal putih nan indah membentang luas. Seberkas cahaya kelabu terpantul dari kristal-kristal putih dan riak gelombang. Semilir angin nan sejuk sangat menyentuh hati, serta nyiur kelapa nan melambai-lambai. Seakan semuanya sedang berdzikir pada Sang Pencipta.
Tampak dari kejauhan para nelayan pulang dari penjelajahannya menangkap ikan. Ada pula para pemuda yang asyik berselancar. Ada pula para muda-mudi yang asyik bercengkrama sambil memadu kasih. Keceriaan dari beberapa keluarga yang membawa anak-anak mereka setelah bekerja seharian untuk menikmati pesona senja pantai.
Di tumpukan bebatuan di bibir pantai, terlihat seorang gadis bermata bening, berkulit putih, berparas ayu, dan keturunan Betawi Arab itu duduk menatap lurus lautan biru yang indah. Matanya kosong dan seakan-akan terbuai pesona lukisan alam sore itu. Gadis itu bernama Faiza Elvariani, gadis lulusan S1 Ilmu Ekonomi Universitas Hasanudin itu sedang mengenang masa lalunya bersama seorang pemuda Makasar yang telah dua tahun pergi keluar negri untuk menjalankan bisnisnya di sana. Faiza tinggal bersama Abah, Umi, dan adiknya bernama Sabila. Mereka telah menetap disana setelah abahnya ditugaskan untuk bekerja di kota tersebut.
“Mas, kapan engkau pulang ? Aku rindu.”
Lalu Umi Khadijah menghampiri Faiza yang sedang menangis.
“Sudah Nak, tak usah bersedih. Nak Fandy akan baik-baik saja di sana.”
“Tapi Umi, Mas Fandy sudah hampir tiga tahun ini tidak memberi kabar apa-apa pada aku.”
“Ya mungkin Nak Fandy sibuk dengan bisnisnya, sehingga ia tak sempat untuk menulis surat, apalagi memberi kabar.”
“Mungkin ya Mi. Terakhir surat yang Faiz terima dari Mas Fandy, ia mengatakan bahwa bisnisnya berkembang pesat di sana.”
“Nah itu kamu sudah tahu, jadi sekarang kita bisa pulang kan, karena hari sudah sore,” ajak sang Umi
“Iya Mi, mari kita pulang.”
Lalu mereka berdua pulang ke rumah setelah menikmati pesona pantai Makasar. Keceriaan pengunjung pun diakhiri saat adzan maghrib berkumandang.
Malam pun tiba. Sang surya kembali dalam peraduannya, namun langit tampak sangat cerah dengan dihiasi sinar rembulan yang merekah dan hamparan bintang yang indah menghiasi pesona malam di pantai. Tampak dari jendela kamarnya, Faiza memandang lurus ke arah pantai yang berjarak tiga meter dari rumahya.
Tiba-tiba dari pintu Umi mengetuk. “Tok…tok…”
“Faiz ayo kita makan bareng. Abah sudah menunggu kamu di meja makan.”
“Iya Mi, Faiz segera datang ke sana.”
“Ya udah, Umi dan Abah tunggu kamu.”
Lalu Faiza berjalan keluar dari kamarnya dengan mata sembab.
“Kamu habis nangis ya Faiz ?” tanya Umi
“Tidak kok Mi, Faiz cuma kelilipan aja .”
“Jangan bohong sama Umi dan Abah !! Umi tahu kamu pasti habis nangis kan ?”
“Faiz minta maaf ya Mi, Abah ! Faiz kengen sama Mas Fandy.”
“Umi kan sudah bilang, jangan terlalu memikirkan Nak Fandy, nanti kamu bisa sakit.”
“Benar kata Umi kamu Iz, kamu jangan lagi memikirkan Nak Fandy. Mungkin dia memang sudah lupa sama kamu.”
“Abah !! Abah kok berkata begitu, Mas Fandy itu cinta sama Faiz dan Faiz juga cinta sama Mas Fandy.”
Karena kesal atas perkataan Abah, Faiz pun kembali ke kamarnya dan tak jadi makan.
