Aku yang Menjalaninya
Desember 26th, 2008 by dayana
Aku adalah aku . Sesosok pria dengan tubuh kurus dan rambut gaya Pasha Ungu . Aku suka dengan berbagai macam kehidupan malam . Apalagi saat aku hidup sebagai seorang pelayan di salah satu cafè di Jakarta . Hidupku aman dan nyaman tentunya di sana, tanpa ada pengganggu dan polusi . Ya, kalian mungkin mengganggap itu sebagai sebuah desa kecil dan kumuh, namun perkiraan kalian salah ! Karena aku hidup di kota yang jauh dari keramaian .
Aku juga memiliki seorang kekasih dan dambatan hatiku, sebut saja namanya Ayu . Sesuai dengan namanya, Ayu merupakan sesosok wanita yang anggun serta bijaksana, terlebih lagi dia sangat mandiri dan juga dewasa . Aku tak usah kerepotan saat berpacaran dengan Ayu, yang selama dua tahun telah kuincar . Namun, memang tak jodoh, hubunganku harus kandas saat hari pernikahanku datang, lebih tepatnya satu bulan sebelum pernikahan itu terlaksana. Ayu sakit, dan penyakitnya itulah yang nantinya akan merenggut nyawanya . Sebenarnya dia mampu untuk bertahan hidup, hanya saja ia harus hidup dengan kelumpuhan dan tersiksa dengan obat . Aku sebagai pria yang bijak harus merelakan Ayu untuk pergi jauh dariku, namun tidak untuk hatiku . Aku tak mampu membeli segala obat yang seharusnya dimiliki Ayu, karena kondisi keuanganku . Aku orang biasa, sangatlah berbeda dengan Ayu yang berasal dari keluarga konglomerat . Ayu adalah orang kelima yang memiliki nasib sama seperti mantan-mantan pacarku lainnya . Terkadang aku dituduh sebagai seorang pria yang menyantet pacarnya sendiri, saat aku telah mendapatkan kepuasan dari pacarku . Itu semua fitnah ! Aku bukanlah seorang pria yang seperti itu .
Tiga tahun berlalu, aku masih sendiri . Di usiaku yang ke 27 ini pun, sebenarnya adalah targetku untuk menikah, hanya saja aku tak bisa . Aku belum dikaruniai sesosok wanita idaman hatiku . Aku selalu tersakiti karena cinta yang terlalu aku tanam . Hingga aku menjadi sesosok pria yang seperti ini . Seorang pecandu, seorang pemabuk, dan seorang pekerja seks . Aku seorang waria . Aneh memang, namun aku terlalu sakit hati karena cinta . Jadilah aku seperti ini, saat siang namaku Bhodi dan malam namaku Bhita . Tak beda jauh, bukan ? Namun aku senang sebagai Waria, tak ada yang menyakiti hatiku dan tak ada yang tahu bahwa aku sebagai waria, karena saat aku menjadi seorang pria aku merupakan seorang pria yang ganteng dan keren, dan jika aku menjadi seorang wanita, aku juga menjadi seseorang cantik, putih dan langsing . Memang, semua mata itu aneh . Bahkan masih ada yang mau menjadi pacarku, saat aku menjadi pria ataupun menjadi seorang wanita . Ada yang mau aku ajak kencan, makan siang sampai tidur . Mereka adalah manusia yang aneh . Bahkan, seorang gay juga pernah mengajakku untuk tinggal bersama di apartementnya yang berada di bilangan Jakarta Pusat . Memang manusia sekarang tak ada yang mengetahui seseorang sesungguhnya .
”Andai aku tak pernah tersakiti. Mungkin saja kau tak menjadi seseorang yang seperti ini. Harus berdandan setiap malam, dan mengeluarkan uang yang lebih dari penghasilanku perbulan, untuk membeli make-up dan busana wanita . Mengapa juga aku memilih menjadi seorang waria, saat aku dianugrahi badan yang porposianal untuk menjadi model pria, mungkin saja aku bisa jadi artis,” ucapku sendiri pada bayangku di cermin.
Khayalanku terhenti saat Ses Bethi memangilku untuk segera ke ruangannya . Aku pun tak tahu kesalahan apa yang aku perbuat . Dengan mengenakan baju ala Cleopatra (hanya saja berwarna merah muda) aku pun menyusuri setiap langkah menuju ruangan Ses Bethi . Anggaplah ini sebagai penguji nyaliku .