Malam pun sirna. Cahaya dunia telah kembali menghangatkan kota Makasar yang pada tengah malam diguyur hujan. Tampak sisa-sisa hujan yang membasahi jalan, pepohonan, dan atap rumah. Kicauan burung nan merdu menyambut datangnya pagi yang cerah. Pagi ini Faiza tidak berangkat kerja, uminya menyuruhnya untuk istirahat karena badan Faiza panas. Lalu Sabila menelpon Nayla untuk memberitahukan bahwa Kak Faiza tidak kerja. Sabila yang duduk di bangku kelas 2 SMP 3 Muhammadiyahitu terpaksa tidak sekolah pula, karena harus menjaga Faiza. Sedangkan Abah dan Umi harus menghadiri acara kedinasan Bupati Makassar, pada pagi itu juga.
Saat setelah Umi dan Abah pergi, Faiza meminta Sabila untuk menemaninya pergi ke pantai. Dia ingin melihat panorama pantai Makassar yang indah, dan mereka pun pergi.
Setibanya di pantai.
“Indah ya Dik !” kagum Faiza.
“Iya Kak !!”
“Dik, kamu tau nggak dulu Mas Fandy mengatakan cintanya pada Kakak di pantai ini.”
Diam.
“Kakak kenal Mas Fandy sejak dulu, saat Kakak di bangku kuliah.”
Diam.
“Mas Fandy itu baik, romantic, tampan, dan yang Kakak suka darinya adalah kejujurannya.”
Diam.
“Kakak sudah pacaran dengan Mas Fandy sudah tiga tahun.”
“Oh!! Jadi Kakak benar-benar suka padanya.”
“Iya Dik, sesaat setelah wisuda Mas Fandy mengajak Kakak ke pantai ini dan ia berjanji akan menikahi kakak, tapi dia hanya memberikan cincin pengikat ini sebelum keberangkatannya.”
“Oh, jadi cincin itu dari Kak Fandy. Pantas saja Kakak sangat menantikan kabar dari Kak Fandy.”
Setahun berikutnya. Abah dan Umi berencana akan menjodohkan dan segera menikahkan Faiza dengan Rasyid, karena Abah dan Uminya khawatir dengan usia Faiza yang sudah menginjak 26 tahun. Rasyid adalah pemuda yang dulu pernah Faiza kenal sewaktu tinggal di Jakarta. Rasyid anak dari pasangan Babe H. Zulkifli dan Ibu Hj. Maysaroh, yakni teman baik Abah dan Umi Faiza sewaktu di Jakarta. Kini mereka sudah menetap di kota Makassar sebagai pengusaha restoran, sedangkan Rasyid sudah bekerja di sebuah rumah sakit pusat di kota Makassar sebagai dokter ahli penyakit dalam.
Pertemuan orang tua Faiza dengan orang tua Rasyid ketika itu saat menghadiri acara kedinasan Bupati Makassar. Saat itu orang tua Rasyid diundang sebagai katering makanan. Dan ternyata orang tua Rasyid sudah tiga tahun menetap di Makassar.
Pada suatu hari, Rasyid bersilahturahmi ke rumah Faiza. Disambutnya dengan hangat oleh umi Faiza, lalu Rasyid menyatakan maksud kedatangannya. Ia ingin bertemu Faiza yang telah lama berpisah sejak lulus SMA sewaktu di Jakarta.
Umi Faiza pun memberitahukan keberadaan Faiza. Faiza yang duduk melamun di pinggir pantai dan melihat gulungan ombak berkejar-kejaran di bibir pantai. Dan Faiza tidak tahu kedatangan Rasyid di sampingnya.
“Assalamualaikum bidadari yang cantik,” sapa Rasyid.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Faiza sambil menoleh ke sampingnya.
“Eh Mas Rasyid, kapan ada di situ ?” tanya Faiza yang keheranan melihat Rasyid di sampingnya.
“Dari tadi aku di sini !! Kamu sedang melamunkan apa ?”
“Tidak Mas, aku sedang melihat-lihat pemandangan alam di sini.”
“Khusyuk benar…!!” canda Rasyid.
Setelah cukup lama mengobrol di pantai, kemudian Faiza mengajak Rasyid ke rumahnya. Umi sangat senang melihat senyum ceria si wajah Faiza setelah bertemu dengan Rasyid, dan Umi semakin yakin akan menjodohkan Rasyid dengan Faiza. Kemudian Rasyid diantar Umi pulang sampai ke pintu gerbang rumah, sedangkan Faiza meninggalkan Rasyid begitu saja karena ada telpon dari Nayla.
“Nak Rasyid, Umi senang kamu dekat dengan Faiza.”
“Alhamdullilah, Umi !!”
“Faiza itu akhir-akhir ini sering melamun dan menangis bahkan ia selalu sering sakit-sakitan.”
“Memangnya ada apa dengan Faiza, Mi ?”
“Faiza itu selalu memikirkan Nak Fandy yang sekarang berada di luar negri.”
“Memangnya Fandy itu siapa, Umi ?”
“Nak Fandy itu tunangan Faiza, mereka bertemu dan pacaran sewaktu mereka kuliah, lalu setelah lulus, Nak Fandy datang kepada Umi dan Abah untuk merestui hubungan mereka.”
“Kemudian Umi…”
“Selanjutnya, setelah Umi dan Abah merestui hubungan mereka, Nak Fandy dan orangtuanya datang untuk mengikat Faiza dengan tunangan.”
“Lalu apa yang membuat Faiza terus-terusan menangis ?”
“Itu dia Nak Rasyid !! Berbulan-bulan, bertahun-tahun Faiza menunggu kabar dari Nak Fandy tapi dia hanya mengabari selama empat bulan saja.”
“Lalu?”
“Terakhir yang Faiza dapatkan kabar dari Nak Fandy yaitu ia telah sukses dengan bisnisnya dan akan segera kembali ke Indonesia secepatnya, namun sampai sekarang belum ketahuan.”
“Kasihan Faiza !” Terharu Rasyid mendengar cerita Umi.
“Oleh karena itu Nak Rasyid, Umi minta tolong !”
“Tolong apa, Umi ?”
“Kamu coba membantu Faiza melupakan kenangan indahnya bersama Nak Fandy. Umi dan Abah sanat senang bila kamu bias menghiasi hati Faiza yang sedang sedih.”
“Insya Allah, Mi !! Umi, Rasyid pulang dulu.”
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Hari demi hari, bulan demi bulan, Faiza dan Rasyid selalu bersama. Rasyid telah lama memendam kenangan indah bersama Faiza sewaktu di Jakarta dulu dan kini ia telah kembali merasakan kenangan itu. Rasa suka pada Faiza pun telah lama ia pendam, namun ia hanya simpan sebagai hiasan hati. Kini ia mencoba memberanikan diri untuk mengatakan langsung tentang isi hatinya. Pada suatu hari Rasyid mengajak Faiza makan siang di café dekat rumah Faiza di pinggir pantai. Ia memandang gadisnya itu dengan tatapan berseri-seri di wajahnya.
“Faiz, kamu suka makannannya ?”
“Suka sekali, Mas !!”
“Pemandangan di sini sangat indah ya, Faiz ?”
“Ya di sini sangat indah, terlebih lagi sewaktu dulu aku bersama Mas Fandy.”
“Memang kenangan itu ?”
“Ya kenangan itu sangat indah buatku dan sampai kapanpun aku tak akan melupakannya.”
“Seandainya cintamu itu tak akan kembali ?”
“Cinta !! Dari mana Mas tahu kalau aku cinta sama Mas Fandy ?”
“Mas tahu dari umi kamu,” jawab Rasyid.
“Seandainya cintamu itu tak akan kembali ?” tanya kembali Rasyid dengan pertanyaan yang sama.
“Aku akan menjemputnya.”
“Tapi kalau cintanya telah pergi dan berlabuh ke wanita yang lain ?”