”Malam Ses, ada apa ya ?” ucapku sedikit takut menerima kenyataan pahit .
”Oh, Bhita . Sudah datang ternyata,” lalu ia melihatku dengan pakaian yang seperti ini . Dia tertawa kecil sebelum melanjutkan ucapannya yang tadi . Aku hanya mampu mengangguk saat pertanyaan tadi telah terlontar padaku .
”Begini, Bitha . Aku sangat bangga padamu, walaupun tubuhmu lebih pantas untuk menjadi seorang pria, namun kamu mampu menunjukan kalau kamu itu pantas menjadi seorang wanita . Dan aku senang jika kamu tetap percaya diri .” Aku tak mengerti ucapan Ses Bethi tadi . Baru kali pertama aku mendengar ucapan Ses Bethi seperti itu . Baku .
”Maksudnya Ses ?” Hanya kata – kata itu yang mampu terlontar dari bibirku.
”Begini, aku akan lebih senang jika kamu benar – benar menjadi seorang wanita . Tidak pria saat siang dan tidak wanita saat malam . Aku berencana mau operasi seluruh organ tubuhku, dan karena kamu adalah waria terfavorit yang ditunjuk pelanggan kita, aku ingin mengajakmu untuk operasi bersamaku . Biaya yang dikeluarkan nanti, akan aku bayar, aku yang traktir. Bagaimana ? Aku kasih kamu waktu 1 minggu sebelum operasi dimulai, untuk meyakinkan dirimu sendiri . Sekarang kembalilah berkerja dan ambil uang – uang mereka yang suka padamu, Bethi,” ucapnya yang panjang dan lebar membuatku menjadi tertegun sejenak.
Kalimat – kalimatnya membuatku terus berpikir lanjut . Kata ”operasi” yang paling mengejutkanku membuatku tak bisa berpikir untuk merias diriku lebih lanjut . Langkah demi langkah kususuri panggung yang bagiku spektakuler itu . Namun, hariku sesungguhnya masih berkecamuk . Aku tak tahu harus menerima tawaran Ses Bethi atau tidak . Aku ingin menjadi seorang wanita, tapi bagaimana ketika aku menjadi sesosok pria ? Aku suka menjadi pria namun aku pun suka menjadi wanita . Hanya saja untuk menjadi wanita, aku harus memiliki rahim . Sedangkan, seaslinya aku adalah pria, yang tak mungkin memiliki rahim . Itu mustahil . Ya, aku telah memilih . Menjadi apa aku nantinya, yang aku harus lakukan sekarang adalah mencari uang yang banyak, untuk hidupku nantinya .
Malam ini setelah aku berkerja seharian, baru kali ini aku merasakan lelah yang sangat lelah seperti ini . Sesampainya aku di rumah tak ada yang mampu aku kerjakan, hanya terkapar di atas ranjangku yang kecil dengan badan berbalut keringat . Aku ingin menyegarkan diriku di kamar mandi, namun aku terlalu lelah untuk berdiri . Tarianku tadi terlalu heboh, sehingga badan dan kakiku menjadi pegal seperti ini . Dan baju itu juga berat, jadilah kepalaku pusing tak karuan. Tadi saat di cafè, ada seorang lelaki hidung belang yang meminta aku untuk melayaninya malam ini, sesungguhnya aku menolak ajakan tersebut, jika tidak aku terhimpit uang pastilah aku menampar wajah lelaki itu . Usia lelaki itu sepertinya sudah 40-an tahun, dengan dua orang anak dan satu istri . Menurutku seperti itu . Hanya saja aku masih bingung, mengapa lelaki hidung belang setelah usai lembur di kantor tak langsung saja pulang ? Mengapa harus ke sini dulu ? Bukankah di rumahnya ada istri dan anak – anaknya yang hidup sebagai penyemangat ? Sudahlah, aku tak perlu memikirkan itu, yang aku butuhkan hanya uang dari para lelaki itu . Sebenarnya aku sudah bosan untuk menjadi seorang banci yang memiliki perkerjaan sampingan sebagai pelacur . Hanya saja, nanti saatnya tabunganku habis, aku harus bekerja lagi . Itulah yang tak aku inginkan . Aku ingin menikmati hari – hari tuaku seorang diri, dan jika mampu aku ingin menikmati itu semua dengan sebuah keluarga yang aku bangun sendiri . Ya, bersama dengan anak serta istri/suamiku . Karena aku tahu, saat itu aku ingin menjadi apa . Seorang pria ataupun sebagai wanita .