“Itu tak akan terjadi,” jawab Faiza dengan nada sedikit marah
“Kenapa tidak Faiz ? Cintamu itu telah pergi cukup lama, mungkin saja cintamu sudah dihempas ombak.”
“Tidak akan Mas, cintaku dan cintanya telah lama dibangun, dibangun oleh kenangan-kenangan indah dan pantai ini adalah saksi cinta kita.”
“Tapi Faiz!! Aku sangat mencintaimu. Aku telah lama ingin mengatakannya padamu, tapi aku…”
“Tidak Mas, sampai kapan pun hatiku akan hanya ada satu cinta dan aku akan terus menunggu sampai!!”
“Sampai kapan ? Sampai kapan kamu hanya terus-terusan menangis dan sedih hanya untuk menanti cintanya yang gak jelas !!”
“Cukup !! Kalo Mas Rasyid hanya ingin berkata seperti itu, sebaiknya Faiza pulang.” Dan Faiza pergi.
“Tunggu Faiz !! Aku sangat mencintaimu, biarkan cintaku berlabuh di hatimu.”
Dan Rasyid segera mengejar Faiza.
Sesampainya di rumah, Faiza langsung menerobos pintu rumahnya dan segera menuju kamrnya. Umi Faiza kaget ketika Faiza berlari ke kamarnya sambil menangis. Uminya tahu kalau tadi Faiza pergi bersama Rasyid. Kemudian Rasyid yang yang sedang mengejar Faiza sampai di rumahnya pun tiba, lalu Umi faiza pun segera menghadang Rasyid yang berupaya menyusul Faiza ke kamarnya.
“Tunggu Rasyid, ada apa dengan kalian ? Mengapa Faiza berlari sambil menangis ?”
“Maaf Umi, Rasyid hanya mencoba mengutarakan isi hati Rasyid pada Faiza, Mi.”
“Tapi mengapa Faiza menangis ?”
“Rasyid hanya bilang apa yang Umi inginkan, Rasyid mencoba mengisi hati Faiza yang kosong ditinggal Fandy, Mi.”
“Ya sudah, biarkan Faiza tenang dulu. Mungkin dia memang sangat sulit untuk melupakan Nak Fandy.”
“Ya sudah Umi, Rasyid pulang dulu, salam buat Faiza ya, Umi.”
“Insya Allah, Umi sampaikan.”
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Keesokan harinya, Rasyid kembali datang ke rumah Faiza. Ia ingin berpamitan pada Faiz, Umi, dan Abah. Karena, ia harus pergi ke luar kota Makassar tepatnya ke Donggala untuk membantu para korban gempa Donggala selama dua tahun. Namun kedatangannya tak disambut Faiza dengan baik. Faiza masih marah atas ucapan Rasyid kemarin, akhirnya Rasyid pergi dan berpesan pada Umi dan Abah faiza agar Faiza mau memaafkannya. Dari balik jendela kamarnya, Faiza melihat Rasyid yang lambat laun menjauh dari pandanganya, dalam hatinya ia berkata, “Maafkan aku Mas, sebenarnya hati ini juga ada rasa padamu, tapi aku tak bias mengingkari janjiku pada Mas Fandy yang telah kuikrar empat tahun lalu, aku sudah memaafkanmu Mas Rasyid. Dan aku mohon Mas, biarkan aku mengejar cintaku ini Mas.” Dengan linangan air mata Faiza tak sanggup melihat kepergian Rasyid.
Setelah Rasyid benar-benar sudah tidak kelihatan, Abah segera menuju kamar Faiza dan langsung menerobos masuk ke kamar Faiza.
“Faiza!! Kamu memang anak kurang ajar !!”
“Plak..!!!” Abah sangat emosi dan langsung menampar Faiza.
Kemudian Faiza tersungkur di tempat tidurnya dan tak kuat menahan tamparan abahnya yang begitu keras. Dan Umi segera memeluk Faiza.
“Abah apa-apaan ? Mengapa Faiza ditampar ?” bela sang Umi dengan memeluk dan menenangkan Faiza yang sedang menangis.
“Anak ini kurang ajar, Mi !! Abah sudah bilang, lupakan Fandy.”