Ponselku bergetar, di sana tertulis sebuah nama yang membuatku begitu bahagia . Ayu . Apakah ini mimpi ? Ayu memberikan pesan singkat padaku . Selama ini yang aku tahu, Ayu telah mempunyai sebuah keluarga yang dia jalin dengan pacarnya . Dan saat ini Ayu memberikan kabar padaku . Aku kira, Ayu akan mengganti nomer ponselnya untuk menghindari kehadiranku dalam sebuah keluarga kecil itu . Ternyata tidak ! Tanganku tak mampu meraih ponsel yang berada di atas mejaku itu. Akhirnya, aku berusaha berdiri, meraih ponselku, dan membaca pesan singkat itu . Aku terkejut . Aku tak tahu kalau Ayu tahu profesiku saat ini .
Di sana tertulis :
”Hai, apa kabar ? Ternyata aku mampu juga merasakan rindu padamu . Aku boleh menanyakan sesuatu, tidak ? Mengapa kamu harus menjadi seorang gay atau waria . Kamu gila atau strees ?”
Aku tak menyangka kalau pesan itu membuatku menjadi seperti mati kaku . Mulutku tak kuasa kututup, ketika aku membaca pesan yang dikirim oleh Ayu . Aku tak kuasa membendung air mataku . Karena aku malu. Sangat malu dengan Ayu . Ayu yang dahulu sempat menjadi kekasihku, yang paling kucintai dan kusayangi, sekarang dia tahu apa profesiku selama ini . Aku membalas singkat pesan dari Ayu yang tadi, ” Tidak . Aku bukan seorang banci dan aku bukan seorang gay, jika kamu tahu bahwa aku selama ini sakit hati.” Hanya itu yang sanggup aku ketik dalam ponselku . Aku tak tahu lagi harus mengucapkan apa . Yang ada di pikiranku hanya rasa malu, yang setiap detik dan waktunya menyelimuti perasaanku . Oh Tuhan, apa yang harus aku ucapkan pada Ayu ? Aku tak ingin ayu tahu segalanya tentangku, ya Tuhan . Lima menit kemudian, ponselku bergetar kembali . Pesan balasan dari Ayu . ”Hmm . Kamu tak usah berbohong pada Ayu . Ayu tahu semuanya . Ses Bethi adalah teman sekerja Ayu dulu waktu di salon . Dan Ses Bethi menceritakan semua pada Ayu . Termasuk rencana kalian yang mau operasi itu .”
Ketika balasan itu aku terima, aku teringat sewaktu aku masih bersama Ayu . Ayu pernah menceritakan tentang dirinya saat itu . Dirinya yang bekerja di sebuah salon di Jakarta Pusat, yang waktu itu memiliki rekan bernama Bethi . Kukira Bethi merupakan sosok wanita yang benar – benar wanita, ternyata Bethi yang dimaksud adalah Ses Bethi . Seorang banci yang sama sepertiku. Aku berpikir, ternyata dunia tak seluas yang aku pikirkan . Buktinya, Ayu yang pernah menjalin kasih denganku, mengenal Ses Bethi yang sekrang menjadi atasanku di cafè . Jangan – jangan sekarang aku mengenal juga suami Ayu . Karena aku tak pernah melihat wajah suami Ayu sampai sekarang .
Aku tak tahu apa yang harus kuketik di ponselku . Tiga menit setelah itu, ponselku bergetar kembali . “Kenapa sms Ayu tidak di balas ? Kamu tidak usah malu . Yang Ayu minta, cuma satu . Kejujuranmu . Ayu tak minta apa – apa lagi . Lebih baik, sekarang aktifkan set ponselmu . Karena aku mau mengirimkan beberapa gambar yang dari dulu kamu inginkan,” pesan dari Ayu lagi .