“Tapi Faiza masih cinta, begitupula dengan Mas Fandy,” jawab Faiza.
“Ah… omong kosong !! Dia itu mungkin sudah melupakanmu.”
“Tidak abah, cinta kita masih utuh dan sampai kapanpun Faiza tak akan berpaling dari Mas Fandy sebelum Faiza benar-benar membuktikan sendiri, apakah Mas Fandy masih mencintai Faiz atau tidak,” balas Faiza
“Pokoknya Abah sudah tak sudi kalau kamu menikah dengan Fandy.”
Kemudian Abah merasakan sesak nafas yang hebat dan Abah pun tersungkur di lantai. Melihat Abah tersungkur, Umi dan Faiza menghampiri Abah dan menopang Abah yang tak kuat menahan rasa sakit dadanya dan nafasnya pun terengah-engah.
“Abah… Abah kenapa ?” tanya Umi dan Faiza.
“Dada Abah rasanya sakit sekali, Abah sudah tak kuat.”
“Abah !! Faiza minta maaf, Faiza janji, Faiza akan membuktikan cinta Faiza.”
“Faiz, Abah mau kau menikah dengan Nak Rasyid, Rasyid adalah jodoh terbaik buatmu.”
“Insya Allah Abah,” jawab Faiza.
Lalu Abah pun pergi untuk selamanya meninggalkan keluarganya. Jeritan tangis suara Umi dan Faiza mengantarkan kepergian Abah, seakan mereka belum siap ditinggalkan Abah untuk selamanya. Faiza tidak menyangka kalau hari itu hari terakhirnya bicara dengan Abah. Seandainya Faiza tahu Abah akan meninggalkannya, ia tak akan bicara seperti itu. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Faiza sangat menyesal atas ucapannya pada Abah. Dalam hatinya ia berjanji akan menikah dengan Rasyid jika memang Fandy tak mencintainya lagi dan telah mengingkari pertunangan mereka berdua.
Sore harinya, Abah segera dimakamkan di pemakaman umum di pusat kota. Isak tangis masih terdengar dari Umi, Faiza, dan Sabila yang tak sanggup ditinggalkan Abah ketika Umi, Faiza, dan Sabila menyaksikan jenazah Abah dimasukkan ke liang lahat.
Sebulan setelah kematian Abah, Faiza berpamitan pada Uminya untuk pergi ke Bahrain menyusul Fandy di sana. Menjelang subuh, Faiza telah mengepak semua perlengkapannya dan membawa sejumlah uang. Pada pagi harinya tepat pukul 07.00 pagi waktu setempat, Faiza berangkat menuju bandara Hassanudin. Namun tak ada pesawat yang langsung menuju Bahrain akhirnya ia naik pesawat rute Makassar-Jakarta. Pada pukul 08.00, Faiza berangkat dari bandara Hassanudin dan telah tiba di bandara Soekarno Hatta pada pukul 09.30. kemudian dia harus menunggu pesawat yang menuju Bahrain sekitar tiga jam kemudian. Saat Faiza sedang menunggu pesawatnya, dari kejauhan dia melihat seorang pemuda yang mirip dengan Fandy. Pemuda itu mengenakan baju koko sambil menggendong anak laki-laki berusia tiga tahun dan bersama wanita berjilbab berdarah Sunda, mereka berjalan perlahan-lahan menuju Faiza. Semakin dekat mereka mendekati Faiza, Faiza semakin yakin kalau pemuda itu adalah Mas Fandy tunagannya. Saat semakin dekat dan melewati Faiza, Faiza pun menegur pemuda itu.
“Mas… Mas fandy ?” sapa Faiza
Lalu pemuda itu pun menoleh ke belakang
“Ya.”
Dan Faiza menghampiri mereka.
“Mas… Mas Fandy Maulana ?” sapa kembali Faiza.
“Faiza!! Sedang apa kamu di sini ?” balas Fandy
“Aku mau menyusul Mas ke Bahrain, dan alhamdullilah kita bertemu di sini !!” seru Faiza.
“Ya, Mas Fandy juga senang.”
“Wanita ini siapa, Mas ?” tanya Faiza
Lalu Fandy menyerahkan anak yang ia gendong ke wanita di sebelahnya, dan ia mengajak Faiza berbicara berdua.
“Faiza, aku minta maaf !!”
“Maaf !! Maaf kenapa mas ? Mas tidak punya salah sama Faiza.”
“Begini Faiza, wanita itu adalah istriku dan anak itu adalah anakku.”
“Apa !!! Jadi Mas sudah menikah.”
“Maafkan aku Faiza, aku tahu kamu adalah tunanganku dan sesungguhnya aku masih mencintaimu.”
“Kamu tega Mas !! Mas sudah melukai hati Faiz. Dengan sabar Faiz menunggu cinta Mas Fandy tapi kenyataannya Mas sudah mengkhianati janji kita dulu.” Dengan linangan air mata Faiza tak menyangka kalau dia telah dikhianati dan Faiza telah merasa sangat bersalah pada Abah dan Rasyid yang telah pergi darinya.
“Aku juga tak mau Faiz, tapi orangtuaku memaksaku untuk menikah dengan gadis lain.”
“Memaksa !! Kenapa Mas tak menolaknya. Aku saja menolak cinta dari pria lain dan aku telah membuat Abah meninggal hanya karena mempertahankan cinta kita Mas.”
“Apa !! Abah kamu sudah meninggal ?”
“Ya, Abah meninggal karena serangan jantung dan Faiz menolak perjodohan Abah dengan pria lain.”
“Ya sudah, sekarang kita pergi,” ajak Fandy dengan menggandeng Faiza.
“Pergi !! Mas Fandy benar-benar tega ya. Mas itu sudah punya istri dan anak, dan aku tak akan kembali pada Mas Fandy. Lepaskan !!!”
“Faiza tunggu!!”
Lalu Faiza pergi kembali ke Makassar dan ia harus menerima kepahitan cintanya.
Kemudian Faiza pun tiba di bandara Hassanudin pada sore hari. Lalu ia langsung memeluk uminya ketika tiba di rumah.
“Umi, maafkan Faiza!!”
“Ada apa Faiz, kamu tidak jadi ke Bahrain ?”
“Buat apa Umi, Faiza kecewa dengan Mas Fandy.” Dengan linangan air mata Faiz menjawab.
“Memangnya kenapa dengan Nak Fandy dan kamu memang sudah bertemu dengannya?”
“Sudah Umi, Faiza sudah bertemu denganya di Jakarta dan …”
“Dan kenapa ?”
“Mas Fandy sudah menikah dengan wanita lain.”
“Ya sudah, kamu jangan bersedih masih banyak pria lain.”
“Tapi Umi, Faiz merasa bersalah pada Abah dan Rasyid.”
“Kamu belum bersalah, kamu ingat janji kamu pada Abah dulu ?”
“Janji apa, Umi ?”
“Kamu akan bersedia menikah dengan Rasyid.”
“Mas Rasyid !! Ya, Faiza akan menyusul Mas Rasyid ke Donggala.”
“Tidak perlu, kamu tak perlu menyusulnya. Dia ada di kota ini, dia hanya sebulan di sana dan dia masih menunggu jawaban kamu.”
“Ya sudah, Faiza ke rumah Mas Rasyid sekarang.”
Lalu Faiza ke rumah Rasyid dan mereka pun kembali bersama, kini cinta Faiza kembali dibangun dengan pria yang benar-benar mencintainya setelah cintanya dihempas ombak. Kemudian pada tanggal 20 Syawal 1423 H, mereka pun menikah dan hidup bahagia.
wah cerita nya sangat menyentuh,,, tapi akhirannya berakhir dengan kebahagiaan yang tiada taranya..
CITE KOWAG MENARIK AR…tp boley tak kowag wat cite tentang kekeliruan dalam as a student?? coz aku sedang alaminye..aku nak yau bagaimane kowag hadapinye..aku akan baca mgu depan…thanks!!
Never regret anything because,
At one time…
it was exactly what you wanted.