Aku tak tahu, gambar apa yang aku inginkan dulu . Aku tidak ingat . Dan terlalu malas untuk mengingatnya kembali . Tiba – tiba ponselku bergetar sebanya tiga kali . Aku buka pesan demi pesan yang dikirim Ayu padaku . Aku tahu maksudnya . Pesan pertama adalah, foto Ayu dengan suaminya saat menikah . Ya, aku ingat sekarang . Sejak dulu, yang aku inginkan hanyalah menikah dengan Ayu . Pesan kedua, foto Ayu dengan suami serta kedua putri kembarnya . Ya, aku juga menginginkan sebuah kelurga, yang dilengkapi dengan kehadiran Ayu sebagai istriku dan sepsang anak kembar . Karena Ayu merupakan anak kembar . Dan pesan ketiga adalah pesan singkat dari Ayu . ”Apa kamu kini tak ingin menikah ? dan apa kamu tak ingin memiliki sepasang anak kembar lagi ? Coba pandanglah dirimu sebagai suamiku . Jangan sebagai aku . Aku tahu apa yang akan kamu rasakan nantinya . Pasti rasa keinginan itu akan datang lagi . Dan itu yang akan menjadi pedoman hidupmu . Sudahlah, ubah dirimu . Menjadi Bodhi yang milikku dulu . Oya, ini merupakan pesan terakhirku . Karena aku akan segera mengganti nomer ponselku . Aku harus ke Singapore .. Menemani suamiku di sana . Selamat tidur .”
Ini merupakan pesan terakhir Ayu, lalu kapan aku menemuinya lagi ? Melihatnya dan mendengar suaranya lagi . Aku terus memikirkan itu . Aku tak membalas pesannya . Karena aku tahu, saat ini sudah malam, aku tak ingin mengganggu acara malam keluarga Ayu . Mungkin untuk saat ini, aku harus memikirkan segalanya dengan matang . Dan memikirkan segala pesan dari Ayu padaku. Karena tak mungkin aku dapat menemuinya kembali . Namun mungkin, jika kami bertemu lagi di surga, sebagai pedamping Tuhan . Aku tak ada ide untuk melihat masa depanku yang suram . Yang ada hanya tangisan yang mungkin akan membanjiri tubuhku yang lemah ini .
Tak terasa satu minggu telah berlalu . Hari ini aku harus menemui Ses Bethi untuk memberi tahu semuanya . Semua keputusanku .
”Mbak, aku ingin mundur dari pekerjaan ini . Aku juga tak bisa operasi,” ucapku.
”Mengapa begitu ?” ucap Ses Bethi sepertinya tidak menyetujui segala keinginanku .
”Iya, aku ingin menjadi seorang pria sejati . Aku tak bisa hidup dengan keinginanku untuk menjadi seorang wanita, karena aku telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang pria . Maaf Mbak, tapi masih ada kegiatan untuk proses pengubahanku di tempat lain . Jadi aku tak bisa lama – lama di sini,” ucapku ingin meninggalkan cafè ini .
”Kalau itu yang kamu inginkan . Ya, mungkin memang aku harus banyak belajar dari kamu .. Karena aku sejujurnya telah sangat lelah untuk menjadi seorang Banci yang terus – menerus melayani orang – orang yang menginginkan tubuh ku . Aku juga sudah terlalu tua untuk melayani mereka semua . Oya, Bodhi, aku memiliki sesuatu untukmu . Ini pesangon untukmu . Jalani semua dengan senyuman ya . Jangan patah semangat,” ucap Ses Bethi mengakhiri semuanya .
Setelah aku berpamitan dengan rekan – rekanku yang lain, akhirnya aku meninggalkan cafè tersebut .
”Biarlah, apapun yang aku peroleh nantinya . Semua itu aku yang akan menjalaninya”
Kata – kata terakhir yang kuucapkan pada langit biru siang itu . Entah, apa yang aku dapatkan esok hari, lusa ataupun tahun depan . Hanya saja banyak orang yang ingin aku temui saat ini . Untuk memberitakan bahwa aku seorang pria . Pria sejati yang mengejar cintanya . Orang yang paling pertama aku ingin temui hanya Ayu . Namun tak bisa, dan hanya makam Ayu yang menjadi saksi bisu aku kembali menjadi Bodhi . Makam yang dibuat setelah pesan singkat itu berakhir . Nama yang akan selalu terukir di nisan itu, yang juga akan terukir di hatiku . Selamanya .
Bagus bgt…!!! awalnya sich gak ngerti tapi lama2 paham juga. Hee.. banyak arti!
heheeh .
mkasii mbakk .
ini saya yang buat cerpenya, dayana .
waktu itu ikut lomba redaksi .
kLo ga salah mbak anggota redaksikolomkita kann ????